
satu bulan merupakan waktu yang singkat, pagi ini tepat satu bulan masa tahanan Aum sehingga ia di perbolehkan meninggalkan penjara. di jemput oleh pengawal satu satunya ia bergerak menuju kediamannya, tidak seperti biasa kali ini Aum meminta untuk di jemput menggunakan kereta kuda.
' tuan putri untuk hasil penyelidikan sudah keluar, soerwan sudah menunggu anda di kediaman' terang Graha.
' baiklah, kita bahas di rumah saja' jawab Aum singkat.
Kediaman pribadi Aum yang di hadiahkan baginda raja padanya, sebagai wanita yang mendapatkan gelar putri kediamannya cukup sederhana. rumah yang terletak di sisi bukit dekat lembah terlihat cantik dari kejauhan.
walaupun tidak memiliki hiasan yang megah hanya dengan pagar tanaman itu terlihat elegan. belum lagi penampakan sungai yang mengalir di bawah jembatan yang menghubungkan sisi sebrang dan rumahnya. sungai yang mengalir di danau kecil si sisi barat membuat pemandangan di sana lebih indah.
kereta kuda yang Aum naiki telah memasuki pekarangan rumah. di sambut beberapa pelayan dan 20 prajurit pilihan miliknya, Aum turun dengan cepat tanpa menunggu Graha membantunya turun.
mereka menyapa Aum dengan hormat,
' abaikan saja formalitas ini dan kembali ke kegiatan kalian, jika aku membutuhkan kalian aku akan memanggil' tutur Aum singkat.
tanpa menunggu jawaban gadis itu bergegas memasuki ruang kerjanya. kehadiran soerwan tidak di ketahui seluruh pekerja sehingga Aum mencoba tidak membuat pergerakan mencurigakan.
ia tau betul ada banyak mata di letakkan di sekitarnya, entah itu dari baginda raja ataupun Pangeran Mahkota yang dilakukan dengan terang terangan melalui Graha.
soerwan berdiri setelah melihat kedatangan tuannya, memberi hormat dengan tidak berlebihan ia mengikuti Aum duduk.
' perlihatkan hasilnya! ' suara Aum begitu mengintimidasi.
dengan segera Soerwan mengeluarkan beberapa bukti dan kronologi yang ia jabarkan. ia menemukan ternyata anak panah yang mengenai istri Pangeran panji di tiru semirip mungkin oleh seorang. karena di depannya kini soerwan menunjukan anak panahnya yang tidak di temukan di dalam hutan saat kejadian.
' kerja bagus, kembalilah! aku akan memanggil ku jika ada hal penting' ucap Aum singkat.
' baik' jawab soerwan.
setelah soerwan pergi, Graha berani masuk kedalam ruang kerja.
ia melihat anak panah yang sempat hilang dan dinyatakan mengenai tubuh istri Pangeran panji nyonya tyas tergeletak di atas meja. Graha dengan hati hati mencoba membaca raut wajah majikannya itu. di matanya Aum terlihat sangat dingin tanpa expresi.
' menurutmu dimana soerwan menemukan panah ini? ' tiba tiba Aum mengajukan pertanyaan.
__ADS_1
Graha sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah sangat majikan dan kembali melihat anak panah yang terlihat patah di ujungnya.
' apakah ini menabrak batu putri? ' jawab Graha ragu ragu.
' iya, anak panah ini jatuh di sisi selatan hutan dan mengenai batu lalu terjatuh di sela sela batu sungai,
sedangkan nyonya tyas berada di sisi utara' jelas Aum panjang.
melihat bukti yang signifikan itu Graha mencoba menerka nerka, lalu anak panah yang mengenai tubuh nyonya Tyas itu jelas milik tuannya.
' apa maksudnya ini tuan putri? ' tanya Graha tak mengerti.
' seorang telah mencoba menjebak ku' kata Aum dengan expresi kusam.
setelah terdiam beberapa lama Aum membuka pembicaraan.
'antar barang bukti ini ke pada yang mulia putra mahkota biarkan beliau yang menilai ini semua'
akhirnya Aum memberikan keputusan yang bijak.
Graha mengantarkan barang bukti itu dengan sepucuk surat yang Aum tulis secara resmi untuk putra mahkota. isinya tentang kebenaran di balik peristiwa kemarin, dan keadilan apa yang dia dapatkan dari hal ini. ia meminta kebenaran ini di buka walaupun tau itu tidak mungkin terjadi. Aum telah mengira nanti putra mahkota akan mendatanginya dengan penawaran untuk membuatnya tutup mulut.
tanpa ada orang lain Aum tertawa terbahak-bahak.
' ayah memang benar, tapi aku tidak bodoh ayah' batin Aum.
sepanjang hari menghabiskan waktu dengan merawat diri, setelah 1 bulan mandi didalam penjara ia memutuskan berendam. ia ingin menanggalkan sisa bau penjara yang membuat perasaan nya menjadi lebih buruk.
beberapa dayang membantu nya mandi, mereka sangat terlatih sehingga mereka tidak sedikitpun terkejut melihat bekas luka besar di perut Aum yang cukup mengerikan.
' tuan putri seroja ada tamu' suara sayup sayup dari balik pintu terdengar.
Aum mengerutkan kedua alisnya, kenapa begitu cepat batinnya.
' tabib Rama ingin bertemu anda tuan putri' lanjutnya.
__ADS_1
Aum merasa bodoh dengan harapan di hatinya, graha baru berangkat 2 jam yang lalu tidak mungkin segera kembali seperti ini.
' baiklah, bawa tuan tabib ke ruang tamu. aku akan segera keluar' ucap Aum.
dengan sigap para dayang membantunya mengeringkan diri dan berganti pakaian. mengeringkan rambut dengan cepat Aum hanya ingin mengikat tinggi.
Aum keluar dengan penampilan sederhana seperti hendak berlatih. para dayang mencoba membujuknya mengunakan pakaian lebih resmi tapi Aum bersikeras bahwa itu merepotkan.
' maaf membuat Anda menunggu tuan tabib' sapa Aum pada tabib Rama.
Tabib Rama yang sedang menikmati teh segera berdiri menyambutnya. ia memindai Aum dari ujung kepala hingga kaki,
' bagaimana kondisi anda sekarang putri? ' tanya Tabib Rama.
Aum mengulum senyumnya penuh arti, ini lah tabib Rama yang ia kenal. mungkin karena sikap penuh perhatiannya ini ia sangat tepat Berprofesi sebagai tabib.
' jangan khawatir kak saya meminum obat yang anda racikan tepat waktu ' jawab Aum untuk mencoba mengurangi rasa khawatir teman seperjuangan nya itu.
raut wajah Tabib Rama berubah tenang ia mengikuti Aum duduk di sebrang nya. ia terus mengeluh kan betapa susahnya mempercayai perkataan Aum. ia meyakinkan diri untuk bertanya pada penjaga penjara tempat Aum ditahan.
Aum hanya bisa tertawa mendengar protes sang tabib, ia membiarkan tabib Rama membaca nadinya.
sepanjang sore Aum menghabiskan waktu dengan tabib Rama yang berkunjung. setelah makan siang yang terlambat mereka berada di tempat berlatih. Aum bisa sangat ahli jika menyangkut memanah tapi saat bertarung jarak dekat seperti pedang ia akan banyak kalahnya. selain di karenakan ia wanita yang powernya kalah jauh dari para lelaki Aum memang lemah di pedang. sedangkan tabib Rama adalah teman sparing yang adil untuknya, karena mereka berdua berada di level yang sama.
matahari sudah mulai tengelam di ujung danau, cahaya ke senja yang cantik melatari dua orang yang duduk berdekatan di sisi tebing memandangi jalan besar yang terlihat sibuk.
' tahun ini kamu berumur 18 bukan? ' suara Tabib Rama.
tanpa berusaha menjawab Aum hanya mengabaikan pertanyaan itu.
' kamu ingin menikah dengan ku? ' sekali lagi Tabib Rama membuka pembicaraan.
baru kali ini Aum mengalihkan pandangannya untuk menatap wajah lelaki yang baru saja melamar itu.
TBC.
__ADS_1