Gay? Gairah Terpendam

Gay? Gairah Terpendam
13. kesalahan fatal


__ADS_3

Damian menatap Ariana yang berteriak, beringsut mundur ketakutan. Meskipun wajah sang wanita sudah terlihat menyedikan tak menyurutkan keinginanya untuk melanjutkan rencananya dari awal.


“Damiannnn!” Ariana berteriak saat melihat Damian dengan wajah menyeringai membuka pakain atasnya, membuat tubuh laki-laki itu telanjang hanya menyisahkan celana panjang.


“Ha ha ha, sesuai dengan perkataanku. Aku ingin menguji milikmu.” Damian menyeringai. Mata biru itu semkain berkilat, membuat Ariana berteriak histeris saat kaki kananya di tarik dengan kasar.


“Akhhh, Damiannn,” jeritnya penuh iba.


Damian terlihat abai, laki-laki itu dengan kasar menindih satu kaki Ariana, membuat wanita itu berteriak kesaitan, dan tiak bisa menghindar.



Damian dengan cepat melepas kancing celannya, membuat tubuhnya hanya tertutup kain segitiga.



Ariana semakin mengerakan tangisannya saat Damian dengan kasar merobek penutup dadanya, membuat dua gunungnya menyembul, memperlihatkan puncak berwarna pink. Namun, pemandangan itu membuat Damian semakin terkekeh sinis.



Bahkan di sekitar gunung putih itu tak luput dari bercak merah, dah hal itu semakin membuat rasa jijik Damian menguap. Mata birunya menatap satu btol berisi alkohol yang selalu ia simpan di samping nakas.



Tetap menindih kaki Ariana, tangan kekarnya meraih satu botol penuh alkohol, kemudian menuangkan seluruh isinya tanpa perasan di atas tubuh Ariana.


“Akhhhh, Damiannn, aku mohon, lepskan aku. Akhhh, hiks hiks, ini sangat menyakitkan.” Ariana menggelengkan kepla saat cairan itu sudah membasahi seluruh tubuhnya, bahkan wajahnya juga. Rasa perih saat alkoho menyentuh kulitnya sanggup membuat tubuhnya gemetar hebat.


Damian semakin mengeluarkan tawa keras. Laki-laki itu terlihat seperti manusia buta, buta akan kemalangan, dan kesengsaraan dari lawannya. Hanya ada rasa amarah dan dendam yang melingkupi perasaannya saat ini.



Dengan kasar, tangan kekarnya meraih kain terakhir yang menutup tubuh bagian bawah sang wanita. Membuat tubuh itu benar-benar polos.



Arana semakin berteriak saat Damian menyeringai, bahkan tangan laki-laki itu juga ikut bergerak membuka kain yang ia pakai di bawah sana. Membuat tubuh mereka sama-sama polos.



Ingatan tentang perkataan Damian yang akan memasukinya tanpa pemanasan membuat ia menggelengkan kepala kuat.


“Tidak! Damian jangan lakukan itu, aku moh___”


Jlep!

__ADS_1


“Akhhhhh....” Arana berteriak dengan keras saat merasakan benda tumpul, keras, dan panjang itu merobek habis miliknya. Membuat hal yang paling ia jaga selama ini hilang seketika dengan sekali hentakan.


Sedangan Damian terdiam, mata birunya terlihat membola, seakan tersadar dengan apa yang telah ia perbuat. Mata itu terlihat menatap kebawah, tepat pada tubuh mereka yang masih menyatu, dan mengalir darah dari sana.



Damian denga gemetar mengalihkan pandangan, menatap Ariana yang terlihat sangat putus asa, dengan wajah yang penuh luka.


“A... kuuu ... tid.. tid.. tidak... akan... memaafkanmu.” Tepat setelah mengatakan itu, mata madu itu tertutup dengan tubuh yang terlihat terkulai lemas.


Damian masih terdiam, bahkan laki-laki itu tak mampu bergerk takut menyakiti wanita di bawahnya yang sudah hilang kesadaran.


“Ariana,” panggilnya lirih.


Hening, tidak ada sahutan atau pun jawaban yang keluar dari mulut wanita itu. Damian dengan kaku meleps penyatuannya, membuat darah segar keluar dari inti sang wanita semakin terlihat jelas.


“Ya, Tuhan! Apa yang aku lakukan?” Damian meraup wajahnya kasar.


Mata biru itu memindai seluruh tubuh Ariana. Bekas lebam bercampur dengan \*\*\*\*\*\*. Bahkan mulus itu juga mengeluarkan darah. Pergelangan, kening, pinggang, dan kaki, semua penuh darah dari kulit yang mengelupas.


“Apa yang harus aku lakukan?” Damian meraup wajahnya, kemudian tangannya meraih pakaian yang berserakan di bawah, memakainya dengan kasar, kemudian meraih selimut untuk menutupi ketelanjangan sang wanita.


Tangan kekarnya terlihat gemetar, meraih gawai dan memanggil asistennya untuk mencari dokter wanita.


Mata biru itu menatap nanar Ariana. Dengan pelan mendekat, bahakan nafas wanita itu terlihat sangat lemah.


“Maafkan aku.” Damian menyentuh kening yang berdarah itu.


Darah merah pekat itu sukses membuatnya gemetar hebat. Darah dari wanita yang tak lain istrinya sendiri. Darah dari wanita yang ia siksa, darah dari wanita yang ia hina, darah dari wanita yang ia kira sama saja dengan wanita luar sana yang hobi menjajahkan tubuh.



Hari ini ia tertampar dengan dua fakta. Pertama, perasnya ternyata sudah lebih dari perasaan normalnya. Kedua, istrinya yang ia kira murahan, nyatanya masih perawan sebelum ia mengambilnya dengan paksa.


***


Max menatap Roy yang terlihat sedikit gugup. Mantan bawahannya itu seakan menyembunyikan sesautu.


“Kenapa kau ke sini?” tanyannya dengan nada datar.


Roy meneguk ludahnya kasar. Meskipun sang atasan terbaring sakit di atas ranjang, tapi tatapan itu tidak bisa menutupi sikap dingin dan kejamnya.


“Tuan, apa anda tidak ingin kembali lagi?” Max bertanya denga pelan.


Max terlihat membuang muka. Ingatan tentang ancaman Damian membuatnya ia bimbang. Ingin sekali ia kembali ke negaranya, membangun rumah sederhana tepat di samping pusara sang anak dan sang wanita.

__ADS_1


“Tuan ...”


Panggilan itu membat Max kembali tersadar. Mata hitam itu terlihat sedikit kosong. Berharap kematian menyambutnya. Namun, kedatangan bawahannya itu membuat semua harapannya hancur.


“Hmmm, aku tidak tahu,” gumamnya pelan.


Roy yang melihat itu menghela nafas. Laki-laki itu terlihat menimbang dengan keras. Apa ia perlu memberitahu keberadan Nona Salsha?


“Tuan, apa anda yakin jika Nona Salsha telah tiada?” Roy bertanya dengan pelan.


Max dengan cepat menatap tajam asistennya itu. “Apa maksudmu?”


Roy menelan ludah kasar, tubuhnya tiba-tiba tersa dingin. “Ekhm, saya hanya brtanya seandainya saya mengatakan Nona Salsha masih hidup, apa anda akan percaya?”



Max terlihat mengerasakan rahang. Laki-laki yang setengah berbaring itu terlihat merapatkan kedua tangan, mengetuk dagunya yang ditumbuhi bulu-bulu cambang halus.


“Apa kau sedang bercanda?” tannyanya sarkas.


Roy menundukan kepala, laki-laki itu sudah menyangka bagaiamana respon tuannya itu.


“Maafkan saya Tuan.”


“Hmm, jika kau ke sini hanya untuk mengatakan lelucon-lelucon tidak penting, silahkan pergi.” Max mnatap datar bawahannya itu.


“Tiak, Tuan. Maafkan saya. Sya ke sini ingin melihat keadaan Tuan. Saya berjanji tidak akan mengatakan hal-hal seperti itu lagi,” Roy berkata dengan tegas.


Max menganggukkan kepal, kemudain memposisikn tubuhnya agar berbaring. Sedangkan Roy ang melihat itu hanya terdiam. Sudah ia putuskan untuk merahasiakan semuanya, setidaknya setelah situasi di rasa aman. Seperti saat nona Salsha sudah benar-benar sehat.


“Roy,” panggil Max pelan.


Roy menegakkan tubuh, menatap Max serius. “Iya, Tuan?” tanyanya sopan.


“Apa kau menutupi sesuatu?” Max bertanya dengan nada pelan, tapi dari mata hitam itu terlihat jelas sebuah kecurigaan.


Roy meneguk ludah kasar, keringat dingin mulai menjalar di punggungnya. Terlhat sedikit menimbang bagaiamana ia hrus bertindak.


“Tidak, Tuan. Hanya saja, say__”


Brak!


Pintu terbuka dengan lebar, membuat perkataan Roy terhenti. Kedua mata mereka menatap sosok yang berdiri di pintu itu dengan terkejut.


“Kau ...” panggil Max tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2