GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
kuncup bunga berduri


__ADS_3

 


waktu berlalu dengan cepat, Aum menginjak usia 7 tahun. gadis lincah itu sudah bertumbuh lebih tinggi, dengan rambut yang digulung keatas.


kulit yang berkilau kecoklatan karena banyak beraktifitas diluar ruangan, membuatnya terlihat manis dan dewasa.


walau usianya masih kecil namun penampilan Aum sudah seperti gadis usia 10 tahun. mungkin karena teman seperguruannya rata rata berusia 10 keatas.


saat ini sedang diadakan penilaian panah di kelas Aum. saat tiba gilirannya dinilai, Aum dengan percaya diri menuju tempat yang disediakan untuk memanah.


tangan rampingnya merenggangkan busur dengan mudah, mengincar target yang bergerak liar ditiup angin.


setelah berkonsentrasi penuh Aum melepaskan busur panahnya dengan cepat bergantian mengenai 10 target.


dan sekejap 10 panah telah menancap sempurna di target. ini membuatnya masuk daftar murid yang akan naik kelas. Aum menahan senyumnya saat mendengar pujian dari sang guru.


' sempurna, Aum' teriak guru panahan.


setelah melakukan gilirannya, dia kembali di gerombolan untuk melihat peserta selanjutnya. dia duduk di samping seorang lelaki muda yang memperhatikannya sedari tadi.


' anda sangat bagus putri' bisik anak lelaki yang berada disebelahnya.


Aum menolehkan kepalanya, anak lelaki yang berusia sama dengannya itu begitu cerewet.


graha, seorang pelayan yang dihadiahkan putra mahkota padanya 2 tahun lalu. untuk bentuk perminta maaf atas nama adiknya. soal sikap bermusuhan Pangeran Panji padaku waktu itu.


walau pun pelayan aku mengangapnya sebagai teman. dan mengusulkan Graha untuk ikut serta masuk perguruan. dan disetujui oleh keluargaku.


' kau bisa naik kelas lebih dulu 2 bulan lalu, untuk apa kau membuang buang waktu! ' sentak Aum kesal.


ia merasa diremehkan oleh pelayannya sendiri.


' gara gara kau yang mengikutiku kemana saja, mereka jadi begitu canggung padaku' protes Aum lagi.


tapi Graha tertawa pelan.


'jangan mencari kambing hitam, anda saja yang tidak bisa bergaul" ucap Graha enteng, sambil mengalihkan pandangannya ke lapangan sebrang.


Aum berdecak kesal, ia tidak bisa mengelak tentang fakta itu.


tanpa sadar matanya mengikuti arah pandangan Graha.


disana Pangeran Panji sedang melakukan duel, pertandingan sangat sengit.


entah mengapa hari ini tiba tiba kelas ku dan Pangeran Panji bersamaan melakukan tes. sepengetahuan ku Pangeran Panji telah masuk perguruan ini sejak usia 5 tahun. keahliannya diatas rata rata remaja di usianya. dalam waktu 7 tahun dia sudah bisa dibilang master dalam bela diri.


ini adalah tahun terakhir Pangeran Panji akan ada di perguruan ini. itu cukup membuatku lega.


karena di perguruan beredar rumor bahwa aku dan pangeran panji tidak akur. semua penjuru perguruan sampai ayah ku pun tahu tentang hal itu.


entah, aku merasa tidak membenci Pangeran Panji. tapi Pangeran itu lah yang selalu memasang wajah masam jika bertemu aku.


semenjak 2 tahun yang lain kita tak pernah berbicara, walau berada di tempat yang sama.


sehingga akupun takut untuk menyapanya lebih dulu.


' Pangeran Panji masih tidak mau menyapamu putri? ' tanya Graha penasaran.


Graha menoleh padaku dengan wajah penasaran, aku hanya menghela nafas lesu.


' dia adalah makhluk paling pendendam yang pernah aku kenal' gumamku kesal.


Graha menganggukkan kepalanya perlahan, seakan akan paham apa yang aku katakan.


' tapi putri? pangeran Panji itu terkenal baik dan ramah lo dengan rakyat dan teman temannya' ucap Graha lagi.


Aku mengerutkan alisku tak terima.


' itu tidak berlaku padaku, menurutnya aku itu lawannya dalam merebutkan kasih sayang Putra Mahkota' terang ku cuek.


' betul juga, kan Putra Mahkota begitu menyayangi anda putri' terang Graha.


aku memutar bola mataku kesal, Graha memang orang yang paling blak blakan.


dilapangan yang mempertandingkan pangeran panji dan kakak ketiga Aum itu berlangsung sengit dan imbang, setelah hampir 3 dupa terbakar. pertandingan mereka di hentikan, dan dinyatakan kalau mereka imbang.


Aum tersenyum lebar, hasil ini begitu menyenangkan untuknya.


dan tatapan Pangeran panji secara langsung menuju padanya.


dan tanpa dosa Aum tersenyum dengan lebar seakan meremehkan Pangeran Panji.


Graha hanya bisa menarik tuannya itu untuk menunduk, dia tau kenapa Pangeran Panji begitu membenci tuannya itu.


Tuannya ini benar benar menyebalkan dan tidak kenal takut.


' putri jaga sikap anda, nanti orang mengira anda mengoda Pangeran' desak Graha kesal.


Aum mendelikkan matanya pada Graha,


' kau itu tidak bisa ya melihatku menang ya ' sungutnya kesal.


Graha segera menyeret tuan putrinya menjauh untuk menhindari fitnah yang lain.


dia cukup geram dengan sikap lain majikannya itu ketika berhadapan dengan pangeran panji.


padahal tuannya itu terkenal dingin jika dengan orang yang bukan keluarganya.


tapi saat bertemu Pangeran Panji tuan putrinya menjelma menjadi gadis menjengkelkan.


Aum merasa jengkel saat Graha menyeretnya menuju ke pendopo. dia duduk di meja paling belakang didekat jendela rendah menghadap sebuah danau kecil yang tenang.


'putri, sebenarnya yang membuat pangeran tak menyukaimu adalah sikap putri yang seperti tadi' terang Graha,


pelayan itu mencoba membujuk tuan putrinya.


Aum hanya bisa menghela nafas, ia sendiri tak tau sejak kapan. Sifatnya yang terkenal angkuh dan cuek berubah total apabila bertemu dengan Pangeran Panji.


Ingatan saat mereka bertengkar di Istana 2 tahun lalu membuatnya tersenyum.


pertemuan yang menjadi rahasia antara pangeran panji, putra Mahkota, aum dan saudara lelakinya.


hal memalukan yang ia saksikan membuat pangeran panji semakin membencinya.


'ha ha ha ha' Aum tertawa lepas.


Graha menahan diri untuk kesal,


'apa yang lucu tuan putri? ' tanya Graha dengan suara tertahan.


'kalau kamu tau apa yang membuat pangeran panji begitu membenci saya, saya pastikan kamu bakalan dipenggal seketika' Aum terus saja tertawa terpingkal pingkal.

__ADS_1


Graha mengerakan gigi dengan keras, tuan putrinya itu begitu suka menertawakan penderitaan orang lain. ia berharap sikapnya itu tidak menjadi bumerang untuk dia dimasa depan.


 


~ ~ ~ ~~~


 


senja turun dengan indah, warna jingga dan merah saling tumpang tindih. permukaan danau yang tenang dan juluran air ditepian karena terterpa angin menimbulkan suara yang indah. disambut suara burung yang sesekali berkicau.


Aum sudah duduk di tepi danau buatan yang terletak di pinggiran kota kerajaan sejak sore tadi. setelah pulang dari perguruan ia menyeret Graha kesini. melepas penat dan juga mengirup udara segar.


Graha duduk jauh dibelakang sambil mengawasi tuan kecilnya. ia menyadari bahwa Aum yang terlahir dari keluarga bangsawan tidak dipungkiri memancarkan aura anggun nan tenang.


sosok Aum yang duduk diantara ilalang yang menguning, dan terbentang danau hijau yang begitu kontras dengan warna langit yang perlahan menghitam. menjadikan sosok Aum begitu sakral dan indah. sesekali hembusan angin danau yang menerpa helai rambut Aum yang tergerai panjang, menari nari di belakang telinga mungil yang memerah menahan udara dingin. Graha memberikan latar lagu dengan memainkan suling dengan suara lembut yang acak. pemandangan yang begitu indah layaknya sebuah lukisan.


tapi melihat hari mulai gelap Graha tidak bisa terus mengagumi tuannya itu. ia sadar tidak baik perempuan keluar rumah hingga larut.


' Tuan Putri sudah waktunya pulang, tuan nenek akan kesal jika anda pulang terlambat' ucap Graha pelan.


ia tau saat seperti ini tuan putrinya akan sangat sensitif. dan ia tau dengan jelas apa alasannya.


Aum mengangkat kepalanya sambil bergumam,


' apa ibunda akan menyuruh ku menyulam lagi? ' ucap Aum entah pada siapa.


Graha hanya bisa menghela nafas prihatin. nah itu dia alasnya, desah Graha dalam hati.


sebagai pelayan lelaki ia hanya bertugas di luar halaman kamar tuan putrinya, ia akan datang kehalaman apa bila ada keadaan mendesak saja.


dan selama ia menjaga tuan putrinya itu, sosok ibu kandung tuan putri yang sedikit disiplin padanya. ibu kandungnya mengharuskan tuan putri Aum untuk belajar hal yang menyangkut tata krama wanita dan hal yang harusnya bisa dilakukan kaum wanita. tapi tuan putrinya itu sedikit istimewa dengan sikap keras kepalanya itu.


gadis yang memiliki paras cantik itu sangat mencintai hal yang berbau bela diri seperti panahan, pedang berkuda dan lainnya.


tapi jangan pernah pertemukan tuan putrinya dengan jarum sulam, bisa habis jari jari kecilnya tertusuk.


Graha mencoba mencari cara agar tuannya menjadi lebih bersemangat.


lalu terlintas kabar yang ia terima dari salah satu pelayan dari tuan tua.


'Tuan Putri saya dengar nanti malam Putra Mahkota Dan Pangeran Panji akan hadir ke halaman tuan besar'


bisik Graha cukup jelas.


berita tersebut langsung menarik perhatian Tuannya.


wajah yang awalnya lemas berubah, dimata bulat nan jernih itu memancarkan kejahilan yang menjengkelkan tapi juga imut.


' ayo kita pulang Graha, mari kita sambut Pangeran Panji yang manja itu'


ucapnya di sambut kekehan menyebalkan.


Graha hanya bisa berucap maaf pada Pangeran Panji, menjadikan putra kerajaan itu sebagai alasan membujuk tuannya pulang.


 


~ • ~ • ~


 


Kamar yang terletak di sisi barat rumah besar sang panglima begitu terang benderang.


terdengar suara isakan tangis lirih dari dalam,


ucap Sandrani menahan kesal.


' tapi tangan Aum berdarah bunda, lihat lukanya kecil sekali tapi sakit. lebih baik Aum di pukul pedang jadi lukanya besar dan dapat Aum lihat' kesal Aum.


' Aum!! ' teriak Sandrani kesal teramat sangat.


semenjak masuk perguruan Aum menjadi semakin malas belajar menyulam, menjahit, dan lainnya.


Gadis kecilnya itu kini berkulit kecoklatan dengan banyak ruam biru di tubuhnya. membuat hati kecilnya sakit, tapi putri kecilnya itu tidak juga sadar bahwa itu bukan seharusnya menjadi kondratnya.


Yang Sandrani harapan kan tak banyak, putrinya menjadi selayaknya putri dari rumah lainnya. duduk di rumah menyulam, minum teh di sore hari sambil bercengkrama dengan teman seusianya. tidak harus mempersulit diri dengan belajar bela diri.


ia takut jika suatu saat putrinya memilih mengangkat senjata dari pada duduk di sisinya.


' Bunda benar benar tak tau harus apa padamu' teriak Sandrani frustasi.


dilempar alat sulam yang ia pegang, dua tangannya mencengkram dadanya dengan erat.


' Mungkin sekarang Aum merasa sudah tidak butuh didikan Bunda lagi bukan? ' ucap Sandrani terengah.


Aum terlihat terkejut, matanya membola.


' mulai sekarang Aum tidak perlu belajar apapun dari bunda, bunda tidak akan memaksa Aum untuk belajar lagi' ucap Sandrani nelangsa.


Sandrani merasa sangat tak berdaya dengan segala pikiran buruh yang hinggap di pikirannya akhir akhir ini.


ia merasa Putri kecilnya tidak lagi membutuhkannya. walau pun sebagai selir dia harus tau diri, tapi jauh didalam hatinya ia tak ikhlas apa bila anak yang dilahirkan sendiri harus didik oleh orang lain.


Sandrani beranjak dari duduk dan menuju pintu keluar disusul pelayan setianya.


setelah Ibundanya pergi Aum masih duduk di tempat yang sama. matanya berlinangan air mata. ia menyadari ibunya kini telah menyerah dengan kekeras kepalaannya. tapi Aum tidak merasa lega, hatinya begitu sakit.


dengan tangan yang bergetar ia melanjutkan sulaman di tangannya.


sesekali jarum sulam menusuk jari jari kecilnya, tapi tak membuatnya berhenti.


suara sesenggukan yang keluar dari mulutnya terdengar dari luar kamar.


dua pelayan wanita yang biasa melayani putri merasa gelisah. mereka serba salah, pesan nyonya sandrani menyuruh mereka tidak menghiraukan tuan putri. tapi hati kecil mereka sakit mendengar suara tangis pilu gadis dalam kamar itu.


tak beberapa lama terdengar suara beberapa orang yang mendekat.


ada putra pertama tuan muda Adhi dan Pangeran Mahkota juga Pangeran panji.


Adhi terhenti mendadak saat ia mendengar suara tangis teredam dari kamar adiknya.


tanpa memperdulikan kedua tamunya ia berlari kehalaman adiknya.


dua pelayan yang berdiri didepan pintu menjadi semakin gelisah.


' apa yang terjadi? ' tanyanya gusar.


dua pelayan yang berjaga saling memandang.


' Ndoro Putri tadi bertengkar dengan nyonya Sandrani' ucap mereka pelan.


Adhi menghela nafas berat, adiknya pasti membuat ibu kandungnya kesal lagi.

__ADS_1


' lalu? '


salah satu pelayan menjelaskan kronologis yang mereka dengar tadi, tanpa berusaha menambah nambahi.


Adhi sadar adiknya kini sudah keterlaluan.


untuk kali ini ia merasa tak pantas jika dia membela adiknya. biarkan Aum instropeksi diri, semoga adiknya tau jika ia telah salah bertingkah.


Adhi kembali ke sisi kedua pangeran.


' ada apa? '


tanya Pangeran Mahkota khawatir.


Adhi hanya mengangkat alisnya.


' kau sekarang jadi kejam ya pada Aum ku' ucap pangeran Mahkota tak terima.


ia tadi juga mendengar suara tangis, dan ia yakin itu adalah suara Aum.


sedangkan Pangeran Panji yang mendengar kakaknya mulai mengelu elukan Aum jadi geram. rasa cemburunya tak hilang juga ternyata.


' jangan begitu Pangeran Mahkota, Aum segalanya untuk saya. dia bertengkar dengan ibunda Sandrani. seperti biasa' jawab Adhi bijaksana.


pangeran Mahkota mulai paham. Aum yang manis ternyata sama dengan adik kecilnya yang menangis saat bertengkar dengan ibunda ratu.


' Panji juga begitu waktu kecil' goda putra Mahkota pada adiknya.


Panji yang merasa dipermalukan mendecak kesal. ia berjalan mendahului kakaknya dan mas Adhi dengan menghentak hentakkan kaki.


 


~ ° ~ ° ~


 


Setelah merasa berjalan cukup jauh Panji mendudukan diri di sebuah bangku kecil disisi sebuah pagar hidup. saat mendengar bahwa setan kecil yang suka mengejeknya itu sedang menderita ia cukup bahagia. andai bisa melihatnya langsung ia akan mengejek setan kecil itu habis habisan.


saat dia hendak beranjak terdengar suara isak tangis yang teredam.


Panji yang meyakini bahwa itu pasti suara Aum si setan kecil itu. Panji jadi semangat untuk mengejeknya.


setelah meloncati pagar dan danau kecil yang berada tepat disisi jendela yang sedikit terbuka panji mencapai kamar setan kecil itu.


sosok mungil itu sedang membelakangi Panji sehingga ia tak menyadari bahwa ada orang yang menyusup ke kamarnya.


tangan mungilnya terus berusaha memegang jarum yang terus saja tergelincir dari jarinya.


tanpa sadar tatapan panji jatuh pada kain sulaman yang dipenuhi bercak merah yang diyakini dia bukan pewarna kain. samar samar dia juga menghirup bau besi, ia darah.


dengan segera panji melihat jari jari gadis itu sudah berlumuran darah. hati Panji menjadi sedikit risih saat mendengar isak tangis yang diredam mati matian itu. kenapa menjadi begitu kasihan, gumamnya aneh.


' hey berhenti' bisiknya pelan, takut terdengar oleh pelayan yang ada diluar kamar.


Aum terhenyak dan segera memutar tubuhnya, sosok Panji yang cukup tinggi dari pada anak seusianya membuat Aum harus mendonggak.


' apa yang pangeran lakukan disini? ' tanya Aum dengan keadaan masih belum begitu sadar.


' tanganmu berdarah, jangan meyulam lagi' perintah Panji tak suka.


tapi gadis yang di ajak bicara malah menggelengkan kepalanya.


' Aum mengecewakan bunda, jadi Aum harus membuat bunda memaafkan Aum' gadis itu kembali lagi menyentuh bingkai alat sulamnya.


Panji jadi kesal sendiri, niatnya mau mengejek malah dia menjadi kasihan.


dia duduk didepan gadis bernama Aum itu dengan sesekali membantu menyerahkan jarum yang telah ia isi dengan benang.


'apa harus sama dengan contohnya ini? ' tanya Panji lirih.


Aum mengangguk pelan, sesekali menyeka darah dijarinya. dan kembali merajut.


Panji melirik gadis itu berkali kali, gadis yang biasanya mengejek apapun keadaannya itu begitu berbeda.


dengan baju khas gadis bangsawan nan anggun, iya terlihat lebih manusiawi.


' aku fikir ini pertama kalinya Pangeran tidak memandang saya dengan tatapan marah'


ucap Aum lirih.


Panji yang sedang memasukan benang warna pada jarum menatap gadis kecil itu lekat.


' hari ini Pangeran juga tau aib Aum, jadi sekarang kita impas kan Pangeran? '


tanya Aum lirih.


mereka berbicara sambil berbisik,


' aku rasa aku hanya salah menilai kamu' kata panji.


Aum mengulum senyumnya,


' jadi Aum boleh menyapa Pangeran dimana saja? ' tanya Aum polos.


panji menaikkan alisnya heran.


' bukan sebelumnya kamu juga memanggil ku dimana saja dengan nada mengejek'


ucap Panji sarkatis.


Aum hanya memasang wajah tidak enak.


' sedari tadi bicara denganku kamu masih juga menangis? ku fikir sudah berhenti'


kata panji cuek.


Aum menyeka bulir air matanya dengan asal.


' Pangeran tidak tau kalau ibunda kalau sudah memutuskan sesuatu pasti tidak akan berubah' ucap Aum sedih.


'lalu, kenapa masih kau teruskan'


panji merasa heran.


' kan Aum merasa bersalah pada bunda, soalnya Aum tau bulan depan Aum akan masuk kekeluarga resmi ayah. jadi otomatis pendidikan ku akan di atur oleh ibu larasaty. mungkin ibunda tertekan. makanya Aum sedih' tutur Aum lirih.


panji hanya mengangguk saja, ia tau betul hal seperti itu.


sepanjang malam panji menemani Aum menyulam, hingga Aum jatuh tertidur ia baru pergi melalui jendela.


tanpa sadar ada kuncup yang mekar di salah satu sisi. dan entah sisi Lainnya.

__ADS_1


entah itu kuncup bunga yang wangi atau kuncup duri seperti mawar yang berjajar di sisi taman halaman Aum yang semerbak mewangi.


tbc..... .


__ADS_2