Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
6. Aku masih normal


__ADS_3

Ariana bersenandung dnegan pelan, mata madu itu terlihat berbinar menatap bangunan indah di depannya. Ia memang terlahir sebagai wanita kaya, tapi ia menyukai hal-hal berbau kemewahan.



Tangan ramping itu menyapukan beberapa bedak di wajah, berharap penampilanya sempurna sebelum benar-benar memasuki rumah barunya itu. menatap beberapa kali pantulan wajahnya di cermin, wanita itu akhirnya menyudahi aksi berkacanya.


“Selamat datang Nyonya.”


Araian terlihat terkejut, bahkan wanita itu sudah mundur beberapa langkah saat mendengar sambutan yang menurutnya sangat berlebihan. Berpuluh-puluh pelayan terlihat berjajar rapi, dengan pakaian hitam putih, dan bandana kecil di atas, membuat wanita itu benar-benar takjub dibuatnya.



Mencoba menormalkan wajahnya, Ariana mengangkat dagu, kemudian menatap mereka satu persatu. Anggukan ia beri, sebagai jawaban untuk mereka semua. Bukan karena sombong, tapi ia memang tidak terlalu suka bergaul dengan orang yang bukan dari kalangannya.



Tanpa menghiraukan mereka lagi, Ariana berjalan, menyusuri tiap ruang sekedar melihat-lihat. Wajah cantiknya membuat mereka semua yang berada di ruangan itu berdecak kagum. Meskipun sikap nyonya baru mereka terkesan sombong, tapi mereka tidak masalah. Toh, wajar sombong, karena memang ada yang di sombongkan.



Jika kalian berada di posisi Araian pun, sudah past kalian juga akan merasa sombong. Cantik? sudah pasti. Kaya? Jangan ditanya. Dan sekarang, menjadi seorang istri dari pria terkaya, teridaman, terbengis dan ter ter, ah, mungkin ini yang dinamakan dunia hanya memihak orang-orang tertentu.


“Nyonya.”


Langkah kak Ariana terhenti, mata madu itu menatap sosok pria dengan pakaian yang berbeda di antara beberapa jajaran pelayan itu dengan alis terangkat sebelah.


“Ya?”


“Ekhm, perkenalkan, nama saya Pedro, Nyonya. Saya kepala pelayan di sini, jika anda butuh sesuatu, anda bisa langsung memanggil saya.” Pedro membungkukan tubuh, sebagai tanda hormat untuk Ariana.


Ariana terdiam, matanya mengamati laki-laki yang berusia lima puluh tahu ke atas itu dengan datar. Tak lama kemudian senyum manis terbit di bibir wanita itu, membuat mereka semua yang berada di sana terpekik, merasa terpesona dengan senyuman itu.


“Terimakasih, nama saya Ariana, mohon kerja samanya untuk mengatur mansion ini.” Araiana tersenyum lagi. Namun, kali ini senyumnya lebih seperti menyimpan sebuah misteri.


“ARIANA ....”


Teriakan kuat dari depan itu membuat mereka semua yang berada di ruangan itu terkejut. Tak jarang tubuh mereka sudah bergetar hebat, mengingat kebengisan yang dimiliki Damian, sebagai sang tuan.



Sedangkan Ariana yang sudah tahu apa yang menjadi penyebab kemarahan Damian hanya tersenyum miring. Merasa puas telah membuat laki-lai itu mengalami pagi buruk.


__ADS_1


Damian membanting koper besar iu deng kasar. Beberapa satpam yang berjajar terlihat terkejut dan penasaran. Mengabaiakan tatapan mereka, Damian melirik tajam beberapa pengawal.


“Kalian, angkat barang-barang ini, bawa ke dalam,” Damian berucap dengan tegas, kemudian dengan cepat masuk kedalam untuk memberikan pelajaran khusus sang istri.


“Di mana Istriku?” Damian bertanya dengan keras, menatap jajaran pelayan yang hanya menunduk.


Pedro yang melihat itu dengan cepat bergerak mendekat untuk memberitahu keberadaan sang nyonya.


“Selamat datang Tuan. Nyonya sudah berada di kamar.”


Tepat setelah mendengar penuturan itu, Damian berjalan dengan tergesa menaiki tangga. Asap sudah mengepul di kepalanya. Membayangkan kejadian memalukan yang ia terima tadi.



Seorang laki-laki tampan, harus menunggu datangnya taksi dengan membawa koper berwaran merah muda. Bukan hanya itu, karena kuatnya ia menyeret koper, mebuat benda kotak itu terbuka, dan menjatuhkan beberapa benda keramat di dalam sana. Membuat ia yang selalu mendapatkan tatapan hormat, dan segan, kini harus menerima tatapan meremehkan dan jijik dari mereka semua.


Brak!


Damian dengan kuat menedang pintu itu dengan kaki. Matanya menyorot seluruh kamar mewahnya, mencari keberadan sang istri. Kosong? Dan hal itu membuat ia merasa bingung.



Dengan rasa kesal yang sudah memuncak, laki-laki itu memutuskan untuk berbaring di atas ranjang, sekedar merenggangkan otot-otot yang terasa kaku akibat kurang tidur, dan bantingan dari sang istri.


Ceklek!


“Hay, apa yang kau lakukan?” Damian berteriak dengan keras.


Ariana yang memang suah menyadari keberadaan Damian abai. Seakan keberadaan Damian hanyalah bayangan.



Damian yang merasa di acuhkan membuang muka. Rasa geram akibat tingkah Ariana membuat ia tidak bisa berpikir jernih.



Berusaha menahan perasaan anenya itu, Damian segera beranjak pergi meninggalkan kamar. Rasa gerah yang tiba-tiba membuatnya cepat-cepat ingin menghirup udara segar.



Ariana yang mendengar derap kaki yang mulai menjauh semakin melebarkan senyum.


“Kita lihat, sampai kapan kau bisa bertahan.”

__ADS_1


***


Damian terdiam, mata birunya menatap hamparan bunga yang berjajar rapi di taman. Mengingat kembali tujuannya dulu membangun mansion ini, menimbulkan senyum miris di wajahnya.


Mansion ini, ia bangun untuk hidupnya bersama Max kelak. Namun, sepertinya semua mustahi terjadi. Terlebih Max yang sekarang terlihat menjauh.


Drt... Drt...


Getaran gawai itu mengalihkan pandangan Damian, mata yang awalnya sayu itu terlihat berbinar saat melihat siapa gerangan yang memanggilnya. Tanpa menunggu lama, segera ia menekan tanda hijau di sana.


“Halo, akhirnya kau menelfonku Max,” ujarnya penuh kelegaan.


Sedangakn Max yang berada di sana masih terlihat menimbang, hingga beberapa detik kemudian terdengar suaranya.


“Damian,” Panggilnya pelan.


Damian yang mendengar panggila itu tersenyum, kemudian menjawab dengan lembut. “Iya, Max. Ada apa?”


“Aku ... aku ...”


“Iya, aku kenapa?” sahut Damian tidak abar, tapi laki-laki itu masih mempertahankan suara lembutnya.


“Aku, huft ... aku ingin meminta maaf.”


Damian yang mendengar itu tersenyum lebar. Bayangan Max yang meminta maaf karena sikapnya tempo lalu membuat ia senang. Namun, kalimat selanjutnya sanggup membuat jantung Damian mencelos.


“Sepertinya aku harus kembali ke negaraku.”


Deg!


“Apa yang kau katakan?” Damian bertanya dengan nada dingin.


“Maaf, Damian. Hubungan kita tidak bisa dilanjut. Aku merasa, aku, aku masih normal,” Cicitnya pelan.


Damian yang mendengar itu menggeram marah. Mendengar kata normal, ia merasa terhina. Apa selama mereka menjalin hubungan, mereka termasuk pasangan tidak normal?


“Apa maksudmu?”


“Maaf Damian, skarang aku ingin bertanya, apa yang kau harapakan dari hubungan ini?”


Pertanyaan itu membuat Damian bungkam, entah mengapa ia juga tidak memilki jawaban. Tapi satu hal yang pasti, ia ingin selalu bersama Max.


“Kau tidak memilki jawaban kan? Damian dengarkan aku, kita tidak bisa bersama, kau jalani pernikahanmu seperti manusia normal, aku mohon,” ucapnya terdengar mengiba.

__ADS_1


Dmian yang mendengar penuturan itu mengepalkan tangan. Ia tidak bisa mebiarkan Max terlepas begitu saja, sudah banyak yang ia korbankan, dan laki-laki itu dengan mudahnya meminta berpisah.


“Lakukan apa yang kau inginkan, tapi jangan salahkan aku, kalau kau akan kehilangan segalanya. Terlebih nyawa-nyawa orang yang kau sayangi,” Damian berucap dengan wajah penuh seringai.


__ADS_2