
kriiiiiiiiiiiiiiiiing... suara jam alarm membangunkan Lia jam menunjukan pukul 04:45, Lia pun langsung mematikan jam alarmnya dan bangun perlahan mengambil handuk lalu menuju kamar mandi. setelah selesai dengan acara mandinya iyaapun menunaikan sholat subuh lalu kedapur membantu ibunya.
"Pagi bu",ucap Lia menghampiri ibunya.
"Iyaa pagi juga Lia, kau mau membantu ibu nak",ucap bu Mesya pada Lia yang memotong sayuran.
"Iyaa dong bu, sini biar Lia aja bu yang potong sayuran",ucap Lia mengambil alih pekerjaan ibunya.
Bu Mesyapun memberikannya pada Lia.
"Lia ibu mau tanya, apa kau sudah mengantar CV mu?",ucap Bu Mesya sambil duduk di kursi memperhatikan anaknya.
"Sudah sih bu kemaren di perusahaan xxx, tapi CV nya tidak di terima",ucap Lia.
"Ohh ya, kenapa tidak antar CV mu di tempat abangmu bekerja, itu kan perusahaan besar, sangat bagus untuk mencari pengalaman",ucap bu Mesya.
"Iyaa bu, rencananya sih hari ini bu Lia akan antar",ucap Lia menyelesaikan tugasnya, lalu mengambil bawang dan ***** bengek lainnya.
"Ohh, seperti itu",ucap bu Mesya bangun dan mengaduk nasinya di rice cooker.
Begitulah sekiranya suasana dapur pagi ini di rumah Lia. Merekapun menyelesaikan semua masakan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 06:30 pagi. Semua masakan sudah terhidang di meja makan.
"Bu kok tumben Ayah gak bangun",ucap Lia heran tidak melihat Ayahnya berada di dapur.
"Iyaa, Ayah di kamar lagi gak enak badan",ucap Bu Mesya.
"Mulai kapan bu",ucap Lia lagi.
"Mulai Tadi malam",ucap Bu Mesya menyiapkan sarapan di piring untuk suaminya.
"Sudah berobat bu",ucap Lia Lagi.
"Ibu belikan obat saja tadi malam, nanti habis sarapan ini ibu bawa Ayahmu ke dokter",ucap bu Mesya. "Oh yaa Lia, bangunkan nak Arka suruh sarapan, Ibu mau ke kamar bawakan sarapan untuk ayahmu",ucap bu Mesya lalu meninggalkan Lia.
"Apa, dia nginap di sini tadi malam",ucap Lia seorang diri lalu menuju kamar abangnya.
Tok...tok.. tok... suara Lia mengetuk pintu, di ulanginya lagi beberapa kali, tapi tidak ada respon dari dalam, di bukanya perlahan pintu rupanya tidak di kunci, di lihatnya Arka masih berada di selimut dengan badan gemetaran, Lia pun menghampiri Arka.
"Kau kenapa",ucap Lia sedikit khawatir lalu memeriksa tubuh Arka.
"Astagfirullah, tubuhmu panas sekali",ucap Lia panik.. bingung mau ngapain Lia pun berlari meninggalkan Arka lalu menghampiri ibunya di kamar di mana ibu dan Ayahnya berada
"Bu Mas Arka demam, panas banget badannya",ucap Lia panik menyampaikan pada ibunya.
Bu Mesya pun tersenyum melihat ke panikan anaknnya. "Iya kah, buatkan dulu teh hangat bawakan sarapan biar dia sarapan, lalu telpon abangmu",ucap bu Mesya. Ayahnya pun tersenyum melihat kepanikan anak gadisnya.
"Oh..,, iyaa Bu",Lia langsung kedapur membuatkan teh hangat dan menyiapkan sarapan seperti apa yang di lakukan ibunya tadi lalu membawanya kekamar abangnya di mana Arka berada.
__ADS_1
"Ini sarapan dulu, biar Lia telpon bang Ardi",ucap Lia menyimpan sarapan di meja samping ranjang. Arka hanya menatap Lia masih dengan membungkus tubuhnya dengan selimut perlahan iya pun bangun dengan badan menggigil.
Lia yang melihat Arka gemetaran itu iyaa merasa tidak tega dan membantu Arka duduk bersandar dengan menambah bantal menahan punggung Arka lalu menyelimuti Arka kembali. Iyaa yang akan mengambil hpnya di kamarpun tidak jadi.
"Biar aku suapin ini minum dulu",ucap Lia tidak tega melihat wajah pucat Arka. Arka hanya diam melihat gerak gerik Lia dan membuka mulutnya sedikit untuk menerima minuman yang di berikan oleh Lia. Lia pun mulai menyuapi Arka perlahan dan Arkapun menerima suapan itu. Di balik pintu ibunya melihat dua sejoli itu dengan tersenyum, lalu kembali lagi ke kamar.
"Bentar, Lia telpon bang Ardi",ucap Lia menaruh piring kembali di meja dan berdiri. Lalu Arka menangkap tangan Lia.
"Pake hp aku aja",ucap Arka dengan suara lemahnya. Liapun kembali duduk dan mengambil hp di samping sarapan Arka. Liapun membuka hp Arka terpampang wajah cantik Lia di wallpaper hp Arka, Lia menatap Arka yang memejamkan matanya.
"Mengapa wallpaper hpmu fotoku",ucap Lia pelan namun tak mendapatkan respon dari Arka. Lia kembali menatap hp Arka dan mencari no abangnya "Asisten Ardi" lalu Lia menelpon abangnya.
"Halo bos",ucap Ardi di sambungan telpon.
"Bang, ini aku Lia",ucap Lia kaget abangnya memanggil dirinya bos.
"Ooh.. Lia, kenapa hp pak Arka ada padamu",ucap Ardi sedikit heran.
"Ohh.. iya bang",Lia menepuk jidatnya pelan. "Pak bos abang sakit ni cepat abang kesini",ucap Lia lagi.
"Emang sekarang Lia lagi dimana",ucap Ardi lagi.
"Di rumahlah bang",Ucap Lia lagi.
"Oh ya sudah abang sekarang kesana",ucap Ardi lalu mematikan sambungan telpon.
"Ini sarapan dulu bang",ucap Lia pada Arka menyodorkan sendok ke arah mulut Arka.
"Aku bukan abangmu",Ucap Arka tidak terima di panggil abang oleh Lia.
"Hmm, terserahmu lah.. cepat pegel ni tanganku",ucap Lia kesal, Arkapun membuka mulutnya menerima suapan dari Lia.
Setelah selesai sarapan, Arka bangun dengan tergesa-gesa menuju kamar mandi dan memuntahkan semua sarapan tadi. Lia nampak panik mengikuti Arka ke kamar mandi dan memijat-mijat pundak di bagian leher Arka.
"Aduh mana sih bang Ardi,lama banget",ucap Lia khawatir melihat Arka memuntahkan semua sarapannya tadi. Melihat Arka sudah berhenti muntah dan berdiri Liapun membantu Arka mengambilkan air untuk berkumur. Arka merasa senang dengan dia sakit seperti ini Lia berada di sisinya dan merawatnya.
Setelah beberapa menit datanglah Ardi, sudah dengan setelan berangkat kerja. Ardi langsung menghampiri Lia dan bosnya.
"Gimana kondisi pak Arka",ucap Ardi bertanya pada Lia yang menyelimuti Arka.
"Kita harus bawa dia kerumah sakit bang, sekalian sama Ayah, Ayah juga sakit",ucap Lia pada Ardi.
"Tidak, Ayah hanya tidak enak badan, ini sudah enakan",ucap pak wahyu pada anaknya. Rupanya pak Wahyu dan bu Mesya ikut menyusul ke kamar melihat kedatangan Ardi.
"Beneran yah sudah enakan",ucap Ardi khawatir.
"Iyaa, yah.. beneran udah enakan",ucap Lia juga ikut khawatir.
__ADS_1
"Iyaa nak, Ayah udah enakan bawa aja nak Arka ke rumah sakit sekarang",ucap pak wahyu.
"Iya udah bang, bawa Mas Arka aja ke rumah sakit",ucap Lia pada abangnya.
"Gak usah di, Gak usah bawa saya kerumah sakit antar saya ke apartemen saja",ucap Arka akhirnya dengan suara lemahnya.
"Loh, kok gak usah sih kau ini bagaimana kondisimu buruk begini",ucap Lia sedikit kesal.
"Lia berbicara yang sopan, dia bos abangmu dan dia lebih tua darimu",ucap bu Mesya.
"Iyaa maksudnya Mas Arka bu, kenapa gak mau kerumah sakit",ucap Lia lagi.
"Tidak apa-apa bu, Lia kalau kau khawatir ikutlah bersamaku",ucap Arka menatap lemah pada Lia.
"Mengapa aku harus ikut bersamamu, aku kan bukan dokter",ucap Lia menolak.
"Kau kan kekasihku",ucap Arka menggoda Lia.
"Eh, sejak kapan aku jadi kekasihmu",ucap Lia panik dan menatap ke arah Abang, Ayah dan Ibunya yang tersenyum. "Ahh, sepertinya kau sudah sehat",ucap Lia lagi merasa malu lalu berdiri akan meninggalkan kamar itu dengan membawa nampan bekas sarapan Arka tadi.
"Iyaa nak Arka, apa gak lebih baik pergi kerumah sakit aja", ucap bu Mesya pada Arka.
"Tidak apa-apa bu, nanti biar dokter pribadi Arka yang ke apartemen",ucap Arka lagi pada bu Mesya.
Lia baru mau keluar kamar itupun mendengar percakapan Ibunya dan Arka lalu iyapun menuju kadapur.
"Ohh, seperti itu baiklah kalau begitu, semoga lekas sehat nak Arka",ucap bu Mesya lagi.
"Bolehkah bu, saya pinjam Lianya",ucap Ardi meminta izin.
"Asal jangan bos apa-apain adikku",ucap Ardi mendahului Ibunya.
Bu Mesya pun tersenyum, "Iyaa boleh, tapi hari ini katanya dia mau antar CV nya di kantor nak Arka",ucap bu Mesya lagi.
"Oh yaa, biar saja besok bu",ucap Arka.
Bu Mesya hanya menganggukkan kepalanya, "Ya sudah istirahat lah dulu nak Arka sambil menunggu Lia",ucap bu Mesya. tidak berapa lamapun Lia datang menghampiri mereka.
"Lia, rawatlah dulu nak Arka kau bisa besok mengantar CV nya",ucap bu Mesya.
Lia menatap ke arah Arka yang memejamkan matanya dengan wajah pucat.
"Baiklah bu",ucap Lia akhirnya.
🥰🥰🥰🥰🥰
Maaf yaa yang udah nunggu.. lama updatenya😘
__ADS_1
jangan bosan yaa dan terus ikuti ya dan jangan lupa tinggalkan like n komen, terima kasih🙏🙏🙏😊