GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
hari yang tenang


__ADS_3

se malam Aum menghabiskan waktu dengan sang kakak sampai larut. ia tidur saat matahari perlahan naik kepermukaan, sekali lagi ia akan absen dari sarapan keluarga. Dan juga cara terbaik untuk menghindari omelan neneknya.


' bangunkan aku jika matahari sudah tengah ' ucap aum pada para dayangnya.


dan aum tertidur pulas hingga tengah hari. ia terbangun mendengar suara gaduh di depan pintu kamarnya. samar-samar ia mengenali suara siapa itu,


' ibu ada apa ?' tanya Aum dengan suara serak khas orang bangun tidur.


sang ibu mendelik kesal melihat putrinya baru saja terbangun dari tidur.


' bagaimana bisa perempuan bangun sesiang ini ?' Sandrani menatap putrinya dengan tidak berdaya, ia datang dengan beberapa penjahit untuk mengukur baju baru untuk Aum.


sedangkan Aum mengaruk tengkuknya tanpa sadar, ia masih mengunakan baju tidur nan tipis. ia dilema untuk menyuruh tamu sang ibu masuk kedalam kamarnya.


' ibu akan menunggu di paviliun mu, jadi segeralah mandi dan susul ibu disana ' putus Sandrani tegas.


Aum dengan senang hati bergegas menutup pintu kamarnya dan menunggu para dayang untuk menyiapkan keperluan mandinya.


...****************...


Aum menyusul sang ibu ke paviliun dengan mengenakan baju yang akan digunakan untuk berlatih nanti sore. Aum berfikir sekalian saja dari pada nanti ia harus repot berganti baju lagi sangat membuang waktu.


' astaga putri seroja sangat tidak terduga ' salah satu penjual kain yang menyadari kedatangan Aum berseru tak menduga bahwa putri satu-satunya keluarga Bhandoro begitu sederhana.


' Maaf telah membuat nyonya semua menunggu saya ' ucap Aum dengan sopan, ia segera duduk disisi sang ibu.


' putri sangat sederhana tidak seperti yang di bicarakan orang ' ucap sang nyonya penjual kain.


' kami tidak ambil pusing untuk sesuatu hal yang hanya bualan belaka, yang pasti kami tau bahwa putri kami jauh dari apa yang mereka bicarakan ' sandrani dengan enteng menepis sindiran halus dari sang penjual.


' betul adik, Aum kami terlalu sempurna untuk di bicarakan oleh mulut busuk mereka ' suara sang nyonya sejati rumah Bhandoro datang dengan selir lainnya. Larasaty duduk di sisi Aum dan mengengam tangan kasar putri satu-satunya keluarga besar ini.

__ADS_1


' ibunda ' sambut Aum, ia membalas gengaman tangan sang ibu sambung.


jika para wanita berkumpul maka gosip diseluruh kota bisa silih berganti masuk dalam pendengaran. walau pun tangan mereka bergerak namun mulut semua orang penuh cerita dalam sepekan ini, ibunya dan ibu larasaty sangat menikmati kegiatan yang menurut Aum sangat membosankan. sudah beberapa kali Aum menyembunyikan kantuknya. ibu selir paling muda ayah hanya tertawa melihat Aum yang mati matian mencoba bertahan di antara para ibu yang tidak berhenti bergosip. setelah melakukan pengukuran Aum undur lebih dulu untuk berlatih. ia bergegas pergi takut ibunya berubah fikiran dan menariknya dalam lingkaran membosankan itu lagi.


' lalu warna yang kamu mau apa nak ?' tanya Larasaty saat Aum hendak beranjak pergi.


' Aum percayakan semua pada ibunda ' jawab Aum dengan sopan, ia membatin dalam hati semoga ibunda tidak menahannya lebih lama lagi.


' baiklah, kamu bisa pergi. serahkan pada ibu pasti semua akan beres ' Larasaty dengan bangga, tanpa tau putri bungsunya itu telah melarikan diri darinya.


' anda tertipu kakak ' kata Sandani pada Larasaty dan di balas dengan wajah tak percaya.


gelak tawa memenuhi paviliun itu hinga sore hari.


...****************...


Aum sampai ke pendopo pelatihan segera setelah melarikan diri dari para ibu. Graha yang sejak tadi pagi sudah bercokol disana sedang istirahat setelah melakukan tanding dengan Kakak tertua Aum.


entah bagaimana hubungan Aum dan Graha kadang tidak hanya antara pelayan dan majikan namun sesama teman. mungkin karena Aum tidak pernah menganggap Graha bawahannya sehingga mereka menjadi sangat dekat satu sama lain.


' ndoro Adhi itu memang tidak ada tandingannya, dia kan jendral muda yang berbakat mana ada aku yang hanya sehelai ilalang ini putri ' ucap Graha kesal. ia bercucuran keringat,


' kenapa saya tadi datang lebih awal ? jadikan saya harus lawan tading dengan ndoro Adhi saya jadi babak belur begini. apes apes ' Graha tak berhenti mengeluh.


Aum hanya tersenyum mendengarkan kecerewetan Graha, sudah terbiasa.


' lalu dimana Kakak ku sekarang ?' tanya Aum.


Graha menunjuk dengan dagunya, di paviliun di ujung lapangan terlihat Mas adhi sedang berbicara dengan pangeran panji. kenapa orang itu ada disini tanya Aum dalam hati.


' putri tau istri pangeran panji seperti getah nangka saja menempel pada pangeran kemana saja ' omel graha.

__ADS_1


Aum menatap graha tak mengerti,


' itu disana kan ada wanita hamil yang sedang berjalan jalan, itu nyonya nya pangeran panji ' tunjuk graha disisi lain lapangan latihan.


wanita itu pasti mau membuat gara-gara lagi seperti pada saat di kedai waktu itu. Aum berharap mereka tidak bertegur sapa jika bisa, Aum sudah merasa lelah saat melihat wanita itu berada di tempat yang sekiranya tak bisa di datangi oleh wanita bangsawan lainnya.


' siapkan aku kuda dan papan bergerak, aku ingin berlatih ' Aum memerintah seorang murid di dekatnya untuk menyiapkan latihannya.


' mari kita gunakan formasi yang tadi malam kita bahas dengan kakak, panggil beberapa murid lagi untuk patnerku ' Graha segera beranjak menuju ketempat istirahat para murid.


...****************...


sepanjang sore Aum bergerak dari ujung lapangan ke ujung lainnya. dengan beberapa murid yang digunakan untuk melengkapi formasi mereka beberapa kali harus mengulangi lagi.


' aku fikir lebih besok kita berlatih dengan prajurit ku saja, mereka sangat payah menunggang kuda ' Aum dengan kesal turun dari kuda nya.


Graha dengan sigap mengambil busur besar dari tangan Aum.


' itu lebih baik putri, kasihan mereka babak belur jatuh dari kuda ' saran Graha.


sebenernya Aum tau bahwa para murid itu masih awalan, dan bukan sepesialis jarak jauh dan penyergapan seperti dirinya sehingga mereka tidak bisa menyamai irama yang Aum buat. ia akan berlatih esok dengan para prajuritnya yang memang ikut dengannya saat perang 2 tahun lalu.


' aku akan berlatih kemampuan memanah jarak jauhku sebentar saja, coba kau lihat papan disana graha ' kata Aum dan ia menyiapkan busur besar kebanggaannya dan anak panah.


setelah beberapa saat dari puluhan anak panah yang Aum lempar hanya beberapa yang tidak sampai pada papan target lalu ada juga yang melebih target dan meluncur terlalu jauh kedalam hutan. namun hal kecil itu telah menimbulkan riak besar seketika.


terdengar jeritan dari arah hutan dengan segera semua orang bergegas menuju sumber suara, Aum menyusul segera namun ia merakan firasatnya menjadi tidak enak.


wanita itu, hayuning tyas pasti sedang melakukan trik lagi untuk menjatuhkannya.


tbc...

__ADS_1


__ADS_2