
Damian menatap dua manusia yang terlihat berbicara serius. Tangan kekarnya mengepal, memerlihatkan otot otot biruya yang menonjol. Tanpa menunggu lama, segera ia berjalan dengan membawa aura yang mematikan.
“Apa aku sedang melihat sebuah perselingkuhan?” tanyanya dengan sarkas membuat dua manusia yang terlihat serius itu terlonjak kaget.
Arthur yang menyadari kehadiran Damian hanya terkekeh sinis, tatapan mata abu itu seakan menunjukan jika ia sudah selangkah lebih maju dari laki-laki bernetra biru itu, sedangkan Damian yang melhat itu mengepalkan tangan kuat.
“Apa maksudmu?” tanya Ariana menatap malas Damian.
Damian yang mendengar pertanyaan dari Ariana semakin mengepalkan tangan, jangan lupkana rahangnya yang sudah mengeras.
“Kembali ke kamar!” perintahnya dengan nada dingin.
Ariana hanya menatap datar Damian, kemudian decihan pelan terdengar membuat Damian dan Arthur menatapnya serempak, tapi wanita itu hanya abai, kemudian melenggang pergi meninggalkan kedua pria yang terlihat sedang bersitegang.
“Sudah aku katakan, jangan pernah mendekati milikku,” tekan Damian saat melihat Ariana sudah jauh di sana.
Arthur yang mendengar perkataan Damian hanya terkekeh, asisten itu seakan lupa dengan statusnya.
“Hmm, jangan menjadi manusia tamak. Kau tahu, ketamkan hanya akan menghasilkan kerugian. Pilihlah alah satu, maka kau akan mendapatkan kebahagiaan,” jawab Arthur santai.
Damian yang melihat itu semakin meradang. Sudah ia tekankan berkali-kali, jika Max miliknya begitu pula dengan Ariana. Siapa pun yang mengusik keputusannya jangan harap bisa membuka mata.
“kau lupa posisimu Arthur,” ucapnya dengan nada geram.
Arthur yang melihat kemarahan Damian mengangkat sebelah bibir, menatap Damian remeh.
“Oh, ya? aku mengingat jelas statusku, maka dari itu, aku berusaha mengingatkanmu, sebelum kau menyesal!” ucapnya sinis.
Tanpa dapat dicegah, tangan Damian meraih kerah leher Arthur, membuat laki-laki itu dengan terpaksa bangun, karena tarikan kuat dan seretan yang diberkan Damian.
“Kau jangan pernah ikut campur masalahku, tugasmu hanya menjalankan perintahku, karena kau asistenku!” ucapnya tepat di depan wajah Arthur.
Arthur terkekeh sinis. “Ya, itu tugasku sebagai asisten, tapi kau lupa aku juga memiliki tugas sebagi sahabatmu, yaitu mengingatkan saat kau mulai salah jalan,” jawabnya santai.
Damian semakin mencengkar kerah Arthur. Membuat wajah laki-laki itu memerah karena tercekik, tapi tidak ada rintihan yang keluar dari mulutnya. Laki-laki itu terlihat tidak memiliki rasa sakit.
__ADS_1
“Kau memang sahabatku, tapi kau tiak punya hak untuk mencampuri urusanku!” taknnya lagi.
“Ya, aku tidak memiliki hak untuk itu, tapi aku memilki hak unuk menyelamatkan orang yang aku cintai,” ucapnya dengan wajah yang menyeringai.
Bugh!
Damian memukul kuat wajah Arthur, membat laki-laki berbadan besar itu terpelanting kebelakang dengan menabrak meja, membuat benda-benda di atasnya berhambur dan menimbulkan suara nyaring.
“Harusnya kau tidak perlu marah,” ucap Arthur dengan berusah bangkit. Jari-jarinya menyapu bersih jas hitamnya seakan memberisihkan dari kuman.
“Apa maksudmu? Apa salah jika seorang suami marah saat melihat ada laki-laki lain yang terang-terangan menyukai Istrinya?”
“Ya, tida ada yang salah. Salahnya hanya satu, suaminya itu kau!” ucapnya santai dengan tubuh yang sudah tegak. Hidung mancung itu memerah dengan sedikit mengeluarkan darah, karena kuatnya pukulan yang di berikan Damian.
“Sialan! Jangan memancing emosiku lebih dari ini!” Damian memicing tajam.
“Ha ha ha ha kau memang selalu seperti ini. Marah tanpa mau berpikir kesalahanmu! Kau mengatakan seorang suami, tapi kau juga memiliki hubungan dengan orang lain, dan gilanya orang lain itu juga laki-laki. Harusnya kau pergi ke psikolog, tanyakan tentang jati dirimu sebenarnya,” jelasnya yang kali ini tidak setenang tadi.
“Aku normal!” tekan Damian.
“Hanya orang gila yang mengatakan normal, saat dia menyukai laki-aki dan permpuan secara bersaman. Kau gay, ataua laki-laki sejati, atau biseksual?” tanyanya dengan sedkit ngegas. Mungkin laki-laki itu sudah muak dengan tingkah gila dan aneh Damian.
“Kau memang benar-benar bodoh!” umpat Arthur akhirnya. Laki-laki itu sudah tidak peduli jika Damian memecatnya atau pun membunuhnya.
“Kau__”
“Apa? kau tidak terima! Kalau kau tidak terima, harusnya kau lebih pintar lagi!” selanya sinis.
Damian yang hendak mengeluarkn kalimat terhenti saat merasakan gawainya bergetar. Mata birunya menyipit saat mengetahui siapa yang menghubunginya malam-malam seperti ini.
“Hmm,”
“Tuan, kami sudah menemukan keberadaan wanita itu.”
Mata Damian melebar, sedetik kemudian seringai jahat muncul di wajahnya.
__ADS_1
“Bunuh sekarang juga!” perintahnya tegas.
Tut!
Arthur yang mendengar perkataan Damian membelalakan mata. “Kau gila!” teriaknya tepat saat Damian memasukan gawai ke dalam saku.
Damian menatap Arthur sebentar, kemudain mengedikkan bahu seakan mengabaikan ketidak percayaan arthur.
“Damian, jangan lakukan itu! kau jangan gila!” ucapnya lagi.
Damian tetap abai, laki-laki itu berjalan menaiki tangga untuk mengistirahatkan tubuhnya, sedangkan Arthur masih kekeh mengejarnya namun, peringatan Damian benar-benar membuat tubuhnya menegang.
“Berhenti di sana, atau kau akan tahu akibatnya. Ingat, nyawa dia masih dalam jangkauanku!” tekan Damian.
Arthur mengetatkan rahang. Ya, selalu itu ancamannya. Dengan membuang nafas kasar, ia melenggang pergi, membawa emosi yang membumbung tinggi.
“Aku harap kau menyesali keputusanmu itu, “ gumamnya.
***
Max menatap layar CCTV dengan mata yang berkac-kaca. Jari-jarinya dengan gemetar mengusap layar itu dengan pelan, seakan mengusap wajah wanita cantik dengan tubuh kurus yang setia memejamkna mata itu penuh cinta.
“Maafkan aku,” ucapnya pilu.
Ingatan tentang ia yang menyerahkan Wanita yang tak lain Salsha di tangan Damian membuat ia benar-benar menyesal. Andaikan ia tetap bersikukuh untuk merawat wanitanya sendiri, mungkin semua ini tidak terjadi.
Andaiakan ia tetap menjadi laki-laki kuat, dan tidak lemah saat berhadapan dengan Damian. Andaiakan ia tidak terbawa dendam, dan banyak kata andiakan lagi yang ia ucapkan di hati.
“Hiks, hiks,” tangisnya pilu saat melihat betapa memprihatinkannya tubuh sang wanita. “Maafkan aku, semua ini karena aku, hiks, hiks,” ujarnya dengan tangisan yang semakin kuat.
Kamarnya yang sunyi membuat tangisannya terdengar nyaring. Mata hitam itu sedikit berkilat saat menyadari ada keanehan video CCTV yang sedang ia tonton. Dengan cepat, mata hitam yang memerah itu terlihat menajam.
Sauara gaduh terdengar jelas di sana, membuat tangannya mengepal. Rasa cemas membumbung tinggi, saat ia melihat beberapa penjaga yang ia tugaskan di depan ruang rawat sang wanita tiba-tiba tergeletak dengan darah yang bercucur ke mana-mana.
“Sialan! Roy!” teriaknya dengan menggelegar.
__ADS_1
Hening, tidak ada sahutan sama sekali. Mata hitam itu terlihat sangat gusar, terlebih saat melihat satu pria dengan wajah yang ditutup masker tampak membawa suntikan yang berisi cairan berwarna merah.
Dengan cepat, ia mencoba bangkit, meskipun dengan sedikit tertatih. “Sialan! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian jika terjadi sesuatu dengan wanitaku!” ucapnya penuh dendam dengan kaki yang sudah melangah keluar.