GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
menempuh jalan terjal


__ADS_3

Aum terbaring dengan wajah pucat, keringat membasahi seluruh badannya. sudah tidak terhitung berapa kali mereka mengganti baju. tetap saja keringat yang keluar tidak berhenti, menurut tabib infeksi pada luka yang membentak di perutlah penyebabnya.


karena tidak di izin kan membawa kembali putrinya ke kediaman sendiri, sekarang Bhandoro duduk di dalam kamar samping disebelah kamar putrinya dirawat.


masih di bagaian istana, sebuah halaman yang sederhana di samping halaman Putra Mahkota. baru beberapa saat putra - putranya kembali ke kediaman terlebih dahulu untuk mengabarkan keadaan putri bungsunya.


saat ini Panglima Bhandoro di temani Putra Mahkota yang memang amat sangat menyayangi Aum. sedangkan Pangeran Panji tidak di izinkan sejengkal pun untuk mendekati Aum. putra Mahkota Arjun mencoba memulai percakapan.


' anda bisa beristirahat sejenak paman, saya akan menjaga Aum sementara anda tidur ' ucap Putra mahkota.


hari sudah berganti dan Aum belum juga bangun, sedangkan Paman Bhandoro sebutan yang sering ia ucapkan itu masih terjaga.


' maaf kan hamba, bagaimana hamba bisa tidur saat putri saya masih belum sadar juga ' sesal Bhandoro.


' harusnya dulu hamba menolak usulan untuk mengirim Aum ke medan perang. lihat sekarang hidup putriku di ambang.. ' suara Bhandoro tercekat tidak mampu meneruskan kalimatnya.


putra mahkota tertunduk lesu, ia tidak mengira jika ayahnya membuat keputusan itu hanya untuk membuat Panji menuruti perintahnya. Ia tau benar bagaimana adiknya itu begitu menyayangi Aum, namun pernikahan politik ini bukan sekedar kisah cinta biasa. Andaikan mereka masih melanjutkan hubungan cinta mungkin saat ini perdana menteri sudah mengeluarkan Panglima Bhandoro dari ibukota. dan Baginda Raja lebih memilih mempertahankan seluruh keluarga Temannya itu dan mengorbankan ketulusan putri mereka.


' Aum akan sadar paman, Rama adalah tabib yang sangat terampil. dia telah menjaga Aum 2 tahun ini, pasti ia tau betul bagaimana menyembuhkan Aum '


terang Putra Mahkota dengan tegar.


disatu sisi ia cukup cemas melihat kondisi yang tidak bagus dari Aum. tapi ia juga percaya bahwa Aum akan tetap bertahan, aku percaya pada mu Aum bisiknya lirih sekali.


 


~ ~ ~ ~ ~ ~ ~


 


di kediaman Pangeran panji,


sosok pria muda berdiri di pinggir kolam dengan gelisah. sudah berjam jam ia tetap terjaga, kabar terakhir dari istana yang ia dengar adalah kondisi Aum yang tidak ada peubahan. pikirannya terbang entah kemana, bayangan Aum yang duduk di dalam kamarnya dengan berlinang air mata terasa segar di benaknya.


hari itu ia telah jatuh dalam pesona sang gadis, tidak seperti kebanyakan putri bangsawan Aum adalah pengecualian. kemandirian, kegigihan, ketekunannya segala hal dalam diri Gadis itu telah menarik magnet dalam dirinya.


' yang mulia pangeran, ada kabar dari istana '


sesosok prajurit muncul dari arah halaman depan.


dengan segera ia menuju halaman depan, disana sosok Graha terlihat kuyu.


' bagaimana Aum? ' tanya pangeran Panji dengan tergesa-gesa.


' putri seroja telah sadarkan diri dan akan dibawa kembali kekediaman Panglima Bhandoro esok hari ' ucap Graha lemah.


Pangeran panji terlihat sangat lega, cengkraman tangannya mengendur.


' hamba undur diri Pangeran '


Graha segera beranjak untuk kembali ke istana.

__ADS_1


pangeran panji terduduk seketika, tulang kakinya serasa luruh bersamaan dengan kegelisahannya.


Aum nya selamat, gadis kecilnya telah kembali hidup. tanpa ia sadari bulir air mata jatuh berhamburan dari kelopak matanya. ia tersedu-sedu mengiba tentang kisah cintanya yang tragis. gadisnya cintanya yang tak akan mampu diraihnya.


 


~ ~ ~ ~ ~


 


pagi datang dengan damai, halaman dimana Aum dirawat sudah ramai di datangi penghuni istana. Baginda Raja datang dari subuh hari sebelum menghadiri sidang pagi.


' putri seroja telah sadar, dia gadis yang kuat Bhandoro ' hibur Baginda Raja.


Sang Ayah hanya tersenyum lega, dini hari tadi Aum sadar dari komanya. setelah mendapatkan perawatan dari tabib istana Aum tertidur. saat ini Tabib Rama masih terus memantau keadaan Aum.


' hamba berterima kasih pada Baginda yang perduli pada putri hamba ' ucap Bhandoro.


Baginda Raja mengangguk, dalam hati ia merasa bersalah namun ia tidak bisa memperlihatkannya. ini keputusan terbaik darinya untuk saat ini.


kekuasaan perdana menteri begitu mengusiknya, sehingga Baginda Raja tidak berkutik.


' baik lah, pengadilan pagi akan berlangsung. mari kita kembali ' ucap Baginda Raja.


'yang dimuliakan, yang mulia raja ' ucap Bhandoro.


sore hari, kereta kuda yang membawa Aum dari istana masuk kedalam kediaman Bhandoro. hampir seisi rumah berkumpul di halaman utama, menantikan kepulangan putri kesayangan mereka.


' astaga, cucu ku yang malang?! cucu ku yang berharga bagaimana bisa kau membiarkannya terluka seperti ini ' suara sendu sang nenek sambil membelai wajah Aum.


' Aum yang salah nek, tidak bisa menjaga diri ' jawab Aum pelan.


seluruh orang terdiam, keheningan jatuh perlahan. kalimat ambigu itu seakan membuat hati terasa sakit.


' Aum yang bertanggung jawab atas perbuatan Aum sendiri ' lanjut Aum dengan berat.


' Aum minta maaf telah membuat nenek kecewa ' .


sekali lagi suara tangis yang berdengung. tidak ada seorang dirumah ini yang mencoba memecah kesunyian. semua tau apa yang telah mereka sendiri lewati, sebab kedekatan putri rumah ini dengan sang pangeran. seluruh keluarga menjadi bahan gunjingan seluruh kota. walaupun tidak terang terangan didepan keluarga tapi mereka tau. apa lagi selama Aum pergi ke medan perang sang nenek memutuskan tidak menghadiri seluruh undangan pesta atau pun mengadakan pesta. membuat suara sumbang di luar sana semakin menjadi.


' nenek Aum akan kembali ke kamar ' ucap Aum membunuh kesunyian.


' baik lah, istirahatlah nanti tabib Rama akan datang '


dengan perlahan Aum berjalan menuju kamarnya di iringi sang ibunda dan Graha.


setelah Aum menjauh, sang nenek berucap


' tidak ada yang boleh membicarakan hal tak perlu pada Aum, dia sudah menderita '


' bagaimana bisa sebagai kepala keluarga kau membiarkan anak gadis mu berlumuran darah, aku menyesal mendukungmu Bhandoro ' ucap sang nenek dengan tegas.

__ADS_1


sore itu seluruh kediaman begitu sunyi, seperti yang terjadi di kamar Aum. gadis berusia 15 tahun itu duduk dengan tenang. walaupun luka diperutnya masih sesekali mengeluarkan darah.


matanya tak sadar menoleh ke jendela di sisi kamar. ingatan lalu perlahan mengalir begitu saja dan memenuhi penglihatannya. Aum berfikir setelah meninggalkan ibukota ia lupa, medan perang yang layaknya neraka membuat ingatan itu tengelam sejenak tanpa tau bahwa segalanya tak pernah hilang sedikitpun.


namun air mata tak sedikitpun keluar, kesedihan ini telah membuat hatinya mengeras.


' nona apakah anda baik baik saja? ' suara Graha memecah kesunyian.


walaupun Aum tidak menjawab panggilannya Graha tau bahwa nona muda masih terjaga.


' tabib Rama akan masuk ' ucapnya lagi, lalu mempersilahkan sang tabib memasuki kamar nonanya.


saat Rama masuk pertama yang ia lihat adalah wajah pucat dan senyum yang dipaksakan.


' wah tabib Rama yang termansyur datang ' Goda Aum namun dengan suara yang lemah.


Ram a menghela nafas kesal, bagaimana bisa gadis itu begitu santai dengan luka yang belum kering.


' apa kau mau ku beri obat penenang? ' tanyanya sedikit kesal.


aum hanya tersenyum melihat teman seperjuangannya di medan perang itu berdecak kesal.


' anda benar seorang tabib bukan? kenapa rasanya anda pandai sekali mengomel ' goda Aum sekali lagi.


Rama dengan gusar membantu Aum menganti perban.


' anda membohongi saya selama ini dengan menyembunyikan luka sebesar ini, anda ingin bunuh diri?!! ' ucap Rama kesal.


Aum terdiam, senyum jahil hilang dari bibirnya. Rama terperanjat dengan ucapannya sendiri. matanya bertemu dengan mata Aum, ia tau jawabanya.


' aku fikir efeknya lebih cepat, ternyata lambat sekali sehingga bisa kau temukan ' ucap Aum lemah. seakan tidak ada lagi harapan di hidupnya.


' jadi benar anda tidak mengobati luka dan sengaja memakan makanan mengandung gula ' aum tak bisa menjawab, dan memang itu tujuannya.


' gadis bodoh!!! ' teriak Rama.


entah dari mana kemarahan memenuhi hatinya.


' aku aib dalam keluarga ini, segala masalah datang karena perbuatanku ' suara sedih Aum.


' tapi cinta yang aku miliki apakah begitu berdosa sehingga aku mendapatkan begitu banyak masalah ' .


Rama terdiam melihat gadis kecil ini menahan segala beban pikirannya dalam perang yang hebat itu. betapa sulitnya,


' anda sudah melakukan yang terbaik ' hibur Rama.


dalam hati ia bersumpah akan membantu gadis ini melalui kesusahan kedepannya.


dalam sunyi mereka tengelam dalam pikiran mereka masih masih.


tbc.....

__ADS_1


__ADS_2