FORMUISIKA

FORMUISIKA
32-Water Boy


__ADS_3

Aku berdiri di depan pintu rumah besar yang megah, ku tekan bel yang berada disana tapi tak ada seorang pun yang menyahut. Rumah itu tidak terlihat berbeda sama sekali saat terakhir ku datang, seperti kuburan yang ada penghuni tidak berwujud.


Aku terus mencoba menelepon dia terus-menerus, tak ada panggilan terangkat satupun dari ribuan panggilan yang ku lakukan. Batin ku berkata-kata apakah dia masih hidup atau tidak ?. Jika dia ketiduran seperti waktu itu dan melakukan hal konyol lagi, aku akan membolak balik dia tanpa ampun dengan alat penemuan baru ku.


Sudah lewat dari 4 jam aku menunggu di bawah terik matahari ini, pria itu masih belum menampakkan batang hidungnya sama sekali. Aku sangat geram sekali, ini untuk pertama kalinya dia seperti ini pada ku. Ku coba lagi menekan bel di depan pintu, hasilnya tetap nihil. Akhirnya ku putuskan untuk kembali ke kos ku, tak peduli lagi aku dengan permainan dari pria itu kali ini.


Di tengah jalan ini, orang terlihat sangat ramai sekali. Aku sangat sulit sekali untuk berjalan di tengah kerumunan. Tanpa sengaja aku menabrak seseorang dan membuat ku terjatuh. Orang itu mengulurkan tangannya untuk membantu ku berdiri.


Ketika aku melihat kearah orang itu, aku dibuat kaget oleh sosoknya. Dia adalah Win, teman ku yang manis dan imut.


"Aon, kebetulan sekali. Kamu sedang apa ditengah ramai ?" tanya pria itu.


"Anu... aku sebenarnya ingin pulang ke kos ku tapi aku tidak menyangka kalau daerah ini sedang ramai sekarang." jelas ku sambil membersihkan debu di celana ku.


"Kamu sendiri bagaimana ?"


"Aku... hanya ingin mencari tempat untuk menenangkan diri."


"di tengah keramaian begini ?" sambil menunjuk kearah orang yang ramai.


"Tidak Aon, aku hanya lewat jalan saja. Kebetulan tempat yang ingin ku kunjungi dekat dengan daerah sini."


"Oh..."


"Kamu mau ikut bersama ku ?" tawar pria itu kepada ku.


"Hm... sepertinya tidak masalah. Aku juga butuh tempat menenangkan pikiran ku saat ini." ujar ku dengan kesal mengingat pria yang tadi.


"Baiklah, kalau begitu biar aku bimbing kamu berjalan." dia mengenggam tangan ku dengan erat dan menuntun jalan di tengah keramaian menuju tempat itu.


Tak lama, kami telah di tempat yang di tuju oleh Win. Tempat yang luas dan bagus, dibawahnya terdapat kolam air yang dihiasi dengan ikan koi. Sungguh pemandangan yang cukup memanjakan mata, ditambah dengan pancuran air yang sangat indah menghasilkan pernak-pernik pelangi. Selain itu tempat ini tidak terlalu ramai seperti jalanan tadi. Selera dari pria ini sangat bagus sekali mengingat dia seorang pencandu olahraga.


"Aon, apa kamu lapar ?"

__ADS_1


"Hm... lumayan, soalnya aku belum sarapan dari tadi pagi."


"Kalau begitu kita makan di kafe sebelah sana."


"Oke."


Kami berdua makan di kafe, memakan hidangan yang terbuat dari bahan dan berkualitas di tempat ini. Setiap gigitan yang kurasa terasa seperti sebuah mimpi manis yang tak bisa di bayangkan lagi. Aku beruntung bisa pergi bersama dia karena bisa menemukan tempat seperti ini.


Namun dibalik semua ini aku juga merasa kebingungan. Di tengah aku yang sedang bahagia, aku melihat pria itu terlihat tidak menikmati detik-detik. Wajah yang tadi terlihat senang kini terlihat lesu seperti memiliki suatu masalah.


"Win, apa kamu baik-baik saja ?" tanya ku sambil memukul halus tangannya. Itu sedikit membuatnya kaget sambil mengusap dadanya.


"Kamu membuat ku kaget."


"Maaf."


"Aku ok, tidak ada masalah kok." dari mimik wajahnya terlihat gerak gerik kebohongan.


"Ah... tidak kok aku tidak apa-apa. Dari pada itu aku lebih ingin tahu kenapa kamu mau menenangkan pikiran sampai sejauh ini." sontak itu membuat ku mulai terngiang-ngiang pada pria menyebalkan itu.


"Kamu ada masalah lagi dengan Bright ?"


"Tidak, aku tidak ada masalah dengan dia." jawab ku dengan cemberut.


"Telihat sekali kalau kamu berbohong." ujar pria itu sambil tertawa kecil.


"Ok, ok aku akan menceritakanya pada mu tapi kamu juga harus menceritakan masalah mu karena aku tahu kamu bohong juga tadi." ketus ku sambil menunjuknya dengan sendok.


"Baik, baik aku akan ceritakan sehabis kamu."


"Sebenarnya tadi aku dari tempat Bright, sudah lama aku menunggu dia disapa untuk keluar tapi sama sekali tidak keluar. Padahal dia sendiri yang buat janji dengan ku." jelas ku dengan kesal sambil menghentikan meja.


"Mungkin saja dia tertidur atau sedang pergi keluar ?"

__ADS_1


"Aku tidak tahu, sudah berulang kali aku menghubungi dia lewat ponsel tapi tidak ada respons sama sekali."


"Jadi begitu."


"Dari pada memikirkan masalah itu, aku ingin mendengar cerita mu lagi." dia terlihat diam dan menghindari kontak mata ku.


"Hei kamu sudah janji."


"Sebenarnya aku... ingin berenang sehabis ini, jadi aku malu ingi mengajak mu untuk ikut berenang bersama disini. " jelas pria itu dengan wajah memerah.


Aku menggelengkan kepala ku berulang kali sambil menahan rasa tawa dari pria itu. Pria dengan fisik kuat seperti dia ternyata memiliki hati yang lunak. Aku menerima ajakan untuk itu berenang.


Di kolam renang, ku lihat pria itu berenang bagai lumba-lumba yang kegirangan. Wajahnya memancarkan kebahagiaan yang di ikuti tetesan air indah yang jatuh dari wajahnya. Terlihat juga tubuh adanya yang membuat ku sedikit minder dengan bentuk tubuh ku. Dia datang menghampiri ku dan duduk di samping.


"Kenapa kamu tidak berenang ?" tanya pria itu sambil meminum sebotol air minum.


"Sebentar lagi aku akan berenang."


"Ain, kamu memiliki tubuh yang bagus walau tidak sering berolahraga." puji pria itu.


"Bagus dari mana, tubuh ku bentuknya biasa-biasa saja. Dibandingkan dengan tubuh ku, badan mu jauh lebih bagus dari pada punya ku."


"Benarkah? padahal teman-teman ku bilang tubuh ku kurus lengking." ujar pria itu sambil menompang dagu.


"Aku rasa mereka belum pernah melihat seperti ini sehingga mereka berpendapat seperti itu pada mu."


"Hm...kamu ada benarnya juga. Aku mau berenang lagi, kamu mau ikut ?" ajak pria itu.


"Kamu duluan saja, masih mengukur kenyaman dari kolam ini dengan kaki ku ini."


Pria itu tersenyum seperti rubah, seperti ada niat tersembunyi keluar dari dirinya. Dia menyelam ke ke dalam air sampai tidak terlihat di kolam. Aku kebingungan dengan apa yang dia lakukan. Tanpa ku sadar kaki ku tertarik ke bawah dan masuk kedalaman kolam. Ternyata dia iseng kepada ku untuk memaksa ku untuk berenang cepat. Aku berteriak kesal memanggil ke ayahnya.


"Ai Win tunggu awas kamu ya !"

__ADS_1


__ADS_2