
Ariana menatap Damian dengan dahi mengernyit. Suhu dingin yang berasal dari pintu Balkon yang terbuka membuat wanita itu terbangun. Namun, matanya malah melihat sosok laki-laki yang baru saja menyandang status sebagai Suaminya berdiri di sana dengan wajah yang, ehm, seperti terkejut.
"kenapa kau diam di sana?" Ariana bertanya dengan tidak sabar.
Damian yang masih terkejut segera tersadar, terlebih saat menatap wajah wanita itu yang terlihat dongkol. Perasaan aneh di dadanya seketika lenyap, tergantikan dengan perasaan jengkel.
Dengan tegas, kaki kekar itu melangkah, membuat suhu tuangan itu berubah menjadi dingin, bahkan mengalahkan salju di luar sana.
Ariana yang merasakan firasat buruk menelan ludah. Beberapa kali wanita itu terlihat mempersiapkan diri, jika sewaktu-waktu laki-laki gay di depannya berbuat nekat, seperti membunuhnya.
Bruk!
"Apa yang kau lakukan?" Arian terpekik kaget. Netra madunya menyala saat Damian tanpa aba-aba, menubruk tubuh rampingnya. Memperangkap dengan tubuh kekar yang sudah terlihat beratnya berkali-kali lipat dibanding nya.
Damian ikut terkejut dengan tubuhnya yang tiba-tiba berada di atas Ariana. Benda kenyal yang sangat terasa di dadanya membuat fokusnya menghilang. Niat hati ingin memberi cekikan, malah berakhir dengan sentuhan tiba-tiba.
Dug!
"Auch. " Damian bangkit dengan tangan yang sudah memegang kening nya yang memerah. Netra biru itu terlihat menyala, menatap sosok wanita yang terlihat santai setelah membentur kepalanya dengan benda tumpul yang saat ini tergeletak di ujung ranjang.
"Kau__"
Gedebuk!
"arrgggh." Damian semakin merintih. Tubuh laki-laki itu tergeletak mengenaskan di ujung ranjang. Belum sembuh rata sakit akibat hantaman di keningnya., kini tubuhnya kembali terluka akibat tendangan tepat di perutnya. membuat laki-laki itu merasakan rasa ngilu tepat di ulu hati.
Ariana yang melihat itu terkekeh sinis. Dengan santai, wanita itu bangkit, berjalan dengan membawa aura tidak biasa, kemudian meletakkan satu kaki tepat di atas dada sang lelaki, membuat mata biru tu itu melotot karena pemandangan yang terlihat jelas di bawah sana.
__ADS_1
"Jangan merasa kau kuat karena menjadi laki-laki. meskipun aku seorang wanita, menghabisimu bukanlah hal sulit bagiku. Jadi, lebih baik kau berhati-hati denganku. Minimal bersikaplah sebagai teman, jangan anggap aku musuhmu yang harus kau lenyapkan, atau wanita bodoh yang akan terbuai dengan sebuah sentuhan." Ariana menatap datar Damian.
Nafas laki-laki itu tercekat,kalimat yang dilontarkan Ariana membuat ia berpikir keras. Ya, selama ini ia selalu memandang wanita lemah, tapi wanita di depannya ini, bahkan tidak bisa dia anggap biasa. Tubuh ramping itu dengan mudahnya membuat ia tergeletak mengenaskan tanpa bisa melawan.
Merasa puas dengan kalimat yang sudah ia lontarkan, Ariana bangkit, kemudian mengambil gelas yang berisi air putih, menguknya dengan gaya anggun, kemudian merebahkan tubuh untuk melanjutkan tidur. Namun, sebelum mata itu benar-benar tertutup, ia berguma dengan jelas.
"tutuplah pintu balkon, udara sangat dingin, dan aku malas berbagi kehangatan dengan tubuhmu yang sudah terkontaminasi dengan kekasih laki-lakimu itu. "
Damian yang masih terbaring terkejut, mata biru itu terlihat tidak terima dengan kalimat yang dilontarkan Ariana, tapi melihat wanita itu yang sudah terlelap, dengan terpaksa, ia melangkah untuk menutup pintu.
"ck, kenapa aku menjadi patuh dengan wanita jal*ng itu." Damian berdecak tidak percaya. Mata laki-laki itu menyorot aneh wanita yang sudah bergelungdi bawah selimut putih itu dengan nyaman.
****
Matahari mulai merebak, menerbarkan senyum dengan sinarnya. Semua makhluk mulai berbdong-bondong untuk mrmulai aktifitas paginya, sedangkan satu sosok laki-laki dengan badan besar nan kekar terlihat masih bergelung di baah selimut, mencari kenyamanan untuk menyambung tidurnya.
Drt... Drt...
Decakan kesal pertama kali laki-laki itu keluarkan, kemudian tangan kekarnya mulai meraih gawai, tanpa melihat siapa gerangan yang memanggilnya itu.
“Hmm, halo,” ucapnya dengn suara yang masih serak.
“Oh, ternyata suamiku masih tidur. Sekedar info ya, aku, Istrimu yang paling antik, yang memilki dada lebih besar dibanding kekasihmu, dan yang pasti tidak berbatang sudah pulang terlebih daulu, dan jangan lupa kemasi barang-barang kita ya, kau kan laki-laki dan hal itu sudah menjadi tugasmu. Oh, satu lagi, aku sudah mengambil beberapa ATM berhargamu, sebagai tutup mulutku mengenai penyimpanaganmu. Bay.”
Tut!
Damian masih terdiam, laki-laki itu sibuk mencerna apa maksud dari perkataan wanita di balik gawai itu. Bahkan saat telfon sudah terputus, tangannya masih menempel di kuping kiri beserta gawainya.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, mata laki-laki itu terlihat terbuka lebar, kemudian bangkit dari tidur, skeedar untuk mengecek keberadaan sosok wanita yang membuat malamnya kacau.
“Sial, wanita itu benar-benar!” Damian menggertakkan gigi kesal. Mata birunya berkilat penuh amarah saat menaydari ia sendiri di dalam kamar hotel, dengan beberapa pakaian yang terlihat berantakan.
Mata biru itu semakin terlihat kesal saat melihat satu koper besar, dan yang pasti itu bukan miliknya, karena berwarna merah muda.
“Si*l!” umpatnya dengan keras.
Mengusap wajah dengan kasar, kemudian laki-laki itu beranjak cepat ke arah kamar mandi untuk menyegarkan otaknya yang terlihat keruh.
Sepuluh menit berlalu, laki-lkai itu sudah menggunakan pakaian resminya. Jas dengan warna biru tua. Mata biru itu terlihat mencari-cari di mana letak dompetnya. Di pohoj nakas, ternyata dompet berwarna hitam itu tergeletak.
Tanpa membuang waktu, laki-laki itu mengambil dompet, kemudian membukanya. “Sia*an!” umpatnya lagi. Entah sudah berapa kali mulut itu mengeluarkan umpatan.
“Bagaiamana bisa wanita itu hanya meninggalkan ATM biasa dan mengambil semua ATM limit ku.” Nafasnya terengah-engah, mata biru itu terpejam, seakan menetralkan perasaan yang tidak karuan.
Dengan emosi yang membeludak, tangannya mencoba mneghubungi kembali nomer asing tadi yang sudah pasi nomer Ariana. Namun, sepertinya kesialan sangat menyukainya. Belum sempat tangannya memencet tombol hijau, gawai mahal itu mati dalam sekejap, karena kehabisana daya.
“Sepertinya hari-hariku akan lebih sial lagi.” Damian mengusap wajahnya penuh emosi.
Dengan sangat terpaksa, tangannya mulai memasukkan beberapa pakaian yang tercecer. Di mulai dari dalaman yang menurutnya memiliki bentuk aneh, sampai baju-baju lain yang entah masih layak disebut baju atau hanya sebatas kain tipis.
Harga diri laki-laki itu seperti terinjak, mengingat dia yang selalu dilayani, kini harus mengurusi hal-hal yabg tudak pernah ia tahu bagaiamana proses pengerjaannya.
Dengan sedikit dongkol, tangan kekarnya meraup asal pakaian Ariana, memasukkannya menjadi satu, tanpa melihat kerapian.
Senyum puas terlihat jelas di wajah tampannya. Namun, senyum itu segera lenyap saat menyadari baju-baju itu menggunung, dan menyulitkan dalam hal menutup.
__ADS_1
Menjilat bibir atasnya, laki-laki itu terlihat berpikir serius, hingga satu ide muncul di otaknya, membuat ia tersenyum lebar.
"Apa yang tidak bisa dilakukan seorang Damian," ucapnya penuh bangga.