
...HAPPY READING GAES...
Malam hari
Apartemen
"Bi panggil kan Mareta saya tunggu di ruang tamu" ucap Narendra
"Baik den" balas bi Asih
tok tok tok
"non Mareta non di tunggu den Nendra di ruang tamu" ucap bi Asih
"iya bi sebentar lagi saya kesana" jawab Mareta
Setelah itu Mareta langsung menemui Narendra yang sedang menunggunya di ruang tamu. Mareta berjalan pelan menuju kursi yang di tempati Narendra karena Narendra menghadap membelakanginya jadi ia tidak berani berbicara di belakangnya.
"Mas aku udah selesai " ucap Mareta
Mendengar suara Mareta, Narendra pun menengok dan berdiri melihat sosok cantik di hapannya Narendra sempat di buat kagum olehnya bagaimana tidak gadis kecil nya yg biasanya dandan sederhana kini dengan gaun dan polesan mak up tipis membuatnya semakin cantik hingga Narendra di buat tak berkedip.
"Mas Narendra " panggil Mareta
"Ah iya " jawab narendra setelah sadar dari lamunanya
"Ayo kita berangkat mama papa saya sudah menunggu" tambahnya
Mareta hanya mengangguk tanda mwngerti setelah itu mereka berjalan menuju parkiran dan pergi ke rumah keluarga Alexander. Tidak ada satu kata pun yang memecahkan keheningan mereka berdua hingga mereka sampai di rumah keluarga Alexander. Keduanya tampak saling diam hingga salah satu pembantu menyapanya.
"Eh den Nendra sudah datang " sapa bi Marsih dan di jawab senyuman oleh Narendra dan Mareta , bi Marsih tampak berfikir siapa perempuan cantik yang datang bersama anak majikannya itu pasalnya dari dulu ia tak pernah membawa wanita kerumah.
"Nyonya sama tuan sudah menunggu di meja makan den" tambahnya
"Makasih bi Marsih " jawab Narendra sopan
Lalu Narendra berjalan menuju kedalam rumah dan menggandeng tangan Mareta, Mareta yang di perlakukan seperti itu hanya diam dan pasrah dia tidak berani berbuat apa apa karena ini suatu perintah baginya.
"Selamat malam ma pa" ucap Narendra setelah sampai di meja makan
"selamat malam sayang" ucap mama papa bersamaan
"ah cantik sekali siapa namamu nak" ucap bu Sarah sembari berjalan ke arah Mareta
"Saya Mareta nyonya" jawab Mareta dengan gugup
"Loh kok panggil nyonya panggil mama dong kan kamu calon menantu mama"
"I iya ma" jawab mareta dengan tersenyum dia lega karena ibu Narendra tidak marah
__ADS_1
"Loh kok malah pada berdiri ayo dong duduk ! " ucap papa Narendra tuan Alexander
"La iya mama lupa malah ngajak ngobrol" jawab mama Narendra
"Ayuk duduk sayang" tambahnya sembari merangkul bahu Mareta
Narendra yang sudah duduk dari tadi hanya menyimak pembicaraan kedua wanita cantik di depannya.
"Ayo nak Mareta silahkan di makan jangan sungkan anggap saja rumah sendiri ya gausah malu toh kamu calon menantu di keluarga ini" ucap papa Narendra
"Ah iya baik pa" jawab Mareta
"Oh ya ma pa kakak kemana? " ga ikut makan malam
"Kakak kamu ada pemotretan di luar kota jadi tidak bisa ikut dia berpesan kepada kamu kalau kakak pulang kamu harus main kerumah membawa calon mantu mama" ucap mama Narendra
"Ekhem kita makan dulu nanti kita lanjut ngobrol di ruang keluarga ga baik ngobrol di depan makanan" sahut papa narendra
setelah selesai makan malam pun mereka berbincang bincang di ruang keluarga Mareta merasakan kehangatan di dalamnya. Pasalnya ia sudah lama tidak berkumpul dengan keluarganya apa lagi setelah orang tuanya meninggal.
"Mareta kamu kerja di mana sayang" tanya mama nendra
"Saya baru lulus sekolah ma dan saya mau melanjutkan kuliah" jwab Mareta jujur
mendengar jawaban Mareta tuan Alexander dan Nyonya Alexander melotot menghadap Narendra bagaimana tidak anaknya mau menikahi gadis yang baru saja lulus sekolah usianya masih sangat muda bahkan kakaknya Narendra yang sudah hampir kepala 3 belum menikah.
"Kenapa ma pa kok melotot" tanya Narendra santai
"Maksut papa apa? papa melarang nendra menikahi mareta ? " tanua nendra kepada papanya
"bukan melarang nendra kamu lihat mareta dong dia masih berumur 18 tahun kasihan dia masih muda harus menikah denganmu mengurus rumah tangga biar kan lah dia menyeledaikan kuliahnya" ucap papa Narendra panjang lebar
"iya sayang kasihan Mareta dia belum punya pengalaman banyak untuk mengurus rumah tangga apa lagi kamu yg dingin di setiap wanita huuhh mama ga akan biarkan kamu menyakiti Mareta kasiah dia . Nendra dia masih muda baru saja lulus sudah kamu nikahin " sahut mama nendra
" tapi ma pa " rengek Narendra
"Narendra mau menikah liat umur Nendra sudah sepermpat abad mama papa ga kasian apa sama Narendra please ma pa Nendra janji ga bakal nyakitin Mareta Nendra juga janji ga bakal maksa Mareta buat kasih mamh cucu sekarang dan Narendra juga mau nikahanha sederhana saja hanya keluarga yang datang " jawab Narendra memohon dan bwrusaha meyakinkan kedua orangtuanya
Mendegar jawaban Narendra tuan Alexander dan nyonya Alexander pun saling melirik dan menganggukkan kepala, karena keduanya berfikir bahwa jika mereka melarangnya takut hal hal yang di luar dugaan terjadi malah bahaya.
"oke kalau gitu papa sama mama setuju keliahatanya kamu sudah ngebet banget ingin menikahi Marwta , dari pada hal di luar dugaan terjadi tapi dengan satu syarat kamu harus tinggal.di rumah ini lagi bersama istri kamu" jawab papa Narendra dengan tegas
Narendra berfikir sejenak setelah itu ia meng iyakan syarat yang di ajukan oleh papa dan mamamya toh juga nanti kalau ada papa dan mamanya Mareta ada yang menemani dan menjaganya karena ia mengingat ada wanita yang akan melakukan bernagai cara untuk mendapatkannya.
Setelah rapat paripurna keluarga Alexander pun Narendra dan Mareta memutuskan untuk kembali ke apartemen.
" Mareta setelah ganti baju kamu ke kamar saya" perintah narendra
" baik mas" jawabnya
__ADS_1
setelah itu Mareta pergi ke kamarnya dia merenungkan nasibnya yang akan menikah dengan laki laki yang sama sekali tidak ia kenali dahulu bahkan entah rasa sayang pun ada atau tidak tapi mau bagaimana lagi fikirnya nasi udah jadi bubur. Setelah bergelut dengan fikiranya mareta pun berganti pakaian dan menuju kamar Narendra entah apa yang dia perintahkan nantinya.
tok tok tok
"Mas ini aku" ucap mareta
"masuk" jawabnya
"duduk di sofa tunggu aku berganti pakaian"
Mareta menangguk dan menurut dia tidak mau membuat keributan. Setelah menunggu 5 menit akhirnya Nendra keluar hanya dengan celana boxer pendek dan kaos putih. Mareta yang melihatnya sampai tak berkedip di buatnya lelaki yang di hadapannya adalah laki laki idamannya sejak dulu tinggi kekar putih hidung mancung.
"Ekhem" deheman Nendra membuat buuar lamunan Mareta
"Kenapa aku tampan kan memang sangat tampan" ucap Nendra dengan sanatainya
"PD sekali anda tuan Narendra" jawab Mareta ketus dan mengalihkan pandanganya
" Ya ya tidak papa kalau sekarang jual mahal tapi nanti liat saja " bisik Narendra membuat bulu kuduk Mareta berdiiri fikirnnya jadi kemana mana
"Hiihh mas nendra bisa nggak gausah bercanda" pekik mareta
"Haha iya iya santai ding gausah ngegas"
Mareta baru perrtama kali melihat Narendra tertawa pun ikut tersenyum ia berfikir tenyata ketika tertawa Narendra sangat tampan.
"Kamu mau kuliah di mana" tanya Narendra sembari merangkul pundak Mareta
"Di Universitas Merdeka" jawab Mareta berusaha tenang dan tidak gugup bagaiamana tidak gugup jika dia di rangkul oleh laki laki pertama kalinya selain ayah dan pamannya
"Kamu yakin ? kalau kamu yakin besok kamu daftar kesana aku akan berikan uang buat mengurus administrasi mu" ucap Narendra
"tidak perlu" jawab Mareta cepat Narendra yang mendengarnya langsung mengernyitkan alisnya
"huff aku udah daftar aku dapat beasiswa di sana jadi tidak perlu pakai uang kamu mas" jelas Mareta
"Tapi kamu itu calon istriku masak calon istri seoarang Narendra Alexander pake beasiswa sih aku mampu bayarin kamu bahkwan sampai S3 jika kamu mau " ucap Narendra sombong
"Dasar sombong" ucap Mareta lirih tapi masih bisa di dengar oleh Narendra
"Apa kamu bilang" tanya Narendra mendekatkan wajahnya ke wajah Mareta
"ihhh apaan sih" jawab mareta lalu mendorong wajah nendra agar menjauh
"Aku tu gamau kalau semua orang tau aku istri kamu aku gamau kamu malu punya istri miskin sepertiku" jelasnya
" Dengar Mareta aku tidak pernah malu menikahi kamu" jawab narendra tegas
Mareta yang mendengarkannya pun terharu
__ADS_1
...BERSAMBUNG...