GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
tumbuh liar dalam sunyi


__ADS_3

tahun baru saja terlewat, tapi kediaman panglima kerajaan mahestraja terlihat sangat sunyi. hampir seluruh lelaki di keluarga pergi ke perbatasan untuk inspeksi prajurit yang berada disana.


dalam kondisi ini hanya tinggal kakak ketiga Aum yang berada di kota kerajaan.


bertanggung jawab atas rumah dan seluruh penghuninya. Argata Edi yang biasa dipanggil mas aga oleh adik kecilnya itu tidak bisa keluar rumah sesukanya seperti biasa.


sehingga apabila Pangeran Panji hendak bertemu beliau yang akan datang ke kediaman panglima.


dan selama masa itu kecanggungan dan rasa marah Pangeran Panji pada Aum berangsur reda.


seperti hari ini, di dalam pendopo kecil di dekat lapangan yang luas. sepasang anak muda sedang bermain catur dengan serius. mereka adalah Pangeran Panji dan Argata Edi. dan di pinggir lapangan terdapat papan sasaran, dan sesosok gadis kecil berdiri disisi berlawanan. merentangkan panahnya dengan pasti.


dalam hitungan detik tiga anak panah tertancap di tiga titik sasaran dengan tepat.


Graha sang pelayan berlarian untuk mencabut anak panah yang ada untuk digunakan kembali.


' adik perempuan mu itu nanti bisa berubah jadi arang arga' ucap pangeran panji dengan santai.


dengan santai ia memandang adik temannya itu.


arga yang terbiasa dengan sifat benci pangeran panji pada adiknya merasa aneh. tidak biasa pangeran yang ia kenal sangat pendendam itu bisa bersikap biasa pada adiknya setelah kejadian berapa tahun lalu itu.


' biarkan saja, agar tidak perlu menikah dengan orang' ucap arga asal.


pangeran panji menyeringit tak paham.


mana ada kakak yang begitu kejam membiarkan adiknya menjadi perawan tua.


' kau begitu tega?! ' teriak pangeran panji aneh.


' saya tidak bisa mempercayaan Aum pada orang lain, saya rasa lebih baik dia terus dalam pengawasanku' ucap Arga serius.


pangeran panji hanya bisa menghela nafas pasrah, dia terbiasa dengan sifat hiperprotektif para saudara arga pada adiknya. dan ia juga tau betul bahwa arga adalah kakak dengan level brother complek paling berlebihan.


' lalu kau tega membiarkannya menjadi perawan tua dan hidup sendiri diseluruh hidupnya? '


tanya pangeran panji heran.


' aku lebih tak tega dia dijadikan selir ataupun diduakan oleh suaminya, itu begitu mengerikan bila terjadi pada Aum'


Arga menggeleng cepat.


'tidak bisa ku bayangkan' ucap arga tegas.


Pangeran Panji hanya bisa mengiyakan argumen kawan dari kecilnya itu.


dan pandangan matanya kembali menangkap sosok kecil yang masih saja bergelut dengan busurnya.


dia berfikir bahwa kelak Galih Aumani tidak akan menjadi wanita biasa. ya walaupun itu hanya sekedar prasangkanya saja.


sosok yang mengengam busur yang besarnya hampir setinggi badannya. sosok gadis yang tak pernah takut tersengat panas matahari. pasti dimasa depan menjadi seorang yang besar.


 


~ • ~ • ~~~~ • ~ • ~


 


setelah hampir seharian ia berlatih memanah Aum merebahkan tubuhnya di sisi danau buatan yang bersebrangan dengan hutan bambu dipekarangan rumah keluarganya.


suara gemerisik daun bambu yang bergesekan menghantarkan kantuknya semakin berat. dengan perlahan kelopak mata yang sedikit pucat itu menutup.


tanpa tau ada orang lain yang sedang memandangi dari jauh.


' Graha? apa tuan mu itu biasa bersikap bebas seperti itu? '


tanya pangeran panji heran.


' menjawab yang mulia pangeran panji, tuan saya memang sedikit bebas dari wanita biasa' jawab Graha pasti.


pangeran panji tanpa sadar tersenyum, melihat tingkah aneh Aum yang tertidur.


' jangan biarkan orang melihat dia, letakan penjaga lagi didepan sana agar tidak ada orang lain yang masuk. kamu begitu terlena' tegur pangeran panji.


Graha hanya bisa mengiyakan sang pangeran yang beranjak meninggalkan tempat. dalam hati Graha mengrutu.


' trus pangeran menangnya bukan orang.


dan beliau sendiri juga kan yang menerobos masuk. mana ada orang lain yang berani selain beliau. '


dengan segera ia membangunkan tuannya itu.


'putri, waktu semakin gelap. anda harus kembali ke kamar.


acaranya akan di gelar sebentar lagi'


tutur Graha, dia tau tuan putri pasti mendengarkannya.


'baik lah' jawab Aum dengan cepat, seketika ia terlonjak bangun dan berlarian kecil menuju kamarnya.


malam nanti diadakan pertunjukan seni di halaman rumah. kegiatan yang selalu dilakukan setiap awal tahun, sang nenek bersikukuh menyelenggarakannya walaupun sang kepala rumah tangga sedang tidak ada di tempat.


' ada arga disini, aku juga sudah berbicara dengan putra ku. jadi berhenti khawatir, siapkan semua keperluan'


kata nenek waktu itu.


Aum telah selesai mandi dan berganti baju, ia memandang pantulan dirinya di cermin. ia menggaruk pelipisnya dengan canggung. baju yang dipakainya terasa aneh dalam pandangannya. sudah 2 tahun ia tidak menghadiri acara resmi, jadi kebaya panjang ini satu satunya baju terbarunya yang ada dilemari.


satu hal lagi yang Aum tak suka saat perjamuan resmi adalah, sanggul.


seperti menerima hukuman saja rasanya, jadi saat ini Aum memutuskan hanya mengikat setengah rambutnya dan membiarkan separuh lagi jatuh tergerai di punggung.

__ADS_1


' wah hari ini kamu sangat lain?'


suara yang familiar memasuki pendengaran Aum.


seketika Aum membalik badannya.


' sedang apa Pangeran berada di sini?'


tanya Aum.


Pangeran Panji turun dari jendela dan berjalan menuju sofa panjang tempat biasa Aum bermalas-malasan.


' acara belum dimulai, sedangkan Arga sedang sibuk. jadi aku menemuimu'


jawabnya enteng.


alis Aum berkerut kerut, menandakan bahwa ia tak suka dengan kedatangan pangeran.


' anda bisa bercengkrama dengan para kuda di kandang' ucap Aum asal, lalu membalik badan menatap cermin kembali.


memeriksa kembali penampilannya.


' kamu sangat cantik sekarang' ucap Pangeran Panji dengan santai.


Aum merona, dia tau pangeran hanya mengucapkan kenyataan. tapi tetap saja ia merasa malu dipuji lawan jenis.


Aum memiliki wajah ayu nang anggun, senyum manisnya kadang membuat orang menjadi meleleh akan pesonanya. namun sikap sombong dan cueknya membuat tak semua orang menyadari kecantikannya.


' dari dulu Aum memang sudah cantik'


jawab Aum malu-malu.


percakapan kecil itu sering terjadi, hampir setiap saat pangeran panji akan datang menyelinap ke kamar Aum lewat jendela.


tidak ada hal yang mereka bahas, biasanya Aum sibuk dengan kegiatannya sedangkan pangeran hanya duduk memperhatikannya.


seperti sekarang beliau sedang duduk malas disofa sambil memakan Camilan kesukaan Aum, potongan kentang berbumbu.


sesekali mengomentari ini itu, dengan sarkatis.


' anda benar benar tak ada pekerjaan?


setiap saat anda masuk ke kamar perempuan. apa ada mau bertanggung jawab jika terjadi sesuatu'


ucap Aum tak suka, hatinya gelisah.


pangeran panji menatap Aum lurus.


' reputasi saya sebagai perempuan masih sangatlah penting, tapi anda dengan tidak perduli keluar masuk kamar saya'


tegur Aum.


' aku akan menikahimu kalau begitu'


ucap Pangeran Panji dengan enteng.


Aum memandang pangeran panji dengan tidak percaya.


entah kenapa ada sedikit harapan muncul di lubuk hatinya. tapi,


' segeralah keluar pangeran, Saya akan pergi lebih dahulu' ucap Aum cepat.


bergegas ia keluar kamar dan berteriak memanggil pelayan setianya, Graha.


dia sadar statusnya, dia sadar pembicaraan tadi hanya omong kosong belaka. namun harapan dihatinya membesar tanpa ia sadari.


 


~ • ~ • ~ • ~ • ~


 


seluruh halaman utama kediaman panglima terlihat semarak, setiap sudut terlihat terang benderang. tidak ada peraturan yang begitu ketat, membuat perjamuan ini terasa lebih hidup. apa lagi degan status keluarga panglima yang netral di pengadilan Raja, tidak ada kubu yang saling serang atau pun bergerombol. tamu perempuan dan laki-laki duduk bersebrangan, dan panggung pertunjukan berada di tengah-tengah.


perjamuan kali ini semeriah sebelumnya.


semenjak datang Aum telah duduk disisi ibu larasaty dan ibundanya disisi satu lagi.


menikmati pertunjukan dan sesekali menimpali pertanyaan dari tamu lainnya.


mata bening aum berserobok dengan Pangeran Panji yang tengah menatapnya.


Aum tanpa takut menatap balik, ia cukup kesal dengan teman dekat mas arga itu. walaupun bisa dibilang akrab juga dengannya.


' Aum, turunkan pandanganmu' perintah ibu larasaty.


tangan lentik sang ibu menekan kepalanya lembut, membuat Aum menunduk.


'ibu?! ' rajuk Aum.


' kau tidak boleh sembarangan memandangi orang dengan terang-terangan begitu'


' apalagi itu pangeran nak'


nasehat sang ibu dan di iyakan oleh ibu kandungnya.


Aum menuruti penjelasan sang ibu, toh dia tidak ada niat apapun pada Pangeran Panji. hanya kesal saja dengan sikap arogan sok berkuasanya.


dan juga kebiasaan beliau yang menyelinap kekamar Aum, itu hal yang tabu. tapi apalah daya Aum hanya anak selir yang diangkat menjadi anak sah. sedangkan dia adalah Pangeran kedua di kerajaaan mahestraja.


Pangeran kesayangan raja dan ratu, dan juga putra mahkota.

__ADS_1


' pangeran yang duluan mengejek Aum bunda'


ucap Aum lirih.


ibunda sandrani membelai rambut putrinya pelan,


' jaga sikap nak, beliau adalah putra raja'


nasehat ibu.dengan enggan Aum menuruti sang ibunda. dan mencoba menikmati pertunjukan yang ada.


malam semakin larut, Aum yang masih dibawah umur diizinkan kembali kekamar.


dengan terkantuk kantuk aum di dampingi Graha kembali ke kamarnya.


' nona segeralah istirahat' ucap Graha setelah sampai dihalaman kamarnya.


hanya gumaman yang graha dengar, lalu sang putri berjalan terhuyung huyung menuju pintu kamarnya. setelah dibantu dua pelayan kesayangan berganti baju dan mencuci muka Aum merebahkan diri dikasur.


lamat-lamat terdengar suara langkah kaki,


' anda tidak kembali ke istana, untuk apa anda kesini!?'


tanya Aum kesal, tanpa rasa takut.


panji yang merasa tertangkap basah hanya tertawa lirih, dan duduk santai disofa.


' izinkan aku istirahat sebentar, aku kan pergi 2 jam lagi' tanpa dosa dia berbicara, seberapa bebal orang ini.


kamar tamu di halaman tidak kurang bila di pakai oleh seluruh tamu, dan dengan tanpa dosa Pangeran panji tidur disofa kamarnya.


tapi Aum hanya bisa mengeluh dalam hati. berdebatpun ia akan kalah, lebih baik ia tidur dan menurunkan selubung tidurnya lebih banyak.


 


~ ~ ~ ~ ~ ~ ~


 


kebersamaan yang terus terjadi, membuat mereka saling terbiasa satu sama lain. waktu berlalu seperti air mengalir, tahun demi tahun terlewat. perasaan yang awalnya hanya kecambah telah menjadi belantara luas. kisah nan rumit perlahan masuk dalam seri cerita mereka. dengan usia mereka semakin bertambah apalagi Pangeran panji yang sudah meninjak usia 17 tahun. sedangkan Aum berusia 12. banyak pilihan yang terkadang tidak memberikan kita jalan keluar. namun apapun itu mereka masih tetap bersua, walau kadang tanpa bicara. kesibukan tak membuat sang Pangeran berhenti menyusup kekamar Aum. saat waktu longgar dia akan muncul di daun jendela, dan menyusup tanpa ketahuan. padahal sebenarnya para pelayan dan penghuni kediaman panglima juga sudah tahu, tapi mereka berpura pura tak tahu. toh mereka hanya mengobrol ringan setiap saat. seperti malam ini juga,


' perang pecah lagi ditimur, sedangkan ayah dan kakak-kakak mu berada di utara dan barat. raja sedang memutar otak'


curhat Pangeran panji. dia menghadiri pangadilan pagi dan baru pulang malam ini.


Aum menghidangkan camilan dan segelas teh hangat. setelah itu ia kembali sibuk dengan buku strategi perang yang ia pinjam dari perpustakaan sang ayah.


' apa aku bisa turun ke medan perang? ' tanyanya ragu, entah pada Aum atau pun pada dirinya sendiri.


Aum menurunkan buku yang ia baca, menatap balik pada Pangeran Panji.


' sebaiknya begitu, kakak kedua dalam perjalanan menuju ke timur bukan? '


pangeran Panji mengangguk kan kepalanya,


' ia hampir tidak pulang 3 tahun ini, dia berputar putar di perbatasan. dengan pengalamannya anda pasti terbantu'


' toh saya juga akan berangkat kebarat menyusul ayahnda, beliau butuh penasehat dan ahli strategi seperti ku' ucap Aum.


pangeran panji menatapnya tak percaya.


' kau akan kemedan perang? memangnya ibunda dan nenekmu mengizinkan? '


tanya pangeran heran.


'sejak kapan mereka bisa melawan argumenku? '


Aum menjawab dengan cuek.


' dan ayah tidak ada pilihan lain, ujian kekaisaran tahun lalu dalam bidang militer saya juara pertamanya, untuk apa juara jika tak saya gunakan. Raja pun hanya bisa setuju'


Aum menjawab dengan malas.


' anda tidak takut saya terjerat wanita lain diperbatasan timur?' goda sang Pangeran.


Aum mengangkat wajahnya cepat, raut wajahnya menjadi suram.


' jika anda berani? lakukan saja, toh anda juga akan menikahi wanita lain bukan saya'


ucap Aum sedikit kesal.


percakapan mereka akan menjadi sensitif jika memulai perkaraan ini lagi. pertunangan yang semula tak jadi masalah sekarang menjadi batu besar yang menghadang kisah mereka.


' ini pertunangan yang ayahnda Raja berikan, mana bisa aku tolak. bukankan sudah ku jelaskan' suara Pangeran panji sedikit naik. ia juga gelisah, namun tak bisa berbuat apa apa.


Aum hanya bisa diam, itu kenyataan dan tidak bisa dielakkan.


Pangeran Panji telah mengulur-ulur waktu pernikahan dan sekarang tidak bisa lagi. dalam hatinya remuk redam, perasaan yang tak seharusnya ini membuat Aum tak berdaya.


kasihnya terbalas, semua begitu indah dalam 5 tahun. awalnya mereka hanya berfikir hari ini saja, tapi ternyata hal ini tak terhindarkan lagi. beberapa kali mereka bertengkar akan perjodohan itu tapi kembali berdamai seperti biasa. dan sekali lagi mungkin mereka bersiteru kembali. walau pun begitu Aum juga tau diri, dan menyadarkan dirinya.


dan sekarang saatnya menerima kenyataan,


'saya tau' jawab Aum singkat.


dan kebisuan membungkam mereka sepanjang malam. dan Pangeran Panji tidak beranjak dari kamarnya hingga menjelang pagi. Ia menyadari Aum melarikan diri darinya dengan alasan ayahnda nya. padahal ia bisa memilih tidak pergi.


jika begitu aku kan berangkat ke timur juga.


putusnya.


tbc....

__ADS_1


__ADS_2