Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
15. Nona Cantik


__ADS_3

Damian terlihat menatap sosok Ariana yang terlelap. Wajah yang biasanya terlihat cantik itu penuh lebam dan terlihat menyedihkan. Rasa bersalah kian mencuat saat netranya menatap kening mulus itu yang beberapa kali mengkerut, terlebih keringat dingin yang membasahi seluruh tubuh ramping itu.


“Apa kau mengalami mimpi buruk?” tanyannya lembut dengan tangan yang senantiasa mengelap keringat yang terlihat tak henti keluar dari pori-pori putih itu.


Hening, hanya terdengar suara angin dari pintu balkon yag terbuka. Matahari sudah berjalan jauh di sana, bahkan senja sudah menghiasi angkasa.



Damian hanya terkekeh miris saat mengingat kelakuan biada\*nya. Bagaiaana bisa ia bersikap seperti itu. bahkan, ia juga mulai penasaran apa yang menyebabkannya bertindak gegabah, sampai-sampai rela memberikan keperjakaanya untuk wanita yang terkulai lemas ini.



Semakin ia berpikir, semakin susah juga ia mencari jawabannya. Satu kesimpulan muncul di otaknya yang memilki IQ di atas rata-rata.



Ia jatuh cinta dengan sosok Ariana? Tapi hal itu tidak mungkn, ia yakin seratus persen, cintanya hanya untuk Max, dan hal itu tidak bisa ia pungkiri.



Apa ia bersikap seperti itu hanya karena merasa terkhianati? Lantas kenapa kita harus merasa terkhianati jika kita tidak memilki perasaan apa pun?



Cih, semakin banyak pertanyaan muncul di otaknya, hanya satu jawaban yang bisa ia berikan. Suka atau cinta? Tapi ia tidak mau mengakui semua itu.


“Arghh, mungkin aku hanya terlalu kalut,” ucapnya dengan tangan yang sudah menjauh dari wajah Ariana. Tangan itu menyugar rambut yang terlihat sedikit acak-acakan.


Lagi-lagi mata biru itu tidak bisa terlepas dari lekuk tubuh wanita di depanya itu yang hanya tertutup selimut tipis. Bayangan bagaiamana bentuk tubuh di balik selimut itu membuat tubuhnya panas, tapi ingatan tentang hasil dari kekejamannya beberapa jam yang lalu membuat sudut hatinya berdenyut sakit.


“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya tidak percaya dengan respon tubuhnya yang diluar dari kebiasaan.


Sejauh apa pun ia marah, ia yakin tidak akan pernah bertindak seperti ini. Jika ia melihat sosok wnaita murahan, maka ia selalu menghabisi wanita itu tanpa mau megotori tangannya sendiri.



Tapi apa ini? kenapa ia harus repot-repot menghajarnya sendiri, bakan memberikan sesuatu yang selama ini ia jaga?


“Arghhh.” Daian menggertakkan gigi, mata biru itu terlihat tertutup dengan tangan yang mengepal di kedua sisi kepalanya.


Damian segera beranjak pergi, meninggalkan kamar mewah itu yang di isi Ariana sendiri. Semakin lama ia berada di sana, semakin banyak muncul pertanyaan dengan jawaban yang tidak bisa diterima akalnya.


***

__ADS_1


Arthur terlihat menyerahkan map berwarna hitam, sedangkan Damian hanya menatap map yang sudah terjulur itu dengan datar.


“Kenapa?” tanyanya dengan nada datar.


Arthur yang menyadari suasana hati sang atasan sedang tidak baik-baik saja dengan cepat menarik kembali map yang bera di tangannya. Sedikit terlihat kegugupan di sana namun, ia dengan cepat mencoba memasang wajah datar.


“Maaf Tuan. Sesuai dengan permintaan anda, semua ini data pribadi Ricard Coln,” jelas Arthur dnegan tatapan yang terlihat lurus ke depan.


Damian yang mendengar nama kekasih Ariana menyeringai. Ia hampir lupa jika memberika perintah untuk mencari segala sesuatu yang bersangkutan dengan laki-laki itu. Satu langkah untuk menghancurkannya.


“Bagus, letakkan di sana.” Damian menunjuk meja yang berada di sebrangnya yang langsung dituruti Arthur.


“Kalau begitu, saya pamit undur diri, Tuan.” Arthur membungkukkan tubuh yang di balas dengan anggukan.


Ruang kerja itu terlihat sepi. Hanya tertinggal Damian dengan segelas alkhol di tangan kananya.



Mata birunya terlihat menerawang jauh di sana. Satu permasalahn telah ia selesaikan namun, ada masalah paling besar yang harus ia hadapi.



Pertama, sikap dan psikis Ariana. Ia tidak ingin, perbuatannya membuat wanita itu semakin jauh, terlebih memilki trauma tersendiri untuknya. Sedangkan, sekarang ia mulai merasa gelisah saat berjauhan dengan wanita itu.


Drt ... Drt ... Drt ...


Getaran gawai di ujung meja membuat ia tersadar, dengan cepat laki-laki itu beranjak untuk melihat siapa gerangan yang berani menggangunya itu. Tapi nama laki-laki yang ia tugaskan untuk mejaga seseorang yang berarti dalam hidupnya membuat ia sedikit mengerutkan kening.


Bukan karena rasa penasaran, tapi karena ia baru sadar, jika dari semalam, tidak pernah terlintas sekalipun nama Max dalam otaknya. Pikirannya hanya terisi oleh Ariana, Ariana, dan Ariana.


“Halo,”


“Halo, Tuan. Saya ingin memberi kabar jika Tuan Max tengah sakit saat ini.”


Deg!


Damian dengan cepat bangkit. Jantungnya berdetak dengan cepat, ia merasa menyesal telah mengabaiakan Max, dan terlalu sibuk dengan Ariana.


“Aku akan ke sana,” ucapya dengan tegas, tepat setelah mengatakan itu, laki-laki itu mematikan panggilan, kemudian beranjak pergi meninggalkan mansion menuju garasi mobil.


***


“Kau.” Max mentap tidak percaya sosok yang berdiri di tengah-tengah pintu.

__ADS_1


Sedangkan Roy tak kalah tercengang juga. Laki-laki itu bahkan sudah menepuk keningnya.


“Kenapa? Apa kakak lupa kalau masih memiliki Adik?”


“Deren,” panggil Max pelan, bahkan laki-laki itu masih mematung, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.


Laki-laki kecil yang bernama Deren itu terlihat mencebikkan bibir, merasa kesal dengan tingkah sang kakak.


“Ck, kenapa aku harus memilki Kakak sepertimu,” grutunya dengan kaki yang sudah melangkah mendekat.


Max yang sudah yakin jika semua yang ia lihat nyata megalihkan pandangan, matanya menatap Roy dengan tajam, seakan meminta penjelasan.


Roy dengan gugup mulai menjelaskan. “Maafkan saya Tuan, tapi Tuan muda yang memaksa untuk ikut. Tuan muda mengatakan jika merindukan Tuan.”


Daren yang mendengar itu menganggukkan kepala, merasa apa yang dikatakan Roy benar adanya.



Sedangkan Max yang mendengar itu mendengus, merasa kesal dengan kedatangan mereka yang sangat tiba-tiba itu. terlebih kedatangan sang adik yang ia yakin akan membuat hari-harinya semakin rusuh.


“Kenapa Kakak memasang wajah seperti itu.” Daren menatap sinis Max.


Max yang mendengar pertanyaan itu memutar mata malas. Hay, dia sedang skait, dan dia butuh ketenangan, bukan malah mendengar segala ocehan tak bermutu Daren.


“Ck, kau dasar bocil,” Sungutnya kesal.


Daren yang mendapatkan panggilan menggelikan itu melebarkan mata tidak terima, bahkan kedua tangannya sudah bertenggar manis di kedua pinggang dengan tatapan yang sangat menggelikan.


“Jangan panggil aku Bocill, Kak. Apa Kakak tidak tahu, Daren ini sudah punya banyak mantan,” jlasnya dengan nada bangga.


Sedangkan kedua pria dewasa di sana yang mendengar ucapan Daren membelalakkan mata, merasa terkejut dengan perkataan anak kecil itu.


“Hay, siapa yang mengajarimu memilki banyak mantan? Dan apa kau tahu apa itu matan?” Max menatap serius Daren.


“Ck, hanya orang bodoh yang tidak tahu mantan. Mantan itu ada karena dua orang yang sudah menjalin kasih bersama, kemudian memutuskan untuk berpisah.” Daren menatap remeh Max, merasa kakaknya itu tidak tahu, bahkan tidak memilki mantan sama sekali.


“Eh? Kau belajar dari mana? jangan pernah berani-beraninya bocah sepertimu bermain-main. Belajarlah yang rajin, jangan pernah melakukan hal-hal yang di luar batas anak seusiamu.” Max menatap serius Daren.


Daren yang meliat itu mencebikkan bibir. “Labih baik aku tidak ke sini. Mungkin di apart bersama Kakak cantik lebih baik, dibanding bersama Kak Max yang tidak ada manis-manisnya ini.”



Max mengangkat sebelah alisnya, merasa bingung dengan sebutan nona cantik, sedangkan Roy merasa sekujur tubuhnya kaku.

__ADS_1


“Nona cantik?” tanyanya Max bingung, sedangkan Daren yang paham ketidak tahuan sang Kakak terlihat bersemangat untuk menjelaskan siapa kakak cantik itu.


__ADS_2