Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
8. Menghilang


__ADS_3

Damian dengan cepat berlari memasuki rumah sakit. Nafas laki-laki itu terlihat memburu, membuat siapa pun yang melihat menepi.


“Di mana?” tanyanya dengan tegas.


Laki-laki dengan seragam hitam itu segera membisikan sesautu, mebuat laki-laki itu melebarkan mata, kemudian berlari cepat memasuki ruangan.



Mata biru itu terlihat mengeras, kemudian berubah menjadi dingin, dan terakhir berubah menjadi kilatan amarah.


“Bre*gsek! Bagaiamana bisa ia kabur?” Damian menarik rambutnya dengan kasar.


Beberapa pengawal yang mendapatkan tugas menjaga sosok wanita dalam ruangan itu menggigil ketakutan.


“Bunuh mereka semua.” Damian berkata dengan tegas, membuat seluruh pegawal yang mendengar penuturan itu dengan seketika bersimpuh.


“Maafkan kami Tuan, kami berjanji akan segera menemukan wanita itu,” ucap mereka serempak.


Damian menendang mereka satu persatu, membuat mereka terpelanting, tapi tak ada niatan untuk merintih sekedar mengutarakan rasa sakitnya.


“Bagaiaman bisa kalian lalai? Menjaga satu wanita saja tidak mampu, dan kalian harus ingat, wanita itu koma? Koma? Tahu koma?” Damian berteriak dengan keras. Membuat ruang kedap suara itu berdengung.


Dokter yang mendapat tugas memantau kesehatan tawanan wanita itu menggigil ketakutan. Kemarahan tuannya ini tidak bisa dikatakan remeh.


“Tuan_”


“Diam! Kau juga, dasar Dokter bod*h. Kau bilang wanita itu masih perlu waktu lama untuk sadar, tapi mengapa dia bisa kabur saat ini?”


“Maaf Tuan, tapi hasil pemeriksaan terakhir memang sepert itu. Bahkan tadi malam saya masih melhat dia tidak sadar, Tuan,” jelasnya dengan nada tercekat.


Damian membuang muka, merasa kesal dengan kejadian hari ini.


“Bagaiaman dengan CCTV?”


Mereka yang mendengar pertanyan itu menunduk, dengan rasa takut yang luar biasa, salah satu dari mereka menjelaskan apa yang terjadi.


“Maaf, Tuan. CCTV tidak medeteksi keberadaan wanita itu. Bahkan CCTV ruang ini tiba-tiba rusak_”


Dor!


Bruk!


Suasana semakin terasa mencekam, tepat setelah Damian menarik pelatuk, dan mengarahkannya di kepala sang pengawal.


“Kalian tahu, saya paling tidak suka dengan yang namanya kegagalan, dan manusia bodoh.” Damian menyeringai lebar.


“Arthur, bereskan mereka semua.” Damian menatap asistennya itu, kemudian melenggang pergi, mengabaiakan terikan pengawal dan suara tembakan yang menggema.

__ADS_1


Drt ... Drt .... Drt ...


Getaran di saku jas membuat langkah Damian terhenti. Dahi lai-laki itu terlihat mengernyit, meraas bingung dengan siapa manusia yang berani mengusiknya. ‘Istri Bar-Bar’, melihat nama itu membuat Damian semakin berdecak. Dengan acuh, laki-laki tu segera mematikan panggilan, dan melanjutkan langah kakinya.


Drt .... Drt ... Drt ....


Namun, getaran itu terdengar lagi, membuat semua mata menatapnya dengan aneh. Dengan kesal, laki-laki itu mengambil gawai, kemudian menempelkannya di telinga.



Tatapan dari beberapa bawahannya membuat laki-laki itu tetap mempertahankan raut wajah.


“Kenapa?” David bertanya dengan datar.


“Ck, kau di mana sekarang? dasar laki-laki Gay, beraninya meninggalkanku di tengah jalan,” teriak Ariana dengan keras.


Damian yang mendengar teriakan itu terkekeh, merasa terhibur dengan sikap sang istri. Namun, ingatan tentang tawanannya yang kabur membuat kekehannya hilang berganti dengan raut datar.


“Ck, tidak perlu berteriak. Kau bisa pulang menggunakan taksi. Kenapa kau seperti orang susah saja,” Damian berkata dengan santai, membuat Ariana yang mendengarnya mengepalkan tangan.


“Dasar laki-laki baji*ngan. Kau meninggalkanku di tempat sepi, mana ada taksi di sini. Apa kau buru-buru pergi karena ingin bertemu dengan kekasih laki-lakimu itu?”


Pertanyaan itu membuat langkah kaki Damian terhenti. Wajahnya terlihat mengeras. “Jangan ikut campur,” ucapnya dengan nada dingin.



Tut!


Damian mengerjap, entah kenapa ia merasa bersalah saat mendengar ucapan Ariana. Apa ia sudah keterlaluan?


“Cih, terserahlah,” putusnya abai.


Laki-laki itu menatap beberapa ruangan dengan nomer berbeda, dan memilki tanda yang berbeda. Seringai terlihat jelas di wajahnya.


“Ternyata kejahatan akan tertutup saat kita memakai kedok kebaiakan,” ucapnya penuh misteri.


Sedikit rahasia, jika kalian berpikir rumah sakit yang didirikan Damian murni rumah sakit, jawabannya tidak.



Sesuai dengan namanya. Rumah sakit, di dalamnya adalah orang sakit, tapi bukan dengan tujuan untuk menghilangkan rasa sakit. Tapi bangunan ini ada bertujuan untuk menambah kesakitan mereka, terlebih mereka yang sudah berani mengusik seorang Damian. Ini bukan tempat penyembuhan, tapi ini tempat pembantaian berkedok kebaikan.



Jangan pernah tertipu dengan sebuah kebaiakan. Tak jarang, yang terlihat baik itu benar-benar baik. Seperti warna, hitam tak selalu buruk, dan putih tak selalu indah.


__ADS_1


Kalian tahu, bintang tanpa langit hitam tidak akan terlihat. Dan badai yang dihasilkan awan putih lebih dahsyat, dibandng badai yang dihasilkan awan kelabu.


***


Langit terlihat gelap, bahkan bintang sudah mulai muncul di sana. Damian dengan wajah lelah memasuki mansion besarnya.



Sunyi, itu pertama kali yang ia tangkap. Mata birunya menatap sekeliling, beruaha mencari sosok wanita yang menjadi istrinya.


Seminggu sudah mereka menjalin hubungan dengan status menggelikan. Biasanya, Araiana akan berceloteh panjang saat melihatnya baru pulang tengah malam. Tapi mengapa, kali ini tidak terdengar sama sekali celotehan wanita itu.


“Mungkin wanita itu sudah tidur,” Damian berkata dengan kepala yang naik turun.


Perasaan yang ingin segera melihat wajah Ariana membuat langkah kaki laki-laki itu semakin cepat. Bahkan, si pemilki kaki pun tidak sadar dengan tingkahnya itu.


Ceklek!


Netra biru itu menatap sekliling. Kamar mewahnya terlihat tetap sama, bahkan ranjangnya pun terlihat masih rapi, seperti tidak tersentuh sama sekali.



Rasa cemas tiba-tiba melandanya. Namun, ia tetap berusaha tenang. Kali ini tujuan laki-laki itu adalah kamar mandi.


Tok! Tok!


“Ariana? Apa kau di dalam?” panggilnya dengan sedikit keras.


Hening, tidak ada jawaban dari sana. Wajah Damian terlihat semaki cemas. Dengan cepat, tangan kananya memegang hendle pintu, kemudian membukanya dengan kasar.


Kosong! Bahkan lantainya pun terlihat masih kering. Ingatan tentang perkataan Ariana membuat tubuh laki-laki itu membeku. Tanpa pikir panjang, kaki kekarnya berlari, keluar dari kediaman menuju garasi.


“si*l! Kenapa wanita itu bodoh sekali. Apa ia masih di sana?” Damian bertanya dengan nada cemas.


Netra birunya terlihat menajam, menatap jalan yang terliaht semakin padat. Rasa kesal semakin menjadi, saat ia terjebak dalam kemacetan.



Bayangan Araiana yang menggigil keidnginan di tengah jalan membuat pikirannya kalut.


“Ck, sebenarnya bagaiaman isi otak wanita itu?” gerutnya sebal. Semakin ia cemas, semakin ia ingin memaki sosok wanita itu.


Tangan kekarnya meraih gawai, memberikan beberapa pangilan namun, hanya terdengar suara operator dari sana.


“Awas saja jika kau ketemu, akan ku beri pelajarn.” Damian mencengkarm erat setir mobilnya. Menambah kecepatan saat melihat suasana yang terlihat lenggang.


Beberapa jam kemudian, mobil hitam itu berhenti. Damian dengan cepat membuka pintu dan berjalan keluar namun, netra birunya membeku menyadari sesautu. Tempat itu kosong, hanya ada pohon-pohon yang menjulang tinggi, tanpa ada sosok wanita dengan gaun berwarna biru, dan dan rambut hitam yang tergerai. Lantas, kemana perginya Araiana?

__ADS_1


__ADS_2