Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
16. Curiga


__ADS_3

“Nona Cantik itu__” ucapan itu terputus saat mereka mendengar suara dobrakan keras.


Brak!


Damian dengan tergesa mendorong pintu apartemen Max, membuat tiga pria di sana terlihat terkejut. Roy yang merasa asing dengan Damian mengangkat sebelah alis, begitu pula dengan Daren. Sedangkan Max terlihat tersenyum tipis.


“Max, apa kau baik-baik saja?” tanyannya dengan nada penuh kekhawatiran.


Max hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Damian. Ya, biar bagaiaman pun, tidak bisa ia tampik, jika kehadiran Damian sangatlah berpengaruh, bahkan laki-laki itu juga sudah termasuk dari bagian kehidupannya, terlepas keinginannya untuk pergi menjauh.



Roy yang melihat tindakan Damian terlihat sedikit kikuk. Laki-laki itu merasa perhatian Damian sangatlah berlebihan jika ditilik dari sisi pertemanan. Tapi untuk berpikir kedua manusai itu memilki hubungan yang tidak lazim, otaknya dengan cepat menepis.


“Kak, siapa dia?” Daren bertanya di tengah-tengah suasana yang terlihat canggung itu.


Damian yang mendengar ada sosok lain di sana terperanjat. Demi apa pun, ia tidak sadar jika ada mereka di sini. Sedikit rasa takut jika mereka megendus keanehan yang ia lakukan membuat laki-laki itu meneguk ludah kasar.



Sedangkan Max menatap Daren yang terlihat menatapnya penuh curiga. Adik satunya itu tidak bisa dianggap remeh, meskipun umur dan tubuhnya masih tergolong kecil, tapi jangan pertanyakan tentang pemikirannya. Jadi, ia harus lebih hati-hati dalam menjawab pertanyaan anak kecil itu.


“Hmm, kenalkan, dia Damian, teman Kakak.”


Daren terlihat menatap Damian dari atas ke bawah, tatapan anak itu terlihat penuh kewaspadaan, bahkan Damian merasa risi dengan cara Daren menatapnya.


“Daren,” panggil Max pelan sebagai peringatan.


“Tunggu Kak, jika kalian hanya berteman, kenapa sikap dia seperti, hmm,” Daren menghentikan kalimatnya sejenak, mencoba mencari perumpamaan yang tepat untuk tindakan Damian.


Max terlihat meneguk ludah gugup, mata hitam itu menatap Daren takut, sedangkan Roy menunggu kelanjutan perkataan Daren.


“Seperti sepasang kekasih.” Lanjutnya dengan serius, bahkan mata anak kecil itu terlihat sedikit membola, seakan tidak percaya dengan apa yang ia katakan.


Damian tersedak ludahnya sendiri, sedangkan Roy menutup mulut tidak percaya, dan Max menatap Daren tajam dengan wajah memerah.



Daren yang merasa suasana seketika berubah mengerjapkan mata. “Kenapa kalian menatapku seperti itu, dan kau laki-laki bernetra biru, kenapa kau sampai tersedak?”

__ADS_1



Damian mengusap wajahnya kasar, merasa tercengang dengan anak kecil yang ia yakini adik dari kekasihnya itu.


“Daren, apa yang kau katakan? Mana mungkin Kakak kekasih Damian? Kau tahu, kita sama-sama lelaki, dan hal itu tidak mungkin.” Max menatap serius Daren, harapannya hanya satu, jangan sampai hubungan kotornya itu tercium mereka, bukan hanya mereka, tapi semua orang.


“Eh? Kenapa tidak? Kakak tidak tahu ya, Daren baca di berita-berita, jika pasangan sesama jenis mulai marak loh, siapa tahu Kalian salah satu diantara mereka?” Daren menatap Max remeh.


Max yang mendapatkan tatapan seperti itu menggertakkan gigi, merasa tidak terima. “Hay, jaga tatapanmu, aku ini Kakakmu, kau anggap aku ini apa?” Max berucap dengan nada tegas.



Daren terlihat mencebikkan bibir, kemudian mendudukan tubuhnya tepat di samping Max yang sedang setengah berbaring. Sedangkan Damian dan Roy masih setia berdiri. Bahkan Damian hanya terdiam, laki-laki itu seakan meupakan tujuannya ke sini, karena terlalu kaget dengan lontaran kalimat yang ia dengar dari Daren.


“Kenapa Kaka harus bersikap berlebihan? Jika Kaka tidak termasuk golongan dari mereka, harusnya Kakak tenang-tenang saja,” gumam Daren yang sudah pasti terdengar jelas di telinga mereka.


Damian terlihat menyugar rambut, merasa bingung dengan pola pikir anak kecil itu.


“Hay, anak kecil_”


“Hay, pak Tua, jangan panggil aku anak kecil,” sela Daren dengan menatap Damian sinis. Sudah ia katakan, ia paling benci disebut anak kecil. Ia sudah dewasa, dan panggilan anak kecil sungguh menjatuhkan harga dirinya.


“Baiklah, kau! Dari mana kau bisa menilai jika aku dan Kakakmu sepasang kekasih?” tanyanya dengan serius.


Daren memutar mata malas, tapi tetap menjawab pertanyaan Damian dengan santai. “Orang bodoh pun tahu, Kau tahu, Deren pernah memiliki kekasih, jadi Daren tahu pasti mana rasa khawatir seoarng kekaish dan teman. Buktinya waktu Daren sakit, teman-teman Deren biasa saja, bahkan mereka seakan menganggap sakit Daren hal yang biasa, tapi kekasih Daren malah bertanya sama persis dengan Kakak, alay, dan memasang wajah yang sedikit menjijikan,” jelasnya panjang lebar, membuat mereka semua yang berada di sana tercengang.



Mereka semua terdiam, sekaan mencerna semua perkataan Daren serius. Terlebih Roy yang saat ini sudah menatap Max dengan serius, sedangkan Damian terlihat mengalihkan tatapan, kemudain mata birunya tidak sengaja bersitatap dengan netra hitam milik Max.



Deg!



Mata hitam, dan hal itu membuatnya teringat dengan kekasih Ariana, mengingat kekasih Ariana membuatnya teringat kembali keadaan Ariana tepat sebelum ia meninggalkan mansion.


__ADS_1


Rasa cemas mulai menelusup di dada, tapi ia dengan tegas berusaha menepis, kemudian mencoba memfokuskan tatapannya ke wajah Max.



Namun, bukannya rasa tenang yang ia dapat, tapi ia malah merasa kesal. Entah mengapa, segala sesuatu yang ia lihat dari sisi Max membuatnya kembali megingat wajah Ricard, dan hal itu sukses membuat tangannya terkepal, bahkan ia mulai membayangkan menghancurkan wajah milik Max itu.



Gila, ia benar-benar gila. Kenapa hanya dengan melihat sesauatu yang berhubungan dengan Ricard sanggup membuat monster dalam tubuhnya keluar. Dan yang paling mengejutkan, monternya memaksanya untuk menghancurkan wajah Max, kekasihnya sendiri.



Bahkan Damian seakan tuli dari perkataan-perkataan yang dilontarkan Daren. Otaknya sibuk mengembalikan kewarasan jika sosok di sana bukanlah Ricard, melainkan Max kekasihnya.


“ ...... tapi kasihan Kak, Nona cantik itu saat ini terlihat sangat lemah, bahkan Nona cantik juga bercerita jika selama ini ia mengalami kehidupan yang menyedihkan.”


Damian mengerjapkan mata, tepat saat ia bisa mengembalikan kewarasannya, matanya menatap tiga orang pria dengan wajah yang berbeda-beda.



Daren terlihat memasang wajah bercampur-campur, dari tersipu, marah, kemudian sedih. Sedangkan Roy tetap setia dengan wajah tegang, dan Max berwajah pucat.



Damian mengernyitkan alisnya, merasa bingung dengan apa yang terjadi.


“Siapa nama Nona cantik itu, Daren?” tanya Max dengan sedikit bergetar.


Damian menatap Max dengan bingung. Nona cantik?


“Daren tidak tahu siapa nama pastinya, tapi Kakak itu menyuruh Daren memanggilnya dengan Kak Caca, oh, kalau tidak salah namanya Salsha,” jawab Daren dengan senyum manis di bibirnya.


Damian yang mendengar jawaban dari Daren merasa tidak nyaman. Entah mengapa ia merasa sosok yang dibahas mereka adalah sosok yang ia cari, dan ia tidak menyukai hal itu.



Pertama, sosok itu telah mencuri perhatian Max, kedua, sosok itu seperti sosok wanita yang paling ia benci, karena menghancurkan masa depan Max, bahkan mengubah Maxnya menjadi sosok bajing\*n.


__ADS_1


Jika memang benar mereka sosok yang sama, maka ia harus bergerak dengan cepat untuk melenyapkan sosok itu. Sudah cukup kebaiakannya selama ini.


__ADS_2