Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
28. Hukuman


__ADS_3

Damian menatap Arthur yang tampak berbeda. Asistennya itu terlihat sering menatapnya dengan tajam, bukan hanya itu, tak jarang laki laki itu terlihat enggan menerima perintahnya.


“Apa kau mulai bosan menjadi asistenku?” tanya Damian datar


Arthur yang mendengar itu memicingkan mata, hingga helaan nafas panjang mulai ia keluarkan.


“Apa jika aku jujur kau akan melepasku?” tanya Arthur dengan wajah datar.


Damian yang mendengar itu tersenyum miring. “Hmm, kau sangat tahu seperti apa diriku.”


Arthur yang melihat jelas tatapan mengejek dari Damian membuang muka. Dan hal itu sontak membuat Damian terkekeh.


“Kau harus ingat, jangan melewati batasanmu. Kau memang sahabatku, tapi kau juga bawahanku. Oh ya, satu lagi, aku tahu apa yang kau rencanakan dengan istriku, dan aku harap, kau tak melanjutkan rencanamu sebelum kau menyesal.


Tepat setelah mengatakan itu Damian bangkit, laki laki itu harus mengunjungi tempat yang membuatnya resah sedari tadi. Sedangkan Arthur yang melihat itu menghela nafas panjang. Ia tidak membenci sosok Damian, tapi ia ingin sosok itu bisa memilih dan memutuskan sesuatu sebelum benar benar terlambat.


Satu lagi, untuk perasaanya terhadap Ariana, ia tidak berbohong. Ia benar benar mencintai wanita itu, tapi tak ada sedikit pun niat untuk merebutnya. Tapi jika Damian berani membuat wanita itu sakit hati, dia tak akan tinggal diam. Persetan dengan ancaman yang akan dilakukan Damian.


Di sisi lain, Ariana tampak mendalami perannya. Kali ini ia akan menjadi model iklan pakian couple ala remaja. Pasangannya jauh lebih muda dibanding umurnya namun, wajah mereka, bahkan postur tubuhnya terlihat sesusinya.


“Ya, lebih dekat lagi.”


Ariana dengan lihai menempelkan dadanya tepat di lengan pria yang bernama Andreo, sedangkan laki laki itu tampak memasang mata tajam yang menguhunus tepat di mata madu Ariana.



Mereka semua yang melihat bagaimana pose itu benar benar takjub. Baju yang berkibar dengan wajah yang berjarak beberapa senti menambah kesan ero\*is.


“Ok, pertahankan, satu, dua__”


Brak!


Semua mata terlihat terkejut saat melihat sosok pria yang memiliki pengaruh besar di negara ini berjalan dengan wajah yang mengeras.

__ADS_1



Ariana yang melihat kedatangan sosok itu mengerutkan alis, merasa benar benar terganggu. Belum sempat ia mengeluarkan protesnya, satu bogeman yang laki laki itu arahkan ke wajah Andreo membuat ia menutup mulut terkejut. Bukan hanya dirinya, bahkan semua staf yang menjadi penanggung jawab.


“Sialan! Beraninya kau berdekatan dengan Istriku.


Ya sosok itu Damian, Damian mendatangi tempat lokasi dengan perasaan yang kacau, lebih kacau lagi saat melihat pose mereka yang benar benar int\*m.



Ariana masih belum bereaksi apa pun, bahkan saat Damian tanpa ampun menduduki perut Andreo, memberikan pukulan demi pukulan yang terlihat cukup menakutkan sekaligus mengerikan.


“Arghh,” teriak Andreo saat Damian menghantam keras rahangnya.


Ariana yang sadar apa yang terjadi tidak bisa dibiarkan lebih jauh lagi segera mendekat, berusaha memisahkan Damian dari atas tubuh Andreo.


“Hay! Apa yang kau lakukan? Kau bisa membunuhnya.” Ariana mencoba menarik bahu Damian, tapi laki laki itu terlalu kuat hingga Ariana terdorong ke belakang akibat sikutan yang tak sengaja di berikan laki laki itu.


Ariana memejamkan mata. Sungguh kepalanya terasa pening akibat dorongan itu. Namun, ia masih harus menyelamatkan Andreo. Matanya menatap sekliling, berusaha mencari bantuan dari para staf namun, yang ia lihat benar benar membuat ia menggelengkan kepala. Mereka hanya berdiri tanpa mampu mengeluarkan kata kata.




Tangan yang siap melayangkan tinju untuk kesekian kalinya terhenti. Matanya masih menggelap, bahkan niatnya yang ingin menghabisi nyawa Andreo yang terlihat sudah pingsan itu masih berkobar.



Seringai miring ia sunggingkan membuat mereka semua bergidik, begitu pun dengan Ariana. Wanita itu juga merasa takut, mengingat bagaimana dulu laki laki itu menghajarnya dan merebut apa yang ia jaga selama ini.


“Ayo pulang!” ucap Damian datar.


Bahkan Ariana belum sempat mengeluarkan satu kata pun, Damian dengan kasar menyeret tangannya membuat beberapa mata menatapnya penuh perihatin. Ia yakin, setelah ini akan terjadi skandal yang menyeret namnya.

__ADS_1


“Damian, lepaskan, kau menyakitiku,” ujarnya dengan tangan kiri yang berusaha melepas cekalan kuat yang diberikan Damian.


Damian yang sadar akan sikap kasaranya terhenti, matanya menyorot Ariana dengan dalam, tanpa aba aba, ia angkat tubuh itu, membuat Ariana semakin memekik.


“Sialan! Apa yang kau lakukan?” tanya Ariana dengan wajah yang memerah.


“Aku hanya membantumu. Bukankah kau mengatakan jika kau kesakitan, bahkan aku belum melakukan apa pun ... seperti ini.”


“Argh! Sialan! Jauhkan tanganmu.” Ariana menatap Damian sengit.


Sedangkan laki laki itu dengan santainya meremas dua bongkahan Ariana. Laki laki itu ingin sekali menghukum wanita yang ia angkat saat ini. Bukan hukuman berupa cambuk, atau tembak yang biasa ia berikan untuk penghianat atau pembangkang. Tapi ia ingin memberikan hukuman yang akan membuat wanita itu berkeringat, serta memanggil namanya berulang kali.



*Wel*, selama mereka berhubungan Ariana tak satu kali pun memanggil namnya. Dan ia ingin kali ini Ariana menyebut namanya, hanya namanya, bukan nama pria lain.


“Kau harus menerima hukumanmu, Sayang,” bisik Damian lembut. Namun, kelembutan itu hanya sebuah kedok. Ariana jelas tahu apa yang ada di otak busuk laki laki itu.


“Damian! Jangan melewati batasmu!” ucap Ariana yang tak dihiraukan sama sekali oleh Damian. Bahkan laki laki itu dengan santainya meletakkan tubuh Ariana tepat di samping kemudi.


“Hmm, aku tidak pernah melewati batasku, tapi kau yang selalu melewati batasmu,” Damian tersenyum miring. Tangannya dengan cepat menekan tombol kunci sebelum Ariana sempat membuka pintu untuk kabur.


Wanita itu benar benar terlihat geram. Matanya menatap tajam Damian, yang hanya di sambut senyum miring laki laki itu. bahkan laki laki itu dengan santainya menyalakan mobil, mebawa mereka menembus padatnya jalan.


“Damian! Kau harus ingat, jangan pernah mencampuri uruanku, bukankah kita sudah sepakat. Aku harus kembali, aku masih memiliki jadwal Shuting.”


“Hmm, sepertinya menghukummu di dalam mobil terasa menyenangkan,” Damian menolehkan kepala sebentar. Laki laki itu menjilat bibr bawahnya dengan menatap Ariana bak laki laki hidung belang.


Ariana yang melihat itu melebarkan mata. “Sialan! Kenapa otakmu hanya berisi sela\*\*kangan. Hay, kau memiliki kekasih, dan kekasihmu itu berbatang, bukan berlubang. Jadi sudahi semua ini.”



Damian tampak mengabaikan perkataan Ariana, laki laki itu malah menghentikan laju mobil tepat di area sepi membuat Ariana merasa ketakutan dan menatap horor Damian yang saat ini membuka kancing jasnya.

__ADS_1


“Sialan! Apa yang kau lakukan!” pekik Ariana saat melihat Damian dengan santainya melempar jas ke arah belakang. Bukan hanya itu, tempat duduk yang ia tempati saat ini juga berubah posisi menjadi tiduran.


“Hmm, bukankah sudah jelas. Aku ingin menghukum Istriku yang suka sekali memancing emosiku!”


__ADS_2