GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
seluas hati


__ADS_3

kedamaian melingkupi kediaman Aum yang asri, suara gemericik air mengalir yang berkilau di tempa cahaya matahari pagi yang perlahan mengintip dari balik gunung yang penuh kabut. walau pun pagi masih terlalu gelap, halaman belakang sudah penuh dengar manusia yang bercucuran keringat. latihan pagi yang rutin di lakukan kali ini berkali kali lipat lebih intens saat biasanya tuan mereka berlatih secara terpisah tiba tiba pagi tadi datang lebih awal dari siapa pun di halaman belakang.


Aum terlihat tak jauh beda dari para bawahannya, wajah ayunya penuh peluh yang bercucuran. namun lengan kecilnya masih terus menarik tali busur dengan kuat. anak panah yang ia lesatkan meluncur tanpa hambatan menembus papan target berkali kali. sebagai prajurit yang berkemampuan khusus serangan jarak jauh Aum berada di 1% teratas di Kerajaan. namun jika menyangkut serangan jarak dekat Aum menjadi lobang besar disana. sehingga duet maut antara Graha dan Aum saat pelatihan membuat pasukan Aum tak mampu menyerang mereka sedikitpun.


Graha yang begitu ahli berpedang dan Aum yang begitu pandai dalam membuat strategi unit mereka seperti layaknya satu kompi prajurit.


jari jari kecil Aum bisa mengapit 3-5 anak panah bersamaan, sehingga efektifitas serangan jarak jauhnya meningkat pesat.


' hari ini sampai disini dahulu, untuk pembagian tugas yang akan datang kita bahas siang nanti' suara Aum mengelegar di halaman belakang kediamannya.


Aum bergegas disusul Graya yang menenteng busur dan tempat Anak panah yang terlihat berat. Dayang yang tadi datang mengumumkan kalau kakak ketiganya datang berkunjung bersama sang Ayah, memimpin jalan.


sebelum menemui sangat Ayah Aum membersihkan diri terlebih dahulu. ia merasa cemas untuk menemui beliau setelah membuat keonaran yang mencoreng nama baik keluarga. hingga keputusan ia keluar dari rumah pun membuat Ayahnya menjadi sangat marah. Namun entah ada angin apa sebelum Aum sempat mendatangi kediaman Ayah nya malah beliau terlebih dulu mendatanginya.


Aum merasa menjadi anak tak berbakti dengan membiarkan sang Ayah terlebih dahulu mendatangi rumahnya.


Aum mengenakan baju bersih dan merapikan rambutnya yang biasa ia ikat tinggi. dayang Aum, soertiani sedang membujuk majikannya untuk mengenakan kebaya dan sanggul. namun Aum tak perduli malah terus mengoceh pada Graha tentang bagaimana ia harus bertindak didepan ayahnya sendiri tanpa perduli bagaimana Ani sang dayang berusaha mendandaninya.


' astaga putri tuan besar tidak akan pernah bisa memarahi anda, saya jaminannya' ucap Graha kesal.


ia menjadi semakin gemas saat tuannya itu tidak segera keluar menemui Ayah dan kakaknya. malah terus saja berputar putar di dalam kamar, para dayang terlihat mengerutkan kening mereka melihat tuan nya berpenampilan sangat biasa tanpa terlihat sosok seorang putri.


' mari kita bertemu ayahanda ' ucap Aum gugup.


Aum melangkah keluar dengan langkah lebar di ikuti Graha yang melirik dayang kesayangan Aum. ia terlihat mengerutu dengan penampilan tuan putrinya itu.


' ani jangan mengerutu tuan putri tidak akan mendengar mu ' goda Graha sambil berlalu.

__ADS_1


...~~...


sejenak Aum terhenti di ambang pintu ia bertatap muka dengan sang ayah, lelaki yang terlihat sangat kuyu didepan nya itu adalah ayahnya sang panglima perang kerajaan Mahestraja.


Aum mendekat perlahan berusaha menekan perasaan bersalahnya.


' bagaimana kabar Ayah? ' tanya Aum ragu saat ia duduk didepan Ayah nya yang terdiam dengan terus menatap lekat Aum.


' bagaimana kabar mu? ' entah karena baru tersadar dari lamunannya Panglima Bhandoro malah balik bertanya pada putrinya.


' saya baik ayah' jawab Aum tenang.


ia mencoba meyakinkan sang Ayah ia telah melewati semua masalah itu dengan mudah. kakaknya Arga juga menanyakan keadaannya dengan penuh perhatian, Aum sesekali mencoba bertanya pada ayahnya meski pun beliau menjawab dengan singkat.


' Ayah menginap lah di kediaman saya yang sederhana ini, itu pun kalau Ayah berkenan' pinta Aum pada ayahnya.


' kak Banu akan kembali dari selatan, kamu harus datang kerumah minggu depan' Arga membuka pembicaraan terlebih dahulu.


Arga tau ayahnya pasti tidak bisa meminta putri kesayangan nya itu setelah melihat pengorbanan yang telah adik kecil nya itu lakukan.


' ibunda ingin kamu tinggal lebih awal, kamar mu sudah dibersihkan oleh ibu sandrani juga' ujar Arga lagi.


Aum menatap kakaknya yang terkenal lugas dan tidak banyak bicara itu, ia seakan membaca pikiran Ayah dan mengutarakan pada Aum.


' baiklah, Ayah dan kakak hari ini menginap dan besok saya akan kembali bersama kalian. bagaimana? ' usul Aum.


sang Ayah lalu mengangkat kepalanya lebih tinggi ruat wajahnya menjadi lebih baik. membuat Aum tersenyum lebar,

__ADS_1


' kakak bisa beristirahat biar Graya yang mengantarmu ke kamar yang biasa. biarkan Ayah aku yang mengantarkannya ' kata Aum lagi.


...~...


sepanjang jalan menuju ke kamar dimana sang Ayah akan tidur malam ini Aum tidak berhenti menceritakan kesehariannya di pinggiran kota ini. sedikit menyombongkan interior rumahnya yang sederhana beserta taman taman yang tertata rapi.


' Ayah tau tidak ibunda larasaty mengirimkan guci dari tionghoa kesayangannya untuk ku pajang di ruang tamu' cerita Aum panjang.


' ibu mu hanya memikirkan kan mu saja' kata Bhandoro dengan bangga.


ia sempat bersedih dan tidak ingin menemui putrinya yang dengan gampangnya memilih keluar dari rumah. namun kerinduan dan betapa kesalnya dia putri satu satu nya itu tidak akan pernah hilang dari hatinya.


ia mengusap Rambut Aum yang di biarkan tergerai sampai pundak. tadi ia sempat bertanya mengapa putrinya memotong rambut panjangnya, namun dengan tanpa pikir panjang Aum mengatakan bahwa ia hanya tidak ingin mempersulit waktu mandinya.


Bhandoro pun tau bahwa keberadaan putrinya di pinggiran kota itu juga salah satu cara Baginda Raja menekan kejahatan dengan menempatkan pahlawan perang di bekas wilayah perampok yang di ringkus beberapa bulan yang lalu. Aum nya yang ia besarkan kini telah menjadi komandan sebuah kompi menjadi jendral kecil di pasukannya yang terkenal sangat sadis.


' andaikan dulu aku mendengarkan ibu mu' kata Bhandoro sambil menerawang jauh.


Aum membelalak kan matanya dengan sembrono,


' Ayah jangan pernah menyesal, Aum tidak ingin menyulam Ayah ' gerutu Aum dan di ikuti tawa sang Ayah yang tak kunjung berhenti.


beliau terus saja menceritakan kisah Aum yang menangis semalam karena di hukum untuk menyulap oleh sandrani.


dalam hati Aum berkata,


Ayah ku telah kembali.

__ADS_1


TBC...


__ADS_2