
gegap gempita memenuhi seluruh sudut rumah panglima Bhandoro, suara musik dan canda tawa para tamu undangan yang penuh sesak.
Banu Jalady bandhoro memang sangat populer di kalangan bangsawan walaupun sudah lama tidak ada di ibu kota. sebagai Seniman yang berbakat Banu masih sesekali mengirimkan lukisannya pada sang nenek dan pada saat itu lah peran nenek hasturi memamerkan karya cucunya pada bangsawan yang mengunjungi keluarga bhandoro.
Aum yang tidak terbiasa hanya duduk di sudut dengan segelas minuman yang dia abaikan. dengan penampilan full set ia terlihat sangat tidak nyaman, ia hampir mengabaikan sapaan setiap orang yang terkejut akan kehadirannya di sini.
sejak siang tadi ia belum sempat menyapa kakak keduanya dengan benar, ia harus di tahan yang mulia putra mahkota tentang laporan wilayah. sehingga ia tidak bisa ikut menyertakan sangat kakak kembali ke kediaman bandhoro.
apa lagi sekarang, kakak nya sudah habis dikepung para bangsawan yang tergila gila dengan seni. ia tidak bisa beranjak sedikitpun sehingga Aum juga enggan untuk menghampiri nya. Semua orang juga tau Aum sangat tidak suka kebisingan.
' ndoro putri' suara dayang memecah keheningan di sekitar Aum.
Aum mengalihkan pandangannya pada dayang yang familiar. Ah, dia dayang ibunya.
' ndoro ibu sandrani mencari ndoro putri seroja' ungkapnya pelan, ia menundukkan kepala dalam seakan takut menatap wajah Aum.
' kembalilah, katakan pada ibu aku sedang istirahat. mereka bisa memulai pestanya tanpa aku' ucap Aum sekenanya.
dengan segera dayang itu undur diri, dan Aum kembali lagi hanyut dalam lamunannya.
udara malam hari ini terasa sesak, selain hingar bingar pesta yang seakan tidak ada matinya. pakai yang ia kenakan saat ini membuat Aum berdecak kesal.
' andaikan aku kembali ke kekediamanku' ucapnya lirih.
lalu Aum tertidur di gasibu dalam gelap, dengan segelas minuman yang tak di sentuh gadis itu terlihat sangat memperihatinkan.
...~...
Banu Jalady Bandhoro terlihat melangkah lebar menuju gasibu di pinggir lapangan latihan. ia mendengarkan percakapan sang ibu dengan dayang yang di utus untuk mencari adiknya itu.
hampir seharian ia tidak bertemu sang adik walaupun ia sudah ada di ibukota.
setelah mendekati jarak 10 meter banu melihat beberapa pengawal yang berjaga, adiknya memang buka orang biasa lagi. dia seorang yang mendapatkan gelar putri dari yang mulia raja. Adik yang ada di benaknya adalah gadis manis berwajah ayu yang mengemaskan namun hari ini ia melihat betapa dalam tatapannya dan begitu sulit untuk membaca pikirannya.
Banu menyapa Graha yang berjaga dengan beberapa prajurit lain dengan jarak yang sama.
' apakah tuan putri sudah terbangun? ' Banu bertanya pada Graha yang melihatnya.
__ADS_1
' tuan putri masih tertidur tuan' jawab Graha hormat.
mungkin di mata Graha Banu terlihat asing, bisa di bilang Graha belum pernah bertemu dengan kakak Aum yang satu ini.
' anda bisa membangunkannya tuan, putri seroja sudah tidur dari tadi' kata Graha lagi.
lalu Banu memasang wajah sumringah, ia dengan ringan melangkahkan kaki menuju gasibu.
dalam cahaya remang remang ia bisa melihat adiknya yang tidur dalam posisi duduk.
ia perlahan duduk di sebrang meja untuk bisa melihat dengan jelas wajah adiknya.
menunggu beberapa menit seakan tak perduli beberapa nyamuk yang mencoba mengigit lengannya, ia dengan telaten mengusir nyamuk yang mencoba mengigit wajah sang adik.
' kakak tidak akan membangunkan ku ?' tiba-tiba Aum membuka mata.
dengan kesal melihat kakaknya yang memandangi wajahnya sedari tadi.
Banu tertawa lepas melihat wajah kesal adiknya yang masih sama seperti dulu yang ia tau.
Aum mengerutkan alisnya, ia tau betul sifat kakak keduanya itu.
' sudahlah kakak tidak cocok merajuk seperti itu' kata Aum datar.
Banu dengan segera memasang wajah tidak berdaya, adiknya itu memang tangguh dan paling kejam dari semua saudara saudaranya.
' padahal aku sedari tadi mencarimu tapi lihat responmu biasa saja' gumam Banu.
Aum hanya meliriknya sebentar lalu melambaikan tangan pada dayang yang membawa teh panas yang ia minta.
' toh Kakak juga masih sibuk dengan para bangsawan yang mencoba menjadikan kakak mantunya, kalau aku kan bisa menunggu' goda Aum.
Banu memelototi adiknya kesal, ia teringat sejak dimulai nya pesta ia tak bisa beranjak sedikitpun. kalau tidak bangsawan yang tertarik dengan lukisannya pasti para ibu yang mengandeng putri-putri mereka untuk dikenalkan padanya.
Rasanya ia bisa pingsan andai ia tidak mencari alasan untuk menemukan sang adik, mungkin ia sudah menjadi agar-agar di kerubuti para bangsawan yang tidak pernah puas dengan sekali bicara padanya.
' jangan di ingatkan, aku bisa mual' kata Banu kesal.
__ADS_1
ia menyeruput teh yang disajikan.
Aum memandang sang kakak dengan penuh kebahagiaan, jika Kakak pertamanya adalah tempat bermanja lalu Kakak ketiganya adalah pembelanya sedangkan kak Banu adalah partner kejahatannya.
yang membuat Aum jadi sangat suka bermemanah tidak lain dan bukan adalah Kakak keduanya itu.
setiap kali Aum di ajari menyulam oleh sang ibu yang terkadang kesal melihat putri satu satunya tidak pernah mahir walaupun sudah berkali kali diajari. Banu akan membuat cara agar sang ibu tidak berlama lama memarahi sang adik. salah satunya dengan curang membantu Aum menyelesaikan sulamannya, walaupun akhirnya mereka ketahuan dan di hukum bersama.
dan saat di hukum itulah Banu dengan nakal melarikan diri mengajak sang adik ke hutan untuk berburu burung untuk dihadiahkan pada sang ibu.
sejak saat itu Aum jatuh cinta pada cara sang kakak yang menarik tali busur dan meluncurkan anak panah dengan ringan.
mereka adalah partner kejahatan yang sangat solit.
' kakak sudah istirahat kah hari ini?' tanya Aum tiba tiba.
Banu dengan tenang meraih tangan adiknya dan berkata.
' kau menghawatirkan ku ya?' .
Aum hanya bisa memutar matanya tidak percaya, kakaknya itu malah bercanda lagi saat ia benar benar serius menanyakan keadaannya sekarang.
' kakak masih saja seperti dulu' pasrah Aum.
Banu dengan senang menggenggam tangan adiknya erat lalu meletakan pipinya di telapak tangan Aum yang ia buka.
lalu mulai memejamkan mata.
' karena adik ku seorang putri jadi aku pasti bisa tidur nyenyak, mana ada yang berani datang kemari' kata sang kakak sambil perlahan memejamkan mata.
Aum hanya bisa tersenyum lebar melihat sang kakak dengan tanpa dosa menggunakan telapak tangannya sebagai pengganjal kepala.
Aum tau betul betapa lelahnya setelah perjalanan panjang namun masih harus hadir di pesta yang terkadang Aum pun tak mengerti apa manfaatnya.
' tidurlah kakak, nanti akan ku bangunkan jika Mas Adhi mencari mu' kata Aum pelan, walaupun kemungkinan besar Banu sudah tidak mendengarnya.
bersambung,,
__ADS_1