FORMUISIKA

FORMUISIKA
25-Kenangan


__ADS_3

Hari Rabu di ruangan klub, aku duduk teremenung dalam kegalauan. Ku cabut satu persatu kelopak bunga sebagai putaran pilihan yang akan ku ambil untuk dia. Satu helaian tertinggal dengan pilihan yang tidak ku inginkan lagi. Aku mengambil lagi satu bunga dan mengulangi dari awal lagi.


Tidak, ini tidak mungkin setiap helaian bunga yang ku cabut terus menunjukkan hasil yang sama. Sudah 50 bunga telah ku cabut hasilnya tetap hal yang tidak ku inginkan. Ini semua seperti sebuah tanda bagi ku agar menyelesaikan ini dengan cara memenuhinya langsung.


Tangan yang lembut dan hangat mengusap kepala ku. Senyum manisnya menatap kepada ku dengan perasaan dalam. Sudah lama dia menemani ku dalam dilema yang tak keruan ini. Dengan penuh hati yang dalam dia mencoba memberi dorongan kepada ku.


"Kalau memang begitu sebaiknya kamu temui saja dia." jawab pria sambil mengusap kepala. ku lagi.


"Win, Aku masih bimbang untuk bisa bertemu dengannya setelah sekian lama melakukan hal konyol selama ini." ujar ku dengan wajah memelas seperti kucing.


"Aku rasa itu tidak masalah karena dia sendiri bisa dengan dewasa seperti itu waktu menemui ku kan."


"Memang benar tapi masih ada yang menjanggal di hati ku ini." ujar ku sambil menyentuh hati ku dengan kedua tangan ku.


"Pilihlah keputusan yang sesuai dengan kata hatimu, aku yakin itu adalah keputusan yang terbaik dari pada lari dari masalah ini terus."


"Iya kamu benar Win."


"Aku mau pergi ke kelas dulu ya, semangat Ain." sambil melambai pria itu meninggalkan ku menuju jelasnya.


Aku berjalan ditengah jalanan yang sepi seperti kuburan. Terlihat banyak orang sudah memasuki untuk memulai jam perkuliahan. Berbeda dengan ku saat ini yang datang ke kampus karena ingin curahkan hati pada seseorang. Bukanya malas tapi hari aku sedang tidak jadwal kuliah tetapi aku malah menggunakan waktu ini untuk hal yang konyol.


Di waktu yang luang ini seharusnya aku melanjutkan proyek ku lagi atau menciptakan barang temuan baru lainnya. Tapi hati penuh perasaan dengan dinamika rumus yang sulit membuat ku tidak mood untuk melakukannya. Ingin sekali aku seperti gadis berambut biru muda itu, terlihat dingin dan selalu tegar tapi tentu aku tidak seperti dia yang selalu berbicara yang tidak jelas.

__ADS_1


Ku lihat 2 orang berjalan dengan riang dan penuh tawa. Mereka berdua sepertinya adalah teman. Terlihat sangat menikmati kesenangan mereka dan mengabaikan sekitarnya sekaan dunia milik mereka berdua. Entah mengapa rasanya aku iri sekaligus rindu dengan itu.


Masa dimana aku bersama dia di sekolah dasar. Dulu dia adalah seorang yang pendiam dan tidak bergaul dengan lainnya. Selalu terlihat murung dan masa bodoh sekitarnya. Aku juga tidak begitu memperhatikannya dan hanya fokus untuk mendengarkan lomba yang akan ku mainkan di hari ulang tahun sekolah nanti.


Disaat itu aku terpilih sebagai pemain lomba lari berpasangan. Pasangan aku waktu itu dipulihkan oleh guru adalah dia, Bright. Tentu saja itu sangat sulit apalagi untuk diajak berinteraksi dengan ku. Terkadang dia mengacuhkan dan mengacangi ku, benar-benar sangat menyebalkan.


Dalam latihan bersama di sekolah terkadang kami tidak sinkron untuk berlari bersama. Terkadang aku bikin membuat kesalahan dan kadang dia yang bikin masalah. Aku juga susah payah untuk memperingatinya tapi dia tidak ada memperhatikan sama sekali. Aku bertekad untuk membuat alat agar bisa membuat kami bisa berlari serentak tanpa harus mengandalkan dia.


Keesokan harinya kami berlatih kembali. Latihan hari ini cukup berat karena guru mengajak kami berlatih dari sekolah menuju bukit. Dengan penemuan ini akhirnya aku bisa berlari bersamanya tanpa harus menerima bantuannya. Waktunya kami menuju ke bukit untuk menyelesaikan latihan hari ini.


Di tengah perjalanan, terjadi kesalahan teknis dari alat ku yang akhirnya membuat kaki cedera. Buruknya lagi kami tertinggal dari kawanan lain sehingga hanya ada aku dan dia sekarang. Ku paksakan untuk melangkah tetapi tidak bisa bahkan berdiri saja aku sudah kuat lagi. Aku hanya bisa menonton air mata menahan luka ini.


Pria itu kemudian mendekati ku dan merobek pakaiannya. Kemudian dari robekan bajunya itu dia membalut luka ku. Sambil tersenyum dia menepuk pundak ku dan mengusap air mata ku.


Pria itu kemudian mengangkat ku dan mengiringi ku. Kami pun mulai melangkah menyusul rombongan. Penilaian ku salah tentangnya, dia adalah orang yang baik dan perhatian. Dengan wajah merah dan malu-malu aku mengucapkan "Terima kasih" padanya. Dia membalas dengan senyuman yang menenangkan jiwa.


Sejak hari itulah hubungan kami dekat. Kemanapun kami pergi kami pasti selalu bersama. Orang tua kami juga saling kenal dan akrab. Pendidikan kami pun juga selalu ditempat sama hingga sampai perguruan tinggi. Bagaikan dunia hanya miliki kami berdua.


Sekian lamanya kami bersama dari waktu itu, tak ku sangka aku masih belum mengenal dia sepenuhnya. Akankah masalah kecil ini harus merusak hubungan kami yang sudah berlangsung selama itu. Apakah memang aku yang terlalu berlebihan dalam bertindak sejauh ini ?


Baiklah, Dengan tekad yang sudah bulat aku putuskan untuk memenuhinya kali ini. Tidak akan ku biarkan masalah konyol ini merusak hubungan ku dengan teman baik ku ini. Jika dia sudah bisa menahan sikap kerasnya pada ku maka aku harus mengubah sikap jelek ku yang takut dan lari dari masalah dia. Aku di jenius masa depan ini sudah menemukan formula yang tepat.


Sore hari di tempat klub musik, para rookie di kumpulkan. Setelah sekian lama absen, aku tidak begitu tahu banyak hal yang sudah terjadi di klub ini. Alasan utama aku hadir hari ini juga untuk menemui pria itu. Dari sejauh ini aku tidak melihat dia dimana-mana. Selain itu senior Park Kitti juga tidak ada. Apa terjadi sesuatu pada mereka ya ?

__ADS_1


Di tengah perkumpulan ini, senior Lillia berdiri di depan kami menggantikan tugas senior Pak selaku ketua di klik musik. Dia seperti memegang selembar poster yang tidak terlihat dari tempat ku duduk. Wajah terlihat senyum-senyum menahan tawa seperti ada sesuatu lucu yang dia perhatikan dari tadi.


"Baiklah disini kakak ingin menyampaiakan bahwa terkait dengan lomba membuat mv lagu. Kami memberikan kepada anggota baru untuk membuat masing-masing untuk membuatnya dan dikumpulkan dalam waktu dekat ini. Jadi tidak ada yang tidak mengumpulkan ya."


"Baik kak Lillia !"


Baru sekali juga aku nonggol langsung mendapat tugas seperti. Niat mau menyelesaikan persoalan ku saat ini malah di tambah dengan masalah baru ini. Ah sudahlah aku harus fokus untuk menemui.


Sudah begitu lama aku menunggu di klub sambil memainkan gitar. Matahari pun mulai pudar membuat warna oren mulai berganti menjadi warna hitam. Pria itu masih tak kunjung datang di klub ini. Mungkin dia ada agenda lain yang dilakukan saat ini.


"Dik Aon kenapa masih sini ? ini sudah waktunya klub di tutup." sapaa senior Lillia yang muncul dari belakang.


"Anu... itu aku lagi menunggu Bright Kak."


"Oh Brighton, dia tadi izin karena ada kegiatan sepak bola bersama teman-temanya."ujar kan Lillia.


"Oh begitu ya."


"Tapi jika dik Aon ada janji dengannya di klub, kakak titip kunci ini ya sekalian di tutup nanti ok." dia pun pergi meninggalkan ku seorang diri di ruang klub.


Kini aku sendirian di ruang yang kosong bersama gitar ini. Dengan hati yang masih berharap aku masih menunggu di kesunyian ini. Malam penuh gelap gulita telah muncul, lampu-lampu telah menyala dimana-mana. Sepertinya dia tidak akan datang kasini.


Ku langkah kan kaki ku menuju pintu penuh rasa putus asa. Kemudian kukunci dengan rapat harapan tersebut dan segera kembali kediaman ku yang nyaman. Ketika aku hendak meninggalkan tempat tersebut, sesorang telah berdiri didepan ku dengan bau keringat yang menyengat. Ya dia adalah....

__ADS_1


__ADS_2