Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
25. Berikan aku seorang anak


__ADS_3

Ariana menatap hamparan taman dari balkon kamar. Otak wanita itu sibuk memikirkan pertemuannya dengan Arthur beberapa hari yang lalu.


“Huft, apa pun yang terjadi, aku harus bisa terbebas dengan pria Gay itu,” ucapnya penuh keyakinan.


“Apa yang kau katakan?”


Deg!


Tubuh Ariana menegang. Tanpa perlu membalikkan badan, ia sudah paham siapa yang memasuki kamar pribadinya.


“Ariana!” Damian terlihat benar-benar marah.


Wajah laki-laki yang awalnya sendu dengan cepat berubah menjadi garang saat mendengar pengakuan Ariana. Dengan rahang mengeras, kaki panjangnya mendekat ke arah sosok wanita yang masih setia memunggunginya.



Sudut bibirnya tersungging saat menyadari tubuh wanita itu kaku. Sedikit memainkan peran antagonis, tangan kekarnya mulai menarik pinggang ramping itu. Bukan tarikan lembut, tapi tarikan kasar.


“Ahh, apa yang kau lakukan? Kau menyakitiku!” Mata madu itu mentap tajam Damian.


Damian yang mendepatkan tatapan itu hanya terkekeh. Wajah marah Ariana benar-benar membuatnya terhibur. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menikmati wajah itu, sekarang waktunya dia berubah menjadi antagonis.


“Kau masih bertanya apa yang ku lakukan?” desisnya tajam.


Mata Ariana menutup saat menyadari sosok Damian yang terlihat menyeramkan. Bukan hanya itu, Damian yang berubah menjadi sosok monster seperti haus akan darah membuatnya ingin menghancurkannya.



Tiupan lembut penuh godaan Damian berikan di sekitar rahang Ariana. Ariana yang mendapatkan serangan itu menahan nafas. Tangan wanita itu terkepal serentak dengan geraman yang ia keluarkan.


“Kau menggeram?” Damian bertanya dengan nada tidak percaya.


“Hmm, kau tahu, aku memang seorang wanita, tapi kau juga tidak boleh lupa apa yang sudah aku lakukan dulu.” Ariana menatap remeh Damian.


Baginya, berhadapan dengan laki-laki seperti Damian, jangan sampai memperlihatkan ketakutan. Laki-laki sepertinya akan semakin bahagia melihat mangsanya menciut, karena rasa takut.



Damian yang melihat perubahan Ariana tersenyum. Wanita ini sungguh di luar prediksinya. Ia sudah membayangkan wanita itu menangis, persis seperti waktu ia mengambil keperawanannya dulu.


Deg!


Seakan teringat sesuatu, Damian dengan cepat melepas cekalan tangannya, membiarkan Ariana menatapnya dengan wajah bingung.


“Apa kau takut?” Ariana bertanya dengan remeh.


Damian yang mendengar pertanyaan itu diam. Ia bukan takut, tapi ia mengingat kembali kesalahan fatal yang telah ia lakukan terhadap wanita itu. Mengabaikan sosok Ariana, Damian melenggang pergi untuk memasuki kamar mandi. Ia butuh air dingin untuk menyegarkan otaknya.



Ariana yang melihat kepergian Damian tersenyum. Meskipun wajahnya terlihat biasa saja tapi kalian harus lihat lebih teliti, kaki jenjang nan mulus itu bergetar.

__ADS_1


“Oh, ya ampun. Sialan! Laki-laki itu benar-benar menakutkan!” Ariana meraup wajahnya kasar.


Satu jam sudah berlalu, Ariana sudha berkutat di meja kecil yang berada di ujung kamar. Mata indah itu terlihat menatap serius tab yang menunjukan beberap jadwal kerjanya.



Damian yang sudah menyelesaikan mandinya menatap sosok Ariana yang terlihat serius. Rasa penasaran mulai menggelayuti perasaanya.


“Apa yang kau lakukan?”


“Astaga!” Ariana memekik terkejut dengan tangan yang memegang dadanya.


Mata madu itu menyorot tajam sosok laki-laki yang berdiri dengan piama berwarna hitam itu.


“Bisakah kau tidak mengagetkanku?” tanyanya datar.


Damian yang melihat kemarahan di mata Ariana tersenyum miring. Tanpa dapat di cegah, ia baringkan tubuh kekarnya di sofa, menjadikan paha Arina sebagai bantal.


“Sialan! Apa yang kau lakukan?” Ariana memekik kesal.


Sedangkan yang membuat biang kesalnya terlihat santai, menikmati tidurnya meskipun matanya tidak terpejam sama sekali.


“Hmm, kenapa mulutmu selalu mengeluarkan kata kasar?” Damian menatap wajah Ariana dari bawah.


Ariana yang mendengar itu menatap garang Damian. Wanita itu menundukkan kepala, membuat rambut coklatnya menyapu wajah tampan Damian.


“Itu pantas!”



Ariana yang meyadari kelakukan Damian mengetatkan rahang. Tangan rampingnya dengan cepat menyentak tangan Damian, membuat laki-laki itu memasang wajah sangar.


“Jangan pernah menyentuhku!” tekannya tajam.


Damian hanya diam, mata birunya menatap Ariana yang seperti kebakar jenggotnya. “Kenapa kau harus marah, apa kau akan rugi saat aku menyentuh rambutmu?”


“Kau masih bertanya? Bahkan ketika kau hanya diam, aku sudah rugi, apalagi kau yang menyentuhku!”


Damian yang mendengar itu dengan cepat bangkit. Mata birunya menatap tajam Ariana. Cukup, cukup sudah kesabarannya kali ini. Belum tuntas rasa bingungnya tentang kematian Salsha yang janggal, kini ia harus menghadapi sifat keras kepala sang istri.


“Ulangi lagi!” ucapnya penuh penekanan.


Ariana hanya mengangkat sebelah alis, tangan kanan yang asalnya memegang tab kini sudah kosong, terganti dengan kepalan yang siap untuk menghantam siapa pun yang mengganggunya.


“Kau tahu, diam ku bukan berarti membiarkanmu melewati batas! Ingat, aku suamimu!”


Ariana yang mendengar kata suami dengan cepat bangkit. Mata madunya terlihat berkilat, beberapa detik kemudian tawa keras ia keluarkan.


“Ha ha ha ha ha ha ha ha!” wanita itu memegang perutnya kuat. Saking kuatnya tawa yang ia keluarkan, mata madu itu mengeluarkan tetes air mata.


Damian yang melihat itu mengetatkan rahang. “Diam!” perintahnya tajam.

__ADS_1



Ariana seperti mengabaikan perintah Damian, wanita itu masih tetap menikmati tawa menggelegar yang memenuhi kamar mewah itu.



Damian yang melihat itu menggeram marah. Tubuh kekarnya bangkit, tanpa aba-aba menarik Ariana untuk mendekat.


“Diam!” desisnya tajam. Bahkan kali ini laki-laki itu tepat mengatakan di depan wajah Ariana.


Ariana terlihat abai. Kemarahan jelas tercetak di wajah tampan Damian, tapi hal itu tak menyurutkan tawanya.


“Ha ha ha ha, kau sangat lucu, ha ha ha, tunggu, perutku keram. Ha ha ha ha.”


Damian yang benar-benar sudah tidak tahan mengangkat tubuh Ariana, bahkan wanita itu tetap tertawa seakan mengabaikan kejadian buruk selanjutnya yang akan menimpanya.


Bruk!


Damian degan kasar membanting tubuh Ariana di atas ranjang. Kini tawa wanita itu sukses berhenti, tergantikan pekikan kesal dan tangan yang menyentuh lembut pelipisnya.


“Sial! Apa yang kau lakukan?” Ariana menatap garang Damian.


Bahakan ia tak sanggup bangkit. Rasa pusing akibat bantingan laki-laki itu benar-benar membuatnya lemas.


“Sudah! Sudah cukup kau tertawa?”


Mata Ariana memicing. “Kau tahu kenapa aku tertawa?”


“....”


“Karena kau sangat lucu. Bagaiaman seorang Gay mengatakan dengan percaya diri tentang statusmu yang seorang Suami? Hah, kau sangat lucu. Jangan pernah mengatakan lelucon seperti itu lagi.”


Damian terdiam, wajah tampannya terlihat kaku. Gay? ya, ia gay, seharsunya ia bersikap sebagaimana gay seharusnya. Tapi perasaanya tidak nyaman. Melihat Ariana yang mengabaikan ucapannya benar-benar membuat tubuhnya terasa panas, bukan hanya itu, ia juga bisa kehilangan logika saat laki-laki itu bersama dengan laki-laki lain.


“Mari bercerai!


Deg!


Mata Damian membulat. “Apa katamu? Bercerai?”


“Ya, mari bercerai. Aku memiliki laki-laki lain, sedangkan kau juga memilikinya. Akan lebih baik kita akhiri semuanya secepatnya.” Ariana menatap Damian sungguh-sungguh.


Damian yang melihat itu seperti kehilangan akal. Matanya menggelap, satu ide muncul di otaknya. Tanpa di duga, tubuh besarnya ia tubrukan di atas Ariana, membuat wanita itu memekik ketakutan.


“Bercerai? Ya, kau akan mendapatkannya, setelah kau memberiku seorang anak.”


________


Malam semua, terimakasih atas doa dan keantusiesan kalian semua,,,


maaf belum bales komen kalian satu persatu, tapi Author baca kok, dan komen kalian bikin Author baper....

__ADS_1


Terimakasih sudah mau membaca dan menunggu karya Author, Author doakan kalian baik baik dan sehat sehat semua, serta lancar rizkinya.... Aamiiin


__ADS_2