Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
1.Damian


__ADS_3

Di ruang yang tamaram itu terlihat dua pasang manusia yang terlihat bertengkar. Dua pasangan dengan jenis yang sama.


“Sudahlah, sebaiknya kita akhiri semuanya,” ucap sang laki-laki dengan mata hitam itu.


“Kenapa? bukankah dengan ini semua akan lebih baik lagi?” jawaban santai dari laki-laki bersurai coklat dengan manik mata biru itu menyulut emosi pasangannya.


“Damian, dengarkan aku. Kita harus berhenti.”


“Max, dengarkan aku. Perjodoha itu bukan segalaya, kita masih bisa berhubungan seperti biasa, bahkan dengan adanya perojodohan itu kita diuntungkan. Pertama, kita akan leluasa menjalani hubungan ini. Kedua, rumor tentang hubungan kita akan teredam.” Damian menatap Max serius.


Sedangkan Max yang ditatap seperti itu membuang muka, kemudian berjalan ke arah ranjang, menghamburka tubuh di sana.



Damian yang melihat pasangannya itu terkekeh. Biar bagaiamana pun, ia sudah hafal watak Max.


“Sudahlah, kau hanya perlu menjalani harimu seperti biasa.” Damian menepuk pundak sang kekasih.


Max dengan kasar membuang nafas, kemudian bangkit, dan menatap Damian serius. “Apa kau tidak akan tertarik dengan Istrimu nanti?”


Damian yang mendengar pertanyaan konyol itu tertawa lepas, bahkan laki-laki itu sampai memegang perutnya. “ Ha ha ha ha, pertanyaan yang sangat konyol. Berapa tahun kau mengenalku? Bahkan, selama ini aku tidak pernah melirik satu pun wanita yang bertelan*ang di depanku.” Damian menatap serius Max.


Max yang di tatap seperti itu menundukkan kepala, enggan melihat tatapan tajam dari mata biru itu. Mata yang akan menghipnotisnya, dan mata yang akan membuatnya selalu tunduk tanpa perlu usaha.


“Kau yakin?” Max mencicit pelan. Tingkah laki-laki itu persis seperti anak kecil, dan hal itu pula yang membuat Damian tertarik, dan menjadkan Max sebagai kekasihnya.


“Ya, aku yakin. Kau khawatir aku melupakanmu?”


“Tidak, bukan seperti itu, tapi__”


“Sttt.” Damian menyentuh bibir Max dengan jari telunjuknya. “Kau harus ingat, kau akan selalu menjadi perioritasku, bagaiamana pun keadaanya, aku akan selalu ada untukmu.”


“Terimakasih.” Max dnegan cepat menghambur kepelukan sang kekasih, membuat Damian terkekeh, dan dengan cepat membalas pelukan itu.


***


Damian membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Mata birunya menatap awas jalanan yang terlihat padat akan lalu lintas kendaraan. Beberap salju terlihat menempel di pepohonan, membuat aroma khas menguar saat jendela mobil terbuka.



Bibir merah itu merekah, mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Max. Seorang laki-laki cupu, yang selalu mendapatkan bully dari beberap geng di sekolah.


__ADS_1


Damian yang melihat mata hitam itu berkaca-kaca, dengan sudut bibir berdarah tergerak untuk membantu. Hati sedigin es itu berubah menjadi hangat saat netra birunya beradu dengan netra kelam itu. Membuat perasan yang tidak seharusnya muncul, mengaung keras ingin di lepaskan.



Sejak saat itu mereka mulai bersama, memberi nama hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Namun, kepindahan Max yang tiba-tiba membuat Damian seperti cangkang kosong. Hampa, tanpa adanya gairah.


“Sekarang kita sudah bersama kembali, tidak semudah itu aku melepasmu, meskipun aku sudah menikah, kau akan tetap selalu ada di genggamanku.” Damian tersenyum lebar, senyum yang menyeramkan.


***


Plak!



Suara tanparan itu bergema di seluruh manson, membuat siapa pun yang mendengarnya menutup mata dan telinga.


“Sampai kapan kau seperti ini?”


Pertanyaan dengan nada datar dan tajam itu membuat Damian terkekeh. Mata biru itu menatap sosok laki-laki tua yang tak lain ayah kandungnya dengan datar.


“Apa maksud Papa?”


“Jangan berlagak bodoh! Papa tahu, kau memilki hubungan yang melenceng.”


“Ha? Hubungan seperti apa? Hay, Papa kau tahu, aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita bukan karena aku gay, tapi karena aku ingin fokus mengurus bisnisku Pa.” Damian tersenyum, tangannya terlihat menggosok sedikit bibirnya yang terasa perih itu.


“Bagaiamana bisa Papa percaya?”


“Papa masih perlu bukti? Bukankah dengan aku menerima perjodohan itu sudah membuktikan kalau aku bukan gay?” Damian berjalan mendekat ke arah Jordan, sedangkan Jordan hanya bisa membuang nafas beberap kali.


Srak!


“Lantas ini apa?” Laki-laki tua itu melempar beberap foto, membuat foto itu berserakan di lantai.


Damian yang melihat itu mengangkat sebalh alis. Wajah laki-laki itu terlihat tetap tenang, mesipun di sana ada beberap foto yang memperlihatkan kedekatannya dengan sang kekasih.


Dengan santai, tangan kekarnya meraih foto itu, foto yang terlihat biasa saja. “Kenapa dengan foto ini, Pa?”


“Kau masih bertanya?” ordan menatap berang sang anak.


Damian menatap Jordan aneh. “Dari mana Papa menyimpulkan kalau aku melenceng?”


“Kau masih bertanya dari mana? seorang Damian yang terkenal angkuh, bahkan tidak ingin dipeluk ayahnya terlihat berpelukan dengan seoarng lelaki tanpa ada ikatan darah sama sekali, apa salah jika Papa curiga?”

__ADS_1


“Ha ha ha, jadi Papa menyimpulkan semua itu hanya karena cemburu.”


“Cemburu? Apa maksudmu?”


“Iya, Papa cemburu, karena aku selalu menolak pelukan Papa, dan menerima dengan baik pelukan dari laki-laki lain.” Jelas Damian dengan senyum lebar.


Jordan yang mendengar penuturan itu terdiam. Laki-laki itu tidak menampik jika ia merasa cemburu. Anakanya itu sedari kecil selalu menolak menerima kelembutan darinya. Bahkan saat terjatuh, Damian tidak menangis seperti bocah pada umumnya. Saat ulang tahun pun, anaknya terlihat enggan mendapatkan ucapan selamat dan pelukan hangat dari siapa pun.


“Pa, dengarkan aku. Aku bukan Gay, jadi Papa tidak perlu khawatir.” Damian tersenyum lembut.


Jordan yang melihat itu membuang muka, kemudian berjalan meninggalkan anakanya sendiri. Namun, sebelum benar-benar pergi, Jordan mengatakan sesautu yang membuat tubuh Damian membeku.


“Papa lebih baik mati, dari pada memiliki anak Gay.”


Deg!



Mata biru itu terlihat kosong, perkataan dengan nada datar itu sanggup membuat jantungnya terasa lepas dari tempat.



Itulah yang menyebabkan Damian menyembunyikan hubungannya. Meskipun di negaranya gay adalah hal yang lumrah, tapi tidak untuk ayahnya. Keluarga satu-satunya yang dimiliki.



Jordan paling membenci manusia yang menyalahi kodratnya, bahkan terkesan mencemooh. Pria tua itu selalu mengingatkannya jika manusai di ciptakan berpasang-pasang dengan gender berbeda.


“Apa salahnya menjadi gay?” Damian bertanya dengan nada lirih. Entah untuk siapa pertanyaan itu. Ia hanya ingin mempertanyakan hal yang selalu ia ingin lontarkan ke semua orang.


Dengan langkah gontai, laki-laki itu berjalan ke arah kamarnya. Kamar yang sudah lama tidak ia singgahi.



Menatap sekeliling, tatapan matanya jatuh ke arah gitar yang tetap setia berdiri di pojok ruang. Gitar dengan warna coklat, dengan beberap hiasan di ujungnya.



Kaki kekar itu berjalan mendekat tanpa dikomando, bahkan tangannya sudah mengelus lembut gitar yang terlihat feminim.


“Aku merindukan kalian, apa kalian baik-baik saja di sana?” Damian menatap sendu gitar itu.


_______

__ADS_1


Hallo semua,, selamat membaca, ada baiknya kalian membaca novel pertamaku terlebih dahulu " wanita simpanan" agar kalian paham siapa saja tokoh di sini,,


Terimakasih sudah mampir di ceritaku,, jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2