Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
17. Permintaan maaf


__ADS_3

“Daren tidak tahu siapa nama pastinya, tapi Kakak itu menyuruh Daren memanggilnya dengan Kak Caca, oh, kalau tidak salah namanya Salsha,” jawab Daren dengan senyum manis di bibirnya.


Nafas Max terasa tercekat, mata hitam itu terlihat mengalihkan tatapan, tepat di wajah mantan bawahannya itu yang terlihat terdiam, kemudian tatapannya kembali beralih ke sosok laki-laki yang terliha sedikit kebingungan.


“Damian, aku baik-baik saja, mungkin kau bisa kembali ke mansionmu. Aku di sini bersama mereka.” Max terlihat mengusir Damian secara halus. Biar bagaiaman pun, ia ingin megupas tuntas rasa penasarannya tanpa adanya Damian diantara mereka. Karena jika memang sosok yang diceritakan Daren itu Salshanya, maka yang bersalah selama ini adalah Damian, dan ia tidak akan membiarkan Damian menghancurkan harapannya lagi.


Damian yang paham dengan situasi saat ini menganggukkan kepala, kemudian melenggang pergi meninggalkan tiga manusia itu.



Max yang melihat kepergian Damian menatap Roy serius. “Sekarang, jelaskan semuanya!”


***


Damian memasuki mansionya dengan langkah gontai. Bulan sudah terlihat di atas sana, bertebaran bersama para bintang. Kegelishannya terhadap sosok nona cantik yang sempat Daren bahas hilang, tergantikan dengan rasa cemas.


“Apa dia baik-baik saja?” tanyanya dengan gusar.


Matanya menatap tangga yang harus ia lalui agar sampai ke kamar. Ingatan tentang Ariana yang terjatuh di sana menampar kesadarannya berulang kali, membuat rasa bersalah kian memuncak.


“Ya Tuhan, Damian, kau harus meminta maaf,” ujarnya penuh keseriusan.


Dengan mantap, kaki kekarnya mulai menapaki tiap tangga, melangkah dengan yakin, dan nafas yang terlihat sedikit terengah.


Ceklek!


Hal pertama yang ia lihat adalah sosok wanita cantik dengan beberapa perban yang bertenggar manis di beberapa bagian tubuh.



Rasa ngilu kembali menyerangnya, membuat ia benar-benar meringis, terlebih saat tatapannya menatap bagian di antara pusar itu.



Mengabikan sejenak perasaanya, Damian berlalu beranjak ke kamar mandi. Beberapa menit kemudain, terlihat sosok laki-laki dengan wajah yang basah, dengan bawahan yang hanya tertutup handuk hitam.


“Ricard ....”


Ucapan dengan nada lirih itu benar-benar membuat gerakan Damian yang ingin melepas handuknya terhenti. Netra biru itu terlihat sedikit berkilat saat melihat bibir cantik yang memilki lebam di ujung itu menyebutkan nama laki-laki yang sangat ia benci.

__ADS_1



Melepas handuk dengan kasar, kemudian membiarkan tubuhnya hanya berbalut boxer hitam yang panjangnya hanya mencapai setengah paha, dan berjalan menuju sisi ranjang.


“Beraninya kau memanggil nama laki-laki biada* itu?” Damian menatap sinis wajah cantik Ariana.


Tangan laki-laki itu terlihat mengepal, bahkan nafanya sudah tidak beraturan lagi. Keinginan menghajar wanita itu kembali menguap, bahkan tangan kirinya sudah dengan kasar menyingkap selimut tipis itu. Namun, amarah yang sedang meletup itu dengan cepat menguap.


Beberap perban yang masih menimbulkan warna merah di sana membuat ia kembali tersadar. Bukan Ariana yang haus ia berikan pelajaran, tapi Ricard. Ya, ia harus menghancurkan laki-laki itu.


“Kau harus belajar melupakan laki-laki biad*b itu. Kau harus ingat, kau Istriku, terlepas aku mencintaimu atau tidak, tapi kau tidak aku izinkan untuk memiliki hubungan dengan laki-laki lain,” ucapnya penuh penekanan.


Sedangkan sosok yang ia ajak bicara hanya terdiam dengan bibir yang lagi-lagi bergerak, tapi kali ini tanpa suara. Namun, mata Damian melihat jelas, nama siapa yang wanita itu gumamkan.



Dengan kasar, tangan kirinya kembali meraih selimut tipis itu untuk menutupi tubuh Ariana. Menghela nafas panjang, Damian memposisikan tubuhnya untuk memunggungi sosok itu.



Nafasnya terlihat tidak beratur. Berulang kali monster dalam tubuhnya berteriak ingin dilepaskan, rasa haus untuk melihat darah benar-benar membuatnya gila. Bahkan tanpa sadar, laki-laki itu sudah melukai tubuhnya sendiri.


Rasa tenang berangsur-angsur menyerangnya, terlebih saat tangannya tidak sengaja menyentuh telapak tangan yang terasa sedikit hangat itu.


***


Araiana perlahan membuka mata, rasa nyeri di sekujur tubuhnya benar-benar membuat wanita itu tidak nyaman, terlebih rasa berat di area perut.



Mata madu itu menatap langit-langit dengan kosong. Ingatan satu persatu menyerbu otaknya, membuat air matanya tanpa sadar keluar dan membasahi sudut mata.



Dia buka wanita lemah, dia juga bukan wanita baik. Maka apa pun yang terjadi, ia harus membuat pembalasan yang setimpal untuk laki-laki biad\*b itu.



Netra madu itu menatap ke bawah, tangan kekar nan berat disertai sedikit bulu di sana membuat ia tersadar. Tangan itu, tangan laki-laki yang dengan kasarnya menyiksa, dan menghinanya. Sebersit rasa jijik timbul di benaknya.

__ADS_1



Dengan kasar, ia tepis tangan itu, mekipun tidak ada perubahan sama sekali, tapi ia benar-benar berusaha untuk terlepas.



Damian yang merasakan gerakan terbangun. Netra biru itu dengan cepat terbuka saat menyadari pergerakan yang pastinya berasal dari Ariana.


Tubuh polos itu dengan cepat bangkit, mendudukan tubuhnya dengan sedikit serampangan, bahkan menghasilkan sedikit goncangan yang membuat tubuh Ariana ikut tergoncang.


Ariana yang melihat itu dengan cepat membuang muka. Kali ini wajah cantik itu hanya menunjukan raut datar.


“Apa ada yang sakit?” Damian bertanya den nada takut. Netra biru itu menatap seluruh tubuh Ariana dengan teliti.


Araian yang mendengar pertanyaan itu terkekeh, kemudian mengembalikan tatapannya agar menghadap Damian.


“Pertanyaan yang lucu? Kau bodoh!” sarkas Araiana.


Damian terdiam, mungkin jika yang mengatakan kalimat itu orang lain, maka ia tidak akan segan memberikan pelajaran untuknya.


“Maaf,” ucapnya lirih.


Ariana yang mendengar kalimat itu mendengus, kemudain dengan pelan bangkit. Ringisan keluar dari bibirnya saat ia merasakan rasa nyeri yang teramat, terlebih di intinya. Ingatan tentang keperawananya yang sudah hilang membuat tangannya terkepal.



Damian yang menyadari perubahan raut wajah Ariana menundukkan kepala, kemudian tangannya dengan ragu menyentuh bahu ramping itu, sekedar memantaunya untuk menegakkan tubuh.



Namun, tatapan dan tepisan kasar yang ia dapatkan benar-benar membuat ia terdiam.


“Jangan bertingkah seakan kau manusia paling baik di dunia ini. kau harus ingat, kau yang membuatku seperti ini.” Ariana menatap sinis Damian.


Damian terlihat menghela nafas panjang. Tangan yang terulur itu kembali pada posisi semula. Tatapan matanya terlihat sendu, bahkan sedikit kerutan muncul di keningnya saat melihat Ariana yang terlihat sangat berusaha untuk menegakkan posisinya.


“Maafkan aku, aku tahu semua ini salahku, maka aku mohon, biarkan akau menebus kesalahanku, dan beri aku kesempatan,” ucapnya lirih.


Ariana yang mendengar itu dengan spontan menghentikan gerakan tubuhnya. Kesempatan?

__ADS_1


“Kesempatan? Apa dengan aku yang memberimu kesempatan, kesucianku bisa kembali?” tanyanya dengan dingin.


__ADS_2