
malam semakin larut, di bawah temaram lentera ya berayun tertiup udara yang perlahan masuk melalui cela jendela yang di biarkan terbuka sedikit.
Aum masih membaca setumpuk buku, rambutnya dibiarkan tergerai tertiup angin. baju tidurnya yang berwarna hitam membuat kulit wajahnya menjadi lebih pucat.
setelah berhasil membuat sang ayah tinggal dengan ibunya malam ini, Aum segera membersihkan diri lalu menikmati kesendirian seperti ini. menikmati kenangan yang mengalir di otaknya, ia tumbuh dan besar di tempat ini. bau dinding kayu di kamarnya ini tidak bisa tiru di rumah barunya. semua hal yang terjadi dibalik diding tebal yang mengelilingi kamarnya, tempat ia menyembunyikan hatinya. Aum tersenyum kecut saat ia menyadari buku yang ia pegang saat ini adalah hadiah pertama yang ia dapat pangeran panji. ini adalah bukti perdamaian mereka, setelah sekian lama menjadi musuh.
entah kenapa tiba tiba malam ini merasa sangat kesepian, Aum mengusir Ani keluar dan membiarkannya beristirahat di sisi barat kamar sedangkan Graha menjalan kan misi yang Aum berikan sehingga ia tidak bisa menjaga pintu kamar Aum sendiri.walaupun di depan kamarnya terdapat penjaga ia tetap saja merasa kesedihan yang pilu.
namun pada saat yang sama Aum atau penjaga yang berada didepan kamar Aum tak ada yang menyadari sesosok orang yang bersembunyi di rimbunnya pohon memandang Aum dengan sendu.
orang itu pangeran Panji,
yang bergegas menyusup ke kediaman panglima perang saat mendengar kabar bahwa wanita yang ia cintai kembali ke ibukota. Pangeran Panji yang tak mendapatkan kesempatan apa pun untuk bertemu dengan Aum walaupun besok keluarga bhandoro mengadakan pesta penyambutan untuk putra ke duanya yang kembali dari tugas, ia tak mendapatkan undang pesta tersebut. kerinduan di hati nya yang membuatnya susah tidur, kegelisahan yang selalu saja menghantui hari harinya.
rasa sakit yang menyengat menusuk penglihatannya dan hari ini seakan terobati saat melihat gadis menjadi bunga tidurnya itu terlihat nyata di balik jendela yang terbuka sedikit. memberikan kesan tidak nyata namun tetap indah seperti ingatan nya yang tak pernah luntur. seperti hatinya yang berdegup kencang.
gadisnya yang telah menjadi wanita dewasa yang cantik dan menawan. Aum nya yang sama dengan gadis yang ia kenal bertahun lamanya. ia tengah membaca, pangeran Panji tau Aum sangat suka membaca. dulu saat ia masih bisa bebas berkunjung pangeran Panji akan duduk memandangi Aum yang tengah membaca dengan serius, pada awalnya hanya keusilannya namun lambat laun menjadi kebiasaan. ia menikmati wajah ayu yang membuatnya jatuh perlahan dan terperangkap sedalam dalamnya.
Pangeran Panji sangat hafal raut wajah yang Aum buat saat mendapati hal hal baru ataupun teori yang seakan bertentangan dengan ilmu yang ia dapat, gadis itu akan melemparkan pertanyakan dan memulai perdebatan dengan pangeran Panji. gadisnya yang penuh ke ingin tahuan, Pangeran Panji tanpa sadar tersenyum mengingat kenangan yang seakan begitu segar mengalir di ingatannya.
gadisnya, Aumnya yang duduk di dekat jendela itu begitu indah seakan sebuah lukisan yang tak bisa ia sentuh. siluet wajah yang di tempa cahaya lentera yang redup dan helaian rambut yang sesekali turun membuatnya ingin menyentuh dan merasakan helaian rambut nanti halus itu. bola mata yang menahan kantuk seakan menambah elok parasnya di mata pangeran Panji. sosok dewasa yang dulu sempat ia bayangkan tak bisa menandingi kecantikannya kini. sesaat ia seakan dapat mencium bau wangi yang selalu menyelimuti Aum, wangi mawar segar yang menyejukkan. Jantung pangeran Panji sekali lagi berdetak dengan keras,
tanpa sadar ia sempat melangkahkan kaki untuk menghampiri gadisnya itu. keluar dari persembunyian nya dengan sengaja agar mata indah itu menatapnya, hanya melihatnya lagi. keserakahan merenggut Akal sehatnya, niat awal yang hanya ingin mengawasi dari jauh telah hilang entah kemana.
__ADS_1
seperti tau apa yang di maksud kan oleh pangeran panji, Aum yang merasa ada seorang yang tengah menatapnya mengangkat pandangannya keluar jendela.dan pada saat yang sama pangeran Panji keluar dari persembunyian nya dan menatap balik Aum dengan lekat.
seakan bisa berbicara dengan tatapan, mata kedua pasang tersebut tidak sekalipun berpaling.
mencoba menyerap dalam segala hal yang bisa mereka lihat satu sama lain. mencoba meyakinkan diri masing masing untuk menahan diri agar tak bergegas mendekat.
pangeran Panji menggenggam kepalan tangannya dengan erat, ia mencoba mengendalikan dirinya sendiri. di mata pangeran Panji Aum yang menatap lekat dirinya seakan bicara dengan lantang betapa besar juga ia merindukan hari ini. saat mereka bisa menatap satu sama lain seperti ini. pangeran Panji melangkah maju lalu berhenti di tepi kolam ikan tepat di bawah jendela Aum.
'maaf kan aku ' bisik nya lirih.
suara lirih pangeran Panji seakan terbawa desir angin menembus pendengaran Aum samar,
dan seperti pertahanan yang telah ia bangun runtuh buliran Air mata jatuh perlahan menghiasi pipi pucat Aum.
sesal pangeran Panji sekali lagi saat melihat cintanya menangis dalam diam.
tangannya terangkat seakan ingin membantu menghapus buliran Air mata yang tak kunjung habis itu. Mereka terpisah oleh kolam ikan dan jika dulu ia dengan mudah melompati nya dan meraih gadis itu namun kali ini seakan sadar bahwa pemisah jarak diantara mereka bukan sekedar kolam ikan yang jernih itu namun status yang pangeran Panji sandang.
seperti hal nya kali pertama mereka bertemu kembali saat ini atau pun dulu Aum juga tengah menangis. walaupun hal yang membuatnya menangis adalah hal yang saat berbeda. kala itu ia bisa meraihnya menghiburnya namun kali ini penyebab Aum menangis adalah dirinya.
rasa sesal merambat naik ke hatinya, andaikan dulu mereka tidak pernah berdamai andaikan dulu ia tidak menyusup ke kamarnya. andaikan ia dulu tidak melihatnya menangis akan kah gadis nya akan bahagia.
akan kah cintanya itu akan berakhir manis, namun pangeran Panji tidak sanggup membayangkan.
__ADS_1
jika cinta Aum tidak untuk nya, rasa mengerikan itu membuat pangeran Panji mengeratkan giginya.
' tidak bisakah kita bersama?! ' suara Aum yang lirih dengan di iringi isak tangis membuat pangeran Panji semakin sedih.
di saat yang sama suara pintu kamar di buka dengan tergesa-gesa.
Ani yang mendengar suara isak tangis majikannya seketika terbangun dari tidurnya. dan bergegas menghampiri gadis cantik itu,
walau pun tak melihat dengan jelas namun Ani yakin ia melihat siluet lelaki yang sangat familiar di sebrang kolam yang bergegas pergi saat Ani masuk kedalam kamar, namun ia mencoba menahan diri untuk tidak mengejar orang tersebut. perhatiannya hanya terpusat pada majikannya yang menangis tersedu sendu.
' tuan putri, ada saya tuan putri ..
ada saya' kata Ani tegar.
walaupun Air matanya juga hampir tumpah.
hari ini Ani sadar tuan nya tidak se tegar itu, Galih Ayu Aumani Bhandoro wanita bergelar putri satu satunya di kerajaan Mahestraja dan prajurit wanita berbakat dengan pangkat tinggi ini tidak sekuat yang orang lihat.
cintanya direbut, cintanya jatuh pada orang yang salah.
tuan putrinya yang malang menaruh hati di tempat terlarang.
' tuan putri ku yang malang' batin Ani sedih.
__ADS_1
TBC....