GALIH AYU ( Sang Jendral)

GALIH AYU ( Sang Jendral)
Graha Ajinata


__ADS_3

Aum melangkah keluar dari kediaman raja dan ratu, ia sempat berhenti untuk menoleh kembali. Ia hampir saja kehabisan kesabaran, mengingat betapa tidak adilnya dunia padanya sekarang.


beberapa saat yang lalu,...


' Panji putraku, sudah menikah tapi ia begitu mencintaimu tanpa perduli ia memiliki anak ' kata Ratu dengan tegas.


' jika memang kamu harus menikah untuk meredam semua kegaduhan ini, aku bisa mengeluarkan perintah kerajaan untuk pernikahanmu ' lanjutnya. suara yang begitu tenang menjadi sebuah ancaman yang tidak pernah di pikirkan oleh Aum.


' yang Mulia Ratu, maaf kan saya menyela.


' pernikahan adalah pilihan saya, jika putra anda masih mencintai saya itu bukan lagi urusan saya .


saya sudah cukup hidup menderita oleh perasaan saya sendiri. jadi apa bila yang mulia bersikeras untuk memaksa saya menikah. maka mari kita lihat apa yang bisa saya lakukan ' ancam Aum balik.


sebagai orang yang mempunyai kontribusi untuk kerajaan pendapat Aum masih akan sangat dipertimbangkan. sehingga ancaman Aum itu benar adanya.


' ternyata Bhandoro memiliki putri yang sangat berani' entah pujian atau sindiran Ratu menatapnya dengan wajah puas.


' jika urusan yang Ratu maksud sudah selesai saya izin undur diri' ucap Aum dengan enggan.


Ratu yang sedari tadi menatapnya dengan wajah datar tiba tiba tersenyum dengan cerah.


' aku tau kenapa Bhandoro membiarkan putri satu satunya ini pergi berperang, melihat kemampuan berdebat mu aku cukup terkesan.


kembalilah' sekali lagi Aum hanya bisa tercengang.


sekarang,...


Aum hanya bisa memutar bola mata dengan kesal,


ia bergegas keluar dari istana yang penuh intrik ini.


di depan gerbang istana Graha sedang menunggu nya dengan gugup, ia terlihat lega saat melihat majikan nya itu keluar dengan utuh.


' astaga putri apakah anda baik baik saja!? yang mulia Ratu tidak menyiksa anda? ' Graha memeriksa majikan nya dari ujung kaki hingga rambutnya.


Aum hanya menghela nafas melihat kelakuan Graha, ia membiarkan Graha panik dengan berlebihan. karena Aum sedikit menikmatinya,


' sudah lah mari kita kembali ' Aum segera memutuskan agar Graha tak banyak bertanya padanya.


walau pun di sediakan kereta untuk membawanya kembali Aum lebih memilih menunggang kuda. selain lebih cepat Aum merasa lebih bebas, apa lagi dengan hasil persidangan pagi tadi Aum yang akhirnya mendapatkan keadilan membungkam seluruh mulut pedas yang menggunjingkan nya.


sebagai kesatria ia merasa terluka mendapatkan tuduhan yang melenceng jauh dari norma seorang satria. namun sebagai orang yang setia pada kerajaan Aum memutuskan untuk menerima saja putusan yang ada.

__ADS_1


' tuan putri saya penasaran kompensasi apa yang baginda Raja berikan pada anda? ' suara Graha yang penuh nada penasaran.


Aum melirik orang yang tengah berdampingan dengannya itu, Graha menatap Aum dengan wajah penasaran. Andai orang tidak tau bagaimana ganasnya Graha di medan perang semua orang akan tertipu dengan wajah polos dan kekanak-kanakan itu. apa lagi sifat ingin taunya yang terkadang hampir menandingi para perkumpulan ibu ibu.


' rahasia ' jawab Aum.


Graha semakin mendekatkan kudanya pada kuda Aum untuk mencoba menggorek informasi lebih prihal kompensasi yang Baginda Raja janji kan pada satu satunya pemengang gelar putri di luar keluarga kerajaan.


' anda harus meminta hadiah yang banyak yang mulia ' sarannya.


' anda kan menginginkan padepokan anda sendiri bukan? ' sambungnya lagi.


Aum hanya bisa menggelengkan kepala tidak percaya, manusia satu ini terkadang lebih mata duitan dari siapa pun yang ia kenal.


' mereka harus membayar penderitaan Putri selama ini' grutunya tanpa akhir.


sepanjang jalan menuju ke rumah Graha masih saja khawatir tentang hadiah yang Baginda Raja siapkan untuk tuannya itu. menurutnya sangat majikan harus membuat Baginda Raja tidak meremehkan tuannya itu walaupun seorang wanita.


' sudah lah, bacalah itu' Aum melempar gulungan berlogo stempel kerajaan.


dengan sigap Graha menangkapnya. ia memandang punggung tuannya yang memasuki halaman, dengan rasa penasaran yang tinggi ia membuka gulungan itu.


dan ternyata di dalam gulungan itu adalah surat pembebasan budaknya sendiri.


' tuan putri ' bisiknya lirih.


selama ini ia hanya bisa merasa bersalah harus menjadi agen ganda yang harus melaporkan semua kegiatan tuannya itu pada putra mahkota, namun kini ia terbebas. bukan sebagai budak yang diberikan tapi orang yang mengabdi pada tuannya dengan setia. semenjak ia memijak kan kaki di kerjaan Mahestraja ia telah menjadi budak kerajaan, andaikan ia tidak bertemu dengan putra mahkota yang mengasihani dia saat itu. mungkin saat ini Graha berada di tambang di dalam hutan. menjadi budak yang tidak memiliki masa depan.


namun kehidupannya menjadi lebih berharga lagi saat ia mendapatkan tugas untuk menemani seorang gadis yang begitu energik. gadis yang mampu membuat pangeran panji yang seperti batu es itu menangis tersedu sendu karena cemburu. setiap hari ia mendengarkan cerita tentang sangat putri dari mulut yang mulia putra mahkota. dan ia menyadari apa yang membuat putra mahkota yang berhati dingin menjadi luluh saat pertama kali bertemu saat itu.


gadis yang mati matian menahan air mata, mendengarkan segala tuduhan yang pangeran panji tuduhkan padanya saat itu.


gadis kecil yang mengingatkan nya pada keluarga yang terpisah darinya. Galih Aumani Bhandoro nama yang indah untuk putri yang akan ia jaga dengan nyawanya, teman yang membawanya menjadi manusia berkualitas. iya dalam hati Graha bersumpah ia akan hidup untuk menemani Putri Seroja hingga ajal akan menjemputnya.


...~...


malam datang dengan cepat, Graha berdiri di depan pintu ruang belajar Aum. ia terlihat gugup untuk menemui tuan nya itu. di tangan sebelah kanan ia memegang erat gulungan yang ia terima sore tadi.


' anda akan masuk Tuan Graha? ' tanya penjaga yang bertugas.


' bukalah' ucap Graha tenang.


setelah mengumumkan kedatangannya, Graha masuk ke ruang belajar Aum. ruangan yang seharusnya tidak asing ini terlihat lebih mewah dan mempesona. ia sejenak terdiam melihat Nona yang ia jaga sejak ia sangat kecil itu sekarang telah menjadi seorang gadis dewasa yang begitu mempesona.

__ADS_1


' hari sudah larut putri, sebaiknya anda segera kembali ke kamar' suara Graha menyadarkan Aum yang begitu asik dengan tumpukan buku yang ia rampok dari perpustakaan putra mahkota. selain membuat Putra Mahkota kehilangan mata mata yang paling ia percaya Aum juga membuatnya bangkrut dengan mengambil hampir separuh koleksi buku berharganya. Aum tertawa dengan puas saat matanya bertemu dengan Graha yang terlihat gugup.


' astaga malam cepat datang ya' suara Aum begitu ceria membuat Graha menjadi kebingungan.


' putri saya hendak mengembalikan ini' kata Graha dengan segera mengulurkan gulungan.


' saya berterima kasih pada Putri yang telah membebaskan saya dari perbudakan ' suara Graha sedikit bergetar.


Aum berhenti tertawa, ia menatap Graha dengan tegas.


' mulai hari ini kau bisa bebas memilih untuk kehidupan mu yang seterusnya. aku atau pun Putra Mahkota tidak akan ikut campur untuk pilihan yang kau mau' suara lembut Aum memenuhi ruangan kecil itu.


Graha sejenak mengangkat pandangannya dan bertemu mata bulat yang sama dengan kali pertama ia bertemu. sejenak ia tersadar bahwa ketulusan yang ia lihat kali ini bukan di buat buat namun ketulusan yang sesungguhnya dari Aum .


' saya akan berada di sisi tuan putri selamanya andaikan tuan putri mengizinkan' ucap Graha tegas.


Aum mengulum senyum, ia seakan tau jawaban apa yang ia dapatkan dari Graha.


' jadi kau melepaskan kesempatan untuk bebas dari jeratan ku' goda Aum.


Graha menghela nafas, ia merasa tuan nya tidak berubah sama sekali sejak kecil.


' karena hanya saya satu satu nya orang yang bisa memarahi anda Tuan putri' jawab Graha dengan sedikit kesal.


Aum terbahak bahak mendengar kan jawaban Graha yang begitu kesal.


ia sangat menyukainya sikap Graha yang tidak terlalu mengagungkan dirinya sebagai majikan. ia layaknya teman yang menjaganya selama ini, kami tumbuh bersama dan belajar bersama. di hatinya Graha adalah saudara lain yang ia dapatkan.


' baiklah, baiklah...


jadi bagaimana kamu ingin membuat nama mu? ' tanya Aum serius.


graha yang duduk di sebrang nya terlihat tidak mengerti apa yang Aum maksud.


' sebagai manusia merdeka kamu harus memiliki nama panjang ' Aum memberikan pengertian pada Graha yang terlihat linglung sesaat.


' andai anda berkenan putri, bisakah anda memberi saya nama' kata Graha.


Aum sejenak berfikir, ia menatap Graha dengan seksama


' Graha ajinata ' .


tbc....

__ADS_1


__ADS_2