
Malam ini langit penuh dengan lautan bintang. Kerlap kelip kilauan bintang seperti sebuah batu permata yang indah. Ku pandangi langit malam itu sambil duduk di rerumputan halus seperti sutra. Suasana dingin nan senjuk menenangkan jiwa yang penuh kegelisahan.
Dari sudut sana, pria itu datang menghampiri ku. Kemudian dia duduk disebelah ku sembari memberikan minuman dengan wajah malu-malu kucing. Dengan senyuman manis ku ambil minum itu darinya. Ku buka tutup minuman itu dan ku teguk setiap kesegaran di dalamnya sambil menikmati suasana itu.
Belum ada sepatah kata pun yang keluar dari kami. Kami terdiam satu sama lain sambil memandangi langit malam. Aku kembali merasa canggung dan gugup harus memulai dari mana untuk memecah keheningan ini. Ku tunggu-tunggu dia untuk mulai berbicara tapi sepertinya tidak akan terjadi. Aku putuskan untuk memulai berbicara duluan kepadanya.
"Ba-bagaimana hasil latihan sepak bola mu sekarang ini ?" tanya ku yang sedikit kaku dan terbata-bata.
"Seperti biasa tidak ada yang menarik." jawabnya dengan sedikit canggung.
"Benarkah ? tidak seperti biasanya."
"Apa ?"
"Eh bu-bukan apa-apa." ujar ku dengan gugup.
Suasana kembali hening diantara kami. Aku semakin panik dan bingung karena telah salah bicara. Dia juga terlihat seperti masih enggan untuk berbicara. Itu membuat ku sulit untuk mulai berbicara lagi padanya.
Pria itu mengeluarkan gitar dari tasnya, kemudian dia mulai memetik senar itu dan memainkan sebuah lagu. Lagu yang berisi ungkapan permintaan maaf. Aku mendengarkan dengan seksama setiap alunan musik dan nyanyian yang dibawakan oleh dia.Seolah pikiran kami terhubung melalui lagu ini.
Di tengah permainanya yang sangat brilian, dia berhenti bermain. Kemudian dia memegang tangan ku. Tangannya terasa hangat seperti alat penghangat ruangan. Dia memperhatikan ku dengan sesama dan akhirnya mulai berbicara.
"Aku... minta maaf padamu Aon." kata pria itu sambil memijat-mijat tangan ku.
"Seharusnya aku yang minta maaf karena terlalu. berlebihan pada mu." ujar ku dengan perasaan yang menyesal dan malu.
"Tidak juga, kalau aku tidak sekeras itu pada mau mungkin kamu tidak perlu serabut ini pada ku."
__ADS_1
"Hm... Ya mungkin itu karena ku juga karena membuat mu begitu marah waktu itu."
"Tidak, kamu sekali tidak melakukan kesalahan. " dia kembali terdiam sambil melepaskan tangannya dari diri ku.
"Kalau aku boleh tahu, apa yang membuat mu begitu marah saat itu ?" tanya ku dengan rasa penasaran yang tinggi.
Pria itu masih terlihat diam dari sebelumnya. Wajahnya menunduk menghadap kebasah. Ku lihat sesama terlihat wajahnya memerah seperti buah tomat. Itu membuat ku semakin penasaran apa yang dirasakan saat ini. Tapi ku urungkan niat ingin tahu ku dulu untuk meembuatnya bisa santai sedikit.
"Kamu tahu waktu semasa sekolah kita selalu bersama kemanapun."
"..."
"Kamu sangat baik pada ku. Selalu membantu ku di kala aku senang maupun susah. Aku benar-benar tidak akan bisa menemukan orang seperti mu lagi. Aku bersyukur bisa bertemu dengan mu." ujar ku sambil tersenyum dan mengusap-usap punggungnya.
Pria itu semakin menutup wajahnya rapat-rapat. Terlihat semakin merah dari sebelumnya. Sepertinya aku membuatnya tertipu malu karena perkataan ku tadi. Kemudian ku tepuk pundaknya agar dia merasa tenang.
Tak lama dia mengangkat kepalanya dan menghadap kepadaku. Bekas wajah merah masih terlihat jelas. Tapi kali ini mata terlihat berkaca-kaca. Itu membuat ku bingung sekaligus kaget dengan kondisinya seperti itu.
"Apa yang kamu takutkan Bright ?"
"Aku takut kehilangan mu. Ayah atau ibu ku, mereka tidak pernah ada waktu untuk ku. Kamu satu-satunya orang memberikan perhatian pada ku. Karena itu aku takut kehilangan perhatian mu jika bersama orang lain." ungkap Bright dengan mata yang semakin bekaca-kaca.
Aku terkejut mendengar pengakuan dari dirinya. Hati ku terasa ciut dan haru mendengarnya. ku peluk dia dengan erat sambil mengusap kepalanya. Air matanya bercucuran membasahi bahu ku. Seperti dugaan ku, aku memang masih belum mengenal dia sepenuhnya. Tapi kali aku sadar agar kami harus berterus terang satu sama lain.
"Tidak apa-apa, aku akan selalu memperhatikan mi selalu."
Waktu semakin larut, kami berjalan kembali ke rumah masing-masing. Seperti biasa dia mengantarkan ku sampai ke kosan. Padahal aku ingin mengantarnya untuk pulang, tapi sifat keras kepalanya tidak berubah sehingga aku harus mengalah. Terserah apa yang dia inginkan asalkan dia bisa senang.
__ADS_1
Aku sudah berdiri tepat di pintu kos. Pria itu masih tetap berdiri didekat. Aku memintanya untuk segera pulang agar tidak terlalu larut untuk kembali ke rumahnya. Dia hanya tersenyum dan melepaskan tas gitarnya.
"Kenapa ?"
"Tolong bawakan gitar ini untuk ku besok." sambil menyerahkan tas itu kepada ku.
"Huh, baiklah aku bawakan sepertinya kamu sangat lelah sekali."
"Hm...kalau begitu aku sebaiknya aku tinggal sisiku saja dulu." kata dia dengan nada menggoda.
"Tidak, tidak kamu bau, kamu harus kembali ke rumah mu untuk mandi."
"Aku bisa mandi sini."
"Pakaian ganti mu tidak ada disini." tegas ku sambil menahan dia masuk.
"Aku bisa pakai pakaian mu sekalian dengan ****** ***** mu." jawabnya dengan santai.
"Bright, jangan bercanda cepat pulang." sambil menahan gelak tawa dari perkataannya tadi.
"Ok, ok baiklah aku akan pulang. Tapi sebelum itu aku ingin melakukan ini."
Pria itu perlahan mendekati ku, kemudian dia memberikan pelukan kembali. Aku terhanyut dalam kehangatan peukanya. Tapi kesadaran ku kembali karena mencium bau keringatnya yang busuk. Aku pun kembali mendorongnya keluar dan menyuruh. Dengan senyum rumahnya dia pun akhirnya pergi.
Aku masuk ke dalam kediaman ku yang penuh dengan alat penemuan ku. Ku rebahkan tubuh ini di atas bantalan empuk dan nyaman ini sambil melepaskan rasa lelah dan penat dari tubuh dan hati ku. Pandangan ku menghadap langit-langit rumah sambil memikirkan hari ini.
Aku hanya bisa senyum-senyum dan tersipu malu. Bantal yang tadi ada di kepala ku, kini ku peluk dengan erat hingga remuk. Perasaan ku sangat senang dan lega karena akhirnya aku bisa menyelesaikan masalah ku dengan dia. Beban yang di pikul oleh hati ini seorang terasa melayang seperti balon yang gerbang.
__ADS_1
Dari hal ini aku juga belajar untuk lebih memahami orang lain dari pada harus berpikiran buruk kepada mereka. Bukanya hanya Bright seorang tapi Horou, Frans, Elanda dan lainnya juga begitu. Mereka adalah orang-orang berharga bagik aku juga harus memahami mereka juga.
Rambut ku berdiri seketika, sepertinya aku menemukan formula baru. Aku kembali berdiri dari kenyaman kasur yang empuk.Dengan hati yang penuh gejolak semangat aku kembali membuat penemuan baru dengan rumus ini.