Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
10. Pelampiasan


__ADS_3

Damian terlihat berjalan menuju ruang makan dengan lemas. Sekitar matanya terlihat menghitam. Pesan dari Ariana sungguh membuat laki-laki itu kelabakan, bahkan mengalihkan pikirannya dari Max.


“Pagi, Tuan.”


Mata biru itu menatap pedro yang menyapanya tepat di bawah tangga. Dengan mata malas Damian berkedip, sebagaia balasan dari sapaan yang di berikan sang atasan.



Beberapa pelayan terlihat berjajar rapi, membentuk formasi dari samping kanan dan kiri seperti biasa.


“Selamat pagi, Tuan,” ucap mereka serempak.


Damian terlihat acuh, berjalan dengan langkah tegap, tapi mata yang sayu. Mata laki-laki itu menatap meja panjang yang berada di tengah-tengah ruangan. Dengan lemas, ia mendudukan tubuhnya tepat di kursi utama.



Chef yang melihat itu segera menghidangkan makanan. Aroma lezat tercium dari berbagai hidangan yang sudah terbuka. Makanan yang terlihat menggiurkan itu terasa hambar. Damian hanya terdiam saat para Chef menjelaskan makanan apa saja yang mereka hidangkan saat ini.



Damian yang merasa muak dengan segera mengangkat tangan, memberi kode mereka semua untuk berhenti.


“Kembali,” ucapnya dengan datar.


Para chef yang mendengar itu dengan cepat bergerak mundur untuk kembali ke dapur yang terhubung dengan ruang makan. Para pelayan yang melihat itu maju untuk memberikan lauk yang di inginkan sang atasan.


“Hmmm.”


Daheman itu membuat pelayan menghentikan tangannya. Mata mereka terlihat sedikit gemetar, merasa takut dengan daheman yang terdengar sangat tajam itu.



Namun, Damian mengabaikan mereka, moodya benar-benar hancur, dan ia perlu pelampiasan. Menatap makanan daging dengan berbagai olahan membuat ia ingin sekali melihat daging manusia yang dihidangkan seperti itu.



Senyum lebar terlihat di wajahnya, membuat ketampanan laki-laki itu meningkat. Bahkan satu pelayan muda yang baru saja memulai karirnya sebagai pelayan tanpa sadar meneteskan air liur, merasa tergoda dengan pesona atasan barunya itu.



Tangan kekar itu mulai menyantap makanan yang sudah terhidang. Rasa manis gurih mulai menyebar di lidahnya, membuat sedikit kernyitan di dahi.


“Cuih, apa yang kalian masak?” Damian bertanya dengan sinis.


Salah satu chef yang bertanggung jawab atas hidangan yang dimuntahkan Damian gemetar. Dengan pelan, laki-laki itu maju, kemudian membungkukkan tubuh.


“Maafkan saya, Tuan,” ujarnya penuh ketakutan.

__ADS_1


Damian menatap dingin sosok laki-laki dengan penutup kepala berwarna putih. Rahangnya mengeras saat matanya melihat bola mata berwarna hitam itu. Ingatan tentang kekasih Ariana menyerbak tepat di kepalanya, membuat laki-laki itu ingin sekali menghancurkan kepala chef itu.


“Apa yang kau masak? Kenapa rasanya berantakan!” desis Damian tajam.


“Maaf, Tuan. Sa ... y ... saya ...”


“Sttt, jangan lanjutkan.” Damian memotong perkataan chef itu yang terlihat gugup.


Butiran keringat sebesar biji jagung terlihat jelas di pelipis sang Chef, membuat beberapa pelayan yang melihatnya iba. Namun, tidak bisa berbuat apa-apa untuk membelanya.


“Bebas, terbebas, atau membebaskan diri.” Damian berucap dnegan penuh teka teki.


Pedro yang paham betul maksud dari sang atasan menutup mata. Pelayan tua itu tidak menyangka kealahan apa yang dilakukan chef muda itu hingga harus berakhir dengan menyedihkan.



Sedangkan Chef muda itu yang mendapatkan pertanyaan seperti itu hanya bisa meneguk ludah takut, merasa bingung dengan maksud dari ucapan sang atasan. Tapi, apa pun itu, ia yakin bukanlah hal baik, terlebih saat mata hitamnya melihat kepanikan di wajah kepala pelayan, Pedro.


“Maaf, Tuan. Maafkan saya,” ucapnya berusaha menekan kegugupan.


Damian hanya terkekeh ia paling tidak suka dengan sosok teledor, terlebih sosok itu telah mengingatkannya dengan manusia yang paling ia benci.


“Maaf? Jika semua bisa diselesaikan dnegan maaf, bukankah penjara akan kosong, dan apakah dengan maaf smeua bisa terselesaikan dengan muda? Apakah dnegan maaf, bisa memberi efek jera bagi si pelanggar?” Damian bertanya dengan nada datar.


Keringat dingin semakin merembas hebat di punggung chef muda itu, membuat pakaian putihnya basah. Bahkan kakinya terlihat sudah bergetar hebat.


Chef itu menatap sekliling, mencoba menari pertolongan dari rekan-rekannya. Namun, hanya gelengan yang ia dapatkan, membuat ia semakin terpojok.


“Membebaskan diri Tuan.” jawabnya dengan sedikit ragu.


Damian tersenyum lebar, merasa puas dnegan jawaban yang diberikan bawahannya itu. Tangan kekarnya saling bersentuhan menimbulkan suara ‘Prok ... prok ...’



Tak lama kemudian muncullah beberapa bawahanya dengan setelan berarna hitam dengan pistol yang terselip di pinggang.



Chef muda yang melihat itu melototkan mata, ah, bukan hanya Chef muda itu, tapi seluruh penghuni mansion.


“T .. Tuan ...” Chef itu tergagap.


Damian terlihat abai, semakin ia melihat raut ketakutan laki-laki itu, ia semakin senang. Bayangan jika laki-laki itu kekasih dari Ariana, semakin membuat ia bersemangat untuk menjalankan misi pagi hari.


“Hmmm, larilah, jika kau bisa keluar dari pintu ruangan ini dengan selamat, maka kau bisa terbebas,” Damian berucap dengan senyum ramah, seakan senyum itu berlainan makna dengan maksud ucapannya.


Semua terlihat menegang, tak jarang raut wajahnya terlihat pucat. Chef muda yang sudah paham dengan maksud dari ucapan ang atasan dengan lutut sedikit gemetar bergerak, terlebih saat mendengar suara pelatuk yang sudah siap untuk meluncur.

__ADS_1


“Satu ...” Damian menghitung dengan nada pelan, tangan kananya memotong roti dengan santai.


Chef yang mendengar hitungan di mulai dengan tergesa berlari, menghindari tembakan yang mulai terarah ke tubuhnya.


“Dua ...” Damian mengoyak daging yang tersembunyi di dalam roti, membuat daging tipis itu terburai dengan bentuk berantakan.


Suasana terlihat semakin mencekam, terlebih melihat beberapa pecahan vas yang sudah berserakan, karena tembakan yang berhasil dihindari.


“Tiga.”


Dor!


Chef itu terjatuh dengan kepala yang sudah berhamburan, mengeluarkan isi kepalanya dengan warna merah pekat bercampur dengan gumpalan berwarna putih.



Sedangkan Damian terlihat tersenyum, saat makanan di piringnya berhasil hancur dengan tiga kali potong. Daging panggang yang terlihat halus dengan bercampur caos, mayones, dan sayuran.



Saata mata biru itu menengadah ke depan, matanya terlihat semakin berbinar. Pemandangan tubuh muda tanpa kepala yang utuh sungguh membuatnya puas.



Sedangkan para pelayan, chef, dan Pedro hanya bisa menahan rasa mualnya. Mata mereka bahkan terlihat sudah berkaca-kaca dengan wajah memerah. Gejolak diperut membuat mereka ingin segera berlari ke kamar mandi, tapi rasa takut mereka lebih besar.



Damian bangkit, menatap pengawal berpakaian hitam itu dengan tatapan datar. Senyum miring tersungging di bibirny saat matanya melihat rambut hitam itu. lagi-lagi bayangan tentang pacar Ariana berlari di kepalanya, membuat kesenangan yang sempat ia teguk menguap.


“Kau!” tunjuknya tepat di wajah pengawal itu.


Sang pengawal yang merasaka sauasan berubah mencekam lagi menahan nafas, berusaha mencaari-cari kesalahan yang ia buat.


“Iya, Tuan.” jawabnya dengan sedikit gugup.


“Kau ingin aku memotong kepalamu, atau kau memangkas habis rambutmu selamanya?” Damian bertanya dengan santai. Namun, siapa pun pasti paham dengan maksud dari pertanyaannya.


Pengawal itu tanpa ragu memilih untuk memangkas habis rambutnya, membuat Damian menyunggingkan senyum, kemudian mengibaskan tangan, memberi isyarat mereka semua untuk pergi.



Suasa seketika sepi. Hanya tersisa Damian dengan ruangan yang berantakan, dan satu tubuh manusia yang tak bernyawa.


“Hmm, andai saja hanya rambutmu yang berwaran hitam, maka aku akan memberikan pertanyaan yang sama dengan pengawalku, tapi kau meniru semua yang ada di tubuh laki-laki sia*an itu, dan artinya hanya kematian yang pantas,” Damian membeberkan alasan kematian sang Chef tepat di depan tubuh kaku itu, membuat penjelasannya seakan sia-sia.


Laki-laki itu bahkan tidak sadar, jika Max pun memilki rambut hitam, dan mata hitam, sama persis dengan milik Ricard, kekasih Araiana.

__ADS_1


__ADS_2