
perjalanan menuju kediaman keluarga besarnya terasa sangat lama, Aum yang tidak di izin kan mengendarai kuda harus duduk di dalam gerbong kereta kuda yang ternyata telah Ayah dan kakaknya siapkan dari awal. Aum sampai tidak bisa berkata kata, membiarkan jendela terbuka lebar Aum menikmati pemandangan sambil mengunyah buah yang terus di sodorkan oleh dayang nya.
' ani kau mau membuatku gemuk ya' saat Aum tersadar ia menyemprot dayang kepercayaannya itu.
Ani hanya bisa membuat respon yang sederhana, toh sebentar lagi tuan nya itu meminta di kupaskan lagi.
' kacang rebus yang kau bawa masih ada? ' tanya Aum sesaat kemudian.
tu kan batin Ani, seakan bisa membaca pikiran tuannya ia segera mengeluarkan sekotak kacang rebus yang masih hangat.
sebenarnya tuan putrinya itu tidak lah manja, ia terbiasa melakukan apa pun sendiri namun terkadang Ani bersikeras melayani nya sehingga bertahan sampai sekarang.
Dulu saat tuan putrinya itu harus pergi ke perbatasan untuk berperang Ani hampir ikut untuk melayani tuannya itu namun Aum bersikeras memastikan bahwa Ani tidak mengikutinya ke barak. Ia hampir kehilangan nafas saat melihat tuannya itu kembali dalam kondisi terluka. melihat perjuangan tuan nya ia tidak pernah menanyakan keputusan apa yang ia ambil. apa pun itu Ani pastikan ia akan terus mengikuti tuannya itu kemana saja. seperti janji nya pada ibu sang putri.
' astaga ternyata kita tinggal sangat jauh di pinggir kita ' gumam Aum,
ia melihat betapa hiruk pikuk nya tengah kota kerajaan yang tidak ada henti, sedangkan saat ia berada di rumahnya ia bisa kemana saja dengan damai tanpa kebisingan yang tiada henti. apa lagi rumah Ayahnya panglima perang berada di pusat. sehingga suara pedagang dan suara nyanyian dari rumah hiburan sayup sayup terdengar dari jalan utama.
' aku sudah merindukan halaman rumah kita' gumam Aum.
Ani juga mengiyakan dalam hati, dulu saat Aum memutuskan berpisah rumah dengan keluarganya ia sangat sedih. ia sempat mempertanyakan keputusan tuan putrinya tersebut. namun melihat betapa indah dan asrinya kediaman putri seroja yang di Anugrah kan oleh Baginda Raja membuat Ani menarik kembali ucapannya.
selain karena gelar yang ia punya Aum berhak tinggal terpisah dari keluarga nya sebelum menikah.
seorang putri yang dianugrahi tanah kekuasaan dan pasukan yang cukup untuk melindungi sebuah daerah, lalu belum lagi tanah pertanian yang luas di pinggir kota. kekayaan Aum bisa menyaingi rumah tuan besar batin Ani.
selain itu ada satu hal yang Ani syukuri saat tuan putri berpisah rumah dengan orang tua nya.
di jauhkan nya sangat putri dari gunjingan sosial kota yang menjijikkan, tipu daya para bangsawan yang sangat suka menjatuhkan satu sama lain. dan menjauhkan dia dari pangeran Panji yang tidak bisa membaca situasi.
seperti hari ini Ani sedikit was was apa bila tuan nya bertemu dengan Pangeran panji walau pun tidak disengaja. Ia berharap mereka tidak berpapasan, ia tak ingin tuan putri nya bersedih dan kembali menderita.
...~...
rombongan Aum telah tiba di depan rumah sang panglima, beberapa pelayan laki laki membantu membongkar bawaan dan Aum di bantu graha turun dari kereta kuda. seluruh anggota keluarga berada di ambang pintu gerbang menyambutnya.
sang nenek sudah melangkah maju lebih dulu untuk menyongsong cucu tercintanya itu.
' astaga putri ku ' nenek Hasturi lalu memeluk Aum dengan erat,
__ADS_1
ia seakan memastikan seluruh tubuh nya masih terpasang dan utuh.
' kamu jadi lebih kurus ' kata nenek Hasturi dengan sedih.
sedang kan graha yang berada disebelah Aum hampir meledak tertawa, dari sisi mana saja tuan putrinya itu telah menambah berat badannya.
beberapa hari yang lalu tuan nya itu mengeluh ia tidak bisa bergerak lebih cepat di karenakan ia terlalu banyak makan.
' ayo masuk, ibu mu sudah memasak kan makanan kesukaan mu' seperti di seret Aum mengikuti langkah nenek nya yang tiba tiba menjadi lebih lincah.
dengan tergesa-gesa Aum mencoba menyapa ibunda larasaty dan beberapa istri ayah lainnya.
ia hanya melempar senyum kepada sang ibu, sandrani yang berada di barisan belakang.
terselip perasaan sedih melihat ibunya yang tidak bisa ia peluk segera walau pun rasa rindu yang ia rasakan begitu besar.
' ayo cepat siapkan ruang makan, cucu ku baru pulang pasti ia lapar' nenek hasturi sudah seperti komandan perang yang menyuruh pasukannya untuk menyiapkan tombak dan pedang.
' nenek pelan pelan saja tidak apa' ucap Aum menenangkan nenek nya yang begitu antusias.
sang nenek menoleh pada cucu perempuan satu satunya itu. ia mengusap wajah mungil Aum dengan lebut, terlihat kesedihan yang berat menggantung di matanya.
lalu kakak nya Adhi mencoba bicara,
' nenek mari kita siapkan makan malam yang meriah untuk Aum, biarkan Aum istirahat dahulu dari perjalanan panjang.
kamarnya kan sudah di bersihkan' kata Adhi dengan bijak.
nenek Hasturi menoleh kembali pada cucunya yang cantik itu, lalu ia mengiyakan saran Adhi.
' beristirahat lah, biarkan sandriani mengantar mu kekamar' kata nenek Hasturi.
Aum berpamitan dengan semua orang dan undur diri, ia meraih tangan sang ibu untuk ia ajak ke kamarnya.
' Aum ajak ayah mu juga, lihatlah dia seperti bisa melobangi punggung mu dengan mata nya ' nenek hasturi dengan kesal mewakili perasaan sang anak yang begitu bebal menyampaikan perasaan nya sendiri.
' Wisnu sana antar putri mu' perintah nenek hasturi di sambut senyum semua penghuni rumah.
lalu dengan perlahan Ayah Aum mengikuti Aum dari belakang. seperti seekor kucing yang mengikuti tuan nya. cinta Wisnu Bandhoro pada putri nya yang sudah menjadi rahasia umum, membuat hati siapa saja yang melihatnya menjadi hangat.
__ADS_1
...~...
' ayah mari kita bergandengan tangan' bujuk Aum.
ia merentangkan tangan kirinya yang tertebas untuk meraih lengan sang ayah. ia tau hubungan suami istri ayah dan ibunya itu sangat canggung.
namun Aum mencoba memaklumi mereka, biarkan saja mereka menemukan jawaban nya sendiri.
Bhandoro berjalan mendekat pada putri nya dan langsung di sambut dengan Aum yang mengalungkan lengan kecil nya pada tangan sang ayah.
' aku seperti menjadi anak kecil lagi' kata Aum ceria.
hari ini Aum bisa menyebutkan bahwa hari ini adalah salah satu dari hari terbaik di hidupnya.
harum wangi sang ibu yang menenangkan dan keberadaan sang ayah yang hangat ia menikmatinya. kebahagiaan kecil ini sungguh tak bisa di tukar oleh apapun
' ibu menyimpan kacang sangrai kesukaan ayah kan ? ' tanya Aum pada sang ibu.
' ibu menyimpannya' kata sandrani dengan pelan ia sedikit mencuri pandang pada suaminya yang tengah memusatkan perhatikan pada sang anak.
' nah kalau begitu ayah harus tinggal dengan ku dan ibu sampai besok' simpul Aum dengan cepat.
ia tak perduli wajah terkejut ayah dan ibunya ia berlari saat melihat halaman kamarnya yang sudah dekat.
' wah graha ikan ku sudah jadi buaya' suara Aum memenuhi halaman samping Aum yang terdapat kolam ikan disana.
' bagaimana bisa ndoro ikan kok jadi buaya' suara Graha menyahut dengan santai.
sepanjang sore halaman kamar Aum terdengar riuh,
hari ini sore terbaik Aum dalam hidupnya.
sang ayah yang duduk berdampingan dengan ibunya, memandangi putri mereka yang kini telah menjadi gadis dewasa.
' sandrani apa kah kau masih membenci ku? ' suara Wisnu Bhandoro menembus pendengaran sandrani dengan jelas. ia menatap lelaki yang ia cintai dan harus berbagai cinta dengan wanita lain itu dengan lekat.
' saya tidak layak untuk itu tuan ' .
TBC...
__ADS_1