
“Kau mau ke mana?” Damian menatap tajam Ariana.
Ariana yang masih sibuk memasang anting-anting di telinga kananya mengernyitkan alis.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Ck, apa susahnya menjawab pertanyaanku? Kau mau kemana?” Damian mengulangi pertanyaannya. Kali ini dengan desisan dan tatapan tajam.
Helaan nafas wanita itu keluarkan. Mata madunya terlihat memicing, menatap sosok Damian yang hanya memakai celana pendek tanpa atasan itu dari pantulan kaca.
“Bukan urusanmu!”
Damian yang mendengar itu membelalakan mata. Kakinya dengan cepat melangkah mendekat ke arah sosok Ariana. Aura kelam dan menakutkan menguar dari tubuhnya, membuat ariana tanpa sadar menahan nafas.
“Apa kau bilang?” Damian mendesis tajam tepat di telinga Ariana.
Ariana terlihat meneguk ludah kasar. Mata madunya menatap ke sekliling ruang, mencari sesuatu agar bisa mengembalikan keberaniannya.
“Damian, bisakah kau menjauh dariku,” pintanya pelan.
Damian yang sadar jika Ariana ketakutan semakin tersenyum miring. Wanita ini benar-benar menguji kesabaran dan perasaanya.
“Menjauh?”
“Ya, menjauhlah. Aku ingin pergi.”
“Kau ingin pergi kemana?” tanya Damian tajam. Bahkan tangannya kini sudah memegang erat bahu polos Ariana.
Ariana terlihat menelan ludah gugup. Keberaniannya seakan hilang, bahkan jurus-jurus yang biasa ia keluarkan untuk melumpuhkan bedebah bedebah di luar sana seakan terkunci.
“Damian___”
“Kau mau keluar ke mana memakai pakaian tak layak seperti ini.”
Mata Ariana terlihat melebar. Wajah cantik yang terpoles make up tipis itu terlihat mengetat.
“Tak layak?”
“Ya pakaian tak layak. Lihatlah, bahumu terbuka, dan semua mata bisa menatanya dengan mudah. Pakaian itu akan terlihat biasa saja jika yang memakai seorang ja*ang! Apa kau bagian dari mereka?”
Araian yang mendengar penghinaan dari Damian mengepalkan tangan. Laki-laki itu tak sadar jika telah menyinggung perasaan sang wanita. Ia hanya merasa kesal jika melihat Ariana berkeliaran dengan pakaian yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Hatinya benar-benar panas.
Dugh!
“Auch.” Damian memundurkan tubuhnya.
Mata birunya berkilat, menatap Ariana yang terlihat menatapnya datar dari kaca.
“Sialan! Apa yang kau lakukan?” Damian bertanya dengan tangan yang masih memegang hidungnya.
Hidungnya berdarah, ya itu semua karena Ariana yang tanpa aba-aba menyerang wajahnya menggunakan kepala.
“Kau bertanya apa yang aku lakukan?”
“...” Damian hanya diam dengan mata yang masih menyorot tajam.
__ADS_1
Ariana tersenyum miring. “Aku sedang menghajar bedebah yang telah merendahkan martabat seorang wanita.”
Damian mengepalkan tangan kirinya. Hidugnya benar-benar sakit, sungguh luar biasa wanita di depannya ini.
“Kau seharusnya belajar tentang etika lagi. Jangan menilai sesautu hanya dari tampilan luarnya saja. Kau mengatakan pakaian seperti ini hanya cocok digunakan seoarng ja*ang?”
“....”
“Kau harus tahu, bahkan saat ini banyak ja*ang yang memakai pakaian tertutup, dan memasang wajah polos. Sedangkan banyak wanita baik-baik saja yang memakai pakaian terbuka tapi ternyata mereka masih terjaga.” Ariana menatap Damian tajam.
Wanita itu benar-benar tersinggung dengan perkataan Damian. Ia berpakaian seperti ini karena tuntutan profesi, dan sekarang orang yang baru mengenalnya menghinanya, dan menyebutnya dengan sebutan manusia rendahan, ja\*ang.
Damian yang mulai menyadari kesalahannya melepaskan tangan yang menutup hidungnya. Aliran darah dari hidung mancungnya masih merembas, tapi hal itu ia abaiakan.
“Ariana, maafkan aku,” ucapnya tulus.
Ariana yang mendengar penuturan Damian tersenyum miring. “Kau kenapa?”
Damian hanya diam, ia juga bingung dengan dirinya. Seumur hidup ia tak pernah mengatakan kata maaf, terlebih untuk orang yang ia anggap asing.
“Apa kau menyesal?” Ariana memicingkan mata menatap Damian dengan pandangan tertarik.
Damian masih diam, tapi tidak dengan otaknya. Menyesal? Apa ia pernah merasakan itu.
“Ha ha ha, apa sekarang kau mulai goyah?” Ariana bangkit. Wanita itu mendekat ke arah Damian.
“Hay, Damian. Dengarkan aku. Jangan jatuh cinta kepadaku, atau kau akan menyesal seumur hidup.”
Deg!
Jantung Damian terasa teremat. Ada apa dengan perasaanya. Seharusnya ia merasa baik-baik saja saat Ariana berbicara sesuatu yang menurutnya sangat konyol itu.
“Ingat! aku memiliki kekasih, dan sampai kapan pun, aku tidak akan membalas perasaanmu.” Tepat setelah megatakan itu Ariana pergi meninggalkan Damian di ruang yang terlihat berubah dingin.
Brak!
Tepat setelah suara bantingan pintu tubuh Damian meluruh. Tatapan matanya terlihat kosong. “Kenapa dengan perasaanku?” Damian menyentuh dadanya yang terasa nyeri.
“Kenapa dengannya?” tanyanya di tengah heningnya ruang.
***
“Tuan, anda harus bangkit.” Roy menatap Max yang masih seperti orang linglung.
Max hanya diam. Hidupnya seperti tak ada artinya lagi. Rasa hampa benar-benar membuat perasaanya buruk.
“Roy,” panggilnya lirih.
“Iya Tuan.”
“Apa aku memang tidak pantas bahagia?” tanyanya dengan wajah yang putus asa.
__ADS_1
Roy yang mendengar pertanyaan konyol Max terkesiap. Wajahnya berubah menjadi keruh.
“Tuan, apa yang anda katakan? Jelas anda pantas bahagia, tak seharusnya anda merasa seperti itu.”
“Ha ha, pantas bahagia. Jika aku memang pantas bahagia, mengapa Tuhan mengambil satu persatu keahagianku?”
“Tuan__”
“Apa kau memiliki jawaban, Roy?”
“ ....”
“Lihatlah, bahkan kau yang sudah lama melayaniku diam.”
Roy dengan cepat menggelengkan kepala. “Tidak, bukan maksud saya seperti itu Tuan.”
“Ha ha ha, sudahlah Roy. Apa memang aku diahirkan hanya untuk satu rasa.”
“Tuan?”
“Mungkin benar kata mereka, aku hanya dilahirkan memiliki satu rasa, yaitu dendam,” ujar Max dingin.
Mata hitamya mneyorot langit dengan tajam. Gelapnya malam bahkan masih kalah dengan gelap hatinya saat ini.
Laki-laki itu terlihat sangat terpuruk. Luka akibat kehilangan dan penghianatan benar membuat hidupnya hancur.
“Roy.”
“Tuan.”
“Roy, katakan padaku, bagaiamana caranya aku hidup?” Max menatap Roy sendu.
“Tuan, anda harus tetap hidup__”
“Maka katakan bagaiamana caranya. Aku sudah lupa bagaiamana caranya untuk hidup tenang.” Max menatap kakinya yang terbalut sepatu hitam.
“Tuan, anda harus ikhlas.”
“Ikhlas, apa aku harus?” Max menatatap kembali Roy. Kelakuannya benar-benar seperti anak kecil.
“Tuan, ikhlas itu diperlukan agar hidup anda lebih tenang.”
“Oh ya, lantas ikhlas itu seperti apa? Apa aku bisa bahagia jika aku ikhlas?” Max menatap serius Roy. Tatapanya persis seperti seorang murid yang sedang menanti jawaban dari gurunya.
Roy terlihat bingung. Bahagia, dan ikhlas? Jika boleh jujur, selama ini ia juga belum bisa melakukan dua hal itu secara tulus.
“Ya, setidaknya anda akan merasa lebih baik setelah itu.”
“Oh, begitukah? Tapi Roy, kau ingat, aku pernah ikhlas saat aku kehilangan semuanya. Aku juga berpikir jika semuanya akan baik-baik saja, dan aku akan hidup bahagia. Tapi apa yang aku dapat, aku hanya mendapatkan penghianatan, dan kehilangan untuk kedua kalinya.”
“Tuan, mungkin Tuhan sangat menyanyangi anda.”
“Begitukah? Jika cara Tuhan menyanyangiku dengan membuatku kehilangan, maka lebih baik Tuhan tidak pernah menyanyangiku.”
__ADS_1