
" Jangan bilang kamu akan...." Ucapan Le tertahan serta menatap wajah Andrea dengan serius.
Ia sangat paham dan mengerti bagaimana sifat dan watak sahabatnya itu.
Walaupun Andrea termasuk gadis yang keras dan sedikit bar-bar namun ia memiliki hati yang lembut dan tidak tegaan terlebih lagi terhadap orang yang ia sayangi. Ia akan merelakan apa pun demi kebahagiaan orang yang ia sayangi.
Sedangkan Andrea hanya mengangukkan kepalanya dengan wajah sendu saat mendengar ucapan Leo.
"Ya aku akan melepaskan mas Alvin." Ucap Andrea.
" Kamu akan mengalah dan membiarkan Celyn dekat dengan Alvin." Tanya Leon
"Iya" jawab Andrea singkat
" Kenapa kamu yang harus mengalah Re?" Tanya leon dengan nada lebih tinggi karena merasa kesal dengan sikap Andrea yang ingin mengorbanankan kebahagiaannya.
" Lalu apa aku harus memberi tahu kak Celyn dan menghancurkan hatinya. Kamu pikir aku akan tetap bahagia melihat kakak ku menderita dan kamu pikir apa dady akan diam saja melihat kak Celyn menderita? Yang ada Aku akan semakin di pojokan oleh dady dan dady akan semakin membenciku Le." Ucap Andrea dengan menggebu.
" Lalu apa kamu yakin setelah kamu mengorbankan perasaan mu untuk kakak mu dady mu akan berbalik melihat mu? Dan satu lagi apa Alvin akan terima dengan sikap kamu ini?" Leon.
Andrea menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil menangis. Leon langsung meraih tubuh Andrea yang sudah bergetar karena tangisannya ke dalam pelukannya. Ia berusaha memberikan ketenangan kepada sahabatnya itu.
Setelah beberapa saat dan mulai sedikit tenang Andrea melepaskan pelukan Leon dan berjalan meninggalkan Leon. Andrea ingin pergi keluar mencari udara segara namun saat Andrea berjalan meninggalkan Leon tiba-tiba langkahnya terhenti sejenak.
" Re!" Panggil Leon dan Andrea pun menghentikan langkahnya tanpa berbalik.
" Aku harap kamu bisa memberitahu Celyn tentang hubungamu dengan Alvin sebelum semuanya terlalu dalam dan membuat kalian semakin sakit. Aku rasa itu satu-satunya jalan yang terbaik." Saran Leon kepada Andrea.
__ADS_1
Sedangkan Andrea hanya diam saja tidak menolak atau mengiyakan saran dari Leon. Kemudian ia melanjutkan jalannya.
*******
Di kediaman Wijaya, Hans dady Andrea sedang berada di ruang kerjanya. Disana memegang sebuh foto yang memperlihatkan putri sulungnnya tertawa bahagia bersama Alvin. Hans selalu memantau kemanapun putri sulungnya pergi.
Di dalam foto tersebut tampak Celyn dan Alvin bercanda dan tersenyum bahagia. Senyum yang belum pernah Hans lihat sebelumnya.
Saat sedang melihat foto tersebut. Hans melihat Andrea pulang kerumah. Lalu ia menyambut Andrea di ruang tamu.
Andrea yang melihat Hans berada di ruang tamu hanya bisa menghela nafas dalam.
Mau tidak mau ia harus menyapa dady nya tersebut. Walaupun sebenarnya Andrea malas karena biasanya jika ia pulang dan bertemu dengan dadnya pasti berakhir dengan sebuah perdebatan dan membuat hati Andrea perih.
" Selamat malam dad!" Sapa Andrea dengan lesu.
Andrea masih berdiri di dekat sofa yang ada di ruangan tersebut.
" Apa yang ingin dady bicarakan?" Andrea membuka pembicaraan.
" Ini!" Hans melempar foto kakaknya bersama Alvin. Di dalam foto tersebut tampak sekali rona bahagia Celyn dan Alvin. Andrea merasa di hantam batu besar namun ia mencoba kuat di depan dadynya.
" Apa maksud dady?" Tanya Andrea
" Apa yang akan kamu lakukan?" Hans kembali bertanya kepada Andrea.
" Aku tidak mengerti apa maksudnya dad" Andrea pura-pura tidak paham dengan maksud dan tujuan dadynya itu.
__ADS_1
" Aku rasa kamu mengerti apa maksud ku." Ucap Hans datar. Kemdian Hans kembali melemparkan beberapa dokumen dan kunci apartemen.
Andrea melihat dokumen-dokumen tersebut ternyata adalah tiket pesawat ke Eropa surat kepemilikan Apartemen beserta kunci dan black card.
" Kau bisa berjalan -jalan sepuasnya ke eropa dan tinggal disana!" Ucap Hans datar.
" Maksud dady......" Tubuh Andrea mulai bergetar hatinya semakin perih tapi ia berusaha menahannya agar tidak terlihat di hadapan ayahnya.
" Ya tingggal kan Alvin Ludovic biarkan kakamu memilikinya." Ucap Hans tanpa melihat kearah Andrea.
"Ha....ha...ha..ha.... Jadi dady ku ingin membuangku demi kebagaiann saudariku." Andrea meremas dokumen yang ada di tangganya. Hatinya sangat lah hancur ternyata ayahnya memang sangat membencinya hingga tega membuangnya demi kebahagiaan kakaknya.
" Sekarang sudah jelas dan aku mengerti dimana posisiku di keluarga Wijaya. Anda tidak perlu repot-repot memberikan ini semua kepada ku karena tanpa ini semua aku bisa hidup dengan layak. Dan aku berjanji aku pergi dan tak akan penah kembali ke keluarga ini. Dan aku akan menanggalkan nama wijaya dalam hidupku. Terimakasih atas semuanya. Anggap saja ini adalah balasan ku karena anda telah sudi membesarkan ku dan memberikan nama wijaya kepadaku. Tapi jika bisa aku meminta aku memilih untuk tidak mengenal ataupun hidup di keluarga ini." Andrea meletakan dokumen tersebut di meja depan dadynya duduk lalu pergi dari ruangan itu dengan hati yang sangat hancur.
Di dalam kamar Andrea menangis sejadi-jadinya. Ia melempar dan mengacak-acak seisi kamarnya. Ia menghancurkan semua yang ada di depan matanya.
" Kenapa aku harus dilahirkan di keluarga ini? Kenapa mereka membesarkan ku jika mereka tidak menginginkan ku? Kenapa mereka tidak mebiarkan aku mati atau dibuang saja Tuhan kenapa?" Keluh Andrea frustasi.
Setelah puas mengacak seisi kamarnya Andrea memasukan barang-barang yang ia perlukan ke dalam koper. Saat itu ia sudah bertekad untuk keluar dari keluarga wijaya dan meninggalkan semuanya termasuk identitasnya. Satu lagi ia akan tetap mempertahankan hubunganya dengan Alvin apapun yang terajadi nantinya ia tidak akan peduli.
Sebelum andrea keluar dari kamarnya ia berjalan menuju nakas yang berada di sampimg tempat tidur. Ia membuka laci nakas lalu mengambil kotak kecil dan ia membuknya. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah kalung berleontin matahari.
" Kakak aku merindukanmu!" Andrea menggenggam erat kalung berliontin matahari itu. Kalung yang diberikan seseorang kepadanya sewaktu ia kecil. Sewaktu ia kecil seseorang tersebut menjadi penghiburnya di kala ia sedih walaupun pertemuan mereka tidak lah lama.
Namun setelah seseorang itu meberikan kalung tersebut ia menghilang entah kemana hingga saat ini Andrea tidak tahu keberadaannya. Namun Andrea selalu berharap bisa bertemu dengannya kembali. Dan kalung tersebut adalah satu-satunya yang menjadi kenangannya.
Setiap Andrea merasa sedih gundah selalu saja menggenggam kalung tersebut seolah sang pemberi kalung itu ada bersamanya hal tersebut membuatnya kembali sedikit merasa tenang dan nyaman.
__ADS_1
Bersambung......