GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
keluar dari rumah


__ADS_3

Aum jatuh sakit, sejak kembali dari padepokan dini hari suhu tubuh Aum naik secara drastis. ia menolak semua kunjungan yang datang walaupun itu dari ibu kandungnya selain tabib Rama yang berkala datang memeriksa. setiap ada perbincangan mengenai hari itu rasa kesal akan naik membuat kepalanya jauh lebih pusing. lebih baik ia menghindari semua orang yang akan mencecarnya dengan banyak pertanyaan.


' apakah tuan putri seroja sudah lebih baik ?' tanya Tabib Rama saat sore hari datang untuk memeriksanya.


Aum masih tidur dengan peluh memenuhi sekujur tubuhnya. dayang berulang kali menganti baju dan alas tidurnya. Graha yang menunggu di ruang baca dengan Tabib Rama.


' anda tau tuan tabib putri sangat lah keras kepala, Beliau sangat sulit minum obat ' keluh Graha.


' walau putri tertidur pun ia masih bisa melawan saat kami memaksanya meminum obat, para dayang banyak yang terluka karenanya ' curhat Graha.


Tabib Rama hanya terkekeh mendengar omelan tak berakhir Graha, dia tau Graha menyembunyikan perasaan khawatirnya dengan baik. semua orang menghawatirkannya tapi gadis keras kepala itu menjauhi seluruh keluarganya dan mengunci diri dihalamannya hampir 5 hari.


' pihak pengadilan sudah mengirimkan surat untuk sidang 2 hari lagi ' Suara Graha seakan mengambang di udara.


Tabib Rama hanya bisa terdiam mendengar berita itu. saat ini segala bentuk bukti atau pun saksi menjerumus ke arah Putri Seroja, walaupun ini termasuk kecelakaan namun membahayakan nyawa orang lain. kemungkinan Putri Seroja akan mendapatkan hukuman walau pun tidak berat.


seorang dayang datang melapor kalau tuan Putri sudah selesai berganti pakaian, Graha segera mengantarkan sang tabib untuk memeriksa majikannya itu.


warna kulit yang begitu pucat dan peluh yang masih bercucuran dari dahi sang putri membuat tabib rama menahan nafas sesaat.


' racun yang tertinggal saat terluka dulu sedang bereaksi, apakah Tuan putri Seroja meminum obat penangkalnya ? ' tanya Tabib Rama pada Graha selalu orang terdekat sang putri.


' saya selalu disamping beliau saat meminum obat penawar itu ' jawab Graha.


' kalau begitu berarti dosis yang kuberikan kemarin akan ku naikkan, Putri akan menghadiri persidangan kan ' Kata Tabib Rama.


setelah memberikan perintah Graha untuk membeli resep obat yang ia tuliskan, Tabib Rama duduk tenang sambil meminum teh melati yang ia sukai. sesekali ia melirik Putri Seroja yang terlihat gelisah dalam tidurnya. sebenarnya sakitnya Putri Seroja adalah penyakit kambuhan. luka yang ia terlambat di obati itu terdapat racun yang gadis itu dapatkan saat berperang. Racun yang di pakai pasukan kerajaan Seroja itu mudah di detox apa bila terkena pada lelaki namun racun ini menyatu dengan pembulu darah jika mengenai perempuan. dan itu terjadi pada Putri Seroja. Tidak ada yang tau kecuali Putri dan asistennya itu dan ia sendiri. racun itu akan sesekali kambuh dan membuat kondisi pasien memburuk, namun dengan konsumsi obat penangkalnya secara rutin racun itu tidak begitu ganas, namun masih menghawatirkan.


' anda belum kembali ?' tanya Aum di balik kelambu biru gelap yang menutupi area tempat tidurnya.


Rama segera tersadar dari lamunan sesaatnya dan menoleh pada pasien yang siluetnya terlihat samar dari luar kelambu.


' Kondisi anda sedikit menhawatirkan tadi ' jawab Rama dengan jelas.


' saya merasa lebih baik sekarang ' jawab Aum.

__ADS_1


Rama mencoba menerka bagaimana raut wajah sang putri dibalik kelambu itu.


' anda sudah berusaha menyelamatkan saya, terimakasih ' kata Aum dengan tulus.


' saya pernah bilang bukan kita bukan orang lain putri, kita teman seperjuangan ' kata rama dengan penuh penekanan.


Aum terkekeh sesekali di selingi suara batuk yang tertahan.


' saya bersyukur teman saya adalah seorang tabib dewa ' jawab aum.


' saya tidak menolak pujian anda ' Rama dengan wajah penuh tawa mengiyakan perkataan Aum.


suara tawa terdengar sampai luar kamar dimana kakak pertama Aum, adhi berdiri mematung di tengah halaman. Adiknya melarang semua kunjungan kekamarnya, setelah pertengkaran saat itu dan cecaran dari seluruh keluarga Aum memilih mengunci dirinya. berita sakitnya pun tidak disadari penghuni rumah andaikan tabib Rama tidak berkunjung. dari penuturan pelayan yang merawat sang adik sakitnya ini lumayan parah, namun entah itu Graha Atau pun tabib Rama tidak satupun dari mereka yang membuka mulut.


ini telah yang ke 3 kalinya hari ini ia di tolak untuk berkunjung kekamar adiknya. seluruh keluarga sedang menanti kabar darinya. yang saat ini di utus untuk mencari kabar.


Adhi menahan kesal, adik perempuan satu-satunya itu terlalu di manja oleh keluarga sehingga sikapnya menjadi seperti ini.


' katakan pada Aum untuk membiarkan ku masuk! jika tidak aku akan menyeretnya dari dalam! ' suara Adhi yang kesal sampai di telinga Aum yang telah tersadar.


' maaf Ndoro , Putri baru sadar setelah beberapa hari ini jadi saya menyiapkan putri untuk bertemu dengan seluruh keluarga di Aula ' ucap pelayan itu.


tanpa menunggu jawaban dari Adhi pelayan itu telah memasuki kamar Aum. meninggalkan Adhi yang baru mendapatkan kabar kondisi adiknya itu selama lebih dari seminggu ini.


dia tidak bangun selama 1 minggu dan seluruh keluarga tidak tau. ia mengepalkan tangan dengan kesal, sejak kapan adiknya menjadi begitu jauh darinya. kenapa jarak yang dulu tidak pernah ada sekarang seakan terbentang semakin jauh.


...****************...


setelah Tabib Rama undur diri Aum menyuruh pelayannya untuk merias wajahnya agar tidak terlihat pucat.


' beri pemerah bibir ku, aku tidak ingin dikasihani ' kata Aum dengan kesal. entah mengapa keadaannya ini membuatnya merasa muak dengan dirinya sendiri.


ia berjalan di papah graha untuk sampai di aula keluarga. keringat mengalir di seluruh tubuh aum, jarak dari kamarnya sampai do Aula tidak begitu jauh namun dengan kondisinya saat ini Aum tidak bisa mengumpat.


saat memasuki ruangan seluruh mata menatapnya, terutama ibu kandungnya yang tidak bisa melepaskan tatapannya barang sekejap.

__ADS_1


' apa yang kau lakukan sekarang ini ?' suara Bhandoro mengelegar keras.


Aum sempat tersentak andai kan ia tidak dibantu Graha berdiri ia pasti jatuh terduduk.


' saya yang Akan menanggung semua sendiri, Ayah dan kelaurga tidak akan terlibat ' jawab Aum.


' bagaimana itu bisa jadi sebuah jawaban, Kau memang tidak pernah memikirkan keluarga mu sendiri sedikitpun ' teriak Bhandoro.


Aum memejamkan mata sejenak, rasa sakit tiba-tiba menjalar di tulang belakangnya. racunnya bergolak didalam tubuhnya.


' saya akan berdiri sendiri dengan gelar yang saya dapat ' Kata Aum.


' sehingga keluarga tidak akan mendapatkan dampak apapun ' terang Aum lagi, namun wajah seluruh orang seakan mengambarkan ketidak percayaannya pada Aum.


' saya akan pindah ke rumah saya sendiri, jadi alasan sebagai bagian dari keluarga Bhandoro tidak akan ada. nama baik keluarga ini tidak akan tercoreng lagi ' kata Aum, Ayahnya menatap putrintnya dengan gamang.


' apakah sesulit itu mengatakan sebenarnya pada keluargamu sendiri ? ' kata Bhandoro dengan suara melemah.


' jadi ayah tidak mempercaya saya juga pada akhirnya ' kata Aum lirih walaupun Bhandoro juga mendengarnya.


hati sang Ayah mencelos mendengarkan suara sedih putri kecilnya itu, namun ini bukan tentang Aum saja tapi nama baik seluruh keluarga.


' putri ku yang ku kenal mampu melakukan itu ' kata Bhandoro.


Graha hampir berbicara seandainya tuan putrinya tidak segera menjawab.


' berarti saya bukan lagi putri anda tuan panglima, bukan bagian dari keluarga ini lagi '


' saya tidak sehina itu ' kata Aum sedikit kecewa.


Ia undur diri segera tanpa menunggu izin, ia berpaling begitu saja meninggalkan keluarganya yang akan membenci gadis tidak tau diri seperti dirinya.


' Mari kita pergi ke rumah Putri Seroja ' kata Aum pada Graha.


tbc...

__ADS_1


__ADS_2