Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
12. Monster


__ADS_3

“Apa yang aku lakukan? Aku hanya melakukan tugasku sebagaia seorang suami. Kau tahu, Ariana. Seorang wanita yang bermain di belakang suaminya, maka ia harus mendapatkan hukuman yang setimpal, dan kau harus menerimanya,” desisnya tajam.


Damian semakin menyeringai saat merasakan tubuh Ariana menegang. Semakin besar rasa takut mangsanya, semakin puas ia mempermainkannya.


“Damian, kau gila. Lepaskan aku!” Ariana berteriak, tepat saat tangan Damian menyusuri lekuk tubuhnya dengan memberikan rematan yang menyakitkan.


Damian hanya terkekeh. Laki-laki itu ingin sekali menguliti tubuh Ariana yang telah lancang di sentuh oleh Ricard. Katakan ia psikopat, tapi itu memang dia.


“Kau tahu, tubuhmu ini sangat menjijikan, bahkan orang yang tak memilki hubungan legal pun bisa mencicpinya,” Damian berkata disela-sela kegiatannya meremat pinggang Ariana, bahkan laki-laki itu yakin, bekas rematannya sudah berubah menjadi merah keunguan, karena ia mengerahkan tenagannya.


“Akhh, brengs*k! Kau, hiks, Damiannnn!” Arina semakin berteriak saat Damian dengan tidak perasaan semakin menghimpit tubuhnya, membuat ia benar-benar merasa kesakitan, bahkan perih di sekitar pinggang dan bahu.


Damian hanya terkekeh, saat merasakan sedikit darah di sana, entah darah itu berasal dari pemuda yang ia bunuh, atau dari tubuh Araiana sendiri. Apa pun itu, ia tidak peduli. Yang harus ia lakkan saat ni adalah membersihkan jejak laki-laki bajin\*an dari tubuh sang istri.



Masih dengan teriakan kesakitan Ariana, Damian dengan kasar menarik tangan itu, memberikan cekalan yang amat kasar, bahkan menyeretnya tanpa ampun.



Araiana hanya mampu meminta pertolongan namun, mansion ini seperti sengaja di kosongkan. Beberapa kali wanita itu terjatuh dan membentur tangga, tapi Damian tanpa perasaan tetap menyeretnya, membuat ia tetap harus bangun agar menjajarkan kecepatan kaki laki-laki itu.



Wajah tampan itu terlihat mengeras, semakin dingin, dan semkin memerah. Rahang yang tegang, dengan otot-otot leher yang terlihat mencuat, laki-laki itu benar-benar memberikan akses penuh monster dalam dirinya untuk mengambil alih.



Ceceran darah dari luka Ariana tidak ia gubris, bahkan ia juga melihat kening wanita itu sudah memar dengan sedikit mengeluarkan darah.


__ADS_1


Semakin banyak luka yan dimiliki Ariana, semakin ia merasa puas. Ia memang bajing\*n, tapi ia akan bersikap lebih bajingan lagi dengan manusia yang berani mengobral tubuh hanya demi kesenangan. Akan ia buat, wanita yang penuh luka itu jera, dan tidak berani megusik otaknya dengan kedekatannya bersama sang kekasih.


Bruk!


Ariana benar-benar terjatuh, tepat saat ia menaiki tangga terakhir. “DAMIAN!” wanita itu berteriak kuat. Saat Damian tetap memaksanya, bahkan kini ia sudah terseret, karena luka kakinya yang tak mungkin bisa ia paksakan untuk tetap berdiri tegak.


Damian hanya mendatarkan wajahnya. Ada sedikit rasa iba saat matanya menatap wajah Ariana yang penuh air mata dan campuran darah. Tubuh wanita itu sangat-sangat memperihatinkan. Ingin sekali ia membantu, tapi penglihatannya semakin menajam saat pakaian atas Ariana melorot ke bawah, menunjukan tanda merah yang semakin banyak di sana.



Seprti api yang tersiram bensin, dengan sekali tatap, amarahnya benar-benar berhasil meledak. Kini bukan hanya seretan, Damian sudah mengganti posisi dengan berjongkok, melepaskan cekalan kuat tangannya dan memperlihatkan pergelangan kecil nan lembut itu yang sudah berwarna biru dan mengeluarkan darah banyak.



Araiana semakin mengerasakan tangisan. Ia benar-benar lelah, tubuhnya lemas, dan seluruh persendiannya terasa mati. Luka-luka di kening, pinggang, kaki, dan tangan benar-benar berdenyut hebat, membuat wanita itu tidak bisa sekedar untuk menghindar saat Damian mendekatkan wajahnya.


“Kau tahu, ternyata kau benar-benar menjijikan!” Damian mendesis tajam, kemudian tangan laki-laki itu meraih pakaian depan Ariana yang sudah bercampur darah. Merobeknya dengan skelai gerakan.


Srek!


Damian benar-benar breng\*ek. Laki-laki itu seakan menutup mata dari ketakutan wanita lemah di bawahnya. Bahkan mereka masih di atas tangga, dan Damian tanpa tahu malu menelanjangi tubuh sang wanita, dan hanya menyisahka dalaman berwarna merah.



Semakin banyak bercak merah yang lak-laki itu lihat, semakin besar niatnya untuk menghancurkan wanita di depannya.


“Ha ha ha, kau bertingkah seakan wanita suci. Hay, lihatlah bekas-bekas ini.” Tunjuk Damian ke selurh tubuh Ariana. Dari dada sampai perut, tubuh itu penuh bekas cumbuan.


Ariana hanya menutup mata, giginya saling bergesekan, menghasilkan suara ngilu bagi pedengaran.


“Mungkin sekarang aku harus memanggilmu pel*cu*!” Damian mengusap dagunya kemudian menganggukkan kepala, seakan sudah memutuskan hal yang paling besar di hidup laki-laki itu.

__ADS_1


Ariana melebarkan matanya. Manik madu itu semakin memerah dengan buliran air mata yang tak ingin berhenti. Panggilan paling ia benci, dengan mudahnya Damian sematkan untuknya.


Dengan amarah yang menyala, Ariana mengeluarkan perkataan yang semakin memancing kemarahan Damian.


“Lebih baik aku menjadi pel*cu* untuk pacarku! Dibanding aku harus menjadi Istrimu!” Ariana berucap dengna lirih, tapi dalam perkataan itu terdengar jelas keputus asaan.


Damian yang mendengar jawaban dari Ariana mengepalkan tangan. Mata biru itu menggelap, bersamaan dengan tangannya yang mengepal kuat.


“Oh, seperti itu. Bagaiamana jika kau ku jadikan pela**rku saja? Ahh, kau pasti berutung. Kau mendapatkan ‘keperjakaanku’.” Damian terkekeh saat melihat Araian memundurkan tubhnya tanpa bisa berdiri. Wanita itu benar-benar terlihat menyedihkan, dan Damian menyukainya.


“Lebih baik aku mati dibanding menjadi pela*urmu. Aku tidak akan sudi kau masuki dengan bendamu yang sudah sering keluar masuk di lubang an*s kekasihmu!” Ariana mendesis tajam. Mata madunya berkilat amarah.


Damian menggertakkan gigi, terlebih saat melihat tubuh Araiana yang sudah berada tepat di tangga terakhir, satu langkah saja, maka tubuh itu akan terjatuh. Dengan amarah yang mencuat, Damian bergerak cepat menyeret tubuh Araiana untuk menjauh dari tangga. Kematian terlalu mudah untuk wanita seperti itu.



Mungkin ia bisa memberikan hukuman yang paling dibenci wanita. Dilecehkan dengan orang yang paling kita benci, bukankah itu hukuman paling setimpal?


“Damian, lepskan aku!”


“Ha ha ha melepaskanmu? Tidak, itu tidak mungkin. Mungkin sekarang waktunya aku memberikan hukuman untukmu.” Damian menyeringai, tangan laki-laki itu bergerak membuka kancing kemejanya paling atas, Araina yang melihat itu menelan ludah kasar, kemudian memaksakan tubuhnya untuk tetap berdiri.


Damian yang melihat usaha Araiana semakin tertawa, laki-laki itu berjalan dengan pelan, kemudian menarik tubuh wanita itu dan memanggulnya ke bahu.


Plak!


“Damiannnn, tolong jangan pernah lakukan hal-hal yang akan membuatmu menyesal,” Ariana menjerit penuh iba. Seluruh tubuhnya terasa mati rasa, terlebih saat Damian dengan kasar memanggul, dan memberikan pukulan yang cukup keras di pantatnya.


“Oh, menyesal ya. Tidak, aku tidak akan pernah menyesal, kau tahu, aku hanya akan melakukan s*x, bukan bercinta. Jadi aku tidak perlu menyesal. Aku tidak akan melakukannya dengan lembut, atau bahkan pemanasan seperti cumbuan yang dilakukan pacarmu itu. Aku akan langsung memasukimu, sekaligus mengetes seberapa sempitnya lubang murahanmu itu!”


Brak!

__ADS_1


Damian melempar keras tubuh Araiana tepat di atas ranjang. Bahkan kepala wanita itu tanpa sengaja terantuk kayu, membuat luka di kepalanya semakin mengeluarkan darah.


“Damiannn!”


__ADS_2