Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
11. Hukuman


__ADS_3

Ariana memasuki manison yang terlihat sedikit berbeda, wanita itu mengernyitkan alis, sedikit bingung dengan suasana sepi di mansion ini.



Mencoba abai, wanita itu melangkahkan kaki untuk memasuki pintu utama. Namun, pemandangan pertama yang ia lihat membuat wanita itu tidak bisa menahan rasa terkejutnya.


“Oh Tuhan! Apa ini?” Ariana memundurkan tubuh dengan menutup mulut tidak percaya.


Tubuh laki-laki, yang ia yakini juru masak di mansion tergeletak dengan kepala yang sudah hancur. Bahkan rasa mual tidak bisa wanita itu tahan saat merasakan gejolak perut yang semakin memberontak ingin dikeluarkan.


“Huek ... Huek ...” Ariana mengeluarkan seluruh isinya tepat di tengah pintu.


Sedangkan Damian yang sudah mengintai kedatangannya hanya diam, menagamati segala gerak-gerik yang dilakukan Ariana.



Melihat wanita itu yang terlihat lemas, membuat Damian terkekeh pelan, kemudian berjalan mendekat untuk membantu sang wanita.


“Sudah?” tanyanya tepat di belakang tubuh Ariana.


Ariana yang mendengar suara laki-laki yang sudah tidak asing lagi membalikkan tubuh, wanita itu memberikan tatapan tidak percaya. “Apa kau yang melakukan semua ini?” tanyanya dengan nafas yang tercekat.



Damian tersenyum lebar, dan hal itu semakin membuat Ariana merinding di buatnya. “Ya, aku yang melakukannya,” Damian menjawab dengan santai, seakan pertanyaan yang dilontarkan Ariana hanya pertanyaan biasa.



Ariana tersentak, wanita itu terlihat memundurkan tubuh, bahkan menghindari cekalan tangan Damian yang berusaha menjangkaunya.



Damian yang melihat tatapan takut dari netra madu itu terekeh, terlebih saat merasakan tepisan yang diberikan Ariana.


“Kau ... Kau gila!” Araian menutup mulut tidak percaya.

__ADS_1


Damian hanya terkekeh, merasa puas dengan apa yang diucapkan Ariana. “ Ya, aku memang gila. Apa kau baru sadar, sayang.” Damian berbisik lembut, menarik tubuh Ariana untuk mendekat.



Laki-laki itu mengendus aroma rambut yang entah mengapa terasa memabukkan. Bahakan ia seakan lupa jika memilki seseorang kekasih bernama Maxim Alexis.


“Damian, apa yang kau lakukan?” Ariana berontak, menyentak tubuh Damian yang dengan tidak tahu malun menyusuri leher jenjangnya.


Damian hanya diam, menikmati kegiatan yang pertama kali ia lakukan. Selama ini, laki-laki itu tidak pernah menatap penuh damba leher seorang wanita, bahkan ia merasa lebih menggoda leher Max, dari pada leher para model seksi yang setiap hari silih berganti untuk menggodanya.


Nafas Ariana tercekat saat merasakan kecupan basah di leher kananya. “Damian ___”


“Sttt, diamlah, nikmati saja,” Damian semakin merapatkan tubuhnya. Laki-laki itu sakan lupa jika ia tidak pernah sekalipun memiliki minat untuk mencumbu seorang wanita.


Kecupan-kecupan basah mulai ia berikan, membuat tubuh kekarnya semakin lama semakin memanas. Sedangkan, Ariana hanya mengepalkan tangan, mencoba melawan hasrat yang mulai terpancing. Biar bagaiamana pun, ia tidak ingin memiliki hubugan lebih dengan Damian, termasuk bersentuhan seperti ini.


“Damian, lepaskan aku,” pintanya dengan lirih.


Damian terlihat abia, laki-laki itu hanya memfokuskan bibirnya untuk menyusuri bahu mulus Ariana. Namun, sentakan keras yang ia terima membuat mata birunya bergejolak. Dengan rahang mengetat, Damian berusaha megeluarkan amarahnya, tapi terhenti dengan perkataan Ariana.


Seakan tersdar, Damian dengan cepat mengerjap. Tangan kekarnya meraup wajahnya, membuat ia terlihat seperti laki-laki yang terlilit depresi. Tapi entah mengapa, wajah Max tidak sekalipun muncul di otaknya. Hanya ada bayangan Ariana yang pergi, dan bermalam dengan Ricard yang semakin membuatnya muak, serta tidak mengerti dengan perasaanya sendiri.


“Aku__” pekataan Damian terhenti saat matanya tidak sengaja menatap dada kanan Ariana yang terlihat sedikit menyembul itu.


Kernyitan muncul di dahi mulusnya, rasa curiga mulai menyebar, menyerbu saraf, menuju ke seluruh anggota tubuhnya. Bekas merah, seperti ruam?


Damian menatap Araiana dengan rahang mengeras. “Apa yang kalian lakukan tadi malam?” Damian bertanya dengan tajam.


Ariana yang mendengar pertanyaan itu mengernyitkan alis, merasa bingung dengan maksud pertanyaan laki-laki di depannya itu.


“Apa maksudmu?” tanyanya dengan polos.


Melihat wajah itu semakin menyulut emosi Damian. Wanita di depannya yang tak lain istrinya sendiri berani bermain dibelakangnya, dan hal itu sungguh membuat jiwanya tidak terima. Tanpa basa-basi, tangan kananya meraih pinggang Ariana membawanya mendekat dan menempel di tubuh besarnya.


“Apa kalian telah menghabiskan malam bersama?” Damian bertanya dengan sedikit mendesis.

__ADS_1


Ariana yang masih kaget dengan perilaku tiba-tiba Damian hanya bisa berusaha terlepas dari jeratan laki-laki itu, tapi usahanya terlihat sia-sia, bukannya terlepas, cekalan itu semkain mengerat, membuatnya meringis kesakitan.


“Damian, lepaskan! Ini sangat menyakitkan.” Ariana menatap Damian sendu. Tubuhnya terasa lemas setelah mengelurarkan seluruh isi perutnya, dan sekarang, ia harus menahan cengkraman di pinggangnya.


Damian terkekeh sinis. Laki-laki itu menghiraukan aduan Araian yang terlihat benar-benar kesakitan. Emosinya mengalahkan logika, bahkan membuatnya lupa dengan jati dirinya sendiri.


Damian mendekatkan bibirnya tepat di telinga Ariana. “Katakan padaku, apa kalian menghabskan malam bersama, bahkan melakukan hal lebih?” bisiknya lembut, tapi sarat akan penekanan.


Araiana terkesiap, ingatan tentang malamnya bersama Ricard membuatnya sedikit ketakutan. Sedangkan Damian yang melihat perubahan wajah Ariana tersenyum manis, tapi kalian harus tahu, di dalam sana, ia berusaha sekuat tenaga menahan monster yang berteriak ingin kelur.


“Oh, jadi kalian benar-benar sudah melakukan itu? bahkan di saat kau masih meyandang status sebagai seoarang Istri?” Damian berucap di sekitar leher Araiana, mengendus-endus, seperti seekor anj*ng yang memindai mangsa.


Lagi-lagi wanita di depannya hanya terdiam, dan hal itu sukses memancing monster di dalam tubuhnya keluar.


“KATAKAN PADAKU, APA KALIAN MELAKUKANNYA?” Damian berteriak murka, membuat Ariana terkejut, terlebih laki-laki itu berteriak tepat di depan wajahnya.


“Damian, aku__ kami .....”


“Kami apa?”


“Kami tidak melakukannya.” Araian mengepalkan tangan, mata wanita itu terlihat mengedar kesegala arah seakan menghindari tatapan tajam Damian.


Sedangkan Damian hanya terkekeh. Tangan kanannya dengan kasar melepas tubuh Araiana, membuat wanita itu terjengkang, dan terperosok ke bawah, tepat di depan mayat. Tubuh bagian depannya dengan cepat menyapu habis darah yang menggenng di bawah sana, membuat Araiana tanpa sadar berteriak.



Damian semakin terkekeh. Pemandangan Araiana yang terlihat tak berdaya di bawah sana, dengan tubuh yang sudah berlumuran darah korbannya membuat laki-laki itu puas.



Tanpa persaan, tangan kekarnya menarik rambut sang wanita, membuat wanita itu tanpa bisa menolak mendongak dan menjerit kesakitan.


“Damian, apa yang kau lakukan? Akhhh, kurang ajar! Ini sangat menyakitkan!” Ariana berucap dengan keras, bahkan mata wanita itu sudah berkaca-kaca. Perasaannya campur aduk. Belum tuntas rasa jijik akibat darah yang bercampur dengan ceceran otak yang memenuhi tubuh depannya, kini ia harus menahan rasa sakit di kepalanya.


“Apa yang aku lakukan? Aku hanya melakukan tugasku sebagai seoarng suami. Kau tahu, Ariana. Seorang wanita yang bermain di belakang suami, maka ia harus mendapatkan hukuman yang setimpal, dan kau harus menerimanya,” desisnya pelan.

__ADS_1


__ADS_2