Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
18. Gairah dan amarah


__ADS_3

“Kesempatan? Apa dengan aku yang memberimu kesempatan, kesucianku bisa kembali?” tanyanya dengan dingin.


Damian terdiam, ya, ia tahu betul bagaiaman perasaan Ariana saat ini, tapi ia tidak sepenuhnya salah, semua ini terjadi karena Ariana yang telah menghabiskan waktu bersama sang kekasih, bahkan bercumbu, meskipun tidak sampai ke intinya.


“Terserah, tapi satu hal yang pasti, aku tidak suka kau berhubungan dengan kekasihmu, apalagi sampai melakukan hal yang di luar batas,” ungkapnya serius.


Ariana yang mendengar itu semakin tercengang. Mata madunya mentap Damian seperti menatap manusia bodoh.


“Ha ha, kau lucu sekali. Hay, Mister Gay, kau juga harus sadar, kau juga memiliki kekasih, dan aku tidak sekali pun melarangmu untuk berdekatan dengannya, lantas, kenapa kau melarangku?” tanyanya dengan sinis.


Damian yang mendengar itu menegakkan tubuh, mata biru itu terlihat menajam. Ia paling membenci jika ada yang membantah perintahnya.


“Jangan memebantah, turuti saja perintahku!” ujarnya dengan tegas.


Ariana terkekeh, wanita itu kembali berusaha untuk duduk tegap, nyeri di sekujur tubuh benar-benar membuatnya kesusahan untuk bergerak.


“Jangan membuat lelucon. Anda harus sadar, siapa anda dalam hidup saya?” Ariana menatap sinis tepat saat ia bisa menegakkan tubuh dengan benar.


Damian yang mendengar penuturan itu terpancing emosi, rahangnya mengetat, kemudian laki-laki itu menghadap Ariana yang terlihat sudah nyaman di posisinya saat ini.


“Aku SUAMIMU, kau lupa, hah?” Damian menekan kata suami, yang malah semakin membuat Ariana tertawa dengan keras.


“Ha ha ha ha Suami? Suami? Hay, sadarlah, semua ini hanya sekedar formalitas. Kita harus membuat kesepakatan. Tepat setelah enam bulan, mari kita bercerai, dan selama kita menjalani pernikahan ini, aku tidak akan membocorkan tentang kelainanmu,” paparnya serius.


Damian yang mendengar kata perceraian dari mulut Ariana mengepalkan tangan. Ada rasa tidak terima, tapi ia bingung dengan perasaannya sendiri.


“Apa maksudmu dengan perceraian setelah enam bulan?”


“Hay, jangan pernah berpikir pernikahan ini akan terjalin selamanya. Kau harus ingat, aku memilki kekasih, dan kau juga. Kita harus kembali ke pasangan masing-masing.” Ariana menatap serius Damian.


Damian mengepalkan tangan. “Tidak, tidak ada kata perceraian, bagaimana dengan keluarga kita, jika kita bercerai nanti?”


“Cih, jangan beralasan. Kita sudah sama-sama dewasa, dan cerai atau tidak, menurutku bukan hal besar, atau masalah bagi mereka.”


Damian yang mendengar semua ucapan Ariana dengan cepat bangkit, mata biru itu terlihat berkilat penuh amarah.


“Jangan pernah berkata tentang perpisahan!” tandasnya penuh penekanan, kemudian bangkit meninggalkan Ariana yang terlihat tercengang di atas ranjang.


“Dasar, laki-laki kurang ajar! Apa maksudnya? Tidak mau berpisah? Jika seperti itu, lihat saja, sampai mana kau bisa mengungkungku?” ucapnya dengan wajah yang menunjukan kesinisan.


Mungkin bagi yang melihat keadaan Ariana saat ini merasa tercengang. Bagaiamana bisa, seorang wanita yang telah mengalami pelecehan dan kekerasan terlihat biasa saja?

__ADS_1


satu hal yang pasti, dia benar-benar trauma, tapi tetap berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Menjadi model tidaklah muda, pelecehan menjadi bayang-bayangnya selama menginjak dunia permodelan, terlebih saat mendapatkan pasangan yang mesum.


“Aku akan membuatmu menyesal!”


****


Damian terlihat mengguyur seluruh badanya di bawah pancuran. Dadanya terasa panas, otaknya terasa terbakar.



Bayangan Ariana yang meminta untuk berpisah benar-benar menggangu pikirannya. Rasa tidak percaya pun timbul saat ia menyadari perasaannya yang tidak rela melihat Ariana yang memaksa untuk berpisah.


“Kenapa dengan diriku?” tanyanya dengan tangan yang mengacak rambut, membuat cipratan air yang keras.


Di sisi lain, terlihat Max yang mengepalkan tangan, mendengar segala penuturan Roy tentang ‘nona cantik’ yang tak lain, Salsha, benar-benar membakar habis kesabarannya.



Mata hitam itu terlihat berkilat penuh amarah, bahkan Roy yang melihat pun menggigil ketakutan.


“Bagaiamana keadaannya sekarang?” tanyannya denan suara yang terdengar serak.


“Nona sempat sadar beberapa hari ini, Tuan. Tapi tepat setelah saya menginjakkan kaki di negara ini, Keadaan Nona kembali memburuk,” jawabnya dengan pelan namun, tegas.


“Aku harus membalasnya,” ucap Max terdengar serius.


Roy yang mendengar itu mengerjapkan mata. Sudah cukup ia melihat atasannya itu melakukan sesuatu karena dendam, kali ini, ia tidak ingin membuat atasannya menyesali keputusannya itu.


“Tuan, jika saya boleh memberi saran, ada baiknya Tuan melupakan semuanya. Lihatlah, bagaiamana Tuan saat melakukan pembalasan dendan dulu, apa Tuan merasa bahagia?” tuturnya serius.


“ ....”


“Sebaknya, anda ikhlaskan semua, jangan ulangi kesalahan yang sama. Kembalilah menjadi Tuan Max yang saya kenal, dan hiduplah bahagia bersama Nona Salsha,” lanjutnya dengan tangan yang menepuk bahu Max.


Max terlihat memikirkan semua yang di ucapkan Roy. Ya, semua benar. Dendam hanya memberinya sebuah penyesalan, bukan kepuasan. Mungkin, semua ini termasuk karma untuknya, dan ia harus menerimanya.


“Baiklah, tolong kau pindahkan Salsha ke negaranya, jangan biarkan dia mengetahui keberadaan Salsha,” perintahnya dengan serius.


Roy yang mendengar itu terdiam. Wajah tampannya terlihat sedikit berpikir dan menimbang. “Tuan, apa akan baik-baik saja membawa Nona saat kedaannya yang jauh dari kata baik-baik saja?”


__ADS_1


Max menoleh, menata penuh wajah Roy. “Ap maksudmu?”


“Nona sudah tidak bangun selama dua hari, Tuan. Dan saya khawatir, akan memperburuk keadaan Nona, saat kita melakuakan perjalanan jauh.”


Rahang Max terlihat mengeras, wajah yang sudah memerah karena hawa tubuhnya yang panas semakin terlihat memerah.


“Beri penawasan yang ketat, jangan biarakan siapa pun tahu identitas wanitaku itu!” Max berkata dengan nada tajam, mata hitamnya terlihat dingin, kilatan emosi terlihat jelas di sana.


***


Malam itu suasana meja makan terlihat mencekam. Damian berulang kali mengeraskan rahang, dan menatap para pelayan yang berjajar rapi di sisi ruangan dengan tajam. Sedangkan Ariana terlihat memasang wajah dingin.


“Sampai kapan kau akan seperti itu?” tanya Damian dengan nada tajam.


Ariana yang paham betul apa maksud ucapan Damian terlihat abai, wanita itu benar-benar tidak menganggap keberadaan Damian.



Damian yang melihat itu semakin geram, jari-jarinya terlihat mengepal, dan detik selanjutnya, suara patahan dengan darah yang memuncrat menjadi sebuah kejutan.


Prak!


Ariana yang hendak memasukan makanan ke mulutnya terkejut. Mata madu itu melebar, melihat jari-jari itu yang penuh dengan darah, bukan hanya itu, meja kayu licin itu terlihat berkilat dengan warna merah.



Para pelayan yang melihat itu dengan segera mengambil kotak obat, dan berlari menuju sang atasan, sedangkan si empu pemilik tangan terlihat bisa saja, seperti seorang yang tidak mengalami luka apa pun.


“Tuan, biarkan saya mengobat tangan anda.”


Damian yang mendegar suara bergetar dari belakang mengeraskan rahang. Bukan ini yang di inginkan,laki-laki itu mengharapkan perhatian dari Araiana, tapi apa yang ia lihat. Wanita itu hanya terlihat sedikit terkejut, dan selanjutnya terlihat bisa saja.


“Pergi!” ucapnya dengan dingin.


Semua orang yang melihat itu saling tatap, merasa bingung dengan maksud ucapan Damian, termasuk Ariana.



Ariana yang melihat sorot tajam yang tertuju untuknya mengedikkan bahu, tangan rampingnya mengambil segelas air, kemudian meneguknya dengan pelan.


__ADS_1


Damian masih setia menatap wnaita itu, saat melihat tangan yang berbalut perban dan leher jenjang milik sang istri yang bergerak naik turun, membuat sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan muncul. Ia bergairah, dan juga marah.


__ADS_2