GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
benang takdir


__ADS_3

Pagi yang cerah membawa hawa ceria diseluruh pekarangan. semarak tawa mengema dari pintu ke pintu.


Perayaan pengangkatan putra pertama keluarga panglima menjadi jendral tingkat pertama paling muda di adakan di kediaman panglima dengan meriah.


Iringan musik dan gelak tawa tumpang tindih merasuki pendengaran Aum yang sedang di hukum untuk menulis buku tata krama.


mata bulatnya sesekali melirik ibu kandungnya yang sedang menggiling tinta untuknya.


'ibunda? '


sang ibu menengadahkan kepalanya, wajah memelas putri kecilnya membuatnya menahan senyum lebih keras.


melihat sang ibu tak berniat meringankan hukumannya, mulut kecil nan mungil itu mengerucut.


'ibunda, Aum akan menyelesaikan ini dalam satu dupa. dan akan menyusul kakak pertama, nanti akan ada banyak gadis yang mengoda kakak'


sang ibu hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemah. bagaimana anak pertama di keluarga ini bisa segera menikah, sedangkan sang adik akan berusaha keras membuat kakaknya di jauhi para gadis.


'Aum tau tidak? jika kakak sedih saat tak ada gadis yang menyukainya? '


mata besar Aum menatap ibundanya dengan lekat. dalam benaknya terlintas hal yang dilakukan agar gadis yang menyukai kakaknya tidak sejengkalpun bisa mendekati kakaknya.


'ibunda, kakak akan menikah tapi harus menunggu Aum bisa menunggang kuda sendiri'


sang ibu hanya bisa menggeleng kan kepala lagi sambil terus menggiling tinta untuk putri kesayangannya. Dirumah ini tidak ada yang mampu menolak keinginan putri bungsu.


apalagi anak pertama di keluarga ini pasti akan melakukan apapun untuk untuk adik kecilnya.


'bunda aum bisa istirahat sebentar? '


gadis kecil itu berusaha merayu bunda yang sedari siang menungguinya.


'selesaikan tugasmu nduk, ibunda akan mengizinkan mu keluar jika ejaan kamu benar semua'


ucap ibu kandungnya dengan tegas.


sandrani tau bahwa putrinya terlalu di puja dalam keluarga besar panglima. tapi di juga berusaha mendisiplinkan putrinya ini dengan segala cara.


sandrani menyadari bahwa putri kecilnya akan mengikuti jejak sang ayah. walaupun suaminya terus saja mengelak bahwa Aum masih terlalu kecil untuk dipaksa belajar hal yang tidak disukainya.


sandrani ingat saat pertama kali Aum menangis ingin belajar pedang, suaminya dengan mudah mengiyakan kemauan putrinya. betapa kesal hati sandrani,


'ini tidak baik suami ku, Aum perempuan jangan izinkan dia melakukan hal yang bukan kodratnya'


sandrani pernah mencoba meyakinkan suaminya, namun sang panglima tetap kekeh yakin bahwa suatu saat Aum akan mau meninggalkan hal keji seperti itu dengan sendirinya.


tapi lihat sekarang hingga menginjak umur 5 tahun, Aum terus saja menekuni keahlian yang seharusnya dilakukan para pria. tapi sandrani tidak hilang akal, ia juga terus mencecar putrinya dengan kegiatan menjahit, menyulam, dan segala hal yang menyangkut kodratnya sebagai perempuan. disela sela kegiatan Aum berlatih sandrani mengajari putrinya sendiri.

__ADS_1


'lihat bunda aum sudah menyelesaikan semua'


Mata besar aum membulat lucu, berharap harap cemas. melihat putrinya yang dengan gelisah menatap tugas yang sedang di koreksi, iya tidak bisa menahan senyum.


di usap rambut kelam putrinya,


'pergilah, bermain dengan teman seusiamu. ingat jangan menganggu kakakmu'


tanpa menoleh lagi gadis kecil itu berlari meninggalkan sang bunda yang hanya bisa menghela nafas.


 


halaman tengah rumah panglima terlihat meriah, suara tawa dan canda membuat kaki gadis kecil itu semakin cepat melangkah.


kamarnya yang berada di sisi barat halaman utama membuatnya harus berjalan memutar. belum sampai di halaman tengah, matanya tanpa sadar menangkap pemandangan yang ganjil. kaki kaki kecil itu beralih arah menuju halaman kamar kakak keduanya.


suara panah yang dilepaskan dari busurnya seakan membelah udara membuat mata Aum membulat terpesona. tiba tiba sang pemanah berbalik arah dan melepaskan panahnya kearah aum.


anah panah menancap tepat di samping telinga sang gadis yang berdiri di tiang rumah.


'bagaimana ada orang yang tidak sopan masuk dengan diam diam'


Suara yang cukup tajam Dari Anak Berumur 10.


mata aum berkedip kedip lucu, tak ada ketakutan dimata kecil itu. membuat anak berusia 10 tahun itu jengkel.


wajah kesal aum membuat siapapun menjadi engan marah, tapi ini tidak berlaku pada bocah 10 tahun yang berwajah menyebalkan itu.


'darimana keberanian mu itu berasal? gadis yang hanya bisa menangis dan mengadu pada ibumu. pergilah selagi aku baik'


tanpa dosa bocah 10 tahun itu berbalik dan mulai menarik busurnya lagi.


Aum yang merasa di rendahkan mengambil tusuk rambutnya dan melemparnya seperti tombak. dan 'tak'tusuk rambut Aum yang berwarna merah mudah keperakan itu menancap di lengan kiri bocah 10 tahun itu.


mungkin suara ribut kami terlalu keras sehingga mengundang beberapa orang yang berada di sekitar mendekat.


dengan tergesa gesa anak laki laki itu menarik Aum ke sudut sempit disela sela tanaman hias, dan cukup aman untuk tempat persembunyian.


'apa yang kamu lakukan? '


Aum memandang anak laki laki yang seusia kakaknya itu dengan heran.


'diam, aku akan memaafkan mu karena melukai keturunan kerajaan jika kamu diam dan jangan bersuara'


Aum adalah tipikel anak yang mudah tanggap, dari analisanya kakak yang tampan namun menyebalkan ini sedang merajuk sehingga tidak mau ikut berbaur dalam pesta.


akhirnya mereka harus sembunyi sekitar lebih dari 2 jam. menunggu para pengawal yang terus saja menggeledah seluruh rumah.

__ADS_1


Aum hanya bisa kesal dalam hati, bagaimana bisa dia melewatkan pesta karena hal konyol dari orang yang sangat menyebalkan ini.


tanpa sadar mata aum menangkap bercak darah di lengan belakang bagian kanan.


ini ulah ku batinnya.


 


' apakah ini sakit? ' tanya Aum lirih.


'kau akan Membayarnya nanti' gumam anak laki laki itu.


 


~~ ~~


 


Hari berganti semenjak kejadian antara Aum dan Pangeran ke dua yang menjadi rahasia antara mereka. seperti tahun tahun sebelumnya Istana sedang mengadakan pertunjukan dan silaturahmi antar pejabat dan bangsawan. sebagai salah satu pejabat yang berpengaruh dan sangat dekat dengan Baginda Raja, seluruh anggota keluarga Bhandoro berangkat ke pesta hari ini.


tak seperti hari biasa kali ini Aum berdandan dengan rapi, mengunakan setelan kebaya yang sangat manis dengan sanggul kecil di kepalanya. bersama dengan nenek dan semua istri Ayahnya berbondong bondong pergi ke istana. Dan juga tersiar kabar bahwa hari ini selain agenda biasa adalah kemunculan cucu pertama kerajaan, dari putra mahkota.


'apakan acara nanti akan lama nenek? '


tanya Aum pada neneknya yang tengah mengunyah sirih.


' Aum tidak suka pergi dengan nenek, sehingga Aum harus tau kapan selesainya? ' hasturi mencoba tegas pada cucu perempuan satu satunya itu.


' tidak nenek, Aum hanya tidak bisa dengan setelan ini. kepala Aum gatal'


keluhnya dengan lucu.


Seluruh isi kereta tertawa lepas, Hasturi hanya bisa tertawa keras melihat penderitaan cucunya.


sedangkan Larasaty istri pertama sang panglima meraih tubuh mungil Aum.


'jika Aum bisa bertahan sampai akhir, ibunda Laras akan menghadiahkan Aum banyak sepatu berkuda'


mata Aum berbinar terang, tanpa sadar dia mencari keberadaan ibu kandungnya.


' adik kau setujukan? ' tanya Laras pada Sandrani ibu Aum.


Sandrani menyetujui keputusan istri pertama suaminya, dia sadar Bahwa segala hal dalam pertumbuhan putrinya bukan lagi hak dia sebagai selir dalam rumah tangga besar ini.


perjalanan menuju istana kerajaan masih cukup panjang, sayup sayup gelak tawa Aum menemani sepanjang jalan.


tanpa tau bahwa takdir mulai menjerat perlahan lahan

__ADS_1


tbc ~ ~ ~


__ADS_2