Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
9. Bertemu


__ADS_3

Damian dengan cepat memasuki mobil. Mata laki-laki itu terlihat berkilat penuh amarah. Melihat jalanan yang sudah sangat sepi memunculkan beberapa praduga buruk.


“Ck, kenapa wanita itu bodoh sekali. Sekarang aku harus menacari kemana?” Damian mengusap wajah frustasi.


Tangan kananya mencoba meraih gawai, kemudian dengan cepat membukanya. Namun, kesialan seperti mengikutinya bertubi-tubi. Poselnya mati.


“Ck, Sia*an!”


Dengan penuh emosi, laki-laki menjalankan mobilnya, menuyusuri setiap sudut jalan, berharap mendapti sosok wanita bergaun biru.


Sepanjang jalan yang ia lewati, mata biru itu tidak pernah seklaipun berkedip. Seperti elang yang sedang mengintai mangsa.


Satu jam berlalu, dan ia tetap tidak mendapatkan apa pun, membuat laki-laki itu dilanda rasa takut. Bintang dan bulan yang terlihat berjajar rapi di atas tidak meringankan rasa khawatirnya.


Berbagai pemikiran buruk mulai terlintas, tapi satu hal yang membuat laki-laki itu bingung. Kenapa ia harus bersusah payah mencari wanita itu? bukankah bagus jika wanita itu lenyap tanpa ia bersusah payah untuk menyingkirkan.


Dengan senyum lebar, Damian memutuskan untuk kembali ke mansion. Senandung terdengar dari bibirnya, membuat siapa pun pasti akan merasa bingung dengan perbedaan raut wajahnya beberapa jam yang lalu.


***


“Tolong, tolong aku,” ucap wanita dengan pakaian rumah sakit dengan pelan.


Beberap pejalan yang melihatnya merasa iba, tapi tidak ada satu pun yang berani bergerak sekedar untuk memberikan pertolongan.


Wanita dengan rambut hitam legamnya itu terlihat tertunduk, wajahnya semakin pucat, terebih salju yang perlahan turun.


Bibirnya membiru, bahkan terlihat berdarah karena cuaca yang luar biasa dingin.


“Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya laki-laki dengan hodi berwarna hitam.


Wanat berambut hitam itu yang hampir putus asa tersenyum, sedikit mendongak guna melihat sosok penyelamatnya itu.


Terlihat sedikit kejutan di mata sipi itu, melihat wajah yang tidak asing lagi untuknya itu. “Alex.” Tepat setelah mengatakan itu, mata sipit itu terpejam bersamaan dengan hidung yang mencucurkan darah kental.

__ADS_1


Laki-laki yang di panggil Alex terkejut. Mata hitam itu terlihat tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan.


Niat hati datang ke negara tetangga untuk menyambangi mantan atasan malah dipertemukan dengan sosok yang ia tahu sudah meninggal.


Dengan sedikit gemetar, laki-laki itu membawa tubuh ringkih wanita itu, menggendongnya, dan berjalan ke arah mobil.


“Nona Salsha, sebenarnya apa yang terjadi?” tanyannya dengan raut wajah yang sulit di artikan.


Ingatan tentang bagaiaman Max menjadi laki-laki gila saat mengetahui kemataian wanita dalam dekapannya itu membuat ia mendesah panjang.


“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberitahu Tuan Max?” Alex, atau biasa kita panggil Roy itu bertanya dengan wajah yang bingung.


***


Damian dengan langkah lungali memasuki kamar. Aroma manis bercampur mint menjadi sambutan pertama yang ia dapatkan. Ingatan tentang keberadaan Ariana yang belum menentu itu sedikit mengusik ketenangannya. Namun, ia berusah dengan kuat menghempas jauh.


“Tidak, aku tidak boleh merasakan rasa seperti ini. Rasa ini hanya pantas aku berikan untuk Max,” ucapnya penuh penekanan.


Dengan wajah datar, laki-laki itu menaruh gawainya di atas nakas, mencolokkan charger, kemudian menyambungkannya di gawai.


Laki-laki dengan tubuh kekar itu berjalan santai, melepas seluruh pakaian yang melekat indah di tubuhnya. Beberapa saat kemudian terlihat jelas tubuh kekar dengan satu luka dengan bentuk melinatng di pundaknya.


Guyuran air hangat mulai merayap, memebelai manja tubuh itu, membuat siapa pun manusia yang melihatnya merasa iri.


Damian mendongak, membiarkan air hangat membasuh wajahnya yang terlihat sangat lelah. Beberapa menit kemudian, laki-laki itu terlihat meraup wajahnya saat air ingin memasuki hidung mancungnya.


Dengan masih menutup mata, Damian mencoba menikmati aliran air hangat itu. Berbagai gambaran mulai terlintas di otaknya. Max yang malu-malu, Max yang bersikap manja, hingga Max yang terlihat lebih dingin dan menjauhinya.


“Arghhh.” Damian menjerit, laki-laki itu menarik rambutnya kuat dengan kepala yang sudah menunduk.


Amarah kembali memberontak ingin dikeluarkan ketika perkataan Max tempo lalu terdengar jelas di telinganya.


“Sia*an. Tidak akan aku biarkan!” Damian menggertakkan gigi. Mata biru itu terlihat berkilat penuh obsesi, obsesi untuk memilki Max, hanya untuknya.

__ADS_1


Dengan rahang yang mengeras, sosok itu berjalan meninggalkan pemandian, meraih handuk yang berada di kotak atas, melilitkan ke pinggang, dan keluar dari ruangan, menuju ruangan yang berada di sebelah kananya, ruang ganti.


Beberapa menit kemudian, Damian keluar dengan tubuh yang sudah berbalut piama hitam. Mata laki-laki itu terlihat lebih dingin.


Berjalan ke arah nakas, tangan kekarnya meraih gawai, kemudian menyelakannya. Menunggu beberapa detik, terdengar jelas beberapa notifikasi masuk, hingga matanya terhenti saat melihat nama ‘istri bar-bar’ di sana.


Tanpa membuang waktu, jari jempol itu membuka pesan singkat yang tertulis di sana. Amarah yang terlihat sedikit redam perlahan mencuat, saat matanya membaca barisan kata yang tertulis di dalam sana.


For Damian


Aku tidak pulag. Aku bersama kekasihku!”


Dengan tangan mengepal, laki-laki itu memutuskan untuk melakukan panggilan. Beberapa detik hanya terdengar nada dering, kemudian suara operator yang mengatakan panggilan sedang di uar jangkauan.


“Breng*ek! Bagaiamana bisa wanita itu se enaknya bertindak. Mungkin aku terlalu lembek. Awas saja, akan aku beri perhitungan untunya nanti,” Damian berucap dengan nada tegas, kilatan penuh emosi terlihat jelas di sana, membuat hawa sekitarnya berubah dingin dan mencekam.


***


“Kau yakin tidak pulang?” Ricard bertanya dengan pelan. Sudut matanya terlihat mengawasi polah sang kekasih yang terlihat bergelung manja di bawah selimut.


“Hmm, aku yakin. Untuk apa aku pulang? Kau tahu sayang, Si Gay itu benar-benar baji*ngan! Untuk aku memilikimu, kalau tidak, mungkin hidupku akan mengenaskan,” Ariana berucap dengan pelan, sudut mata wanita itu sedikit berair, mengingat stautusnya yang sudah tidak lagi single.


Ricard yang melihat kesedihan di mata sang kekasih berdiri, berjalan perlahan untuk memberikan sebuah dekapan.


Grep!


“Kau tenang saja, aku akan selalu bersamamu,” ucapnya pelan dengan memberikan beberapa kecupan basah di kening sang wanita.


Ariana yang mendengar itu tersenyum lembut, meskipun sudut hatinya berteriak mengatakan jika apa yang mereka lakukan salah. Membalikkan tubuh agar menghadap sang kekasih, tangan ramping Ariana bermain di rahang tegas itu.


“Terimakasih. Apa kau masih menerima jandaku?” Ariana mendongak, menatap Ricard yag terlihat menutup mata, menikmati elusan yang diberikan di wajahnya.


Ricard yang mendengar pertanyaan itu dengan cepat membuka mata. “Bahkan, aku akan menunggumu sampai kapan pun. Kau tahu, aku benar-benar mencintaimu. Hanya kau, maka aku tidak akan menyerah hanya karena pernikahan yang tidak kau inginkan. Berbeda lagi, kalau kau meginginkan pernikahan itu, aku akan mencoba merelakanmu, meski pun itu terlihat sangat mustahil.” Ricard mengecup tangan Ariana.

__ADS_1


Ariana yang mendengar pernyataan Ricard tertegun. Mata madunya berembun, merasa bahagia memilki laki-laki seperti Ricard. Tanpa banyak kata, wanita itu bangkit, memperangkap tubuh Ricard dengan tubuh rampingnya, kemudian membubuhkan ciuman panjang di bibir sang kekasih.


Ricard yang mendapat serangan tiba-tiba itu terkejut, tapi tak urung ikut membalasnya, bahkan lebih dominan, dan sedikit kasar.


__ADS_2