
Damian mendengus kesal. Netra birunya menyorot tangga yang ia lalui dengan tajam. Ingatan tentang permintaan sang kekasih benar-benar membuat emosinya meletup. Siap membakar siapa pun yang berani mengusiknya.
Kaki kekarnya mulia terhenti, netra birunya terlihat menajam. Terpampang jelas di depannya, sosok istri yang baru sah beberapa jam itu bersanda gurau dengan kekasihnya, dan hal itu sukses membuat emosinya semakin meletup, dan Boom, sukses meledak.
“Apa yang kalian lakukan?” Damian bertanya dengan suara yang dinngin, membuat dua sejoli yang terlihat saling menggoda itu terhenyak, kemudian berdiri dengan kikuk.
Damian dengan wajah mengeras berjalan semakin mendekat, tangan kekarnya menarik Ariana agar mendekat ke arahanya. Menyeret tubuh sang istri dengan kasar dengan mulut tetap bungkam.
Ricard yang melihat sang kekasih di bawa langsung oleh Damian hanya bisa mengepalkan tagan kesal. Ingin sekali laki-laki bermanik hitam itu memberikan satu bogeman, tapi statusnya sebagai laki-laki yang tenang dalam menghadapi apa pun tidak membiarkan.
Ariana yang merasakan sakit di pergelangan tangan memberontak. Usaha kuatnya untuk terbebas dari jeratan sang suami sia-sia, hanya semakin menambah rasa sakit, bahkan bekas kemerahan yang nyata.
Brak! Ceklek!
“Dasar! Istri macam apa yang berduan dengan laki-laki lain, di saat sang suami tidak ada?” Damian memojokkan tubuh Ariana, membuat wanita itu dengan cepat membuang muka, karena jarak wajahnya yang terlalu dekat.
“Apa maksudmu?” masih dengan membuang muka, wanita berambut hiram itu bertanya. Terlihat jelas, ia enggan untuk menatap langsung wajah penuh emosi di depannya.
Damian yang melihat tindakan Ariana semakin terpancing emosi. Bagaiamana bisa, wanita ini menunjukan ekspresi seperti itu saat bersamanya. Sedangkan, dengan Ricard, ia bisa menampilkan senyum lebar, bahkan lembut.
“Ck, apa seperti ini pekerjaan seoarang model? Menggoda laki-laki, meskipun sudah memilki status seoarang Istri.” Damian berkata dengan nada mencemooh, tubuh kekarnya menjauh, membuat Ariana mematung sendiri dengan perkataan tajam yang dikeluarkan.
“Ulangi sekali lagi!” Araiana mendesis tajam. Bukan wajah acuh lagi, ataupun menggoda yang terlihat di wajah wanita itu. Hanya ada wajah datar, dengan mata yang menajam.
Damian yang melihat perubahan Arian meneguk ludah kasar. Biar bagaiamana pun, selama ia hidup, ia tidak pernah berurusan dengan wanita, dan ini kali pertama baginya. Dan apa-apa-an, beraninya wanita itu menunjukan ekspresi dan bertanya dengan nada yang kuang ajar.
“Ck, kau tuli? Aku katakan sekali lagi, apa pekerjaan seoarang model itu juga menggod__ “ perkataan itu terhenti tepat saat tangan ramping itu menarik tangan kekar Damian tanpa aba-aba, kemudian membanting tubuh besar itu tanpa ampun.
Gedebug!
“Arghh.” Damian meringis kesakitan, laki-laki itu tanpa bisa berdiri menatap Ariana yang terlihat menyeringai di atasnya.
__ADS_1
“Kau tahu apa pekerjaanku selain menjadi model?” Ariana mengedipkan sebelah mata, tangan lentiknya menuyusuri dada bidang itu yang masih terbalut jas berwarna hitam.
Damian hanya bisa terdiam, wajah laki-laki itu menunjukkan raut kesakitan. Sekedar menepis tangan itu pun, ia tak anggup. Sumpah demi apa pun, bantingan dan kuncian yang sempat diberkan Ariana sanggup membuat tulangnya seperti rontok.
“Pekerjaan sampinganku adalah, menghajar laki-laki baji*ngan yang bermulut sampah seperti mu.” Araiana menurunkan tangannya dari dada Damian, berjalan dengan pelan, seakan menggoda. Tepat di bawah puser, wanita itu terlihat semakin menyeringai.
“Kau bilang pekerjaanku menggoda laki-laki lain? Apa seperti ini.”
“Arhhh.” Damian mendesis panjang. Mata biru itu beradu dengan mata madu yang terlihat menyala-nyala di bawah sinar lampu.
Ariana dengan beraninya memegang aset berharga Damian, merema\*nya, bahkan memberikan pijatan ringan di sana. Membuat Damian tanpa sadar membuka mulut lebar, dengan nafas yang terlihat terengah-engah.
Melihat laki-laki dibawahanya mulai bereaksi aneh, Ariana segera bangkit. Netra madunya sekali lagi menatap tajam Damian.
“Sebelum berkata, berkacalah. Kau mengatakan hal-hala sampah, padahal kau tak jauh beda dengan sampah itu sendiri, bahkan lebih menjijikan. Aku kira, ‘itu’ mu hanya akan berdiri saat bersama dengan kekasih laki-lakimu, tapi ternyata juga berdiri saat bersentuhan dengan tanganku. Ck, ck, ck.” Ariana menatap tepat ke arah slangkangan Damian yang terlihat sedikit mengembung. Kemudian melenggang pergi untuk memasuki kamar mandi. Meninggalkan sosok Damian yang terlihat masih tercengang.
Sedangkan Damian tidak bisa merespon apa pun. Sentuhan yang baru pertama kali ia dapat sanggup membuat tubuh besarnya terasa kaku. Terlebih bendanya yang tiba-tiba berderi.
“Si*l!” upatnya kasar.
Jarum jam berputar engan cepat, bulan juga sudah menunjukan wujudnya di atas sana. Jika semua orang sedang terlelap dengan tenang, beda dengan sosok laki-laki bernetra biru itu. Berulang kali, tubuh kekarnya bergerak tak nyaman, sedangkan wanita yang tidur di sampingnya sudah terlelap denan gaun tidur yang amat sangat menerawang.
“Ck, kenapa denganku.” Daman mendudukan tubuhnya dnegan menyandar. Wajah tampannya terlihat snagat kusut.
“Mungkin aku kepikiran Max, ya, mungkin gara-gara Max meminta putus,” simpulnya dengan yakin.
Dengan pelan, laki-laki itu bangkit. Tangan kananya meraih gawai yang tergeletak di sisi ranjang, kemudian beranjak menuju balkon.
Dengan wajah lelah, laki-laki itu menmpelkan gawai, menunggu sang kekasih untuk segera mengangkat panggilannya.
Dering pertama, dering kedua, dan dering ketga.
__ADS_1
“Hallo.”
Senyum mereka di wajah tampannya itu saat indra pendengarannya mendengar suara serak dari Max.
“Hay, apa aku mengganggu malammu?” Damian bertanya dengan pelan, penuh kelembutan.
Hening, tidak ada balasan dari sana, dan hal itu sukses membuat Damia merasa resah.
“Max,” panggilnya pelan.
Masih tidak ada jawaban, Damian berpikir mungkin sang kekaih kembali terlelap. Tangannya hampir saja menekan tomobol merah. Namun, terurung saat ia mendengar nada datar nan dingin dari sana.
“Ada apa?”
Deg!
Jantung Damian terasa mencelos. Nada dingin itu membuat hawa dingin di sekitarya semakin dingin.
“Kenapa dengan nadamu?” Damian bertanya lebih tajam lagi. Sudah ia katakan, ia paling tidak suka dengan sikap Max yang seperti itu. Max hanya boleh bersikap lembut, dan manja kepadanya. Hanya kepadanya.
“Damian, sudah aku bilang. Mari kita hentikan hubungan ini.”
Tut!
Damian menggeram marah, rahang laki-laki itu terlihat mengeras, terlebih saat mendengar nada putus dari sana. Dengan tangan terkepal, laki-laki itu berbalik arah, mencoba menjernihkan otak. Tapi pemandangan yang ia dapat sungguh membuat hawa disekitarnya dengan seketika berubah menjadi panas.
Ariana berdiri di ujung ranjang, dengan kain tipis yang hanya menutupi setengah pahanya. Bahkan mata birunya dapat melihat seberapa besar bongkahan pantat itu, dan seberapa kenyal dua daging yang bergelantung di dada.
Menelan ludah beberapa kali, laki-laki itu menatap sinis Ariana. Ingatan tentang perubahan sikap sang kekasih membuat a memilih untuk menyalahkan wanita itu.
“Apa yang kau lakukan di sana?”
__ADS_1
Pertanyaan dengan suara serak itu membuat langkah kaki Damian terhenti. Niat hati ingin memberikan beberapa pelajaran agar wanita itu jera, lenyap seketika, tergantikan perasaan asing yang sanggup membuat sekujur tubuhnya merinding.