
Xiao Li dkk menatap Liu penuh rasa penasaran.
"Sebenarnya....."
#FLASH BACK ON#
Di malam yang dingin di sebuah istana tepatnya kediaman para selir raja.
"Bunuh..." perintah Raja Yin pada para pengawalnya.
"Kau boleh membunuhku tapi tidak dengan anakku" ucap wanita itu dengan lemah "meskipun dia ada hanya karena kecelakaan... dan betapa berat hidupnya di masa depan nanti aku ingin dia tetap hidup" tersenyum tulus "anggaplah ini permintaan terakhir sebelum kepergianku" ucap wanita itu benar benar tulus sambil mengelus sayang anak yang baru di lahirkannya itu.
"Beri dia nama Zhengge... aku tidak berharap dia menjadi pangeran kau boleh memberikannya pada dayang istana yang sudah menikah namun belum memiliki anak" ucap wanita itu masih fokus menatap anaknya penuh kasih sayang.
"Heh... kukira kau adalah wanita yang tidak memiliki sisi kemanusiaan" celetuk Raja Yin sinis.
"Ketahuilah sekejam apapun aku di masa lalu tapi sekarang aku adalah seorang ibu" tersenyum kecut.
Lima tahun kemudian di sebuah taman di dalam istana...
"Hei kau anak haram pergi sana kau memperburuk pemandangan taman yang indah ini" teriak seorang anak berusia sekitar enam tahun kepada anak laki laki yang sedang duduk di tepi kolam ikan yang ada di taman tersebut, usianya terpaut satu tahun lebih muda dari anak yang berteriak tadi.
Anak laki laki itu tidak merespon teriakan dari saudara beda ibunya itu dia tetap diam sambil menatap kosong kedepan.
"Hei kau tuli cepat menyingkir" teriaknya lagi dengan emosi yang menggebu gebu namun masih tetap tidak mendapat respon dari orang yang di teriaki dan dimakinya.
Iya anak laki laki yang sedang duduk di tepi kolam itu adalah Pangeran Zhengge Yin.
Dia sudah terbiasa dimaki oleh pangeran maupun putri di istana ini, bahkan dia selalu di tindas habis habisan oleh seluruh penghuni istana.
Dia tidak pernah ingin menjadi seorang pangeran, bahkan dia selalu berfikir alangkah indahnya jika dia segera menyusul ibunya di surga.
Raja Yin tidak pernah memperhatikannya bahkan dia tidak tau seperti apa rupa dari Raja Yin sendiri yang notabenya adalah ayahnya.
Pangeran Zhengge selama ini menjalani harinya dengan kehampaan.
__ADS_1
Dihatinya terdapat lubang besar yang selalu mencari jalan dengan segala cara agar dia mendapat tujuan hidup yang selama ini selalu di dambakannya.
Namun kosong... semua usahanya tidak pernah membuahkan hasil dan mulai saat itu yang ada di fikirannya adalah mati! lebih cepat lebih baik, sehingga dia tidak perlu merasakan siksaan lahir maupun batin yang akan menghantui selama sisa hidupnya.
Pangeran Zhengge kecil masih terdiam di tepi kolam buatan, pandangannya beralih pada genangan air yang tidak akan pernah surut walaupun kemarau panjang...
Yang ada difikirannya saat itu 'bagaimana bila aku masuk ke air dan berenang renang bahagia seperti ikan di dalam sana? Aku ingin menjadi ikan yang bahagia!'
Pangeran Zhengge kecil berdiri perlahan mulai mendekat ke arah kolam kakinya seolah tidak ingin berhenti, pikiran warasnya sudah tercuci oleh khayalan kekanakannya.
Byurr!!
Suara Pangeran Zhengge kecil yang menceburkan diri ke dalam kolam...
Dia tidak bisa berbafas dadanya terasa sesak air mulai masuk kedalam paru parunya rasa sakit perlahan dia rasakan beserta pandangannya yang mulai kabur...
'Jadi ikan ternyata menyiksa namun jika saat ini aku tiada justru akan lebih menyenangkan' batinnya sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya saat itu juga terukir senyum manis yang tidak pernah di tunjukannya lagi selama tiga tahun ini.
"bu bu kan tu (ibu ibu lihat ikan itu)" tunjuk pangeran zhengge kecil saat masih berusia dua tahun pada pengasuhnya yang sudah di anggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.
"Bu atu mu di kan (ibu aku mau jadi ikan)" ucapnya dengan nada menggemaskan khas anak kecil "senya nyangkan? (sepertinya menyenangkan?)" Lanjutnya lagi sambil fokus menatap ikan yang sedari tadi berenang kesana kemari.
Ibu asuh Pangeran Zhengge kecil tersenyum kecut "kau tau pangeran menjadi ikan di dalam kolam tidaklah menyenangkan" mengusap lembut surai Pangeran Zhengge kecil "mereka tidak bisa bebas berenang ke tempat yang mereka mau karena luas kolam yang kecil" menatap lurus ke arah kolam "bagaikan burung di dalam sangkar yang terkunci erat, mereka tidak akan bisa keluar dari alur cerita hidup yang telah tuan mereka atur" membuang nafas kasar "karena hidup dan mati mereka sudah di tetapkan di dalam sangkar itu"
"Bu? (Ibu?)" Ucap Pangeran Zhengge kecil sambil memiringkan kepalanya, dia sama sekali tidak mengerti apa maksud kalimat panjang yang di ucapkan oleh Ibu Asuhnya itu.
"Apapun yang terjadi di masa depan tetaplah menjadi Pangeran kecil kesayangan ku" ucap ibu asuh sambil memeluk tubuh mungil Pangeran Zhengge kecil.
Satu bulan kemudian di sebuah kamar peraduan sederhana yang memang di sediakan khusus untuk para pelayan.
Terdapat seorang wanita yang sudah terbaring lemah di atas peraduan, tubuhnya kurus seperti tak terurus, wajanya pucat namun masih bisa tersenyum manis walaupun sekuat tenaga dia menahan tangis.
"Bu?" panggil Pangeran Zhengge kecil yang masih tidak mengerti dengan keadaan.
Di tangannya saat ini terdapat semangkuk bubur yang pelayan lain antarkan untuk ibu asuhnya, dia pikir ibunya selama ini selalu kekurangan makan karena tubuhnya yang berangsur semakin kurus.
__ADS_1
"Kan duyu yar bu at (makan dulu biar ibu kuat)" ucapnya sambil menyodorkan sesuap bubur ke arah bibir ibu asuhnya.
"Anakku" lirih suara lemah ibu asuh Pangeran Zhengge kecil sambil menitihkan air mata, ketegaran yang di bangunnya selama ini runtuh dia sadar hidupnya tidak akan lama lagi... karena penyakit aneh yang dideritanya selama ini sudah mencapai puncaknya.
"Bu bu jan ais bu (ibu ibu jangan menangis bu)" ucapnya manaruh mangkuk bubur ke jangkauan terdekat dan menghapus air mata ibu asuhnya.
Pangeran Zhengge kecil yang tidak tahu apa apa hanya bisa ikut menangis yang dia tau mugkin ibunya saat ini merasa kesakitan hingga membuatnya menangis.
Dengan sigap Pangeran Zhengge kecil memijit perlahan tangan ibu asuhnya karena hanya tangan itu yang bisa di raihnya.
Dia terus memijit perlahan tangan ibu asuhnya yang sudah terlihat bagaikan tulang dan kulit saja sangat kurus, sambil menangis sesenggukan.
Dia takut kalau ibu asuhnya akan pergi meninggalkannya dia sangat takut, pada saat itu dia benar benar merasa sangat takut.
Tangan ibu asuh menggenggam lemah jemari Pangran Zhengge kecil lalu tangannya terangkat seperti ingin mangelus surai rambut Pangeran Zhengge yang panjangnya sudah mencapai punggung.
Belum sempat tangan itu menyentuh surai Pangeran Zhengge kecil.... tangannya terjatuh dan pandanganya kabur 'tuhan bila memang ini saat terakhirku tolong jangan biarkan senyumannya pudar' doa batin ibu asuh sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya.
"Bu?" Panggil Pangeran Zhengge kecil pada ibu asuhnya dia pikir saat ini ibu asuhnya sedang tidur karena kelelahan jadi dia tidak ingin membangunkannya.
Pangeran Zhengge kecil naik ke atas peraduan dan ikut membaringkan tubuh mungilnya di samping ibu asuhnya.
Mengaharapkan pelukan hangat dari ibu asuhnya yang di ketahuinya tengah terlelap terbang ke alam mimpi dan tidak akan kembali.
.
.
.
.
.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE♡
__ADS_1