
waktu masih dini hari, Aum terbangun.
matanya tanpa dosa melirik sofa tempat pangeran panji semalam duduk. Aum merasa semalam adalah pertemuan terakhir mereka. Aum berharap pangeran mencoba menahannya atau apalah, tapi semua hanya harapan kosong. seperti halnya perkataan sang ayah, janjinya hanya omong kosong.
'dia sudah pergi' batin Aum lirih, dia menyerah sekarang.
Aum mendudukkan diri, menghela nafas besar untuk meringankan belenggu dalam hatinya. Aum menyadari betapa derajat yang dia punya tak sepadan untuk mengajukan keberatan atas pernikahan sang pangeran.
pikirannya buntu, dengan statusnya kini ia merasa tak pantas untuk memaksakan kehendaknya, tapi hatinya terasa amat sakit.
Ia tak sanggup untuk meratapi nasib sialnya.
setahun lalu,
Aum ingat saat itu dia sedang belajar di perpustakaan ayahnya. sang ayah juga hadir, tengah bersidekap dikursi kebesarannya sambil tidur. itu hal sangat rahasia yang Aum miliki tentang ayahnya.
ujian hampir mendekati, dan Aum semakin getol belajar. untuk menenangkan hati ibunda Sandrani Aum juga belajar apa yang harus dilakukan wanita. hampir setiap hari ia tak ada kata berhenti belajar. 7 hari dalam seminggu, otak Aum berputar dengan cepat.
hiburan yang ia dapatkan adalah kehadiran Pangeran Panji yang tanpa dosa menyusup ke kamarnya.
dan itu diketahui ayah akhirnya.
' apakah pangeran terus mengunjungimu? '
tiba-tiba bandhoro menanyai anak perempuannya dengan suara serak.
Aum yang sedang belajar terlonjak, hingga kuas tulisnya terjatuh. hingga tintanya berceceran di baju dan meja.
'ayah' gumam Aum pelan.
ia tak yakin harus menjawab apa.
ayah bukan sedang bertanya tapi menuduhku. terka Aum dalam hati.
' mereka akan menikah tahun depan, sebelumnya tak ada yang tau apa alasan pangeran terus menunda pernikahannya. akhirnya ayah tau, dan itu karena mu'
perlahan Bandhoro membuka matanya dan menatap putri kecilnya dengan tajam.
Aum menunduk,
' pangeran berjanji menikahiku ayah'
jawab Aum berani, walaupun dia menundukkan tapi ia tak terintimidasi oleh ayahnya sendiri.
ia tau betul bahwa ayahnya akan membelanya.
' dan kamu percaya begitu saja? '
' apa otak pintar mu itu tidak berfungsi dengan benar? ayah akan menikahkanmu dengan siapa saja asalkan bukan pangeran Panji'
Aum meremas bajunya dengan keras, kecemasan yang ia rasakan semakin besar setelah mendengarkan ultimatum ayahnya.
dibandingkan orang lain ia tau betul, tapi ia terus menyangkalnya dan tetap berharap.
' ayah, Aum.. '
kata yang ia susun seketika berhenti saat tatapan mata sang ayah berserobok dengannya.
'Aum, ayah minta kau berfikir dengan benar sehingga ayah tak menyesal telah mengizinkanmu membuat pilihan hidup yang lain'
suara Bandhoro mengema.
' kembalilah ke kamar, bawa buku yang diperlukan. ayah akan istirahat'
Aum segera membereskan buku dan peralatan tulisnya. dibantu Graha ia bergegas kembali ke kamarnya.
sepanjang perjalanan kembali, Aum gelisah.
keputusan apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
~ ~ ~ ~ ~ ~
hingga sekarang Aum tidak mampu mengambil keputusan, cintanya yang semakin lama membesar dan kuat. membebani hati dan pikirannya.
tak pernah terfikirkan bahwa hubungannya dan pangeran telah menjadi buah bibir seluruh kota. sehingga membuat Baginda Raja memutuskan memisahkan kami dengan mengirimku pergi ke perbatasan untuk berperang. Aum tersenyum kecut, tidak seorang pun berusaha membelanya.
segala hal telah ia dapatkan, cinta kasih keluarga. kebebasan yang tidak semua wanita dapatkan, Aum telah menikmatinya. namun ia menginginkan hal lain juga. dan hal itu mustahil untuk terwujud.
' ndoro sudah bangun? saya siapkan air mandinya'
gadis itu hanya mengangguk lemah. pagi ini ia akan menemui yang mulai raja.
baju bangsawan yang telah lama ia tak pakai telah diletakkan dengan rapi di ujung kamar. kebaya hijau gelap serta bawahan warna sama dengan pola berupa dedaunan yang salin menjalar. ini adalah baju jirahnya di hadapan Yang Mulia Raja.
suara ribut sekelompok ibu yang sejak kemarin telah membuat kegaduhan kembali lagi.
'Aum, ibunda laras datang dengan para bibi. segeralah keluar' seru sang ibu kandung.
' sebentar saya segera datang' jawab Aum.
setelah pintu kamar terbuka semau mata menuju gadis yang mengenakan kebaya lengkap dengan riasan rambut yang sederhana. seketika udara dalam ruangan menjadi berat, sayup-sayup terdengar suara tangis yang teredam.
semua anggota keluarga dengan berat hati mengantar putri satu-satunya dalam keluarga pergi kemedan perang. keputusan yang tidak mudah, namun akhirnya keluarga mengizinkan.
sore nanti setelah menerima mandat raja Aum akan bergerak ke barat dengan rahasia. Graha sebagai pengawal pribadi sekaligus pelayannya akan ikut serta.
sekarang mereka sedang perjalanan menuju istana, tapi kuda yang mereka naiki berjalan perlahan seakan tanpa beban.
' tuan putri'
suara Graha mencoba memecah kesunyian.
Aum yang tengah melamun sedikit terkejut.
' waktu masih banyak tersisa jika harus menunggu rapat pagi di istana. apakah putri akan berhenti di danau dahulu? ' tanya Graha pelan.
seperti pesan pangeran Panji yang ia terima semalam, ia mencoba mengajak majikannya untuk pergi ke tempat yang telah pangeran tentukan.
tanya Aum pelan.
Graha hanya diam, toh tuan putrinya itu pasti tau jawabannya dengan sendirinya.
' kita akan langsung ke istana' jawab Aum datar.
namun raut wajah ayunya menjadi begitu gelap dan sedih.
tidak ada lagi yang perlu dibahas, ia akan pergi seperti halnya yang mereka inginkan.
hari menjadi begitu suram, awam mendung menyelimuti pagi hingga beranjak ke siang.
setelah menunggu cukup lama, Yang Mulia datang dari pengadilan pagi.
Aura agung memenuhi seluruh ruangan.
tanpa berbicara mata Raja menatapku dengan sangat tajam, seakan menyuruhku diam dan pergi jauh.
suara Kasim yang membacakan mandat Raja seperti dengungan ditelingaku.
sosok Pangeran dan Putra Mahkota yang tak sedikitpun menatapku, membuat kesadaranku kembali.
' Saya akan segera kembali Yang Mulia' ucap Aum tegas.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
tak dapat terhitung lagi perjalan panjang yang pertama kali dalam hidupnya ini harus ditempuh dalam berhari hari hampir tanpa istirahat. bila dihitung sudah 4 hari 3 malam perjalanan dengan berkuda, seluruh badan Aum seakan hendak lepas dari sendinya. tapi apa daya, keadaan mendesak diperbatasan. selain membawa prajurit bantuan ia juga membawa cadangan persenjataan serta sandang pangan.
__ADS_1
walau pun bukan jendral yang memimpin pasukan, jabatan sebagai ahli strategi membuatnya mendapatkan perlakuan berbeda. apa lagi sebagai perempuan, semua orang berusaha untuk menjaga martabatnya.
walaupun begitu Aum tetap duduk di pelana kuda selama 4 hari ini. memacu kuda dengan kecepatan tinggi menuju medan perang.
hati yang gundah gulana selama ini membuatnya bertekat. membuktikan bahwa ia juga bisa mendapatkan nama, sehingga ia mampu menolak perintah Raja.
' Perkemahan sudah dekat, aku dan Nona Galih beserta pengawalnya akan berangkat lebih dulu. kalian bisa istirahat dan menunggu perintah selanjutnya' suara jendral yang memimpin kami.
' mari Nona Galih, kita akan sampai lebih dulu dan menyampaikan strategi yang Nona ajukan' sekali lagi sang Jendral memberi ku perintah.
' baik ' ucapku mantap.
dengan segera lima kuda melaju dengan cepat menuju perkemahan.
dalam waktu tidak begitu lama mereka telah sampai dan membuat laporan, dihadapan Panglima Bandhoro.
tidak ada buang buang waktu, rapat terbatas segera dilakukan. perang yang alot membutuhkan strategi baru yang mampu memecah kekuatan lawan.
kehadiran Galih Aumani bagaikan udara segar, segera setelah rapat selesai mereka beranjak menuju barak masing masing untuk menyampaikan hasil dari rapat darurat.
Lalu Aum di tinggal dalam barak Utama bersama Ayahnya.
Bandhoro tak membuka mulutnya, begitu pun Aum. mereka saling menghindari kontak mata, entah bagaimana hubungan hangat mereka tidak lagi sama seperti dulu.
' saya akan undur diri ' ucap Aum jelas, sambil berdiri membungkuk hormat.
tanpa menunggu jawaban dari sang Ayah ia bergegas keluar. tanpa tau bahwa Ayahnya menatap punggung kecilnya dengan rasa sedih yang mendalam.
perang berlangsung begitu intens, pasukan berhasil menekan musuh mundur cukup jauh. perang yang berlangsung cukup lama hampir 5 bulan membuahkan hasil. satu desa telah bisa kami kuasai, untuk sementara kami berkemah disini. sembari membantu penduduk sekitar memperbaiki rumah mereka yang telah terkena dampak perang.
di tenda utama rapat masih digelar, kondisi sekarang masih cukup beresiko untuk bermalas malasan. pasukan musuh belum mau menyerah untuk melakukan perundingan.
wajah tegang menyelimuti seluruh pasukan, ada beberapa sisi yang saling berdebat.
ada yang menyarankan menunggu pihak lawan menyerah dan satu sisi menginginkan terus melanjutkan menyerang selama kita masih diunggulkan.
sang Panglima terdiam cukup lama, semua mata menunggu keputusan yang beliau ambil.
' Galih! kemungkinan berapa persen kita bisa menang? ' tanya Bandhoro dengan penuh penekanan.
Aum mengangkat kepalanya yang sedari tadi terkantuk kantuk.
lalu matanya berubah menjadi berbinar saat mendengar pertanyaan sang Ayah.
' izin kan saya turun di garis depan maka saya akan memberikan 100 persen kemenangan untuk pihak kita' suara jernih sang Gadis menembus dinding tenda.
Bandhoro mengerutkan alisnya, ia tau kemampuan putrinya. namun siapa yang rela membiarkan anak perempuan satu satunya itu ada digaris depan peperangan.
' Saudari Galih?! apakah kepercayaan diri anda itu bisa kami percaya? ' tanya salah satu jendral.
Aum mencari sumber suara, dengan yakin ia menatap orang itu.
' saya telah menunggu 5 bulan ini, dan saya yakin dengan strategi yang saya berikan ini' jawab Aum tegas.
~ ~ ~ ~ ~ ~
hari demi hari berlalu...
perang kembali pecah, dan lebih dasyat dari yang sebelumnya. rencana awal yang hanya ingin mempertahankan wilayah malah menjadi merebut wilayah lawan.
2 tahun telah berlalu, pihak lawan menawarkan perdamaian. mereka mengakui kekuatan kami dengan menyatakan bergabung menjadi negara jajahan.
perang dipimpin oleh putri sang Panglima setelah Ayahnya dipanggil kembali ke kerajaan. paras ayunya tak mencerminkan kekejamannya yang tiada kira.
dengan busur dan anak panah dia berdiri digaris depan, memenangkan banyak peperangan. gadis yang naif itu telah hilang, dimatanya terpancar keganasan. perang telah merubahnya menjadi orang yang berbeda.
setelah menghabiskan waktu 2 tahun akhirnya ia bisa kembali ke ibukota. menepati janji yang telah ia ucapkan kepada Yang Mulia Raja.
__ADS_1
' aku menepati janjiku' batinnya.
tbc...