Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
19. Arthur


__ADS_3

Mata biru itu masih menatap pergerakan Ariana dengan tajam, semburat merah mulai muncul di sekitar wajah, saat wanita itu memindahkan geraian rambut ke samping, memperlihatkan bahu mulus dengan sedikit memar di sana.



Araian yang merasa risih, dan ingat tentang pengusiran Damian dengan cepat bangkit setelah menegak satu gelas penuh air putih, sedangkan Damian yang melihat itu mengepalkan tangan, membuta tangan yang sudah terluka semakin robek parah.


“Kau mau kemana?” tanyannya dengan nada dingin.


Ariana yang sudah melangkah menghentkan kaki, mata madu itu terlihat kebingungan. “Apa maksudmu? Bukankah, kau mengatakan untuk pergi?” tanyanya yang mendepatkan perhatian seluruh pelayan.



Damian yang mendengar itu mengetatkan rahang. “Bukan kau, tap mereka semua. Aku ingin mereka semua pergi, meninggalkan kita berdua!”



Ariana yang melihat itu mengangkat sebelah alis, sedikit dengusan terdengar jelas di telinga Damian.


“Gila!” ucapnya dengan datar, kemudian melangkah pergi meninggalkan Damian yang menggeram marah.


“Satu langkah kau menjauh dari sini, jangan salahkan aku jika kejadian kemaren terulang lagi!” ucapnya penuh penekanan.


Ariana yang sudah menginjak tangga berhenti, tubuh wanita itu sedikit menegang namun, dengan cepat kembali tenang. Sedikit embun terliht di matanya.


“Kau berani melkaukan itu, jangan salahakan aku jika sekandalmu terungkap dan pastinya, akan aku pastikan Papamu yang pertama kali mendengarnya!” ancamnya dengan tubuh yang tetap menghadap tangga, yang artinya, memunggungi sosok Damian.


Damian yang mendengar itu mengepalkan tangan. Terlebih saat mendengar langkah kaki yang semakin jauh.



Dengan penuh emosi, tangan yang terluka itu membanting seluruh makanan dan benda-benda yang ia lihat, membuat ruangan mewah itu terlhat berantakan dengan ceceran makanan dan pecahan benda-benda tajam.


“Sialan! Akan aku pastikan, kau tidak bisa berkata seperti itu!” ucapnya penuh obsesi.


Para pelayan yang sudah menjauh terlihat saling mengintip, banyak bisik-bisik yang mereka lontarkan, membuat Pedro yang sedari awal melihat kejadian itu memejamkan mata, dan mengurut pangkal hidungnya dengan lelah.


“kembalilah ke tempat kalian! Jangan sampai kebeodohan kalian membuat kematian lebih cepat datang!”


Para pelayan yang mendengar itu dengan cepat berhambur, kembali ke tugas masing-masing.


“Pedro ....” Panggil Damian dengan suara keras.


Terlihat Pedro yang berdiri di ujung ruang berlari dengan tergopoh-gopoh, Damian yang melihat itu mengetatkan rahang.


“Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?” Pedro bertanya dengan nada formal.

__ADS_1


“Siapkan tempat biasanya.” Pernitahnya dengan datar yang mengundang gigilan dari pedro.


Damian yang paham betul ketakutan sang bawahan hanya terdiam, kemudian melenggang pergi, membiarkan darah dari tangannya berceceran di lantai.



Kengeran terlihat jelas di ruangan itu. Dengan berbagai barang dan makanan yang berserakan, kini dibumbui dengan bercak darah kental.



Arthur yang baru saja tiba untuk menyerahkan dokumen bahkan menghentikan langkah. Wajah kaku itu terlihat sedikit mengerut, merasa terkejut dengan keadaan sekelilingnya.



Pedro yang melihat kedatangan Arthur menghela nafas lega, dengan cepat berjalan ke arah pria kaku itu.


“Tuan Arthur, Tuan Damian sedang tidak baik-baik saja,” ungkapnya dengan nada gusar.


Arthur yang mendengar itu mengangkat sebelah alis, terlebih melihat wajah tidak biasa dari pria paruh baya itu.


“Apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada datar.


Pedro tanpa menunggu lama menjelaskan semuanya, tanpa dikurangi, atau pun di tambahai. Sedangkan Arthur yang mendengar semua yang di ucapkan Pedro mengepalkan tangan. Wajah datar itu terlihat memerah dengan rahang yang semakin mengetat.


“Siapkan semuanya, saya yang akan menemi Tuan Damian,” ucapnya dengan dingin.


Damian memejamkan mata, ruangan yang penuh kerlap kerlip di sertai dengungan musik yang keras tidak membuat laki-laki itu terhibur.


Tiga gadis dengan kaki yang terikat kuat, dan mulut tersumpal terlihat menangis ketakutan.



Mata biru itu terlihat menyorot tajam, memikirkan permainan apa yang kali ini akan ia lakukan. Tangan kananya memegang pisau kecil dengan ketajaman yang luar biasa. Kilat dari pisau itu membuat runag yang gelap itu terlihat sedikit bersinar.



Tiga gadis di ujung sana terlhat semakin menggigl ketakutan. Bahkan wajah mereka yang tertutup make up tebal mulai basah, dan menjadikan wajah itu terlihat berantakan, dengan warna-warna yang saling bertabrakan.


Brak!


Damian yang sedangn memutar pisau di tangan kirinya terdiam, sorot tajamnya menatap Arthur yang terlihat marah.



Tanpa basa-basi, laki-laki itu menyuruh dua pelayan yang berdiri di ujung ruang untuk menyeret tiga wanita jala\*ng di depannya itu.

__ADS_1



Tatapan kedua manusia dengan netra mata yang berbeda itu terlihat dingin. Suasana gelap, dengan pencahayaan yang minim menambah sorot mata kedua pria dingin itu terlihat mencekam, suara gaduh yang di hasilkan musik tak membuat mereka menghentikan perang tatapan itu.



Damian yang merasa kesal dengan cepat membuang nafas, dan berkata dengan datar. “Sampai kapan kau mau seperti itu,”


“Hentikan semuanya,” ucapnya pelan namun, peuh penekanan.


Damian yang mendengar itu mendongak dengan tangan kiri yang memegang gelas. Kekehan kecil terdengar dari mulutnya.


“Berani sekali kau berkata seperti itu?” tandasnya dengan nada tajam.


Arthur tetap diam, wajah kakunya tidak menunjukan rasa takut sama sekali. “Hentikan, sebelum kau menyesalinya.”



Damian yang mendengar itu menggnggam erat gelas di tangannya. Panggilan ‘kau’ itu pertanda jika Arthur di depannya ini bukan Arthur sang bawahan, melainkan Arthur sang sahabat.


“Apa masalahmu?” tanyanya dengan datar.


Artur yang mendegar pertanyaan itu menghembuskan nafas panjang. Laki-laki dengan jas berwarna hitam itu mendudukan tubuhnya tepat di sebrang Damian, membuat posisi mereka saat ini saling berhadapan.


“Hentikan semua kegilaanmu. Terlebih kau sudah menghancurka nasib Istrimu sendiri,” jawabnya dengan wajah yang sudah sedikit lunak.


Damian yang mendegar kata ‘istri’ menghentikan gerakan tangan yang memutar gelas, mata biru itu terlihat menggelap.


“Apa urusanmu?” tanyannya dengan nada tajam.


“Sudah aku bilang, aku tidak ingin kau menyesal.”


“Apa yang perlu aku sesali?” Damian bertanya dengan raut wajah yang tidak percaya.


“Cih, kau tetap sama seperti dulu. selalu bodoh dengan perasaanmu sendiri. Kau ingat, dulu mengatakan jika kau hanya mencintai kekasih priamu saja, bahkan kau menyingkirkan semua orang yang berani mengganggu kekasihmu itu. Sekarang, apa yang kau lakukan? Kau menghajar Istrimu, hanya karena tidak pulang, dan aku curiga, kau juga melecehkannya?” Arthur menatap curiga Damian.


Penjelasan Pedro memang singkat, dan tidak menyebutkan tentang pelecehan itu, tapi Arthur yang sudah lama mengenal Damian, sudah menebak apa yang terjadi sebenarnya.



Sedangkan Damian yang mendengar itu menegang. Entah mengapa, kata pelecehan itu membuat dadanya terasa terhantam benda keras. Perasaan menyesal, serta bersalah menghantuinya.


“Kau sadar, kau sudah jatuh cinta dengan Istrimu sendiri. Dan alasan kau menghajarnya, karena cembur? Betulkan?”Arthur menatap remeh Damian.


Damian yang mendengar itu menegang. Cemburu? Tidak, itu tidak bleh terjadi. Sampai mati pun, ia tidak akan mencintai wanita.

__ADS_1


“Cemburu? Jangan menghayal!” Damian menatap tajam Arthur.


Arthur yang melihat itu hanya terkekeh, kemudian berkata dengan nada tenang, tapi sanggup membat Damian belingsatan. “Jika seperti itu, ceraiakan istrimu, biarkan aku yang menggantikan posisimu sebagai suaminya, aku rasa aku jatuh cinta dengan Ariana,”


__ADS_2