
Malam ini dunia digemparkan dengan berita pernikahan seoarang model cantik, dengan bujang terkaya, dan paling diminati semua orang. Beberapa wanita yang melihat acara mereka lewat media menangis, tak jarang pula mereka serempak membuat status galau di sosmednya.
Sedangkan para lelaki yang melihat pernikahan itu harus menelan kekecewaannya. Melihat dewi aprodet berwujud manusia, kini telah resmi menyandang status istri dari pengusaha yang terkenal bengis.
Di sisi lain, terdapat seorang lelaki dengan mata yang terlihat memerah dan tangan mengepal maju ke atas, untuk megucapkan selamat.
Damian yang sedari tadi diam merasa aneh dengan sosok itu. Tetap memasang wajah datar, terlebih tatapan laki-laki itu tak lepas dari Ariana, wanita yang menyandang status sebagi istrinya itu.
“Selamat atas pernikahanmu.”
Perkataan dengan nada datar, namun penuh makna tersimpan itu membuat mata Damian menatap tajam, terlebih laki-laki itu hanya mengucapkan kata selamat untuk Ariana.
Ariana yang melihat itu tanpa ragu menjabat tangan, kemudian membawa tangan itu lebih mendekat, hingga tubuh mereka menempel dengan sempurna, dengan tangan ramping nan putih itu yang melingkar indah di pinggang sang lelaki.
“Terimaksih, Ricard. Aku tahu ini sangat menyakitkan, tapi yakinlah, semua akan baik-baik saja.” Arian berbisik dengan pelan, bisikan yang masih mampu didengar oleh Damian.
Damian yang mendengar itu merasa tidak terima, bagaiamana bisa, ia melihat perselingkuhan Istrinya tepat di depan mata. Dia, seorang laki-laki dengan sejuta pesona mendapat penghinaan tepat di depan mata. Terlebih saat ini, banyak pasang mata yang menatapnya penuh curiga dan rasa iba. Hal itu sangat menjengkelkan.
“Ekhm, sampai kapan kalian akan seperti ini. Ingat ini pesta pernikahan kita, jangan sampai mereka menganggap kau sebagai wanita murahan.” Damian mendesis tajam. Mata laki-laki itu menyorot dua pasangan yang menurutnya sangat tidak tahu malu itu dengan tajam.
Sedangkan Ariana terlihat abai, wanita itu dengan santai melepaskan pelukannya dan menatap Damian polos.
“Oh, maaf, aku lupa kalau ini pernikahan kita,” jawab Ariana dengan nada datar.
Damian yang mendengar itu menggeram marah. Wanita di depannya terliaht sangat suka memancing emosinya. Andai saja tidak didepan umum, sudah pasti akan ia hancurkan wajah wanita itu.
Ricard yang melihat tatapan tidak bersahabat dari dua pengantin baru itu menyunggingkan senyum tips. Wajah tampan itu terlihat lega.
“Ariana, aku percaya, kau tidak akan pernah menghianatiku.” Ricard berucap dengan serius, bahkan laki-laki itu mengabaikan tatapan Damian yang terlihat melotot tidak percaya.
__ADS_1
Sedangkan Ariana terlihat tersenyum penuh haru, kemudaian menganggukkan kepala. “Kau tidak perlu takut. Percyalah padaku.”
Damian yang merasa gerah segera berdahem. “Sepertinya, kau bia pergi meninggalkan tempat ini. Lihatlah, banyak orang yang sudah mengantri.”
Ricard yang mendengar nada tidak suka dari Damian hanya memasang wajah datar, kemudian tersenyum sebenatr, dan pergi menunggalkan pelaminan.
Beberapa kali, mata biru itu terlihat kesal, melirik kesana sini, seakan mencari sesuatu. Ariana yang menyadari gerak gerik aneh dari sang suami mengangkat bahu acuh. Merasa tidak perduli.
“Ekhm, sepertinya aku harus ke kamar mandi.” Damian berucap dengan pelan, mata biru itu terlihat menatap sesuatu, bahkan tatapan itu seakan tidak ngin terlepas dari sana.
Araiana yang mendengar hanya mengangguk. Wanita itu merasa kehadiran Damian juga tidak terlalu penting, kecuali untuk formalitas.
Damian dengan segera berlari menuju toilet pria. Beberapa detik menunggu di depan toilet, akhirnya pintu itu terbuka, memperlihatkan Max dengan wajah yang memerah seperti habis menangis.
“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada lembut,
Max yang mendengar pertanyaan itu menundukkan kepala, kemudian buliran air mata mulai terjatuh, membasahi tangan Damian yang masih bertenggar manis di bahunya.
“Kau menangis?”
Bukan jawaban yang diberikan oleh Max, tapi suara tangsi yang semakin membuat Damian kalang kabut.
“Hay, jangan menangis. Bukankah sudah aku bilang, apa pun yang terjadi aku akan selalu bersamamu.” Damian mengelus pundak sang kekasih, berharap sang kekasih tenang, dan menghentikan tangisannya.
“Istrimu cantik sekali, dan aku takut kau akan berpaling, kemudian meninggalkanku.” Max mendongak, mata hitamnya memerah, menatap Damian dengan tatapan yang terihat sangat lucu.
Damian yang mendengar peuturan itu terkekeh pelan, tangannya mengelus surai hitam itu dengan gemas.
“Dengarkan aku, secantik apa pun Ariana, aku tidak kan tertarik. Hanya kau, hanya kau yang aku sayang.” Tepat setelah megatakan itu Damian merengkuh tubuh kekar Max, membuat mereka berbagi kehangatan.
__ADS_1
Prang!
Pelukan itu dengan cepat terlepas, mata biru dan hitam itu terlihat terkejut, terlebih saat melihat dua manusia dengan gender berbeda terlihat menutup mulut.
“ya ampun, bagaiamana bisa aku memilki suami gay?” Arian berteriak dengan kencang, mata madunya menatap jijik dua manusia yang masih berdempetan itu.
Sedangkan Ricard tak kalah terkejut. Rasa cemburu akibat melihat kekasihnya yang menikah kini tergantikan dengan rasa takut. Sumpah demi apa pun, laki-laki itu paling takut dengan manusia sejenis gay, dan lesbi.
Damian terlihat gelagapan, sedangkan Max sudah menundukan kepala lagi. Laki-laki bernetra biru itu membuang nafas, kemudian berjalan mendekat ke arah sang istri.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya palan.
Ariana yang mendengar pertanyaan itu terkekeh. “Seharusnya akau yang bertanya, apa yang dilakukan pengantin pria, hampir satu jam di kamar mandi, ternyata, eh ternayata, pengantin pria sedang memadu kasih dengan kekasihnya, terlebih kekasihnya sama-sama berbatang.” Tatapan cemooh itu terlihat jelas di manik madunya.
Damian yang mendengar itu mengepalkan tangan, merasa tidak terima dengan ucapan itu. “Tutup mulutmu!” desisnya dengan nada tajam.
Ariana yang mendengar itu tertawa. Mungkin orang lain yang melihat itu akan ketakutan, tapi tidak untuk gadis bernetra madu itu.
“Ck, ck, ck. Aku tidak menyangka, orang sepertimu ternyata , hmmmm.” Araian menyentuh dagunya, kemudian menggeleng merasa takjup dengan fakta yang baru diketahui itu.
“Sayang, sebaiknya kita kembali,” Ricard berucap dengan pelan. Laki-laki itu juga merasa tercengang saat tahu siapa pasangan gay dari Damian.
“Ah, betul sekali. Lebih baik aku langsung pergi ke hotel, toh tinggal kolega Papa.” Ariana mengangguk, menyetujui ucupan Ricard. Mata madu itu terlihat enggan bersitatap dengan dua manusia yang menurutnya sangat aneh itu.
Ricard dengan pelan menggandeng tangan Ariana, membawa kekasihnya untuk pergi meningglkan ruangan yang menurutnya sangat menyeramkan itu. Namun, sebelum ia benar-benar keluar, netra hitamnya bersitatap dengan netra Max. Tatapan mereka seperti terkunci, kemudian dengan cepat Ricard membuang muka.
Damian yang melihat kepergian mereka berdua merasa kesal. Entah kenapa ada rasa tidak rela saat melihat Araiana pergi bersama dengan pria lain? Apa ia tidak rela, laki-laki setampan Ricard menyukai Ariana?
“Damian, sepertinya kita harus putus.”
Deg!
__ADS_1
Damian menatap Max tidak percaya. Netra biru itu terlihat kosong, tapi di balik kekosongan itu, Max paham betul jika di sana menyimpan kemarahan besar.