Gadis Tomboy Tuan CEO

Gadis Tomboy Tuan CEO
#4


__ADS_3

Pagi itu Alvin pulang dari perjalanan bisnisnya di Singapore. Andrea menjemput Alvin di bandara. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya mereka bertemu. Andrea berlari menghampiri sosok pria berbadan tegap dengan tinggi 175cm berkulit putih dengan tatanan rambut rapi. Ia langsung memeluk sosok pria tersebut melampiaskan rasa rindu yang tertahan selama ditinggal kekasihnya melakukan perjalanan bisnis. Alvin membalas pelukan Andrea dengan erat menikmati aroma tubuh gadisnya.


"I Miss you mas". Ucap Andrea masih memeluk kekasihnya.


" Mas juga kangen". Jawab Alvin melepaskan pelukannya lalu mencubit hidung Andrea dengan gemas.


Setelah melampiaskan rasa rindu sejenak, mereka bergegas menuju parkiran mobil untuk pulang.


" kamu pakai mobil Leon? Tanya Alvin setelah sampai parkiran.


" mas yang nyetir ya!" Andrea


" iya. Kenapa pakai mobilnya Leon?" Alvin


" ya kan mas tau sendiri kalau Rea gak ada mobil." Andrea


" emang mas mau aku jemput pakai motor?" Andrea


Alvin hanya diam saja. Mereka langsung melanjutkan perjalaanan.Dalam perjalanan Andrea terus menempel dan bergelayut manja dengan Alvin yang sedang berada dibelakang kemudi. Tangan merekapun saling menggenggam. Selama perjalanan mereka saling berbincang mengenai kegiatan mereka masing-masing.


Mobil yang mereka tumpangi tidak langsung menuju apartemen Alvin melainkan kekantor Alvin. Alvin langsung ke kantor karena ada file yang harus segera ia berikan kepada stafnya untuk segera dikerjakan. Dia melakukan perjalanan bisnisnya sendiri tampa didampingi oleh staf ataupun sekretarisnya.


Sesampainya di kantor ALV Corp mereka langsung menuju ruangan Alvin.


Di ruangan Alvin, dia sibuk dengan berkas-berkasnya dan Andrea duduk di sofa sambil bermain handphonenya.


Sudah tiga jam berlalu Alvin sudah selesai dengan pekerjaannya. Saat ingin mengajak pulang Andrea ternyata ia tertidur di sofa. Alvin duduk di samping Andrea memandangi wajah gadisnya sambil menyibakkan anak rambut yang mengenai wajahnya. Wajahnya begitu manis, polos, damai namun yang sebenarnya menyimpan rasa sakit dan kerinduan yang tidak pernah bisa orang lain bisa hapus kecuali ayahnya Hans Wijaya.


Setelah puas memandangi wajah Andrea, Alvin mengecup kening Andrea. Kemudian mengusap pipi Andrea dengan lembut membuat gadis itu terbangun.


"Hmmm.....mas udah selesai?" Tanya Andrea dengan nada serak khas orang baru bangun tidur.


" Udah... Yuk kita pulang". Ajak Alvin


" Iya mas. Tapi sebelum pulang kita makan dulu ya. Aku laper hehehehe." Ucap Rea sambil cengengesan.


" Ok!!" Jawab Alvin singkat


Mereka pergi meninggalkan kantor ALV corp. Menuju restoran. Setelah sampai meraka makan dengan lahapnya. Selesai makan mereka langsung menuju apartemen Alvin. Sesampainya di apartemen Alvin langsung pergi mandi. Andrea menuju dapur untuk membuatkan teh untuk Alvin. Setelah selesai mandi Alvin menuju ke dapur melihat Andrea sedang membuat teh. Alvin memeluk Andrea dari belakang. Kemudian ia menghirup wangi tubuh Andrea. Andrea kaget tiba-tiba ada yang memeluknya.


"Ah.. mas lepasin. Aku belum mandi masih bau matahari." Ucap Andrea seraya melepaskan pelukan Alvin. Namun usahanya gagal Alvin justru meletakan kepalanya dipundak Andrea.


" Re aku ingin kita seperti ini selamanya. Rasanya begitu nyaman rasa lelahku hilang seketika. Maukah kau menikah denganku." Ungkap Alvin.


" Aishhh....mas ngelamar aku ni?" Tanya Andrea sedikit kesal. Ia membalikan tubuhnya hingga berhadapan dengan Alvin sambil membawa secangkir teh.


" Ini minum tehnya!". Menyodorkan teh kepada Alvin.


" Trimaksih" ucap Alvin.

__ADS_1


Andrea pergi meninggalkan Alvin menuju balkon apartemen. Alvin mengikuti Andrea.


" Kalau ingin melamar pakailah cara yang benar mas" ungkap Andrea.


Alvin hanya terkekeh melihat ekspresi Andrea yang menggemaskan.


" Kamu kalau lagi kesel ngegemesin banget Re" goda Alvin seraya mencubit dagu Andrea.


" Aku bakalan melamar kamu dengan cara yang tidak pernah kamu duga Re." Batin Alvin


" Oya Re kemaren waktu aku masih di singapore kenapa kamu tidak angkat telponeku?" Tanya Alvin penasaran.


" Mati aku" batin Andrea.


" Oh itu...a...aku sedang ngerjain laporan sama Leon mas". Jawab Andrea sambil mengusap berulang-ulang hidungnya.


" Rea.. jangan bohong sama aku. Aku tau saat kamu berbohong atau tidak." Kata Alvin dengan penuh penekanan dan sorot mata yang tajam.


" Iya mas aku tidak bohong". Jawab Andrea kembali dan mengusap hidungnya lagi. Andrea buru-buru berpamitan dengan Alvin karena takut kebohongannya akan terbongkar.


" Mas aku pulang dulu ya udah malam." Pamit Andrea.


" Aku antar!" Pinta Alvin


" Tidak usah aku mau mampir ke cafe balikin mobil Leon." Tolak Andrea. Ia segera bergegas pergi. Sebelumnya ia mengecup pipi dan berbisik di telinga kekasihnya.


"Muach... Maaf..." Ucap Andrea dengan senyum yang sulit diartikan. Alvin hanya bisa mengernyitkan dahinya mendengar kata maaf dari Andrea.


" Andrea..... Dasar gadis nakal!!" Teriak Alvin kesal dan berlari menuju pintu untuk mengejar Andrea namun sayang Andrea sudah tidak ada disana.


******


Kegiatan setiap pagi di keluarga Wijaya mereka selalu sarapan bersama. Hans Wijaya sudah berada di meja makan bersama Celyn putri sulungnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki turun dari anak tangga dengan cepat.


"Selamat pagi semua!" Sapa Andrea dengan berteriak.


" Pagi dek" sahut Celyn.


" Bisa tidak jika tidak dengan berteriak! Pagi- pagi sudah bikin berisik saja. Membuat sakit telinga." Omel Hans.


" Maaf dad." Ucap Andrea kepada ayahnya karena sudah membuat berisik menurut ayahnya.


" Ya memnag aku selalu salah di mata dady" gerutu Andrea dengan pelan namun masih terdengar oleh Celyn yang duduk disebelahnya.


Celyn menatap Andrea seolah mengisyaratkan untuk diam agar tidak menimbulkan perdebatan di pagi hari. Andrea hanya bisa membuang nafas dengan kasar.


Setelah perdebatan kecil itu mereka sarapan dengan tenang hanya suara sendok dan dan garpu yang saling beradu di atas piring. Beberapa saat kemudian Andrea telah selesai dengan sarapannya.


"Dad, kak. Rea pamit berangkat dulu". Pamit Andrea.

__ADS_1


" Hmmm". Jawab Hans


" Mau kemana Re?" Tanya Celyn.


" Hari ini aku mau ke cafe Leon kak. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan". Jawab Andrea


" Ok. Hati-hati." Kata Celyn.


Setelah Andrea pamit dan pergi meninggalkan meja makan, Hans dan Celyn masih ditempat tersebut dan membicarakan sedikit tentang pekerjaan.


" Sayang hari ini dady ada pertemuan mendadak dengan pengusaha dari Italia. Tolong kamu gantikan dady untuk meeting dengan pimpinan ALV corp siang." Perintah Hans pada Celyn.


"Baik dad. Nanti aku akan gantikan dady." Jawab Celyn.


Hans bertemu dengan Damian Mariano disalah satu hotel berbintang di Jakarta miliknya. Mereka bertemu untuk membicarakan bisnis yang akan di kembangkan oleh Damian di Indonesia. Pagi itu Damian sudah menunggu Hans di ruang rapat VIP hotel itu. Tak selang beberapa lama Hans datang.


" Selamat pagi tuan Mariano! Maaf saya terlambat." Sapa Hans.


" Tidak apa tuan Hans, saya juga baru saja datang." Jawab Damian.


" Bagaimana Jakarta tuan. Apa menyenangkan?" Sambung Hans.


" Yah lumayan tapi sayang macet dimana-mana." Jawab Damian.


" Oh.. ya tuan Hans langsung saja ke pokok pembahasan. Saya sudah mempelajari semua penawaran yang anda berikan kepada saya. Saya kira cukup menarik dan saya menerimanya." Ucap Damian.


" Trimakasih tuan Mariano. Saya sangat senang mendengarnya." Jawab Hans.


" Mengenai berkas-berkas untuk kerjasama kita dan hal lainnya nanti akan diurus oleh asistenku." Sambung Damian.


Di kator Wijaya grup Celyn menggantikan ayahnya untuk meeting dengan pimpinan ALV corp yaitu Alvin Ludovic. Mereka mengadakan pertemuan di ruang meeting kantor wijaya Grup. Dalam pertemuan tersebut membicarakan tindak lanjut tentang proyek yang sudah disepakati sebelumnya oleh Hans Wijaya.


" Selamat datang tuan Alvin Ludovic. Perkenalkan saya Celyn Wijaya wakil direktur Wijaya grup". Celyn memperkenalkan dirinya sembari berjabat tangan dengan Alvin.


"Silakan duduk tuan." Celyn mempersilakan.


Alvin pun duduk berhadapan dengan Celyn.


" Trimakasih". Ucap Alvin dengan senyum ramah dan menawan membuat siapapun yang melihatnya akan terbius. Begitu juga dengan Celyn yang terpesona dengan senyum Alvin dan membuat jantungnya berdebar tidak karuan.


" Kenapa dengan jantungku?" Batin Celyn sambil terus menatap ke arah Alvin. Kemudian Alvin menjentikkan jarinya tepat di depan muka Celyn. Celyn segera tersadar dari lamunannya.


"Oh..astaga. maaf" ucap Celyn kaget


" Ah....Sebelumnya Ayah saya menitipkan permohonan maaf kepada anda karena beliau tidak bisa menemui anda untuk membahas proyek yang telah disepakati sebelumnya dan saya ditugaskan untuk menggantikan beliau". Lanjut Celyn kemudian dia sedikit menundukkan kepalanya sebagai sikap hormat dan permohonan maaf.


" Tidak apa nona Celyn. Oh.. ya sepertinya umur kita tidak jauh berbeda jadi tolong panggil saja saya Alvin." Pinta Alvin kepada Celyn


"Baik tu...Alvin maksud saya." Jawab Celyn

__ADS_1


Merekapun berdiskusi tentang proyek yang akan dikerjakan dengan sangat serius. Sepanjang rapat Celyn tidak dapat fokus. Ia selalu mencuri pandang terhadap Alvin. Entah kenapa selama rapat berlangsung jantung Celyn seolah tidak terkontrol. Terlebih lagi jika mereka tidak sengaja saling bertatapan ketika sedang menanyakan sesuatu disaat rapat tersebut. Jam sudah menunjukan hampir jam makan siang meeting selesai dan Alvin pun segera kembali ke kantornya.


bersambung.......


__ADS_2