
Di Apartemen Arka.
Bukannya menanggapi ucapan Lia, Arka hanya diam memandang wajah Lia dengan tajam.
"Maafkan saya, sudah membuat wajah anda menjadi seperti ini, dan juga maafkan saya atas rusaknya handphone anda tuan, saya akan membayarnya dengan menyicil, ini ada sedikit tabungan saya, tolong di terima" ucap Lia mengulang ucapan maafnya pada Arka dan menyerahkan amplop berisi uang tabungan Lia yang Lia kumpulkan selama beberapa tahun ini.
"tidak bisa"ucap Arka dengan angkuh dan membuang wajahnya ke arah lain sambil mengusap wajahnya. "kau harus menggantinya hari ini, saya tidak mau tau" ucap Arka. "dan tetang ini" Arka menunjuk wajahnya. "kau obatilah, ambil obat di kotak p3k di laci, sebagai tindakanmu meminta maaf" ucap Arka lagi menunjuk laci yang ada di belakang Lia.
Lia menuruti ucapan Arka dan mengambil kotak p3k yang di maksud Arka.
"duduklah disini dan obati" ucap Arka menyuruh Lia duduk di sebelahnya, sedangkan Arka merebahkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan matanya.
Lia hanya mengikuti perintah Arka dengan duduk di sebelah Arka, dan mulai membuka kotak p3k. Lia mengambil peralatan Satu persatu yang akan iyaa gunakan, dan mengoleskannya perlahan. selesai mengoleskan obat di sudut bibir Arka lia menyimpan kembali peralatan yang iya pakai tadi. lalu Lia berkata.
"saya akan mengompres memar di tulang pipi anda dengan es batu tuan" ucap lia meminta izin.
"silahkan, ambil es batu di dapur" ucap Arka membuka matanya dan melihat ke arah Lia.
Lia berdiri dan menuju kedapur, "huh.. andai akan menjadi seperti ini aku tak akan membuat masalah dengannya, tidak cukup kah hanya dengan perkataan maaf.. hmm" kata lia sedikit berbisik, dan tentunya itu hanya di dengar olehnya. lia mengambil es batu dan menaruhnya di mangkok, lalu membawanya ke Arka.
"Apa anda punya sapu tangan tuan" ucap lia saat menghampiri Arka. "kalau ada dimana letaknya biar sekalian saya ambil, sepertinya bukan hanya wajah anda yang sakit" ucap lia menyindir, karena Arka membuat dirinya seolah-olah bukan tamu dan menganggap bahwa lia sudah terbiasa di apartemennya itu.
Arka yang mendengar ucapan Lia bangun dan mengambil sapu tangannya di kamar. Arka memberikannya pada Lia.
"ini tidak usah menyindir,kau yang bersalah disini jadi terserahku"ucap Arka kembali duduk di sebelah Lia.
"baiklah, mendekatlah" ucap lia pada Arka. Arka mendekatkan wajahnya, dan Lia mengompresnya.
"aarkkh.. pelan-pelan kau tidak tau itu sakit" ucap arka memegang tangan Lia dan menatapnya.
deg.. deg.. suara jantung lia wajah mereka hanya berjarak satu jengkal.
__ADS_1
deg.. deg.. deg.. begitupun dengan jantung Arka.
"sini biar Aku saja" ucap Arka mengambil es batu di tangan lia. dan lia memberikannya. "dekat-dekat terus dengannya membuat jantungku tidak normal" batin Arka. "duduklah di tempatmu tadi" ucap Arka lagi pada Lia.
Dan Lia kembali duduk di tempat asal dia baru datang tadi. " masalah handphone saya tidak bisa menggantinya hari ini juga, beri saya waktu untuk menggantinya" ucap Lia sesaat setelah menormalkan detak jantungnya.
"saya bilang tidak bisa ya tidak bisa, apa kau tidak mengerti, begini saja kita buat kesepakatan" ucap Arka sambil mengompres tulang pipinya.
"kesepakatan?"ucap lia bingung.
"yaa.. kesepakatan" ucap arka lagi membenahi duduknya dan menatap lia.
" kesepakatan yang bagaiman?" ucap lia lagi.
"Pergi temani aku makan malam keluargaku malam ini" ucap Arka santai masih memandang wajah bingung lia.
"mengapa saya harus menemani anda makan malam bersama keluarga anda?" ucap lia masih mode bingung.
"iyaa memang begitu adanya, dan katakan iya saat di tanya, setelah itu aku tak akan menagihmu lagi soal handphone" ucap Arka.
"entahlah" ucap Arka meletakan es batu di mangkok dan berdiri menuju kedapur.
Lia yang merasa kurang puas dengan jawaban Arka mengikuti arka kedapur, dan membawa mangkok es tadi. Arka mengambil sebotol Air dan meminumnya.
"lalu kenapa aku harus menjawab iyaa, bagaimana kalau orang tua mu bertanya macam-macam" ucap lia protes dan menaruh mangkos es batu tadi wastafel.
"itu resikomu.. kalau kau tidak mau bayar sekarang juga, gampangkan,atau kau mau melayaniku 1 malam ini, tidur bersamaku" ucap Arka tersenyum jail.
"kau gila, siapa yang membayar dengan cara seperti itu" lia menghampiri Arka dengan emosi yang mulai tersulut.
"baiklah aku hanya bercanda, jadi bagaimana?" ucap Arka bersandar di meja makan dan kembali meminum air yang di pegangnya.
__ADS_1
"baiklah, aku akan menemanimu makan malam keluarga malam ini" ucap Lia akhirnya.
Arka tersenyum puas dengan jawaban Lia.
"kena kau lia, setelah ini kau tak akan bisa lepas dariku" batin Arka.
" baiklah kalau begitu nanti jam 8 malam aku akan menjemputmu, gunakanlah gaun yang cantik jangan tampilan seperti pria" ucap Arka meninggalkan Lia keruang tamu.
"mengapa harus mengomentari penampilanku, akukan hanya perlu menemanimu saja" ucap lia, kembali mengikuti langkah Arka. Arka menghentikan langkahnya tiba-tiba.. karena lia yang berjalan terlalu cepat karena emosi menambrak dada bidang Arka.
"akh.. mengapa kau berhenti tiba-tiba" ucap lia kesal.
Arka sedikit menunduk dan menjauhkan wajah Lia dengan jari telunjuknya..
"kau ini selalu saja protes, kau inikan wanita berpakaianlah sepantasnya wanita" ucap Arka. "apa kau ini pria" ucap Arka lagi.
"tentu saja aku wanita" ucap lia menjauhkan tangan arka dari wajahnya.
"ya sudah, tidak usah protes.. aku akan menjemputmu malam ini jam 8, aku juga akan meminta izin pada orang tuamu" ucap Arka lagi kembali jalan dan duduk di kursi ruang tamu.
Liapun kembali duduk mengikuti Arka.
"baiklah"ucap Lia pasrah.
"kalau sudah tidak ada yang di bahas lagi aku akan pulang sekarang" ucap lia dengan nada lemah.
Arka menatap Lia dengan tajam "Lia" panggil Arka setelah melihat Lia akan pergi.
Lia menoleh "iyaa, apa masih ada yang ingin anda bicarakan" ucap lia menatap Arka.
"tidak, hati-hatilah di jalan" ucap Arka mengantar lia kedepan.
__ADS_1
kreeet.. suara pintu di buka, terlihat seseorang di depan pintu dengan wajah bingung, dia baru saja akan menekan tombol bel, tapi tiba-tiba pintu sudah terbuka dan orang itu melihat Arka dan Lia di depan pintu.
Haii... maaf sebelumnya, saya membuat cerita ini mungkin masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu, saya mohon saran dan kritikannya agar tulisan ini bisa lebih baik, dan bacanyapun tidak membosankan. karena jejak kalian para pembaca adalah semangat saya.🥰🙏 terima kasih.