GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
SECARIK KERTAS


__ADS_3

Sesaat Aum sempat tercekat melihat kedatangan tamu yang tidak akan mungkin mendatanginya. Lelaki dewasa yang berdiri tegak didepan nya itu adalah cinta pertamanya, rasa sakitnya ,lukanya yang sulit di sembuh.


' kakak benar benar menyayangi mu sebesar ini ternyata' gumamnya, ia melihat sekeliling dengan mata menyelidik.


Aum hanya menatap Pangeran panji dengan diam. tadi ia sempat terlupa bahwa lelaki di depannya ini telah melukai hatinya, sadarlah kau bodoh gusar aum dalam hati.


' apa yang membuat Pangeran mendatangi saya tengah malam, apakah mendapatkan balasan untuk istri anda? ' kalimat sarkas meluncur bebas dari mulut Aum.


Pangeran panji menatap Aum dengan lekat, seakan mencoba menangkap seluruh gambaran gadis itu di ingatannya.


ia telah bertekat akan mengakhiri perasaan diantara mereka saat memutuskan bertemu. Namun entah mengapa perasaan itu tiba tiba menyeruak naik memenuhi dadanya.


' Kenapa begitu sulit? '


' jika memang kita tak bisa bersama mengapa perasaan ku tak kunjung sirna. Aum ku ternyata masih sama Aum yang di depanku adalah Aum yang sama ' suara putus asa Pangeran panji memenuhi dinding penjara yang rendah.


tangan Pangeran panji dengan sadar meraih helaian rambut Aum yang tidak terikat. secara perlahan membelainya dengan lembut. seketika mengingatkan kenangan lama yang hampir terlupakan. air mata jatuh berlinangan di pipi Aum, ia tak mampu menahan perasaan yang ternyata tak hanya dirinya seorang yang menanggungnya.


' apa yang anda lakukan Pangeran? saya mohon jangan datang ' kata Aum dengan tersengal.


tanpa menjawab Pangeran panji meraih Aum kedalam pelukannya. keduanya menangis dengan sedih seakan meratapi kenyataan yang tak pernah bisa berpihak pada mereka. kisah cinta tragis yang tidak bisa bersatu.


' baiklah, hari ini mari kita akhiri perasaan yang membuat kita berdua tersiksa.


Aum gadisku!? aku melepas mu' katanya tanpa melepaskan pelukan eratnya.


sekali lagi suara tangis Aum menggema tanpa jeda malam itu.


...~~~...


keesokan harinya saat Graha berkunjung Aum mencoba menyembunyikan pertemuan semalam. ia akan menyimpannya sendiri sampai akhir hayat. kali ini graha membawa seorang dayang yang membantu untuk membersihkan tempat tidurku pagi ini.


' anda harus makan nona?! ' kata graha tegas.


graha dengan cekatan membuka buntalan bekal yang terlihat berat, ternyata di dalam terdapat makanan lengkap lauk pauk dan sayurnya juga.


Aum mengenali bau masakan ini,


' jangan hanya di lihat, tuan ibu sudah berkerja keras untuk membuatkan mu makanan '


nasehat graha, ia menaruh beberapa lauk di mangkuk ku.


' tuan ibu menghawatirkan kan mu, ia sampai menyusup keluar hanya untuk membuat makanan kesukaanmu'


Aum menelan nasinya dengan kesusahan, dadanya terasa sesak rasa rindu dan rasa bersalah bercampur dalam hatinya. ibu maaf kan Aum batinnya sedih.


gadis itu memakan hampir seluruh hidangan, walau sesekali ia akan tersedak karena terburu-buru namun graha dengan cekatan menyodorkan Air minum.


' pelan pelan saja makanya ' selayaknya seorang kakak yang menunggu adik kecilnya makan, graha tak melepaskan pandangan dari tuannya.

__ADS_1


setelah menyelesaikan sarapan Aum dan Graha sedang berdiskusi serius. Graha menyerahkan beberapa lembar kertas denah perguruan ayahnya. didalamnya ada beberapa tanda yang di silang untuk memberikan tanda bahwa itu adalah kejadian perkara dan posisi seluruh saksi mata.


' tuan Hyoko sendiri yang menyerahkan pada saya kemarin' kata Graha.


Aum tidak memberikan respon banyak, matanya masih terpaku pada denah. sebagai ahli strategi membaca peta adalah keahliannya. mengukur jarak sesungguhnya dengan bermodalkan gambar bukan hal sulit untuknya. apa lagi padepokan Bhadhoro sudah seperti rumah kedua untuknya. Ia mengenali seluruh sudut padepokan itu.


' jarak ini mustahil untuk memanah dengan busurku kemarin, apa kau sudah memeriksa busur yang ku pakai? ' tanya Aum pada Graha yang sedari tadi menyimak.


'sudah tuan putri, busur yang ada pakai adalah busur untuk berlatih di padepokan. busurnya sudah diserahkan ke pengadilan untuk menjadi bahan pertimbangan terang Graha dengan Yakin.


' aku tidak keberatan di penjara tapi aku benci konspirasi. aku yakin wanita itu berbuat curang lagi' geram Aum.


'selidiki lagi dari awal, pengadilan tidak berani bertindak banyak karena ada keluarga kerajaan. Aku hanya mau tau kebenarannya' tegas Aum dengan wajah serius.


' baik tuan putri, saya akan segera menyelesaikannya.


saya undur diri' .


penjara yang di tinggali Aum untuk sebulan ini kembali sunyi, Graha dan dayang yang ia bawa telah kembali dan penjaga penjara tidak bisa sering sering menemaninya.


disudut penjara sudah ada setumpuk buku yang dikirim oleh putra mahkota untuk mengisi waktu luang. kebanyakan dari mereka bertemakan strategi perang dan juga buku tentang perjalanan.


mempelajari topografi wilayah negara lain bisa jadi membantunya suatu saat nanti.


suara kertas yang dibuka mengisi kesunyian yang pekat, setelah kunjungan graha tadi pagi sepanjang siang ini Aum hanya berkutat dengan buku buku. sesekali ia menyuapkan kacang almond kesukaannya, dipenjara seperti ini tidak buruk juga batin Aum.


seluruh harinya damai tidak perlu mendengarkan gunjingan, membuat umurnya kembali muda.


lembar demi lembar telah habis ia baca, pada halaman terakhir terdapat kertas yang dilipat seakan sengaja diletak kan disana. sebuah surat,


dengan penasaran Aum membacanya.


...seroja kecil ku...


...bercicit seperti nuri yang terbang memamerkan bulunya...


...keindahan yang mencuri seluruh hariku...


...tidak, seharusnya aku tak mengatakan...


...serojaku, yang ku lihat...


...serojaku, yang ku puja...


...aku masih menyimpannya...


...bekas lukanya masih ada, walau pun...


...akhir sudah terlewati...

__ADS_1


...serojaku yang indah...


...biarkan aku memilikinya untuk diriku sendiri....


...serojaku yang menarik tali busur dengan lengannya yang kecil...


...helaian rambut nan mengelitik hatiku...


...tanpa sadar lengan ku terayun...


...hendak meraih mu...


...serojaku yang menangis...


...menatapku dengan kepala mendongak...


...bias cahaya memantulkan butir air matanya...


...aku terjatuh karenanya...


...serojaku.. serojaku.....


...dia, Aum ku yang seperti dongeng kebahagiaan...


...dia Aum ku di dalam kubik jantungku...


...dia milik ku yang tak bisa ku peluk...


...dia cinta ku yang menangis dan berlalu...


^^^Panji abhyata^^^


disudut kecil kertas tertulis tanggal puisi itu buat, 5 tahun lalu. Aum memandang tidak percaya selembar kertas yang ia pegang.


mengapa ia menemukan hal seperti ini setelah memutuskan membuang jauh perasaannya.


kisah cinta nya menjadi begitu tragis, ia menangis lagi dengan penuh lara. seperti hal nya puisi itu Aum juga enggan merelakan cinta yang ia miliki.


' Hu... Hu.. mhu.. huu '


tangis Aum begitu menyayat, samar samar dari luar penjara seseorang berdiri di kegelapan mendengarkan tangis pilu itu.


' maaf kan ketidak berdayaan ku' batinnya lirih. ia menyentuh dinding seakan menyentuh langsung orang tengah menangis itu.


' tuan mentri luar negri!? anda di cari putra mahkota' kata seseorang yang berlarian mencarinya.


' baiklah, mari kita pergi'


lelaki itu Adhi kakak tertua Aum. sekali lagi sebelum pergi jauh ia menoleh seakan enggan untuk meninggalkan gadis yang sedang menangis pilu itu.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2