
Arthur yang melihat itu hanya terkekeh, kemudian berkata dengan nada tenang, tapi sanggup membat Damian belingsatan. “Jika seperti itu, ceraikan istrimu, biarkan aku yang menggantikan posisimu sebagai suaminya, aku rasa aku jatuh cinta dengan Ariana,”
Brak!
“Ulangi sekali lagi? Apa kau ingin mati?” tanyanya dengan tangan yang mencengkram erat kerah Arthur, bahkan meja yang mejadi penghalan mereka sudah terlempar jauh di sana.
Arthur hanya terdiam, wajah tampan itu terlihat menyeringai. “Mati? Tidak, aku hanya ingin hidup bersama orang yang aku sukai? Apa itu salah?” tanyanya denga nada lempeng.
Damian yang mendengar itu mengeraskan rahang, tanpa basa-basi, tangan kananya yang terluka memberikan pukulan kuat di rahang Arthur, membuat laki-laki itu terjatuh, dan menubruk jajaran kursi di sampingnya.
Bugh! Brak!
Arthur tetap tersenyum, w ajah itu tidak menunjukan kesakitan sama sekali, bahkan darah yang mengalir di sudut bibirnya dengan santai ia jilat.
“Kenapa? Seharusnya kau tidak marah? Bukankah kau mengatakan tidak cemburu, yang artinya kau tidak mencintai Istrimu itu. Jadi biarka aku bersamanya,” tandasnya dengan nada tajam.
Damian yang ingin memberikan satu pukulan lagi terhenti. Mata biru itu terlihat semakin meggelap. “Cemburu atau tidak, itu bukan urusanmu! Satu hal yang pasti, Ariana itu Istriku dan Max kekasihku, jangan kau usik mereka, karena mereka semua milikku.” Damian menyorot tajam Arthur, tepat setelah menyelesaikan perkataannya, laki-lak itu membalikkan tubuh, meninggalkan Arthur yang menatapnya tidak percaya.
“Kau sunguh menjijikan! Jika kau memang gay, jadilah gay seutuhnya, tapi kalau kau normal, maka hiduplah sewajarnya.”
Damian yang mendengar itu menghentikan langkah kakinya, tangannya semakin mengepal. “terserah!” ucapnya dengan nada tajam tanpa membalikkan tubuh, kemudian melenggang pergi untuk memasuki ruang eksekusi.
“Cih, aku pastikan kau akan menyesal!” ucap Arthur dengan nada tajam.
***
Damian menatap tiga wanita yang ia tangkap dengan jijik. Ya, wanita memang seperti itu. menjijikan, tapi kenapa ia tidak ingin melepaskan Ariana, bukankah Ariana juga wanita?
Suara \*\*\*\*\*\*\* dari beberapa bawahannya membuat tubuh Damian bergidik, bukan karena gairah, tapi karena jijik.
Pemandangan di depannya benar-benar membuat laki-laki itu ingin muntah. Bagaiaman tidak, pantat polos tanpa penghalan dari bawahannya, menjadi pemandangan yang ia lihat. Bukan hanya itu, bahkan mata sucinya melihat beberap luka koreng di pantat itu yang membuatnya ingin mual. Terlebih melihat tiga jal\*ng yang sudah menji\*at di sana, membuat perutnya terasa teraduk.
Membuang rasa jijik, laki-laki itu memilih untuk mendudukan tubuhnya di ujung ruang, membiarkan para bawahannya menyalurkan hasrat tanpa harus memasukan benda mereka di lubang para jal\*ng itu.
__ADS_1
Hampir satu jam, dan suara \*\*\*\*\*\*\* itu masih terus terdengar nyaring. Tangan Damian sudah terkepal, terlebih saat netra birunya tidak sengaja menatap salah satu di antara ketiga wanita itu yang dengan kurang ajarnya menatapnya dengan tatapan mesum.
Hal yang lebih menjijikan, mulut itu sibuk mengu\*lum, dan tangan yang sibuk meraba tubuhnya. Kesabanrannya sudah habis.
“Cukup!” teriaknya dengan keras
Mereka yang mendengar itu segera menghentikan kegiatan menjijikan tapi nikmat. Terlihat para bawahan yang dengan cepat membenarkan letak celanannya masing-masing. Sedangkan tiga wanita di sana sibuk mengusap bibirnya.
Damian mengetuk meja beberapa kali. Mata itu terlihat menyorot tajam tiga wanita yang menatapnya dengan lapar. Tiga wanita yang ditugaskan untuk merayunya, tiga wanita yang dikirimkan para musuh untuk membunuhnya. Maka, kalian harus tahu, bagaiamana kejamnya seoarng Damian terhadap musuh.
“Kuliti mereka hidup-hidup!” perintahnya dengan nada tenang, tapi sanggup membuat tiga wanita itu berteriak.
“Tidak! apa salah kami!”
Damian hanya tersenyum sinis. “Kalian hidup saja sudah salah. Terlebih kalian berani menargetkan kematianku dengan tubuh kalian yang menjijikan.”
“Tidak, maafkan kami Tuan, kami akan melakukan apa pun, agar Tuan bisa memberikan kesempatan hidup untuk kami.”
Damian menggelengkan kepala, merasa tidak percaya dengan klimat yang dikeluarkan wanita berbaju merah itu.
Tanpa membuang wkatu, bawahannya dengan cepat mengangguk, kemudain berjalan dengan tegas, membawa satu pisau bedah tipis.
Teriakan mulai terdengar. Antara teriakan wanita yang kesakitan, dan teriakan dari wanita yang melihat kekejaman secara nyata itu.
Damian hanya diam, menyaksikan penyiksaan yang di luar batas akal manusia itu. Ya, harusnya seperti itu. Seperti itulah ia menghancurkan wanita murhana.
Harusnya ia tidak memberikan keperjakaanya untuk Ariana. Harusnya ia tidak menghajar wanita itu secara langsung.
__ADS_1
Tapi, ia melakukan semua hal yang tidak pernah ia lakukan pertama kali dengan wanita yang menyandang status istrinya itu. Bahkan ciuman yang selalau ia jaga juga ia berikan.
Jika ia memperlakukan Ariana sama dengan para wnaita murahan itu, apa ia tidak akan menyesal?
Apa jika Ariana tidak perawan saat ia memaksa memasuki diri wnaita itu, ia juga tidak akan merasa sebersalah ini?
Semakin ia mempertanyakan perbuatannya, semakin ia merasa bingung, terlebih mendengar semua perkataan Arthur, dan ungkapan jika laki-laki itu menginginkan posisinya sebagai suami Ariana.
Sial! Semakin ia mengingat semuanya, semakin ia kesal. Bahkan teriakan dari para wnaita jala*ng di sana tidak membuatnya merasa puas. Hanya ada rasa marah, emosi, dan kesal. Semua bercampur menjad satu, membuat dirinya benar-benar merasa kehilangan akal.
Tanpa menunggu kelanjutan penyiksaan itu, Damian bangkit, membuat gerakan tangan untuk menguliti perut wanita itu terhenti.
“Lanjutkan seperti bisa,” ucapnya saat langkahnya tepat di antara pintu.
***
Ariana menatap asisten Daman dengan datar. Laki-laki dengan wajah datar itu terlihat sedikit aneh di mata Ariana.
“Maaf, jika tidak ada yang ingin anda sampaikan, saya pamit undur diri,” ucapnya dengan tubuh yang terlihat bersiap untuk bangkit. Namun, peraktaan Arthur sanggup membuat gerakannya terhenti.
“Apa Nyonya benar-benar ingin berpisah dengan Tuan?”
Ariana yag mendengar itu dengan cepat menatap Arthur. Lagi-lagi hanya wajah datar yang ia jumpai. Bagaiamana bisa, seorang laki-laki megataka kata berpisah dengan wajah seperti itu.
Araiana yang merasa tertarik dengan perkataan Arthur mengembalikan posisi duduknya seperti semula.
“Apa maksudmu?” tanyanya dengan nada datar.
Arthur terlihat tersenyum, senyum yang sangat tipis, bahkan senyum itu tak merubah sama sekali struktur wajahnya yang datar.
“Saya tahu, anda memiliki seorang kekasih, begitu pula dengan Tuan Damian,” ujarnya dengan tenang.
Ariana menatap Arthur dengan datar. Sosok di depanya itu, ia yakin bukan orang sembarangan.
“Oh, Ya? lantas, apa hubungannya dengan anda?”
Arthur tersenyum. “Ya, sebenarnya semua itu tidak ada hubungannya dengan saya, tapi satu hal yang pasti, saya akan membantu anda untuk berpisah dengan Tuan Damian.”
__ADS_1
Araina masih terdiam, mata madu itu menelisik jauh mata abu yang di miliki asisten itu, mencari kebohongan di sana, tapi ia tidak bisa melihat apa pun di sana, baik kebohongan, atau pun kejujuran.
“Siapa anda sebenarnya?” tanyanya dengan wajah yang semakin datar, sedangkan Arthur yang melihat itu tersenyum lebar, yang mengundang rasa tidak percya di wajah Ariana.