Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
23. Ada yang tidak beres


__ADS_3

Bugh!


Tubuh Damian terhuyung. Mata birunya menatap Max yang terlihat berantakan.


“Sialan! Apa yang kau lakukan?” tanya Damian garang.


Max yang melihat itu terkekeh. Wajahnya benar-benar berubah. Tidak ada Max yang terlihat seperti anjing lucu saat bersama Damian, laki-laki bernetra hitam itu sudah berubah menjadi monster.


“Kau masih bertanya apa?”


Damian bangkit perlahan. Tangan kirinya menghapus jejak memar yang mengeluarkan sedikit darah di sana.


“Apa maksudmu?” tanyanya dengan datar.


“Ha ha ha, ternyata selama ini kau membohongiku!”


“Membohongimu?”


“Cih, jangan pasang wajah seperti itu.” Max kembali mencengkram kerah Damian.


“Kau tahu, aku sangat membenci pembohong!” desisnya tepat di depan wajah Damian.


Damian terlihat mengepalkan tangan. Wajah tampannya benar-benar berubah datar. “Jaga batasanmu!”



Max yang mendengar itu dengan kasar menghempaskan tangan yang mencengkram kerah Damian. Mata hitamnya terlihat berkobar penuh amarah.


“Jaga batasan? Hah, kau sungguh lucu. Seharusnya kalimat itu aku yang mengucapkannya.”


Damian hanya diam. Mata birunya menyorot Max tajam.


“Kau tahu, kau sudah ku anggap orang terpenting di hidupku, tapi aku tidak pernah menyangka jika kau orang yang menusukku.” Max membuang pandangan.


Perasaan terhianati, dan kecewa membuat laki-laki itu terlihat putus asa. “Kau tahu apa yang paling aku sesali?” Max memiringkan kepala, menatap Damian dengan raut wajah yang sulit di artikan.


“AKU MENYESAL MENGENALMU!” tekan Max di setiap perkataanya.


Damian membuang nafas. Kini ia sudah paham apa yang membuat Max bersikap seperti itu.


“Jangan marah.”


“Apa katamu? Kau bilang jangan marah? Hay, apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan?” Max memicingkan mata.


Tangannya sudah terkepal, membuat otot-ototnya menyembul keluar. “APA KAU GILA? KAU MEMBUNUH WANITAKU!” Max berteriak kencang.



Damian yang mendengar itu mengangkat sebelah alisnya. Ada jejak keterkejutan di sana, tapi ia dengan mudah menyembunyikan ekspresinya.


“Apa maksudmu? Aku tidak pernah membunuh wanitamu. Wanitamu sudah meninggal sedari lama!”


“Ha ha ha, kau pikir aku bodoh! Aku sudah tahu semuanya. Semua yang kau lakukan untuk memisahkan ku dengan wanitaku.”

__ADS_1


Mulut Damian terasa terkunci. Padangannya hanya tertuju pada wajah Max yang terlihat berantakan.


“Kau tahu, kau membuatku kehilangan segalanya. Kau membuatku terkubang dengan rasa bersalah.” Adu Max dengan tangan yang memukul dada.


“Kau tahu! AKU SELALU BERPIKIR, SMEUA INI SALAHKU!” Max menarik rambutnya kuat. Laki-laki itu terlihat benar-benar depresi.


Kehilangan sang anak, di susul dengan kehilangan wanita yang ia cintai karena kesalahannya membuat ia terkubang dalam kegelapan. Hidup dalam bayangan rasa bersalah, hingga fakta tentang sang wanita yang masih hidup membuatnya marah sekaligus lega. Namun, sepertinya tuhan benar-benar tahu cara mempermainkannya.



Wanitanya meninggal, dan semua itu ulah dari laki-laki yang menjadi bagian terpenting dari hidupnya. Bahkan laki-laki itu masih bisa memasang wajah datar seakan tidak bersalah sama sekali.



Tubuh Max terjatuh. Kepalanya menunduk dengan bulir air mata yang semakin deras membanjiri wajahnya. Laki-laki itu hilang arah.


“Sampai kapan kau ingin mengikatku. Kenapa tak sekali pun kau membiarkanku bahagia,” ucapnya lemah.


Damian masih tetap sama. Berdiri tegak menatap sosok Max yang terlihat berantakan. Bersimpuh tepat di depannya. Dan hal itu sungguh membuatnya tidak nyaman.


“Aku tidak pernah membunuh wanita itu,” ucapnya dengan datar.


Max yang mash meratapi nasibnya mendongak. Mata hitamnya menatap Damian penuh kebencian.


“Tidak pernah? Bahkan setelah kau benar-benar berhasil membunuh wanitaku kau bilang tidak pernah!” Max bangkit perlahan.


Leher kekarnya terlihat mengetat, membuat otot-otot itu terlihat menyembul menyeramkan.


“Ha ha ha, kau benar-benar manuisa bia*ab! Bagaiamana bisa kau tetap tidak mengakui kesalahanmu. Dan apa tadi, terpaksa? Seoarang Damian terpaksa? Apa ini sudah pertanda kiamat?” Max menatap remeh Damian.


“Jaga ucapanmu!” Damian mendesis tidak suka.


“Seharusnya kau yang menjaga batasan!” Max mendekat. Laki-laki itu seperti bersiap untuk memberikan bogeman mentah di wajah Damian.


Damian yang melihat jelas pergerakan Max mengangkat sebelah alis. Tanpa bisa diprediksi, tangannya bergerak cepat, mengunci pergerakan Max, dan membuat laki-laki yang terlihat jelas tidak baik-baik saja itu memberontak.


“Aku mengasihimu bukan berarti aku membiarkanmu melewati batasan!” bisiknya tepat di telingan Max.


Max yang tidak bisa bergerak menggeram. Matanya terlihat berkobar dengan gigi yang saling bergesekan.


“Aku tidak pernah mengharapkan semua itu!” jawabnya dengan tajam.


“Oh, ya! apa kau yakin. Buankah kau hanya unggas yang ku angkat menjadi angsa cantik.”


Max terdiam. Ya, ia bukan apa-apa jika tanpa campur tangan Damian. Mungkin ia masih menjadi laki-laki pecundang yang hanya diam saat mereka mulai merundungnya.



Ia hanya seorang anak yang akan diam saja saat melihat kekejaman keluarganya. Ia juga hanya seorang kakak yang tidak mampu mengulurkan pertolongan saat adiknya terbelenggu dalam kesendirian.


“Bunuh aku saja!” ucapnya lemah.


Damian yang mendengar ucapan Max mengetatkan rahang. “Kau tetap sama. Sama-sama pecundang yang tidak mampu menghadapi kenyataan.” Damian dengan kasar melepaskan kunciannya membuat Max terjatuh dengan mengenaskan.

__ADS_1


“Ha ha ha, aku memang pecundang, setidaknya biarkan pecundang ini pergi menyusul kekasih dan anaknya.”


“Kau benar-benar gila! Kau pikir, aku merawatmu selama ini hanya untuk melihatmu mati sia sia?”


Max mendongak. Wajah yang memerah dengan jejak basah yang terlihat jelas di wajahnya membuat Damian mendengus.


“Bahkan kau tidak akan membiarkanku meningalkan dunia saat kau dengan kejam mengambil orang yang paling berarti di hidupku?”


“Aku tekankan sekali lagi! Aku tidak membunuh wanitamu!”


“Ha ha ha, teruslah berbohong.” Max memukul lantai yang ia duduki dengan kesal. Amarahnya bercampur dengan rasa putus asa benar-benar membuatnya gila.


“Apa kau punya bukti jika aku yang membunuh wanitamu?”


Max yang mendengar pertanyaan itu tersenyum miring. Wajah menyedihkan bercampur dengan raut licik benar-benar terlihat aneh.


Puk!


Damian menangkap kalung berbentuk kepala iblis dengan alis mengkerut. Ia tahu lambang ini.


“Apa maksudmu?”


“Bukankah itu milik anggotamu?”


“Ya, memang ini milik anggotaku.”


“Dan kau tahu, bawahanmu terlalu bodoh! Ia meninggalkan jejak saat membunuh Salsah.” Max tersenyum kecut. Ingatan tentang tubuh kaku Salsha dengan bibir yang berlumuran darah benar-benar membuat mentalnya terguncang.


Damian terlihat terkejut. Wajah laki-laki itu terlihat sedikit pucat, dan hal itu sukses membuat Max terkekeh.


“Sekarang kau hanya diam tidak bisa mengelak?”


“....”


“Jika kau tidak memberiku kematian, maka jangan salahkan aku jika aku mengambil satu persatu yang kau miliki saat ini.” Max berucap dengan wajah mengeras. Laki-laki itu bangkit, pergi membawa dendam.


Sedangkan Damian masih berdiri menatap kosong kalung itu. Laki-laki itu bahkan mengabaikan ancaman Max.



Tangannya mencengkram kuat bandul tengkorak itu, membuat kulit mulusnya terkoyak dan mengeluarkan darah segar yang menetes di lantai.


“Aku tidak pernah menyuruh mereka membunuh Salsha, bahkan aku membatalkan rencana pembunuhan itu tepat satu jam aku memberi perintah.”


“Ada yang tidak beres.” Damian menatap gawainya yang memperlihatkan wanita kurus yang tertidur dengan damai.


____________


hallo hallo,, ya ampun, senangnya bisa kembali nulis cerita ini,, siapa yang masih nunggu cerita Damian Ariana,, yuk cung tangan....


alhamdulillah Author udah sehat, meskipun BB tinggal 45 sekarang dgn tinggi badan 160,, hihihi


ehh bye, gimana kabar kalian,, masih ingat sama cerita ini kan,,, 😁😁😁

__ADS_1


__ADS_2