GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
kembali pulang


__ADS_3

hari ini seluruh penjuru rumah keluarga Bhandoro sangat ramah, dari juru masak sampai tukang kebun mereka sangat sibuk. Aum yang bangun terlambat di seret kemana kemari oleh dayang dan ibunya. di iringi omelan sang ibu yang tak kunjung habis.


' bagaimana bisa kamu bangun terlambat, astaga kita harus menyambut kakak mu'


'dia pasti kecewa kalau kamu yang datang terlambat'


omelan sandrani terus saja berlanjut, namun tangannya tak berhenti membantu Aum berdandan.


'ibu akan Naik kuda nanti, jadi tidak usah berias diri'


kata Aum tidak nyaman.


dayang dan ibunya langsung memasang wajah kesal mendengar kata Aum. mereka tambah terlihat bertekat, tanpa persetujuan Aum mereka berdua menghias habis rambut Aum dan mendandaninya secantik mungkin.


saat selesai di dandani Aum memandang dirinya yang terlihat di kaca, ia sempat tak mengenali gadis yang di lihatnya.


astaga Aum tidak mengira ia bisa secantik itu, Ani sang dayang langsung heboh melihat betapa cantiknya tuan nya itu.


' putri sangat cantik bukan tuan ibu' kata ani dan di iyakan oleh sandrani dengan semangat.


keluarga inti telah bersiap untuk menyambut putra kedua mereka Banu jalady bhandoro yang kembali dari perbatasan.


para wanita naik kereta kuda kecuali Aum yang bersikeras akan menaiki kuda kesayangannya. mereka berarak menuju istana.


sebagai prajurit yang telah menyelesaikan tugasnya mereka harus melapor terlebih dahulu ke istana untuk mendapatkan restu yang mulia raja baru mereka semua bisa kembali ke rumah masing-masing.


hari ini seluruh jalan menuju gerbang istana penuh dengan keluarga yang hendak menyambut anggota keluarga mereka. begitu juga keluarga Bhandoro yang berjajar di sisi jalan sedangkan Wisnu Bhandoro sang ayah lalu Adhi kusumo yang telah menjadi mentri hubungan antar kerajaan dan Aum yang mendapatkan gelar putri dari kerajaan harus berada di Aula sidang sebagai bagian dari pemerintahan Raja.


arak arakan prajurit mulai terlihat, suara tangis haru menggiringi kedatangan mereka. sorak sorak puji syukur bersautan atas kedatangan mereka ke ibu kota kerajaan. rasa Terima kasih tidak habis di ucap oleh semua orang. termasuk keluarga Bhandoro yang melihat putra kedua mereka yang berada di baris terdepan, memimpin beratus prajurit di belakangnya. ia tersenyum dan sesekali melambaikan tangan pada para penduduk yang berjajar menyambut mereka.


beberapa gadis yang melihat senyum menawan sang kapten berteriak histeris, walaupun sudah bertahun di pinggiran kerajaan yang tandus Banu masih saja menawan layaknya putra bangsawan yang hidup makmur di ibukota.


matanya seketika bertemu keluarganya ia terlihat berlinang Air mata. neneknya, ibunda Larasari, ibu sandrani dan istri Ayahnya yang lain. juga adik laki-laki nya yang sudah besar terlihat tenang seperti biasa.


matanya mencari cari sang adik terkecil nya yang tak terlihat. ia tau ayah dan kakaknya pasti ada di dalam istana namun Aum kecilnya tidak ada. tiba tiba mood banu menjadi buruk, dimana adiknya dalam hati Banu bertanya tanya.

__ADS_1


...~...


setelah di izin kan masuk istana Banu dan beberapa perwakilan prajurit terpilih menghadap yang mulai raja di Aula sidang. ia melihat kakak pertamanya yang mengunakan baju pegawai kerajaan dan sang ayah yang mengenakan baju resmi. namun betapa terkejutnya Banu saat ia melihat adik kecilnya berada di gerombolan lelaki dalam Aula ini. ia mengunakan kebaya resmi berwarna hijau tua dan berdiri tepat bersebrangan dengan pangeran mahkota. ia lalu tersadar ia ingat saat ibu sandrani mengirimkan surat nya beberapa waktu yang lalu mengatakan adiknya kembali dari medan perang membawa kemenangan dan perluasan wilayah sehingga kerajaan memberikan gelar putri padanya.


sejenak pikiran nya kembali tenang, ia mendengarkan petuah dari yang mulia raja dengan hidmat. setelah menyelesaikan segala persyaratan Banu bisa kembali ke kediaman nya. kakak pertama dan adik perempuannya harus tertahan di istana sejenak, sehingga ia bersama sang Ayah menghampiri rombongan keluarga yang telah menunggu seharian di depan gerbang istana.


Hasturi tanpa sadar melangkahkan kaki mendekat pada cucu yang telah lama tidak ia temui.


' astaga, anak nakal ini kenapa bisa begitu kurus'


katanya sambil memukul mukul badan Banu perlahan, air matanya hampir tumpah.


' di sana tidak ada yang mengomeli ku seperti nenek' canda Banu saat sang nenek begitu sedih melihatnya.


lalu di ikuti gelak tawa anggota keluarga yang lain, Banu sempat bertatap mata dengan ibu sandrani namun belum sempat menyapa karena sang ayah menyarankan untuk kembali terlebih dahulu. karena nenek Hasturi telah berdiri dari pagi hari untuk menyambutnya,


' kita lanjutkan di rumah saja, ibu telah berdiri sangat lama ' kata Wisnu Bhandoro.


dan di iyakan oleh anggota keluarga yang lain.


' Aum pasti sudah ingin kabur dari istana ' suara ibu larasati senang. sepanjang jalan ia tidak melepaskan lengan putra keduanya itu.


walaupun buka putra kandungnya namun ia begitu menyayangi Banu sama dengan kedua putranya.


' anak nakal itu pasti belajar dari kamu Banu.


susah sekali aturan anak perempuan itu' kata nenek hasturi.


disambut gelak tawa para ibu.


' kamu kalah jauh dari adik mu, ia sudah memiliki kediaman sediri sekarang ' cerita ibu larasati.


Banu sedikit terkejut ia melihat ibu sandrani dan di iyakan olehnya.


' Aum mendapatkan gelar sekaligus wilayah yang harus di jaga oleh yang mulia raja ' terang ibu sandrani.

__ADS_1


semua orang di rumah ini berusaha tak menceritakan betapa rumitnya kehidupan mereka 4 tahun ini karena Aum dan Pangeran panji. Banu yang ada di perbatasan pasti sudah hidup sengsara mereka tidak ingin menambah beban nya.


mereka sepakat untuk menahan cerita itu biar sang ayah yang menceritakan itu pada Banu.


suara gelak tawa mengisi kereta sepanjang perjalanan kembali. sedangkan disisi lain di istana Aum masih terjebak di kediaman putra mahkota. selain itu ia harus bertemu pangeran panji yang sedari tadi tanpa tedeng aling aling menatapnya lekat.


lelaki itu menerobos masuk saat Aum sedang berdiskusi dengan pangeran mahkota tentang keadaan pinggiran kota yang Aum jaga.


' untuk mengurangi adanya bandit kambuhan kami telah melakukan patroli setiap hari 2 kali menyisir pegunungan. dan memberikan penjagaan ketat di sisi jalan yang beresiko penjarahan' terang Aum.


pangeran mahkota mengangguk puas.


ia sedikit senang adik temannya itu ternyata sangat kompeten.


' baiklah untuk kunjungan berikutnya akan ku sampaikan lewat surat' kata pangeran mahkota.


'sekarang kau bisa kembali'


aum lalu izin undur diri, sedangkan pangeran mahkota mencoba menahan adiknya yang mencoba menyusul Aum.


' tenang lah panji' ucap putra mahkota tegas.


' jangan mempersulit Galih, ayah bisa mengirimnya lebih jauh lagi'


ucap putra mahkota pada adiknya.


' aku mohon jangan membuat Galih semakin kesulitan, mungkin kelihatannya seperti ayah memihak istrimu tapi ini untuk kebaikan semua orang. ia sangat menyayangi Galih, yang mulia raja tidak akan membiarkan hal remeh seperti itu merusak kinerja gadis berbakat itu'


dan pangeran panji menatap kakaknya itu dengan sedih,


' lalu bagaimana dengan hatiku kak' katanya nelangsa.


' kembalilah pada keluarga mu' jawab Putra Mahkota dingin.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2