
malam datang secepat angin, Aum yang sedang berjalan jalan bersama sang ibu setelah makan untuk mencerna daging yang tiada hentinya masuk ke mulutnya tadi. seluruh keluarga semua mencoba memberinya makan, hingga perut Aum seperti mau meledak.
mereka berdua berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di pekarangan belakang kamar Aum. sambil membawa lentera di tangan kiri ia memastikan ibu nya tidak terjatuh dengan terus mengengam tangan beliau erat.
' ibu sudah lelah? ' tanya Aum pada ibunya.
sandrani menatap wajah putrinya sesaat lalu kembali memperhatikan jalan setapak yang mereka lewati.
' kamu berjalan seperti siput bagaimana bisa ibu lelah ' jawab sandrani jenaka.
tapi memang betul Aum berjalan begitu lambat takut membuat sang ibu kelelahan. ia menahan diri untuk bergegas seperti saat berjalan bersama Graha,
' ibu jangan mengoda ku' rengek Aum.
ia merasa sedikit di zolimi oleh sang ibu yang bisa bisa nya mengodanya yang mati matian menahan langkah kaki untuk mengimbangi cara jalan sang ibu.
' mari kita duduk di disini dulu' saat terlihat sebuah bangku sandrani menyarankan mereka berdua untuk duduk.
aum memastikan tempat duduknya bersih dengan melepaskan kain penghangat yang di berikan Ani tadi saat mereka keluar untuk di bentangkan di atas bangku.
' kamu dahulu suka sekali memanjat pohon ' kata sandrani sambil memandang siluet pohon besar yang berada di atasnya.
Aum juga memandang ke atas untuk melihat pohon beringin yang dulu sering kali di gunakan nya untuk melarikan diri dari tugas menyulam dari sang ibu.
' ibu mengoda ku ya' kata Aum kesal.
ia jadi ingat saat ia bersembunyi diatas pohon sang Ayah akan datang langsung menjembutnya yang bersembunyi. lalu sang ayah akan menemani nya menyulam bentuk dari hukuman sang ibu. jika ayahnya tidak ada kak Adhi atau pun Arga akan bergantian menjaga Aum yang harus menyelesaikan hukumannya.
' ibu sudah mati matian mengajari mu tapi lihat sampai sekarang tidak ada kemajuan' goda ibunya lagi.
Aum membelanggak tak percaya, pasti ulah Ani yang menyerahkan hasil sulamannya saat ada di penjara pada sang ibu. secarik sapu tangan dengan sulaman yang tak memiliki bentuk sama sekali. dan saat ini ibu nya mengunakan sapu tangan memalukan itu.
' ibu fikir kamu menyulam rumput ' goda sang ibu berlanjut.
sandrani menikmati expresi wajah putrinya yang cantik, dulu ia sangat kesal saat putri nya itu belajar memanah dan akhirnya harus berangkat berperang. namun saat ini ia hanya bisa mengikhlaskan jalan takdir yang ada. mengingat anaknya hampir mati saat kembali dari perang ia tidak bisa membayangkan seluruh waktunya hanya untuk mendesak anaknya untuk belajar hal yang ia tidak sukai. kali ini sandrani melepaskan semua obsesinya untuk membuat Aum menjadi lebih wanita.
__ADS_1
ia hanya ingin mendukungnya dan membuatnya nyaman, putrinya yang malang harus menjalani kisah cinta yang rumit. dengan gunjingan banyak orang jika bukan dia ibu yang mendukung siapa lagi.
' ibu kan sudah tau Aum tidak memiliki bakat untuk itu' kata Aum setengah kesal,
Aum sendiri merasa bersalah tidak bisa mewujudkan keinginan sang ibu yang hanya satu itu. namun apa mau di kata jiwa seni Aum sepertinya tumpul seperti gundu.
' kakak mu banu jauh lebih bagus saat menyulam' kata ibu sandrani dengan wajah jenaka menoleh pada putrinya yang memandang sang ibu tidak percaya.
Aum juga tau soal itu, dulu saat Aum di hukum menyelesaikan sulaman Kak Banu akan membantunya disisi lain kain. dan hasilnya adalah sulaman kak Banu jauh lebih bagus dan akhirnya Aum harus di hukum lagi. dan kak Banu akan mengajak nya kabur ke hutan untuk berburu.
aum tertawa dan di ikuti sang ibu, seakan tau apa yang dipikirkan masing masing.
' kakak mu Banu adalah orang dengan seribu trik di tangannya' kata sandrani.
' kak akan menangkap burung besar dan memasaknya untuk ibu , agar ibu mau meringankan hukuman untuk ku' kenang Aum.
sandrani tersenyum mengingat betapa manis sikap Banu saat itu, hampir 8 tahun anak ke 2 keluarga ini berada di perbatasan. besok adalah hari kepulangannya, seluruh keluarga bergembira menyambut putra ke dua mereka yang lama berpisah.
' nenek besok bisa akan jadi lebih heboh dari hari ini' kata Aum pada ibunya.
'kakak mu banu adalah musuh sejati nenek mu' kata sandrani dengan ceria lalu mereka berdua tertawa dengan lepas bersama.
bisa di bilang Banu adalah cucu nenek Hasturi yang paling tidak menurut. ia akan pergi melukis atau berburu sesuka hatinya, walaupun esoknya atau hari itu ada perjamuan besar Banu akan berangkat begitu saja. nenek pasti kehabisan kata kata jika berdebat dengan kak Banu. sedang kan Ayah tidak pernah bisa bersikap tegas pada kak Banu. pada lah Ayah sangat tegas pada kak Adhi dan kak Arga.
walaupun begitu tidak ada rasa iri dari satu sama lain, kak Banu yang kehilangan ibunya saat kecil membuat seluruh keluarga membuat toleransi untuk nya.
' Banu pasti sangat merindukan mu' kata ibu sambil mengusap rambut Aum.
sandrani membiarkan putrinya berbaring dan menjadikan pahanya bantal.
' di surat yang terakhir kak mengatakan ia sangat merindukan ibu juga ' balas Aum.
' jelas ia lebih menyayangi ibu ' canda sandrani sambil terus mengusap rambut Aum.
dan aum hanya bisa mengakui, memang Kak Banu
__ADS_1
sangat mencintai ibu sandrani. karena sandrani adalah saudara kandung ibu kak banu, dan wanita yang membesarkan Kak banu.
' iya iya, Aum yang kedua ' jawab Aum pasrah.
mereka berdua anak dan ibu telah asik bercanda, mengenang banyak hal dari kekakuan kakak pertamanya Adhi dan sikap ceplas ceplos Arga yang terkadang menjengkelkan.
walau pun dengan begitu banyak karakter tapi kesamaan mereka adalah satu. mereka cinta mati pada adik perempuan satu satunya, Galih Ayu Aumani Bhandoro.
malam semakin larut tapi Aum dan sang ibu masih saja asik bergurau, tanpa sadar ada suara langkah kaki mendekat.
' Aum bagaimana bisa kau membiarkan ibu mu di luar seperti ini' suara berat penuh karisma mengejutkan mereka berdua.
Wisnu Bhandoro, ayah Aum terlihat memandang mereka dengan lekat.
sandrani segera berdiri ia mencoba membantu Aum merapikan bajunya yang terlipat.
' saya yang mengajak nya tuan ' jawab ibu sandrani.
Aum memandang sang ibu tidak Terima, bukannya yang memaksa jalan jalan kan Aum sendiri. tapi ibunya mencoba melindunginya.
' Maaf kan Aum Ayah, saya terlarut dalam kenangan hingga lupa waktu' Aum menjelaskan pada Ayahnya.
sandrani mengambil kain yang mereka bentangkan tadi untuk di lipat karena sudah kotor dan menganti kain hangatnya untuk di pakai Aum. Sandrani merasa bersalah membiarkan anak perempuan kesayangan sang suami kedinginan.
sang Ayah mengerutkan alisnya kesal, ia tidak begitu menyukai bagaimana sandrani yang bersikap rendah hati seperti itu. ia segera melepaskan baju luarnya dan dipakaikan langsung pada istri mudanya itu. dengan baju yang besar sandrani seperti di selimuti kain besar,
Aum yang melihatnya hanya tersenyum senang, dia lalu menggandeng kedua orang tuanya untuk kembali ke dalam rumah.
' hari ini Aum akan tidur dengan ayah dan ibu'
kata Aum ceria.
tanpa tau bagaimana wajah panik sandrani dan raut kaget Wisnu Bhandoro.
TBC.
__ADS_1