
Damian memasuki kamarnya dengan wajah yang penuh binar. Satu halangan sudah ia singkirkan, dan ia sedikit merasa lega.
Ceklek!
Mata biru itu menatap sosok wanita dengan pakaian tidur yang amat tipis dengan tercekat. Tubuh yang tadi terasa biasa saja tiba-tiba panas, jakunnya naik turun, dan ia menyadari, ada sesautu yang berubah dari dirinya itu.
“Sial! Apa yang terjadi,” ucapnya kesal saat menayadri bagian bawahnya terasa sesak.
Tanpa menunggu lama, segera ia memasuki kamar mandi untuk menjrenihkan otak. Membuka pakaian dengan kasar, dan mata biru itu terlihat melebar.
“Bagaiaman kau bisa berdiri?” tanyanya kesal.
Ya, senjatanya tanpa bisa di halau berdiri dengan tegak, bahkan ia mulai bingung bagaiamana untuk menindurkannya. Seumur-umur, ia tidak pernah merasakan hal seperti ini, kecuali\_\_
“Kenapa kau selalu berdiri saat melihat Ariana?” tanyanya dengan tajam.
Sedikit rasa tidak suka melihat perubaha tubuhnya. Ia tidak suka mencintai atau menyukai sesuatu yang terlihat sulit ia jangkau.
“Ariana terlalu kasar, dan ia bukanlah tipeku, tipeku itu tepat seperti Max,” ujarnya meyakinkan.
“Tapi, aku juga tidak bisa kehilangan wanita itu, terlebih dia sudah ku renggut paksa kesuciannya,” lanjutnya dengan sendu.
***
Max berlari dengan tertatih, mata hitam itu tanpa bisa di cegah mengeluarkan air mata. Tangannya semakin terkepal saat menyadari keadaan luar yang sangat dingin dengan tumpukan salju yang sedikit menggunung.
Mata hitamnya terhenti tepat di depan mobil hitam yang selalu ia pakai kemana pun. Tanpa menunggu lama, segera ia buka dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Matanya sekali-kali menatap layar gawai yang memperlihatkan CCTV tempat wanitanya tinggal. Tangannya semakin terkepal saat menyadari kegadauhan yang semakin mencekam di sana.
Pertarungan yang menghasilkan darah-darah yang bercecer di sana, membuat jiwa jahatnya yang lama terpendam dengan cepat mencuat.
“Akan ku lenyapkan kalian semua jika terjadi sesutu dengan wnaitaku!” ucapnya dengan tajam.
Tepat setelah mengatakan itu, laju mobilnya semakin kencang, bahkan lampu merah pun ia terjang, membuat beberapa mobil polisi mulai mengejarnya d belakang.
Tapi rasa marah dan khawatir benar-benar sudah melingkupi perasaanya. Mengabaikan bunyi siren, ia semakin mengencangkan cengkraman tangan pada setir, menatap dingin truk besar yang berjalan cepat di depannya.
Klakson mobl bercampur dengan siren polisi benar-benar membuat jalanan yang harsunya sepi itu ramai seketika. Teriakan beberapa orang yang menyuruhnya berhenti benar-benar tidak memberi efek apa pun. Mobilnya tetap melaju, bahkan saat truk besar itu hanya berjarak beberap meter darinya.
__ADS_1
Ckitttt! Tiinnnn! Brak!
Saura ban mobil yang saling bergesekan di sertai klakson panjang membuat mereka semua yang berda di sekitar area menjerit, bahkan mobil polisi pun ikut terhenti.
Max dengan lihai membanting setir, kemudian membelokkan mobilnya berlawanan arah, membuat truk itu menghantam pembatas jalan dan menyebabkan beberap mobil di belaknganya saling bertabrakan.
Max dengan santai tetap melanjutkan laju mobil. Bahkan tak ada niatan sedikit pun untuk melihat hal mengerikan yang di sebabkan olehnya itu.
Satu jam berlalu, mata hitam itu terlihat dingin, dengan rahang yang mengeras. Membanting pintu dengan keras, kemudain berlari dengan mata yang tanpa bisa di ajak kompromi mengeluarkan air mata.
Gedebugh! Brak! Dugh!
Suara rusuh itu semakin memacu langkah kakinya, matanya memerah hebat saat melihat genangan darah yang bersal dari bawahannya yang mendapat tugas menjaga sang wanita.
Bruk!
Tubuh Max terhuyung ke belakanag saat tiba-tiba pria dengan pakaian serba hitam dan wajah yang ditutup menabraknya. Matanya memicing tajam saat melihat seringai dari mata pria itu.
“Sialan! Jangan lari,” ucapnya dengan keras saat pria itu berlari dengan cepat menghindari kejarannya.
Bruk!
Max dengan cepat menendang tepat punggung pria itu, dan membuanya terjerambat ke depan. Max tanpa basa-basi memeberikan tendangan kuat di tubuh sang lawan, membuat lawannya dengan cepat mencoba menghindar.
Saat pria berbaju hitam itu bangkit dan memberikan balasan, Max degan cepat menghindar. Tangan laki-laki itu berusaha meraih penutup wajah lawannya namun, lawannya kali ini terlihat sangat gesit.
Namun, bukan Max jika ia bisa kalah, dengan lincah, tangan kekarnya mengunci pergerakan lawannya, membuat kedua tangan lawanya itu terikat dengan satu kuncian di belakang, dan kaki yang sudah ia buat tertekuk.
“Katakan, siapa yang menyuruhmu?” tanyanya tajam tepat di telinga laki-lkai itu.
Namun, laki-laki itu hanya terkekeh, Max yang sudah tidak sabar ingin langsung menarik penutup wajah lawannya namun, teriakan dengan suara keras dari dalam membuat gerakaannya terhenti.
“Tuan, Nona Salsha.”
Deg!
Max tertegun, tangannya seakan berhenti di udara denagn jantung yang berdegup kencang. Pria itu yang menyadari adanya celah dengan cepat memberikan sodokan tepat di perut Max, membuat laki-laki itu terhuyung ke belakang dengan satu tangan yang masih memegang leher pria itu.
Bruk!
__ADS_1
Ahirnya mereka sama-sama terjatuh dengan posisi Max yang berda di bawah. Pria itu terlihat mencoba menutupi sebagaian wajahnya dengan satu tangan, sedangkan tangan lainnya ia gunakan untuk terlepas dari jeratan Max.
“Sialan! Jangan berharap kau bisa lepas!” ucap Max dengan amarah yang membeludak.
Pria itu terlihat abai, fokusnya saat ini hanya menyerang Max, dan membuat laki-laki itu kehilangan fokus.
Jedug!
Max dengan cepat melepaskan cekalan saat lawannya dengan tanpa ampun membenturkan kepalannya tepat di kening Max, membuat penglihatan Max seketika kabur.
“Argghh,” Max mencoba bangkit, matanya menyorot tajam sosok pria yang terlihat sudah lari jauh di sana.
“Sial!” umpatnya.
Beberapa detik kemudian mata hitamnya melotot saat menyadari sesuatu. Dengan cepat, kaki panjang itu berlari menuju ruang rawat sang ke kasih. Matanya terlihat sedikit bergetar saat pemandangan mengerikan menjadi sambutan pertama saat ia membuka pintu.
Tangan-tangan yang hampir terputus dengan dada yang menganga, jangan lupakan darah yang menggenang hampir memenuhi ruangan itu.
Matanya beralih ke atas ranjang, terlihat di sana Salsha yang terlihat mengejang dengan mulut yang mengeluarkan darah.
Max dengan cepat berlari menuju sang wanita. “Tidak! apa yang terjadi, Salsha, sayang, aku mohon bertahanlah,” ucap Max dengan bergetar, jemarinya mengusap lembut darah yang mengalir dari mulut sang wnaita.
Lengan kekarnya dengan cepat meraih tubuh yang bergetar hebat itu, memangkunya dan memberikan pelukan hangat.
“Ku mohon, aku mohon, bertahanlah, hiks,”ucapnya dengan mata yang mengeluarkan air mata.
Brak!
Pintu terbuka dengan keras, terlihat jelas di sana sosok Roy dengan nafas yang tidak beraturan menatap tidak percaya sekitarnya.
“Apa__ oh, Tuhan. Tuan,” panggilnya dengan keras.
Max mengabaiakan kedatangan Roy, laki-laki itu sibuk merengkuh tubuh bergetar Salsha, memberikan kecupan di sana dan merancau dengan tangan yang bergetar.
Beberapa menit kemudian, tubuh itu terlihat melemah, bersamaan dengan tangis Max yang semakin keras.
“Tidak! tidak jangan hukum aku seperti ini! aargghhh,” Max berteriak dengan kepala yang menggeleng kuat, lengannya semakin erat memeluk tubuh yang semakin dingin dan membiru.
______
Ehh Salsa Mati gk ya kira² 🤔🤔
Terimakasih buat kalian semua yg sudah membaca, meninggalkan jejak, dan setia menunggu cerita Author
__ADS_1