Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
2. Salsha Dawal


__ADS_3

Damian berjalan memasuki lorong rumah sakit yang terlihat sepi. Beberapa suster yang melihatnya terlihat menghentikan langkah dan membungkukkan badan. Melihat reaksi mereka tidak membuat langkah Damian berhenti sekedar untuk menebar senyum.



Sosok bermata biru itu tetap menatap lurus, tanpa menoleh, atau pun berkedip. Seperti tubuh robot yang sudah di setting sedemikan rupa.



Langkah kaki itu baru terhenti, tepat saat mata birunya menatap pintu berwarna putih, dengan tulisan VVIP, 123. Menimbang sebentar, akhirnya laki-laki itu memilih untuk membukannya dengan sekali gerak.



Bau obat-obatan, tercium kuat di hidung mancungnya, membuat sedikit alisnya terangkat. Bunyi alat-alat terdengar menggelitik kuping, membuat laki-laki itu tersenyum melihat sosok yang terbujur lemah itu tak berdaya. Senyumnya persis seperti psikopat gila.


“Hay, apa harimu menyenangkan?” pertanyaan dengan nada mencemooh itu mengisi ruangan itu.


Lagi-lagi senyum mengejek laki-laki itu berikan, terlebih melihat lawan bicaranya yang hanya menutup mata, tanpa ada usaha untuk membuka.


Srek!


Tangan kekarnya menarik kursi, kemudian mendudukan tubuh kekarnya di atas sana. “Kau tahu, semua orang telah menganggapmu mati. Dan ya, itu semua rencanaku.” Damian terkekeh di akhir kalimat. Hening sejenak, mata biru itu terlihat menerawang.


“Kau telah mengambil kekasihku saat kami berpisah, dan dengan kurang ajarnya, kau mengambil kesuciannya yang selama ini aku jaga.” Damian menatap sosok itu dengan tatapan tajam.


Lagi-lagi sosok itu hanya bisa terdiam dengan mata terpejam, tapi jika di teliti, ujung mata yang tertutup itu mengeluarkan air mata.


“Aku ingin sekali benar-benar melenyapkanmu, tapi aku lebih ingin meihatmu terkubang dalam penderitaan.” Damian mengepalkan tangan, membuat otot-otot di tangannya menyembul keluar.


“Gara-gara kau, kekasihku menjadi penjahat, padahal selama ini, dia seperti kelinci manis, bahkan membunuh seekor semut pun ia tidak berani.”


“...”


“Dan kau datang, membuat sosok lembut itu berubah, berubah menjadi sosok kejam tanpa perasaan. Kau membuatnya menjadi pejahat, kau membuatnya terjerumus dalam kubangan lumpur. Dan kau juga dengan beraninya melenyapkan bayinya.” Damian menatap datar sosok itu.

__ADS_1


Telapak tangan yang terbungkus dengan selop tangan itu terlihat mengelus lembut dahi putih itu. Seakan menyalurkan kasih sayang. Namun, lama kelamaan, tangan itu mulai turun, menyentuh hidung yang terpasang alat bantu pernafasan.


Sret!


Damian dengan tidak berperasaan menarik alat itu, membuat tubuh lawanya kejang hebat.


“Satu, dua, tiga, ahhh sepertinya kau tidak akan sanggup menahan kesakitanmu lama-lama.” Tangan kekar itu kembali memasang alat bantu pernafasan, membuat tubuh itu berangsur-angsur tenang.


“Ha ha ha, bukankah ini sangat menyenangkan. Inilah tugasmu untuk selalu hidup. Hiduplah seperti ini, maka aku akan membuat seluruh keluargamu terjamin, sebagai gantinya, kau harus siap menjadi alat pelampiasanku untuk menguji malaikat maut, Salsha Dawal.” Damian tersenyum lebar, senyum yang menakutkan. Bahan sosok wanita dengan nama Salsha Dawal itu ikut merasakan perasaan takut, terlihat jelas dari air mata yang semakin banyak keluar dari ujung matanya.


“Kau harus tahu, sekarang Max, kekasihku telah kembali seperti dulu lagi. Semua ini berkat kabar kematianmu. Maka dari itu, tetaplah seperti ini. Jangan pernah membuka mata, atau kau hanya akan melhat kehancuran mereka semua.” Damian berbisik lembut.


***


Malam itu salju turun dengan lebat, membuat siapa pun merasakan perasaan menggigil, tapi tidak untuk sosok laki-laki dengan mata biru itu. Rasa panas akibat emosi yang sudah mencuat membuat hawa dingin disekitarnya berubah panas.


Mata birunya menaatp beberapa orang yang terlihat dengan santai menyantap makanan, bahkan tak jarang mereka mengeluarkan candaan untuk mengisi kekosongan.


“Maaf, aku terlambat.”


Ucapan dengan nada lembut itu terasa mendayu di telinga mereka, membuat mereka tanpa sadar tersenyum dan mengangguk, seakan tidak mempermasalahkan keterlambatannya itu.


“Tidak apa, kami paham bagaiamana sibuknya menjadi model.” Timpal Jordan dengan senyum jenaka.


Damian yang mendengar jawaban dari sang ayah merotasikan mata malas. Ia paham betul, ayahnya itu paling tidak suka kata terlambat. Baginya, orang yang menyia-nyiakan waktu itu sama juga dengan orang yang tidak memilki potensi kesuksesan di hidupnya, artinya, mereka hanya sampah.


“Ck,” decakan dengan nada kecil itu membuat Damian mendapatkan tatapan dari berbagai sudut. Namun, laki-laki itu tetap cuek, hingga satu suara menarik perhatiannya.


“Oh, apakah ini Damian?”


Damian mendongak, menatap sosok wanita cantik dengan rambut hitam sebahunya, dan jangan lupakan pakaian yang cukup seksi. Membuat beberapa tonjolan tubuhnya terlihat, bahkan dadanya nyaris tumpah. Wanita itu persis seperti jal\*ng.


“Stt, jawab, itu Ariana, calon istrimu.” bisikan dengan nada penuh ancaman itu membuat Damian melotot terkejut, kemudan tatapan jijik laki-laki itu lemparkan untuk wanita di depannya.

__ADS_1


Jordan yang merasa anaknya tidak akan menjawab mengambil alih. “Oh, iya, ini Damian, anak Om, dan calon suamimu.” Jordan tersenyum canggung.



Wanita berambut hitam dengan bola mata madu itu menganggukkan kepala, seakan menilai sosok Damian dari atas ke bawah, membuat laki-laki yang ditatap merasa risih.


“Oh, lumayan. Perkenalkan aku Ariana Shandres, yang sebentar lagi menjadi Araiana Shadow.” Wanita dengan nama Ariana itu mengedipkan mata, membuat mereka semua yang berada di sana terkekeh, merasa lucu dengan sikapnya.


Tapi tidak dengan Damian. Semenjak wanita itu mengatakan kata lumayan, ia merasa kesal. Bagaiamana bisa, bujangan paling diminati wanita diseluruh benua dinilai lumayan. Kata yang tepat itu harusnya sempurna.


Dengan smirk di wajah, Damian berucap dengan tenang, “ Ya aku Damian, bajumu terlihat kekurangan bahan,” cetusnya tanpa beban.


Araian yang mendengar perkatan itu hanya tersenyum, berbeda dengan beberap orang yang berada di sana, mereka serempak tersedak, terlebih kedau orang tua Arian. Wajah mereka terlihat memerah.


“Ekhm, maafkan mulut anak saya, memang terkadang mulutnya asal bicara.” Jordan menatap orang tua Arian yang tak lain sahabatnya itu dengan malu.


Damian yang mendengar itu tetap abai. Rasa puas setelah mengutarakan pendapatnya terkait pakaian yang dipakai Ariana membuat ia sedikit senang.


“Oh, ternyata calon suamiku posesif. Tapi bagaiamana lagi ya, pakaianku memang sepeti ini, bahkan ini pakaianku yang paling tertutup.” Arian tersenyum menggoda, bahkan wanita itu tanpa segan menggigit bibir bawahnya yang berwrna merah.


Damian yang mendengar kata posesef menggeram marah. Dalam hati, laki-laki itu mengutuk tingkat ke pd-an wanita di depannya itu.



Para tetua yang menyadari sauasana yang berubah tidak nyaman dengan cepat mengambil alih.


“Ekhm, langsung saja, tidak perlu basa-basi. Kalian berdua sudah tahu kan dengan perjodohan ini?” Alex, ayah dari Ariana menatap Dua manusia dengan umur jauh di bawahnya dengan tenang.


Ariana yang melihat itu mengangguk mantap, sedangkan Damian hanya diam, menunggu kelanjutan dari ucapan laki-laki tua di depannya itu.


“Hmm, kami sudah sepakat untuk mengadakan pernikahan kalian minggu depan.” Sambung Alex dengan senyum lebar di wajahnya.


Ariana terlihat menganggukkan kepala, dengan tangan yang mengambil minuman, sedangkan wajah Damian semakin datar, bahkan mata birunya terlihat kosong, yang artinya pertanda buruk.

__ADS_1


__ADS_2