
istana kerajaan Mahestraja berdiri di tengah kota dengan posisi di puncak bukit yang landai.
gerbang yang menjulang tinggi dengan pilar pilar pendopo yang kokoh memancarkan aura penguasa. dengan antusias Aum memindai apa saja yang di lihatnya. mulut mungilnya tak berhenti bertanya tentang segala hal yang tak di ketahuinya.
rombongan keluarga panglima telah mencapai aula pertemuan, tempat dimana sang raja sedang mengadakan pesta besar.
sayup sayup dari balik pintu suara tawa dan musik saling tumpang tindih.
nenek dan para wanita di rombongan saling bercengkrama dengan anggota rombongan lainnya, sembari mengantri untuk memasuki aula.
Aum berdiri dengan bosan, sesekali ia mencoba melepaskan cengkraman ibunya.
mata tajamnya melirik dengan liar kesana kemari, mencoba mencari alasan untuk kabur dari para ibu ibu yang terus saja mencoba mencubit ataupun mengelus rambutnya.
' ibunda!? Aum bisa ikut kakak? ' tanya Aum dengan berbisik
sang ibu hanya bisa menggeleng pelan, mencoba menundukkan kepala untuk mensejajarkan tinggi badan putrinya.
' bukankah Aum sudah berjanji dengan ibunda Laras akan bertahan sampai akhir? '
'jika Aum tidak menepati janji, bukankah hadiahnya tidak jadi diberikan. benarkan kakak? '
sang ibu mencari persetujuan istri permata suaminya. dengan cepat sang istri pertama menganggukkan kepala, semua keluarga tau bahwa putri kecil sang panglima adalah gadis manja dan sulit untuk dihentikan.
' jadilah putri cantik untuk ayah dan kakak mu Aum, mereka pasti bangga padamu'
ucap ibunda Larasaty.
Aum hanya bisa menghela nafas dan mencoba bersabar.
setelah pestanya dimulai dia pasti akan mencari cara untuk lolos dari kebisingan yang tidak akan berakhir cepat ini.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
pesta sudah berlangsung lebih dari 3 jam, aum masih terjebak di tengah rombongan keluarganya. dengan gelisah ia mencari cari keberadaan sang kakak untuk mencari bantuan.
tiba tiba kerumunan yang awalnya ramai menjadi sunyi senyap. ditengah aula seorang gadis berusia sekitar 8 tahun sedang memainkan alat musik. suara seruling yang di tiup sang gadis mendayu dayu menenangkan jiwa. Aum merasa bahwa gadis disana begitu indah berbanding terbalik dengannya.
' bukankan dia adalah cucu perempuan terkecil dari penasehat kerajaan? '
suara nenek Hasturi memecah keheningan.
'iya, ibu. dia putri Hayuning tias. Gadis yang dijodohkan dengan pangeran kedua'
jawab ibunda Larasaty.
mata Aum tanpa sadar menangkap keberadaan sang pangeran yang baru saja dibicarakan oleh neneknya.
dia teringat tentang luka yang dia buat dengan tusuk konde pemberian ibundanya.
dalam hati dia berjanji akan meminta kembali benda itu nanti.
penampilan gadis cantik tadi telah berakhir dan wanita disekelilingnya mulai bergosip lagi.
' cucu penasehat kerajaan memang beda kelasnya, aduh betapa elegannya gadis itu'
__ADS_1
suara pujian itu muncul di tengah pembicaraan mereka.
' apakah putri Galih juga akan tampil? ' tanya salah satu wanita.
seketika ibunda Sandrani menundukkan kepalanya. Aum yang merasa namanya disebut memandang sekeliling yang mulai melihatnya dengan terang terangan.
' Galih saya masih kecil dan sangat dimanja ayahndanya, jadi belum banyak belajar'
jawab ibunda Larasaty.
jawaban elegan dari sang ibu pertama membuat Aum tersenyum. Aum menyadari bahwa apapun yang dia lakukan seluruh keluarganya akan melindungi dia. dengan manja Aum mendekat pada ibu pertama dan bergelayut manja di pangkuannya.
' Aum tidak akan tumbuh besar agar bisa dipangku ibunda laras setiap hari'
bisik Aum di telinga ibunda larasaty.
Larasaty mengelus kepala Aum dengan lembut. dalam hatinya Aum sudah seperti anak yang dia kandung sendiri.
'kau lucu sekali' jawab Larasaty gemas.
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
matahari sudah mulai bergulir kebarat tapi pesta semakin semarak saja. Aum berhasil keluar dari aula, bergandengan dengan kakak ketiganya menyusuri jalan setapak di taman.
' kau pasti membohongi ibu tentang hendak ke belakangkan kan? ' tanya Arga yakin.
Aum hanya memamerkan deretan gigi susunya yang putih. dengan cepat ia melepaskan gengaman tangan kakak arga saat matanya menangkap keberadaan kakak pertamanya berjalan dengan putra mahkota beserta adiknya.
' kak Adhi, Aum sedari tadi mencari mu'
Adhi hanya bisa tertawa sambil mengandeng lengan adiknya lembut.
'maafkan ketidak sopanan adikku putra mahkota, pangeran' ucap Adhi pada kedua kakak beradik penerus tahta kerajaan Mahestraja itu.
Putra Mahkota yang memang sudah mengenal Aum sejak lama hanya tertawa. sedangkan pangeran Panji mengerutkan alisnya dalam.
' Aum ayo sapa dengan sopan'
desak sang kakak.
Aum mengerutkan mulutnya kesal.
tapi jika kakaknya menyuruh dia pasti akan melakukannya.
'salam hormat putra mahkota dan pangeran panji, saya Galih Aumani putri panglima Bandhoro' ucap Aum.
' dia gadis yang melukai lengan ku kakak'
suara pangeran Panji mengelegar.
dengan sedikit berteriak dia menunjuk Aum dengan kesal.
Aum yang merasa bahwa tidak semua salahnya memasang muka kesal.
' pangeran lebih dulu mengarahkan anak panah pada Aum' jelas Aum tidak terima.
putra mahkota tersenyum lebar, ternyata ada yang mampu mengusik ketenangan adiknya yang tidak pernah menunjukan emosinya itu.
__ADS_1
kedua bocah itu masih saling lempar tatapan kesal, sedangkan para kakak hanya tertawa melihat pemandangan langka tersebut.
' astaga! adik mu memang ajaib Adhi, dia bisa membuat adikku yang seperti es meledak marah' ucap putra mahkota disela tawanya.
pangeran panji merasa amat kesal, hampir lima tahun ini ia pasti mendengarkan cerita sang kakak tentang bayi lucu yang selalu membuat kakaknya tidak menemaninya belajar. dan setiap dia bertanya pasti kakaknya pergi kekediaman panglima perang. dia tau bahwa bertemu dengan mas Adhi hanya lah kedok untuk menutupi keinginan kakak nya melihat gadis barbar itu.
' kakak lebih menyukai gadis kasar itu dari pada panji bukan? '
ucap panji kesal.
hatinya dongkol setelah sekian lama dia pendam sendiri. saat dia melihat sendiri bahwa kakaknya memandang penuh kasih sayang pada gadis itu.
gadis yang merebut kasih sayang kakak satu satunya itu.
kemarahannya membuncak, ia tidak mau berbagi kasih sayang dengan orang asing dan dia membenci itu.
' panji ada apa dengan mu? jangan berfikir berlebihan. Kau adikku jadi aku lebih menyayangimu' putra mahkota menjadi panik sendiri melihat adiknya tiba tiba berlinang air mata.
Aum yang melihat hanya bisa diam,ia mengurungkan niat untuk meminta kembali tusuk konde yang ia gunakan untuk melukai pangeran. jadi saat itu kenapa begitu kesal melihat ku karena ia merasa bahwa kakaknya lebih memperhatikan ku.
Aum mengulum senyumnya sembunyi sembunyi, jadi pangeran panji yang terkenal sangat cerdas dan pemberani itu manja juga kepada kakaknya.
mereka berlima berkumpul di sebuah gasibu, putra mahkota masih sibuk menenangkan adiknya yang sedang merajuk.
pangeran panji seperti out of caracter dengan wajah bengkak efek dari banyak menangis.
Aum yang sedari tadi mati matian menahan tawa hanya bisa memalingkan wajah.
' panji dengarkan kakak?
Aum hanya mengingatkan kakak pada mu, kakak sangat ingin mengenalkan kalian. kakak fikir kalian akan jadi teman yang tepat, seperti halnya kakak dan Adhi. bukan kah menyenangkan apabila kita semua bersahabat'
terang putra mahkota pada adiknya.
'tapi panji sudah berteman dekat dengan arga, untuk apa aku harus dekat juga dengan gadis barbar itu'
gumam panji, tapi terdengar sampai telinga Aum.
Aum yang jengkel menghentakkan kaki kecilnya dengan gusar. sedari tadi pangeran panji terus menerus menghujatnya. tapi lengannya dicengkram dengan kuat oleh kakak pertamanya.
putra mahkota merasa tidak enak menoleh kepada adik dari sahabatnya itu.
wajah Aum sudah memerah, gadis yang selama ini tidak pernah menunjukan keperduliannya tentang pandangan orang padanya. tapi karena ucapan adiknya Aum yang di kenalnya cuek menahan air matanya dengan keras.
pasti hatinya terluka, batin putra mahkota.
'Adhi aku minta maaf tentang ucapan adikku' ucap putra mahkota.
adhi hanya mengulum senyum, dan mencoba mencengkram lebih erat lengan adiknya.
dilirik wajah kecil adiknya yang berparas ayu itu. mata nan bulat dan indah itu kini berkaca kaca.
ia tidak tega tapi adiknya harus tau bahwa dua orang yang dia hadapi adalah penguasa selanjutnya dari kerajaan Mahestraja ini.
ia harus tau mana yang tidak seharusnya disinggung atau pun dilukai.
adhi pikir ini pembelajaran yang tepat untuk adiknya.
' tidak putra mahkota, Galih saya yang belum tau tata krama. maafkan keluarga kami yang tidak mengajarinya dengan baik'
balas Adhi sopan.
__ADS_1
seketika suasana kembali sunyi, pangeran panji yang masih sibuk menghapus jejak air matanya. dan Aum yang berusaha keras menahan air matanya. Hari ini untuk pertama kalinya sang kakak yang amat di sayanginya bersikap keras padanya. dan untuk pertama kalinya juga ia merasa perkataan orang lain begitu menyakiti perasaannya.
tbc...